Come A Closer Love

Come A Closer Love
60


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, keduannya diam seribu bahasa, Erwin masih terngiang doa dari ibu Nir untuk dirinya dan Marwah.


" semoga langgengnya," ibu Nur.


Dan karena hal itu sepanjang jalan Erwin terus tersenyum bahagia.


Sedangkan Marwah terus mengingat mimpinya tadi, mimpi yang sudah lama, dan kini muncul kembali. Ia terbayang wajah anak laki-laki dengan kepala dan tangan diperban tengah tersenyum.


" Kak Mummy," ucap Marwah reflek dengan melihat sepanjang jalan dari jendela mobil Erwin.


"Apa??," tanya Erwin reflek menjawab.


Dan Marwah jadi terkejut, dan reflek menoleh pada Erwin yang tengah fokus melihat jalan.


Erwin yang awalnya santai merasa diperhatikan Marwah dengan serius pun berbalik melihat Marwah dengan bingung.


" kenapa??, apa ada yang aneh??," tanya Erwin bingung.


" ah, bukan, tadi..," ucap Marwah ragu dan tak yakin bahwa tadi Erwin menjawab ketika ia memanggil nama kak Mummy.


" Kenapa??," tanya Erwin lagi dengan melihat sekilas wajah serius Marwah.


" Ah, enggak papa," ujar Marwah dengan mengalihkan pandangannya pada badan jalan.


" Gak mungkin kan tadi?, pasti salah dengar?," gumam batin Marwah yang tak percaya dengan pendengarannya tadi.


" Soal kepala Chef, ada satu orang yang bisa kita ajak bergabung," ujar Erwin.


Marwah kembali melihat pada Erwin yang tiba-tiba membahas soal pekerjaan.


" Siapa??," tanya Marwah penasaran.


" Nanti kamu akan liat, pada saat interview," ujar dengan sengaja membuat penasaran Marwah.


" Hmmm, baik laah Direktur," jawab Marwah singkat.


Erwin terkaget.


" Direktur??, kenapa memanggil dengan nama itu lagi?," tanya Erwin protes.


" kenapa??, bukan kah tadi kita sedang membahasa pekerjaan??," jelas Marwah dengan wajah santainya.


Erwin terhenyak.


" Kamu ini benar-benar!!," ucap Erwin sedikit kesal.


" Kenapa??, mas mau protes??," ujar Marwah dengan senyum jahilnya.


" Dasar anak kecil," celetuka Erwin kesal pada Marwah yang mempermainkan panggilan untuk dirinya.


" Ikh Marwah bukan anak kecil lagi, Marwah itu udah ged..," tiba-tiba ucapnya terhenti dan melihat serius pada Erwin yang terlihat santai membawa mobil.


" Dejavu.," bisik Marwah yang merasa moment ini dulu pernah ia alami dan terpaku melihat Erwin.


" Hari ini jangan lupa bawa cookies coklat, aku ingin memakannya lagi," ujar Erwin yang hampir sampai pada parkiran toko dr. Dessert.


Dan ketika mobil Erwin berhenti dengan pas di depan toko. Ia melihat pada Marwah yang masih mematung melihat pada dirinya.


" Kenapa??, apa ada yang salah?," tanya Erwin menatap Marwah dengan tangan nya reflek menyentuh kepala Marwah dengan sayang.


" Ah, bukan tadi.., apa tadi mas ngerasa gak sih?? kayak pernah..??," ujar Marwah ragu.


Erwin melihat dengan bingung pada Marwah.


" pernah? apa?," tanya Erwin bingung.


Namun tiba-tiba Marwah menggelengkan kepalanya.


" ah, bukan apa-apa kok mas," ujar Marwah dengan membuka pengait savety beltnya.


Erwin melihat dengan penasaran, namun dengan reflek tangan Erwin membelai sayang kepala Marwah.


" Sampai ketemu lagi dikantor, sayang," ucap Erwin dengan tersenyum hangat pada Marwah.


Reflek Marwah melihat pada Erwin dan dengan senyumnya.


" ya mas, makasih yaa, Marwah duluan," ucapnya dengan segera turun dari mobil Erwin yang tak berselang lama pergi berlalu meninggalkan dirinya.


" Gak mungkin kan kalau mas Erwin itu kak Mummy??," ujarnya sendiri dengan menertawakan kesalahan pahamnya tadi yang hampir menebak bahwa mas Erwin adalah anak laki-laki itu.


Lalu ia masuk kedalam toko yang sepertinya telah terbuka, dan terlihat Lily dan Salwa telah membuat roti-roti itu.


Dan sejenak, Marwah merasa bersalah, karena semakin tak bisa menjaga eksisan dalam mengelola toko.


" Lily?? Salwa??," panggil Marwah yang berada ditengah-tengah toko, dan disambut kaget Lily dan Salwa yang tak menyadari kepulangan Marwah.


" Mbak Marwah??, kapan pulangnya?," tanya Salwa.


" Maafin mbak yaa," ujar Marwah yang sedikit menyesal.


" Mbak kenapa???, apa ada yang masalah??," tanya Lily bingung.


" Maaf mbak gak benar-benar ngurus toko yaa, gara-gara mbak yang harusnya jadi tugas mbak, malah jadi nambah tugas kalian," ujar Marwah sedih.


" Ikh, mbak ini, kenapa ngomong gitu, kita gak ngerasa berat kok, lagian ini kesempatan kami buat pratekin semua resep mbak kasih, kesempatan untuk bantu mbak juga, jadi ini bukan beban," ujar Lily.


" Iyya, kita suka kok buat roti, jadi gak ada istilah beban," ujar Salwa.


" makasih yaa, dan mbak benar-benar minta maaf, sabtu minggu besok kan libur mbak bakal fokus full ditoko," ujarnya serius.


Lily dan Salwa kompak memberi tanda jempol dihadapan Marwah memberi semangat.


" Ya udah mbak, siap-siap ngantor aja, toko aman kok sama kita," kata Lily dengan berjalan menuju rak roti yang kosong.


" Ya," jawab Marwah yang kemudian berjalan menuju rumah atasnya untuk bersiap.


🍃🍃🍃


Tepat di jam 9 pagi, Marwah tiba dikantor Aritama group. Dan ia terlihat sibuk dengan mempersiapkan persentasi pada saat rapat dengan pihak ketika. Terlihat Suci yang kini ikut duduk disebelah Marwah dengan menyusun lembaran kertas yang akan dibagikan pada saat rapat.


Dan tak lama, terlihat Erwin dan sekertaris Chandra yang baru tiba dikantor dengan berdiskusi serius mereka pun melewati meja Marwah yang terlihat sibuk.


" Mas Erwin," sapa Suci senang yang menyadari kehadiran Erwin dan Sekertaris Chandra.


Marwah yang tadinya fokus dihadapan layar komputer pun jadi reflek melihat pada Erwin dan sekertaris Chandra dengan canggung.


" Apa kalian sudah siap??," tanya Erwin yang sorot matanya melihat pada Marwah.


" Yaa," jawab Marwah.


" Baiklah, aku akan tunggu hasilnya diruang rapat nanti," jawab Erwin.


" Suci udah kerjakan semua, semoga hasilnya tak mengecewakan," sela Suci dengan tersenyum pada Erwin.


" Bagus lah, " sambut Erwin dengan sekilas melihat pada punggung tangan, yang masih kentara merah bekas percikan cairan panas.

__ADS_1


" Marwah,"


" Ya, Direkrut?," jawab Marwah kaget.


" Keruangan ku sekarang," pinta Erwin dengan berjalan meninggalkan ketiganya.


Sekretaris Chandra yang sedari tadi diam, reflek melilhat serius pada Marwah dengan wajah penasaran.


Marwah yang sadar jadi sasaran pandangan penasaran Sekertaris Chandra pun jadi sedikit kelabakan.


" Kenapa mas???, apa ada yang aneh??," tanya Marwah menyembuyikan was-was jantungnya menunggu tebakan penasara Sekertaris Chandra.


Suci pun jadi melihat pada Marwah dengan bingung.


" Ssst, kayaknya kamu, yang..,"


Deg..,deg.


" Duuuh , gak mungkin kan mas Chandra tau siapa yang angkat telfon mas Erwin tadi pagi??," gumam batin Marwah cemas.


Tiba-tiba nada dering handphone Suci berdering, sehingga membuyarkan ketiganya yang sedikit teralihkan.


Suci pun dengan cepat mengankat telfon tersebut dengan berjalan menjauh dari Marwah dan Sekertaris Chandra.


" Huuuffft," reflek Marwah menghela nafas panjangnya seolah bom waktunya tak jadi meledak. Namun ia tersadar sekertaris Chandra masih akan melanjutkan penasarannya.


" Kayaknya bener kamu deh, bener kan???," tebak Sekertaris Chandra ambigu.


" Ap..apanya yang be.., bener mas??," jawab Marwah yang jadi terbatah-batah seraya berjalan keluar dari meja kerjanya dan hendak menuju ruangan Erwin.


" pasti kamu," ujar Sekertaris Chandra dengan melihat pada Marwah yang kemudian masuk kedalam ruangan Erwin.


Dan ketika berada dihadapan Erwin, Marwah pun jadi menghela nafas kembali seolah baru selesai keluar dari situasi mencekam.


" Kamu kenapa??," tanya Erwin dengan melihat wajah Marwah.


" Ah, bukan apa-apa, ada apa Direktur memanggil Marwah??," tanya Marwah yang seketika serius.


Tiba-tiba Erwin dibuat geram oleh Marwah yang masih memanggil " Direktur".


" Kamu ini yaa??, berapa kali harus di ingetin, jangan panggil sebutan " Direkrut " !!," ujar Erwin kesal.


" ah, maaf mas karena dikantor jadi yaa ikut suasana kantor," jawab Marwah enteng.


" iyya, tapi kan sekarang cuma kita berdua, apa gak bisa diubah juga??," ujar Erwin dengan mengeluarkan sebuah paper bag kecil dan menaruhnya di atas meja.


" Iyya, maaf mas, " jawab Marwah dengan sedikit lembut.


" Jadi mas panggil Marwah ada apa?," tanya Marwah dengan senyum hangat pada Erwin.


Dan perlahan Erwin mengambil sesuatu dari dalam paper bag itu, dan ternyata sebuah obat salap lalu ia menyerahkannya pada Marwah.


Marwah hanya melihat pada gerak gerik Erwin.


" Kemarinkan tangan kamu ya itu, " pinta Erwin dengan menunjuk tangan kanan Marwah.


Marwah dengan bingung menurut saja, dan reflek memberikan tangannya pada tangan Erwin.


Dan perlahan Erwin membuka salap tersebut lalu mengoleskan perlahan crem salap itu di atas punggung tangan Marwah.


" Kamu, bagaimana bisa masak dengan tangan begini," ujar Erwin yang dengan serius mengoleskan tipis crem salap itu.


Marwah terteguh dengan melihat wajah serius Erwin yang mengoleskan dengan perlahan.


Sekilas Marwah tersenyum hangat ketika melihat pada punggung tangannya yang terlah teroles crem salap.


" Makasih ya mas," balas Marwah pelan


" Hmm, semoga salap ini bekerja dengan baik," kata Erwin kembali yang dengan serius menatap wajah Marwah yang terpaku pada tangannya.


" kamu, apa mau minum coklat dengan ku??," tanya Erwin pada Marwah.


Marwah terkaget.


" Ah, maaf yaa mas, Marwah gak bisa, itu masih ada beberapa hal yang belum dibenah," jawab Marwah sedikit menyesal.


Erwin sedikit kecewa, namun ia tau pekerjaan Marwah pasti menunggu sebelum rapat.


" Huuuffft, baiklah.., aku akan bersabar," ujarnya dengan mencoba membuka layar laptopnya.


Marwah pun tersenyum pada pria ininyang seketika jadi menurut.


" kalau begitu Marwah balik ya,"


" Hmm, bawa ini, pakailah sesering mungkin agar cepat sembuh," ujar Erwin dengan nada lemasnya, ia memberikan paper bag kecil itu pada Marwah.


Marwah pun menerimanya dengan senyum.


" makasih yaa Sayang," ucap Marwah dengan sengaja.


Seketika ekspersi wajah Erwin berubah senang mendengarkan Marwah memanggilnya dengan manja. Dan Marwah pun berjalan keluar dari ruangan Erwin dengan reflek terkaget ketika melihat ekspresi wajah Sekertaris Chandra yang melihat tajam pada dirinya.


" Waah, ternyata,, kalian udah sebegitu dimabuk asmaranya yaa," celetuk Sekertaris Chandra dengan wajah yang usil yang akhirnya mendapat jawaban dari penasarannya selama ini.


Marwah seketika tertawa canggung dengan mendengar tebakan Sekretaris Chandra yang tepat. Lalu ia pun menuju meja kerjanya dengan canggung.


Dan satu jam kemudian.


Terlihat diruang rapat, Marwah yang tengah persentasi dan memberi pemaparan tentang kerja sama ini. Wajah serius Marwah terlihat berbeda, hingga Erwin tak bosan-bosan melihat pada wajah rupawan Marwah.


" Bagaimana pendapat Direktur??," tanya Sekertaris Chandra yang sedikit mendekat mendekat pada Erwin yang tengah memandang serius pada Marwah yang menanti keputusan.


" Direkrut??," tanya Sekertaris Chandra kembali dengan sedikit menyikut lengan Erwin.


Suci melihat dengan bingung pada Erwin yang terlihat melamun.


" Mas Erwin !!," panggil Suci dengan sedikit keras.


Dan seketika Erwin tersadar.


" Ada apa?," tanya Erwin dengan sedikit terganggu.


Dengan terburu-buru Sekertaris Chandra menjelaskan sekilas seraya berbisik.


" Bagaimana?, keputusan ada ditangan anda," tanya Sekertaris Chandra kembali.


Marwah menunggu dengan bingung.


" Hhmm, saya setuju, kerjakan seperti yang telah Marwah rencanakan," ujar Erwin dengan bangga.


Dan seketika terdengar tepuk tangan menyambut keputusan Erwin, lalu seketika beberapa para rekanan bangun untuk berjabat tangan sebagai tanda kesepakatan.


" Selamat mbak Marwah, rencana mbak selalu terbaik," ujar salah seorang rekanan pria yang mengulurkan tangannya dihadapan Marwah dengan kagum.


" Terima kasih Rico, " jawab Marwah dengan menyambut jabatan tangan Rico.

__ADS_1


Namun dengan cepat tangan Marwah ditapih oleh tangan Erwin yang mengantikannya untuk berjabatan tangan dengan Rico.


Rico terkaget ketika tangannya disabut cepat oleh Erwin. Dan terlihat Marwah bingung ketika Erwin menghalangi pandangannya pada Rico.


" Terima kasih, semoga kerja sama ini terjalin baik," sela Erwin dengan tersenyum dingin pada Rico.


" Ah, i.., iyya saya begitu pak Erwin," jawab Rico canggung.


Suci melihat dengan aneh pada Erwin. Ia menilai itu bukan lah sifat Erwin yang protektif dengan karyawannya.


" Aneh??," ujar Suci dengan menatap Erwin.


" Suci?," panggil Sekertaris Chandra.


" Ah, ya mas Chandra, ada apa??," tanya Suci dengan beralih pandangannya pada Sekertaris Chandra.


" Tolong bawakan kontrak yang telah jadi, biar bisa ditandatangani sekarang juga," perintah Sekertaris Chandra.


" Iya, baik mas," ujar Suci dengan segera keluar dari ruangan rapat menuju meja kerja Marwah yang terdapat beberapa lembar kertas kontrak yang telah disiapkan. Lalu ia kembali kedalam ruangan rapat itu.


Dan betapa terkejutnya Suci, ketika melihat Erwin berbicara berbisik disisi telinga Marwah dengan senyum terkembang. Keduanya seperti tengah asyik membahas suatu hal dengan berbisik.


Suci merasa syok berat. Lalu ia masuk dengan wajah kesal.


" MAS ERWIN!!," panggil Suci dengan suara keras, hingga mengangetkan para penghuni ruangan rapat itu. Erwin pun terkaget.


Marwah melihat dengan kaget, dan reflek berjalan untuk mendekat pada Suci yang terlihat tak baik.


" Kamu kenapa Suci??," tanya Marwah dengan mencoba menyentuh lengan Suci, namun dengan cepat ia menepis tangan Marwah. Dan Marwah terlihat kaget dengan tepisan tangan Suci yang kasar.


Sekertaris yang Chandra melihat situasi yang tak begitu baik pun dengan seketika berjalan pada Suci.


" Kamu sudah bawa kontraknya??," tanya Sekertaris Chandra dengan memberi kode.


Seketika Suci berusaha tenang, lalu ia pun memberikan kertas kontrak itu pada Sekertaris Chandra.


Dan tak beberapa lama, setelah sama-sama menyepakati perihal kontrak kerja sama. Maka dengan segera Erwin dan Rico pun membubuhkan tanda tangan pada kedua kontrak itu, sebagai tanda keseriusan kerja sama itu.


Tepat di jam dua siang, rapat itu pun bubar dengan meninggalkan Marwah Erwin dan sekertaris Chandra yang masih berdiskusi kecil didalam ruangan rapat.


Terlihat Suci terdiam dan melihat tajam pada Marwah.


Namun ditengah-tengah diskusi, terlihat Marwah pergi.


" kamu mau kemana??," tanya Erwin yang melihat pada Marwah.


" ah, sebentar mas , mau ke toilet," ujar Marwah dengan tak nyaman.


Suci terkaget mendengar panggilan Marwah untuk Erwin.


" mas??," guman Suci tak percaya bahwa Marwah sebebas itu memanggil atasannya dengan " Mas".


Tak berselang lama Marwah berjalan ke toilet wanita, Suci pun mengikuti jejak Marwah menuju toilet.


Erwin melihat dengan aneh pada Suci.


" Sekertaris Cha, apa perasaan aku yang salah??, sepertinya Suci sedang marah," ujar Erwin serius.


Sekertaris Chandra sedikit terkejut, ternyata atasannya juga menyadari Suci seperi sedang marah.


" ah, saya kurang yakin Direktur, tapi mungkin bisa jadi karena siklus bulanan wanita," celetuka Sekertaris Chandra menduga-duga.


" ah, " Erwin mengangguk mencoba mengerti penjelasan sekertaris Chandra. Lalu tiba-tiba ia melihat pada jam tangannya dan seolah berpikir.


" Pesan kan makanan untuk makan siang kita berempat, dan jangan pesan menu makanan seafood, karena Marwah alergi parah," ujar Erwin dengan menraih handphone nya yang terlihat mendapat pesan masuk.


Sekertaris Chandra terkaget, namun seketika ia tersenyum jahil pada atasannya Erwin.


" Ssst, jadi loe bener udah pacaran sama Marwah??," tanya Sekertaris Chandra yang mengubah nada panggilannya untuk sahabatnya ini yang merupakan atasanya.


Erwin seketika terkaget, dan melihat pada Sekertaris Chandra dengan serius.


" Apa aku mengajimu untuk mengurusi urusan pribadi ku??," celetuk Erwin dengan mencoba mengelak.


" jangan pelit info, jujur laah semalam kau tidur bersama dia, kan??," ujar Sekertaris Chandra nada bicara mengoda.


Tiba-tiba Bukkk.., pukulan Erwin dikepala sekertaris Chandra itu cukup membuat pria itu melihat dengan wajah terbengong.


" Sakiiiiit Erwin," ujar Sekertaris Chandra dengan manja dan mengusap kepalanya.


" kecil kan suara mu !!, kau mau aku jadi bahan gosip dikantor ku sendiri," ujar Erwin panik karena berada ditengah-tengah ruangan para karyawan.


" kenapa??, bukankah bagus??, " ujar Sekertaris Chandra dengan kesal dan tak sengaja melihat pada perut bawah Erwin, dan kemudian tertawa jahil melihat pada wajah Erwin yang bingung.


" Jadi dia sudah bukan "Elang" lagi yaa, tapi "Merpati" yang penurut rupanya, duuuh, cup.. cup..," celetuk Sekretaris Chandra yang kemudian tertawa terpingkal-pingkal berpikir kotor bahwa Erwin sudah tak perjaka lagi.


Erwin terhenyak dan reflek menutupnya dengan tangannya, namun seketika ia memukul punggung Sekertaris Chandra dengan kuat, hingga Chandra tertawa sembari menahan sakit akibat amukan Erwin yang kesal karena ditertawakan Chandra.


" Dasar otak mesum!!, sini biar aku cuci otak mu yang mulai kotor itu," celetuk Erwin dengan menyeret Sekertaris Chandra menuju ruangannya, namun yang diseret malah terlihat senang bakal disiksa oleh Erwin dengan tertawa dan memanggil manja.


" ikh, mas Erwin jahat deeh," goda Sekertaria Chandra dengan sengaja seolah-olah meniru Marwah.


" Tutup mulutmu Piskopat!!, kau memang terlalu lama melajang makanya otak kamu sudah berkarat" celetuk Erwin yang terlihat serius ingin mencuci otak sahabat sekaligus Sekertaris nya ini.


Beberapa karyawan yang melihat dengan kaget, tingkah keduanya bak saling manja satu sama lain. Hingga tak sedikit beberapa karyawan wanita melihat dengan sedih.


" yang kemarin katanya Direktur bukan Gay siapa??," tanya salah satu karyawan wanita dengan kesal.


" mana ku tau??," jawab teman si karyawan wanita itu dengan enteng.


" terus itu apaaa tadi kalau bukan Gay, namanyaaaa" kata si karyawan wanita itu yang patah hati melihat atasan tampan dan single berpelukan dengan sekertaris prianya.


" huuuffft, dosa apa laah aku ini liat yang begitu-gitu siang bolong gini," celetuk yang lain dengan menggelengkan kepalannya seraya menghela nafas panjangnya.


🍃🍃🍃


Namun disisi lain, diruangan toilet wanita.


Terlihat wajah bingung Marwah pada Suci yang terlihat membenci dirinya.


" Suci maksud kamu apa?," tanya Marwah bingung.


" aku peringkat kan kamu Marwah, untuk menjaga sikap kamu di hadapan mas Erwin," ujar Suci dingin.


" ??" Marwah terlihat bingung dengan kemarahan Suci yang tak beralasan.


Perlahan Suci berjalan kehadapan Marwah dengan menyentuh ujung rambut Marwah dengan wajah dinginnya.


" jangan coba-coba mengambil atau mengodanya, atau kau akan berurusan dengan ku," ujar Suci dengan sedikit menarik rambut Marwah hingga Marwah merasa sakit ketika Suci menarik rambutnya secara kasar.


" Aa..," pekik Marwah yang reflek memegang kepalanya yang sakit akibat tarikan kasar Suci.


" Oooppss, sakitnyaa???, sorry," ujar Suci seolah tak sengaja dengan mengubah nada bicaranya yang menjadi pura-pura mengiba.


Marwah benar kaget dengan prilaku Suci.

__ADS_1


__ADS_2