Come A Closer Love

Come A Closer Love
30


__ADS_3

Keesokan paginya, Marwah bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan yang akan ia bawa untuk bos Aritama. Dan tiba-tiba ia mendapat pesan singkat dari mama Wulan, bahwa siang ini mama papa akan menjenguk Brian di sekolah Akpol nya. Marwah membaca dengan hati rindu. Rindu karena sudah lama ia tak melihat adik kecilnya yang kini telah tumbuh menjadi pria dewasa dan tengah meniti karir di kepolisian.


Lalu ia meletakkan kembali handphone tersebut, dan kembali fokus membuat masakan simpel untuk diisi kedalam kotak bekal.


Sekitar pukul setengah 8 pagi, para karyawan toko satu persatu datang. Lily terlihat tengah sibuk menghitung-hitung bahan baku membuat roti yang sedikit menipis. Dan terlihat Marwah berjalan menuju etalase kaca dingin dan memasukkan beberapa cup cake flower kedalam kotak.


" Lily, mbak pergi sebentar yaa??" ujar Marwah pada Lily yang terkesiap dengan pemberitahuan Marwah.


" Ah, iyya mbak " , jawabnya cepat seraya melihat ke arah Marwah seperti terburu-buru hendak pergi.


Dan terlihat Marwah pun berlari kecil menuju pintu keluar tokonya dengan menenteng tas bekal juga kotak cake.


🍃🍃🍃


Selama perjalanan, Marwah sesekali membalas pesan dari kak Safa yang mengajaknya untuk berkunjung ketempat Brian. Marwah sedikit tersenyum ternyata tak hanya dirinya yang merindukan Brian, tapi kakaknya juga. Dan tanpa sadar ia pun sampai pada apartemen Luxury Erwin.


" Huuuffft, aku ini kenapa sih?? lama-lama udah kayak layanan delivery aja antar-antar makanan" tuturnya sendiri, dan berlahan ia turun dan menuju lift untuk sampai pada lantai apartemen Erwin.


Dan ketika sampai pada pintu apartemen Erwin, Marwah sedikit ragu.


" ketuk gak yaa" gumam batinnya seraya mengancang-gancang jemarinya untuk memencet bel pintu.


Namun tiba-tiba pintu apartemen Erwin terbuka.


Klik.


Dan Marwah terkaget, lalu sedetik kemudian terlihat sosok Erwin dengan wajah panik keluar.

__ADS_1


Jleb, Marwah terteguh melihat Erwin.


" Kau??" ucapnya dengan mengeyitkan dahi melihat kearah Marwah.


" Ah, yaa.., ini saya hanya ingin.."


" Lupakan, aku terburu-buru, " sanggah Erwin yang kemudian mendorong Marwah kepinggir dan ia pun berlari kecil meninggalkan Marwah yang bingung.


Namun, seolah sadar dari dengungnya Marwah ikut berlari kecil mengikuti Erwin dan sama-sama masuk kedalam lift.


Terlihat Erwin tengah khawatir dan beberapa kali menekan nomor telfon yang sepertinya tak mendapat jawaban dari orang yang ia maksud.


" Ooh, udah ganti handphone nya," gumam batin Marwah yang mencuri pandang pada tingkat Erwin yang terlihat gusar.


Ketika Erwin masih menghubungi nomor tujuannya, ia melihat dengan aneh pada Marwah.


" Sial !!" geram Erwin dengan nada suara marah, karena tak kunjung mendapat jawaban dari nomor yang ia tuju. Dan hal itu membuat Marwah terkaget, dan reflek memojokkan diri.


" Ah, itu saya..," Marwah jadi bingung mau menjelaskan bahwa ia hanya ingin memberikan kotak bekal ini, namun dilihat dari situasinya hal itu hanya akan membuatnya jadi bahan pelampiasan amarah pria ini yang terlihat benar-benar kacau.


Dan tiba-tiba suara handphone Erwin berdering. Dengan seketika menjawab telponnya.


" Ya, bagaimana ini bisa terjadi?? dan sekarang bagaimana kondisi mama?? " tanya Erwin cepat dengan nada khawatir. Dan seketika raut wajahnya syok.


" Apa??" dan ia pun matung.


Marwah hanya bisa menguping pembicaraan serius itu dengan berdiam diri.

__ADS_1


" Ooh, ternyata soal mamanya toh, anak baik ternyata " gumamnya dalam hati seraya melihat ekspresi wajah Erwin yang berubah jadi sedikit berubah lebih refleks namun masih terpancar kekhawatiran disana.


" Aku segera kesana, Rumah sakit Petramedika, baiklah..," jawab Erwin dengan menyudahi pembicaraan itu dan ia pun menghela nafas panjangnya.


" Rumah sakit Petramedika?? itu kan rumah sakit papa??" gumam batin Marwah yang akhirnya jadi ikut tau akar masalah Erwin selama menguping.


TING.


Bunyi pintu lift terbuka dan tiba di lantai dasar apartemen. Dan dengan cepat Erwin keluar dari lift dan berjalan meninggalkan Marwah yang mengikutinya dari belakang.


" Tunggu !!!," ucap Marwah pada Erwin, namun pria itu tak menghiraukan ia terus berjalan dengan terburu-buru menuju depan pintu lobby apartemen. Hingga akhir ya Marwah mengejar langkah Erwin dan meraih lengan pria itu, namun sialnya Marwah salah meraih lengan kiri Erwin yang terdapat bekas luka jahitan.


" Aaaa !!!" seringai suara berat Erwin merasa sakit pada lengan kirinya, dan refleks Marwah menarik tangannya dan cemas.


" kamu maunya apa sih??" ujar Erwin geram pada Marwah.


" Ah, maaf.., maaf, saya salah, tadi maksudnya saya tuh mau bilang kalo saya bisa mengantar Direktur ke rumah sakit Petramedika," jelasnya khawatir.


" Tidak usah, aku bisa sendiri, " tolak Erwin tegas dan kembali berjalan dan mengeyampingkan sakit lengannya.


" Tapi.., saya akan merasa bersalah kalo tidak membantu anda Direktur" ucap Marwah seraya menghadang jalan Erwin.


Dan Erwin terhenti dengan kesal memandang wajah wanita yang benar-benar keras kepala ini. Dan ia pun menyerah dengan menghela nafas panjangnya menatap Marwah.


" Oke.., kali ini, setelah itu tidak ada lagi alasan karena balas budi, aku kesal mendengarnya !!" ketus Erwin.


Marwah paham, dan ia mengangguk pada Erwin.

__ADS_1


" kalo begitu Direktur tunggu disini, saya mau ambil mobil dulu dibawah " ucap Marwah dan akhirnya ia berlari kecil berbalik menuju lift dan turun ke 1 lantai dibawah tempat parkiran mobil.


Erwin hanya bisa menggelengkan kepala melihat Marwah.


__ADS_2