Come A Closer Love

Come A Closer Love
39


__ADS_3

Keesokan paginya, setelah menyelesaikan roti dua varian, Marwah pun buru-buru berganti pakaian. Ia menggunakan pakaian kasual dengan kemeja kerja pink soft dipadu padankan dengan rok span selutut warna abu-abu. Setelah dirasa siap, Marwah turun terburu-buruk dengan menenteng sepatu heelsnya.


" Mbak pergi dulu ya Lily, " ucapnya yang tak sengaja berpas-pasan dengan Lily yang baru datang ke toko.


" Ya mbak, " jawab Lily spontan dan ia jadi tertawa kecil melihat Marwah yang terburu-buru.


Marwah pun melajukan mobil sedannya dengan cepat menuju kantor Aritama group. Dan ia tak srngaja melewati hotel baru yang ia tangani, lalu ia melihat sekilas bangunan tersebut.


" Sepertinya memang harus kesini lain waktu, " gumamnya.


Hingga tak terasa mobil sedannya pun sampai pada tujuan kantor Aritama group. Lalu Marwah turun berlahan dan berjalan menuju gedung tersebut. Tujuannya pun tertuju pada tombol lift yang terlihat lengang, dan tangannya dengan cepat mengarah pada tombol lift dan tak sengaja tanganya menekan secara bersamaan dengan tangan orang lain.


Marwah reflek terkejut dan menoleh ke si pemilik tangan. Dan betapa terkejutnya ia, ternyata tangan itu tak lain milik Erwin. Marwah seketika canggung.


" Pagi, Direktur " sapa Marwah kaku.


" Pagi, " jawab Erwin singkat dan keduanya terdiam hingga pintu lift yang ditunggu pun terbuka dan reflek keduanya masuk bersamaan, hingga pundak Marwah tak sengaja menyenggol pundak Erwin.


" Ah, maaf Direktur, "


Erwin tak menjawab, namun akhirnya ia mempersilahkan Marwah duluan untuk masuk kedalam lift. Dan Erwin dengan segera menekan tombol lift yang tujuannya sama dengan Marwah.


Dan sesekali Marwah melihat kearah Erwin, ia jadi teringat untuk meminta handphone miliknya yang telah 1 minggu bersama Erwin, dengan sedikit ragu Marwah membuka suara.


" Direktur".


" Marwah" , panggil keduanya bersamaan. Dan membuat Marwah terkaget.


" Ah, ya Direktur, ada apa??"


" Apa yang kamu lakukan kemarin?"


" Kemarin??, saya bertemu dengan pihak ketiga dalam merekrut tim manajemen, kepala dapur dan kepala gudang, nanti bila saat interview Direktur juga ikut terlibat disana" jelas Marwah.


Erwin tersenyum puas.


" begitu rupanya, " jawab Erwin singkat.


" kalau begitu, kamu bisa melaporkan pada ku setiap hari" ucap Erwin.


Marwah terkaget.


" laporan?? setiap hari??" ucap Marwah terkaget. "Bagaimana bisa??" lanjut batin nya bergumam seraya melihat ke arah Erwin yang kini melihat dirinya.

__ADS_1


Ting.


Bunyi pintu lift terbuka, dan terlihat Suci dan teman karyawati tercengang melihat Direktur Erwim dan anak baru Marwah saling bertatapan didalam lift.


Dan keduanya pun ikut tersadar, lalu Erwin keluar dengan santai meninggalkan Marwah yang jadi ikut berjalan mengikuti Erwin keluar dari dalam lift, dan menyapa Suci sekilas.


" Pagi, Suci" sapa Marwah seraya berlaku menuju menja kerja ya.


Namun wajah Suci terlihat tak senang disana. Lalu teman sebelahnya menyenggol Suci.


" Siapa anak itu?" tanya karyawati itu penasaran, karena tak pernah melihat wajah Marwah sebelumnya.


" Ck, nanti aku cerita, kita jalan dulu " ucap Suci yang kemudian masuk kedalam lift bersama temannya.


🍃🍃🍃


Disisi lain, Marwah yang baru duduk dimeja kerjanya tak sengaja melihat kearah depan kaca yang terlihat Erwin juga tengah membuka laptop miliknya. Dan seketika ia menggelengkan kepalanya seolah harus fokus.


Namun tiba-tiba, Sekertaris Chandra memanggil Marwah.


" Marwah " .


" Ya, mas Chandra " jawab Marwah cepat.


" Nomor telfon kamu berapa??, kemarin mas telfon kok yang jawab malah suara cowok yaa?? apa kamu salah kasih nomor ke mas??" tanya Sekertaris Chandra dengan wajah serius.


" Ah, handphone Marwah !!" jawab nya spontan seolah mengingat dan melihat kearah depan kaca yang terlihat Erwin tengah menerima telfon.


" Sebentar yaa mas" ucap Marwah yang membuat wajah Sekertaris Chandra bingung. Lalu dengan ragu Marwah memberanikan diri masuk kedalam ruangan Erwin.


Tok..tok.


Dan refleks Erwin melihat kearah pintu, dan terlihat Marwah menunggu ijin masuk. Erwin reflek memberik kode anggukan pada Marwah dan mengakhiri komunikasi telponnya.


" permisi, Direktur ".


" Ya, ada apa??" .


Wajah Marwah terlihat bingung untuk berbicara.


" Ah, ini.., soal handphone saya, bisa kah saya memintanya kembali??" tanya Marwah ragu.


Tiba-tiba wajah Erwin terlihat salah tingkah.

__ADS_1


" Ah, handphone kamu.., itu sudah saya buang !!" ucapnya seolah tak merasa bersalah.


" APA??" jawab Marwah terkaget.


" Buang?? anda membuang handphone saya??" Marwah jadi terbatah-batah dan bingung.


" ya saya buang, handphone kamu terlalu aktif, dan menganggu ketenangan saya" jawab Erwin santai.


Terlihat Marwah mengepalkan tangannya dengan mencoba berpikir tenang.


" Tapi kenapa?? kalau memang menganggu kenapa tidak di silend kan? atau anda matikan??" ujar Marwah frustasi mendengar jawaban santai Erwin.


" Saya akan menggantikannya dengan yang baru"


" Tidak mau, bagaimana bisa anda membuang barang orang lain dengan mudahnya" ketus Marwah kesal.


" jelas barang itu harus dibuang, karena tempatnya memang ditong sampah " tukas Erwin yakin.


Marwah terperangah.


" ini orang maksudnya apa sih??" gumam batin Marwah bingung. Lalu Marwah mencoba menenagkan diri.


" Tapi anda belum membuangnya ketong sampah beneran kan?? karena mas Chandra kemarin menelfon dan anda menjawabnya" tanya Marwah lagi.


" Hhm, yaa itu benar " jawab Erwin yang membuat Marwah bingung.


" Jadi maksud anda handphone itu belum dibuang??"


" karena kamu bertanya, maka aku menjawab handphone itu telah dibuang" jawab Erwin yakin.


Karena kehabisan kata-kata, Marwah pun dengan kesal berbalik badan hendak meninggalkan ruangan itu. Namun ucapan Erwin membuat langkahnya terhenti.


" aku membuangnya, karena pria itu terus menelfon dan berkata ia menyesal" ucap Erwin jelas, dan sontak kedua mata Marwah melebar dan berbalik badan melihat pada Erwin.


" Apa maksudnya?" tanya Marwah yang terpaku dengan perkataan Erwin.


" siapa yang menyesal??" tanya Marwah pada Erwin yang kini pandangan keduanya bertemu.


" pria yang kamu tulis nomornya sebagai " Lelaki Ku Dimas ".


Deg.


Jantung Marwah terhenti, dengan perkataan Erwin dan melihatnya tajam.

__ADS_1


" Bukan kah aku tidak salah, tempat seorang mantan adalah di tong sampah??" ucap Erwin yang melihat reaksi Marwah dengan kedua bola matanya mulai berkaca-kaca.


Dan tanpa menjawab, Marwah keluar dari ruangan Erwin dengan berjalan cepat, dan melewati meja kerjanya.


__ADS_2