
Dimalam yang sama, Marwah terpaku berdiri dihadapan papa Evan yang menatap serius pada putrinya yang terdiam.
" sepertinya papa keberatan jika kamu terus bersama pria seperti itu?" ucap papa Evan tegas.
Marwah hanya bisa diam, wajar jika papa Evan kecewa, karena Marwah membuat papanya menunggu dan tak mengabariny jika pria yang ia sebut orang terpenting di kehidupannya tak jua muncul dihadapan orang tua Marwah.
Mama Wulan tak bisa membantu. Ia hanya melihat cemas pada Marwah yang sedari tadi terdiam membisu.
" pria seperti itu tidak akan berubah sampai kapan pun, jika susah A maka akan selamanya A, tanpa mendengar penjelasan dari orang sekitarnya, lupakan dan papa harap kamu lupakan dia,"
" pah??," sela Marwah cepat dengan wajah cemas.
" mungkin mas Erwin punya alasan, dan memang salah Marwah karena tak berbicara terlebih dahulu, apa lagi dengan kondisi saat ini, mungkin itu sulit diterima oleh mas Erwin," ucapnya cemas akan kekesalan papa Evan yang kehilangan simpatiknya terhadap Erwin.
Namun papa Evan tetap kesal.
" maaf.., maaf pah,Marwah yang gegabah," ucapnya menyesal.
" sebaiknya kamu berpikir lagi, " ucap papa Evan seraya berjalan meninggalkan Marwah dan mama Wulan yang terlihat cemas pada Marwah.
Marwah tertunduk dengan mengigit bibirnya, hatinya gundah. Simpati papa Evan pudar pada Erwin, maka akan sulit jika begini keadaannya.Dan ia menyesali tindakan gegabahnya yang mungkin melukai perasaan Erwin sebagai seorang pria.
mama Wulan berjalan mendekat pada Marwah sehingga Marwah tersadar dan melihat dengan wajah sedih pada mama Wulan.
" mah?? apa yang harus Marwah lalukan??," ucapnya sedih.
Mama Wulan tak bisa berkata, karena ia tak bisa meredakan kekesalan suaminya jika dalam kondisi seperti ini.
Mama Wulan hanya bisa memeluk Marwah dengan sayang.
" beri waktu sejenak, sekarang papa mu tak bisa kita paksa, apa lagi jika simpatinya telah hilang, hmm," ucap mama Wulan yang menambah gundah hati Marwah.
Marwah hanya bisa menghela nafas panjangnya. Pikirannya benar-benar bercabang. Dan hatinya ikut gundah mengingat penolakan Erwin yang menbuatnya syok.
🍃🍃🍃
Kini setelah bersitegang dengan papa Evan, Marwah termenung didalam kamarnya dengan hati gundah. Ucapan penolakan Erwin yang spontan membuatnya khawatir.
" kenapa mas Erwin menolak?," ucap Marwah sendiri. Lalu ia pun merebahkan tubuhnya dengan lelah.
Seraya ia meraih handphone nya dan mencoba melihat beberapa notif pesan masuk yang salah satunya adalah dari Erwin. Marwah terperanjah sehingga dengan antusias membuka laman pesan dari Erwin tersebut. Terbaca sebuah pesan singkat yang membuat Marwah terpaku.
" maaf," Erwin.
Membaca pesan itu, seolah dada Marwah sesak mengingat ucapan penolakan Erwin siang tadi. Bagaimana ia dibuat bingung dengan sikap Erwin yang berubah.
" apa yang harus Marwah lakukan?," ucapnya lagi seraya memegang kepalanya dengan menutup kedua matanya. Hingga ia pun tertidur dengan lelah berpikir.
🍃🍃🍃
__ADS_1
Pagi harinya Marwah yang bangun dengan tak bersemangat pun memulai harinya seperti biasa dengan membuat roti-roti istimewa untuk dijual di toko dr. Dessert.
Sembari menunggu cakenya di panggan, tepat di pukul 7 ia membuka pintu tokonya dengan berharap masih bisa menghirup udara segar pagi agar bisa memenuhi oksigen segar.
Kreeek.., kreeeek.., bunyi pintu besi terbuka. Namun seketika Marwah terpaku kaget melihat sosok pria berdiri membelakangi pintunya dengan stelan santai.
Lalu pria itu berbalik dengan wajah antusias
" apa benar ini toko nona Marwah??," tanya pria itu pada Marwah.
" yaa, saya sendiri, ada apa??," tanya Marwah ragu dengan memperhatikan buket bunga besar itu.
" oh begitu, ini kiriman bunga untuk anda nona," ucap pria itu dengan menyerahkan buket bunga itu pada Marwah yang terkaget.
" kalau begitu saya permisi nona," ucap pria itu seraya hendak berbalik.
" eh..eh.., eh.., mas ini dari siapa??," seru Marwah menghentikan langkah pria tersebut dengan cepat.
" oh, ada kartunya di situ nona," ucap pria itu dengan menunjuk arah kartu itu terselip. Lalu pria itu pun pergi begitu saja meninggalkan Marwah yang terpaku.
" maaf, karena hal kemarin," EA.
Tiba-tiba..
" uwaaaah, cantik banget bunganyaaaaa," seru Lily antusias dan ia baru saja datang bersama beberapa karyawan lainnya.
Marwah terkaget, dan dengan segera masuk kedalam tokonya.
" kiriman dari siapa mbak??," tanya Lily kepo.
" seseorang," sahut Marwah santai.
" waah main rahasia-rahasiaan sekarang yaa??," celetuk Lily.
Marwah hanya tersenyum kecil. Dengan melewati lily Marwah berlalu menuju rumah atasnya. Ketika berada dirumah atasnya, ia meletakkan buket bunga itu diatas meja. Lalu memandang buket bunga itu.
" kenapa kamu yang harus mewakili maafnya??? kenapa??," ucap Marwah pada buket bunga itu. Lalu tiba-tiba deringan handphone nya mengangetkan Marwah. Ia pun meraih handphone dan terkaget melihat nama kak Safa disana.
" hallo kak??,"
" kamu??? apa yang terjadi???, kenapa papa begitu marah??," tanya kak Safa bertubi-tubi.
Marwah menghela nafasnya.
__ADS_1
" ceritanya panjang,"
" ya Tuhan, kamu ini tetap gak berubah, kenapa gak ngomong dulu sama kakak???,"
" maaf," ucapnya lirih memandang buket bunga.
" luangkan waktu, kita bicara,"
" hmmm, ya, nanti Marwah kabarin,"
" Marwah??,"
" hmm," sahutnya pelan.
" jangan cemas," ucap kak Safa yang membuatnya terpaku.
" kakak tau kamu sudah melalukan hal yang baik,"
" makasih ya kak," balas Marwah.
Dan tak lama komunikasi itu pun terputus seiring dengan beratnya hela nafas panjangnya Marwah.
🍃🍃🍃
Disisi lain Erwin yang baru saja memarkir mobil sedan nya pun turun dengan langkah pelan. Ia melihat sekitar area pemakaman umum itu dengan berat. Lalu ia membuka pintu belakang mobilnya dan mengambil buket bunga sederhana.
Lalu berjalan melewati beberapa makam, dengan langkah pasti ia berjalan memuju sebuah makam sederhana. Dan tak lama langkahnya berhenti di satu pusara dengan nama besar Aritama.
" ayah!!," sapa Edwin pelan.
Erwin yang berlahan turun mendekat pada sisi makam tersebut yang terlihat sedikit tak terawat. Dan meletakkan buket bunga itu di atasnya. Perlahan ia menyentuh tanah makam itu seraya mencabut rumput-rumput kecil disana.
" maaf ayah, Erwin jarang kemari, maaf.." ucapnya
berat.
" ayah, Toni.., Erwin telah menyelesaikan masalah dengan Toni dan maaf karena harus mengunakan cara ini ayah,"
" ayah, maaf karena Erwin gagal," ucapnya lagi dengan nada berat. Lalu melihat pada pusara tersebut dengan menyentuhnya dengan sayang.
" maafkan Erwin yang tak bisa membanggakan ayah," dengan menelan salivanya yang berat ia tertunduk didepan pusara itu dengan hati terluka.
" Erwin lelah ayah," keluhnya dengan tak sengaja menjatuh air mata.
Hening..
Sesaat Erwin membayangkan wajah ayahnya yang pasti akan selalu tersenyum simpul dan akan menepuk bahunya dengan memberi semangat.
__ADS_1
" tak apa, kamu sudah lakukan hal yang terbaik," seolah suara khas pria yang Erwin rindukan itu terngiang.
" maaf, sungguh Erwin minta maaf ayah," gumamnya dalam hati dengan hati bergetar. Ada rasa sesak disana yang tak bisa ia tumpahkan.