
Keesokan paginya, terlihat Erwin dan Edwin tertidur di sofa. Namun tiba-tiba terbangun karena mendengar suara ketukan pintu. Dan refleks keduanya bangun bersamaan dan sedikit merenggangkan badan karena terlalu tak nyaman tidur di sofa.
" Permisi" ucap seorang perawat wanita muda yang dengan ragu masuk kedalam kamar karena mendapati pemandangan pagi dua pria tampan baru bangun tidur.
" Maaf ibu, saya cabut infusnya yaa, dan nanti sekitar jam 9 dokter akan visit" jelasnya.
" Baik" jawab nyonya Aritama yang memberikan tangan terinfus kearah perawat. Dan tak berselang lama jarum infus itu pun tercabut dari tangan Nyonya Aritama.
" Sudah selesai, setelah sarapan pagi diminum obatnya ya ibu, kalau begitu saya permisi dan semoga cepat sembuh ibu" tutur ramah perawat tersebut lalu keluar.
" Gimana mah??" tanya Erwin yang berjalan melihat kaki mamanya yang ter gips.
" Hhmm agak sakit sih, tapi masih bisa mama tahan kok," jelas nyonya Aritama dengan ikut memperhatikan kakinya.
" Mah, Edwin ngantor dulu yaa, cuma 1 masuk mata kuliah aja, siang Edwin langsung balik," jelasnya dengan meraih handphonenya.
" Iyya, " jawab nyonya Aritama pada putra keduanya.
" Tapi nanti siang Tari ( calon istri ) akan kemari untuk temenin mama" jelasnya lagi.
" Iyya, hati-hati dijalan, jangan lupa sarapan " ujar Nyonya Aritama dan Edwin pun berlalu keluar dari kamar itu.
Tinggal Erwin yang masih terlihat santai menonton berita pagi dari sofa.
" Kamu gak ngantor??" tanya nyonya Aritama pada putra sulungnya.
" Gak mah, sebentar lagi sekertaris Cha juga bakal datang bawa bahan kerjaan , " jawabnya santai.
Nyonya Aritama hanya tersenyum, dan tak lama terdengar suara pintu terbuka, terlihat seorang pegawai rumah sakit masuk untuk memberikan sarapan pagi untuk nyonya Aritama.
" Pagi ibu, ini sarapan pagi ini yaa, semoga anda cepat sembuh " ujar pegawai tersebut dan setelah ia meletakkan nampan dimeja makan ia pun keluar dari kamar tersebut.
Erwin bangun dan menarik meja makan itu ke hadapan mamanya yang mencoba bangun untuk terduduk. Erwin dengan sigap membantu tubuh mamanya untuk bisa terduduk dengan nyaman.
" Makasih ya nak, kamu makan ini aja sama mama " tawar nyonya Aritama pada putranya.
" Enggak mah, nanti Erwin bisa delivery kok, udah makan aja setelah itu minum obat " jelasnya seraya memberikan sendok kehadapan mamanya dan mempersilahkan mamanya makan sup bubur daging tersebut.
Nyonya Aritama hanya bisa tersenyum simpul melihat tingkah putranya yang telaten merawat dirinya, ia bahkan berkhayal pasti istri Erwin sangat beruntung menikah dengan putranya yang perhatian dan lembut.
" Ayo mah, dimakan, kok malah bengong " ujar Erwin mengagetkan nyonya Aritama dari lamunnya.
🍃🍃🍃
Ketika jam setengah 10 pagi, sekertaris Chandra datang dengan mengejutkan nyonya Aritama.
" Pagi nyonya, bagaimana keadaan anda??" sapa sekertaris Chandra sopan.
__ADS_1
" Baik, masuklah.., Erwin keluar sebentar " jelas nyonya Aritama.
Sekertaris Chandra masuk dengan canggung, ia merasa sikap nyonya Aritama agak berbeda, biasanya beliau akan sangat ramah menyambut dirinya.
Dan tak berselang lama, Erwin pun kembali dengan terkaget melihat kearah Sekertaris Chandra yang kini duduk di sofa.
" pak " sapa Sekertaris Chandra yang kembali terbangun.
" duduk laah, bagaimana keadaan kantor??"
" aman, dan ini beberapa laporan yang saya bawakan " jelasnya singkat.
Dan terjadi obrolan serius antara keduanya, lalu terlihat sekertaris Chandra mengeluarkan tab nya dab memberikan kepada atasannya Erwin yang meraih dan melihat dengan serius.
Nyonya Aritama hanya bisa menghela nafas panjangnya melihat putranya yang benar-benar gila kerja, maka ia akan jadi orang lain yang dengan serius melihat laporan-laporan itu.
Dan sekitar 1 jam setengah diskusi itu pun berakhir, terlihat sekertaris Chandra kembali membereskan laporan tersebut kedalam tasnya. Tiba-tiba terdengar pintu kamar terbuka dan terlihat Suci masuk dengan wajah sumringah.
Dan refleks Erwin dan sekertaris Chandra menoleh pada asal suara pintu itu. Dan terlihat wajah Sekertaris Chandra terkejut dengan kemunculan Suci yang hampir 2 tahun tak ia lihat.
" Mas Chandra, apa kabar??" sapa Suci ramah pada sekertaris Chandra yang ia kenal dulu ketika sempat bekerja di perusahaan Erwin sekitar 1 tahun setengah sebelum akhirnya ia melanjutkan kuliah S2 di Jogja.
" Suci!! ah, yaa saya baik, Suci sendiri bagaimana ??" balasnya yang masih sedikit terkejut melihat sosok Suci kembali muncul setelah dua tahun menghilang karena menyambung kuliah S2 di Jogja.
Sekertaris Chandra berubah grogi dihadapan Suci.
" Ya kan kasian kalau tante sendiri gak ada temen ngobrol, para pria mana ngerti yaa kan, tante? " ujarnya seraya mencari dukungan nyonya Aritama.
Terdengar tawa kecil nyonya Aritama, ketika jawaban Suci dapat membuat Erwin tak berkutik.
" Kalau mas mau masuk kantor, silahkan aja, tante bisa sama Suci kok " tuturnya meyakinkan Erwin.
Terlihat Erwin ragu, namun tiba-tiba pintu kamar terbuka pelan dan terlihat dokter dan seorang perawat masuk kedalam kamar berlahan.
" Maaf, permisi..," ujar dokter ramah.
" Dokter, " gumam Nyonya Aritama.
Dan berlahan dokter pria itu masuk dengan wajah ramah.
" Bagaimana keadaan hari ini??" tanya dokter seraya melihat kearah kaki yang terlihat gips.
" Baik dokter, hanya masih sakit, " ujar Nyonya Aritama menjelaskan apa yang ia rasa.
" Yaa wajar nyonya, apa obat anti nyerinya ada diminum??"
Nyonya Aritama mengangguk memberikan tau bahwa ia mematuhi peraturan minum obat.
__ADS_1
" Baik kalau begitu, kalo anda merasa nyaman, ibu sudah bisa pulang, hanya sebaiknya ibu latihan dulu menggunakan tongkat agar mudah bergerak, atau bisa juga untuk sementara mengunakan kursi roda untuk mengurangi pemakaian kaki yang cedera" terang dokter berlahan.
Erwin paham, lalu ia melihat raut wajah lega mamanya yang tak terlalu cemas dan mempercayai perkataan dokter pria ini.
" selama 3 bulan, mohon untuk berhati-hati dalam beraktivitas, jika anda ada pekerja dirumah itu lebih baik, sehingga ibu tidak perlu banyak beraktivitas dan bisa bad rest guna mempercepat kesembuhan" terangnya lagi.
Erwin merasa puas dengan pemaparan sang Dokter.
" Baik ada yang mau ditanyakan??" tanya dokter dengan kembali meneliti kaki gips nyonya Aritama.
" Tidak ada Dokter, semua sudah jelas, " jawab Erwin sebagai anak yang bertanggungjawab atas kesehatan ibunya.
" Baik kalau begitu, saya pamit yaa, jangan lupa untuk cek berkala dan semoga anda cepat sembuh yaa ibu" ujar dokter ramah dan beliau pun keluar berlalu meninggalkan penghuni kamar yang terlihat puas dengan penjelasannya.
" Syukurlah, tapi mama harus ada yang jagain kalau dirumah, " ucap Erwin seraya berpikir.
" kan ada Bik Tun , jadi kamu gak perlu cemas, " ujar Nyonya Aritama meyakinkan putra sulungnya.
" Tapi, Bik Tun kan juga udah tua, gimana bisa ngebantu mama kalau misal ke kamar mandi?? bisa-bisa ikut nimbrung jatuhnya" ucap Erwin yang membayangkannya saja sudah membuatnya cemas.
Lalu ia menghela nafas panjang, seraya berpikir keras.
" Kita sewa perawat aja kalau begitu, untuk 1 bulan ini " idenya yang muncul tiba-tiba.
Suci terkaget, ia merasa tak senang dengan ide Erwin yang riskan untuk dirinya.
" gawat?? kalau ada perawat wanita muda dirumah tante Intan, bisa-bisa kepincut sama mas Erwin?? Gak aku gak bisa lengah" rutu batinnya.
" Biar.., biar Suci aja yang rawat tante" tawarnya di tengah-tengah diskusi. Dan Erwin menoleh pada Suci.
" Jangan, " sanggah nyonya Aritama.
" tante gak enak kalo kamu yang harus urus tante, lagian dirumah juga ada Edwin kok, jadi gak papa, kalian tenang aja, " ujarnya meyakinkan Erwin dan Suci.
Namun wajah Suci bingung ketika mendengar bahwa dirumah hanya ada Edwin saja. Lalu mas Erwin kemana??.
" Ya udah mah, untuk dua minggu ini Erwin akan balik kerumah sementara sambil cari-cari perawat untuk rawat mama, " tuturnya mengalah.
Suci terkaget.
" Loh, mas Erwin enggak tinggal bareng tante lagi??" tanya Suci penasaran.
" Iyya, mas Erwin mu ini ngambek waktu itu !!" celetukan nyonya Aritama santai.
" Maaah !! " seru Erwin untuk menyudahi obrolan yang tak perlu dibuka masalahnya.
Suci terteguh, dan ia jadi penasaran.
__ADS_1