
Terlihat suasana tegang disana, Suci dengan wajah kesalnya menatap pada Marwah.
" Marwah, bisa kah kamu tinggalkan kami berdua," pinta Erwin dengan suara serius.
Marwah bergeming, dan sedikit kaget mendengar permintaan Erwin.
Namun melihat sorot mata Erwin, Marwah pun mengalah.
" baiklah, Marwah tunggu dibawah," ujar Marwah dengan melangkah pergi meninggalkan wajah serius Erwin dan Suci yang masih kesal.
Setelah beberapa menit kepergian Marwah terlihat Erwin menghela nafas panjangnya.
" apa yang ingin kamu katakan??," tanya Erwin pada Suci dengan menatapnya marah.
Suci terpaku ketika melihat sorot mata Erwin yang marah, ia tak pernah menyangka bahwa Erwin akan berubah seperti orang yang tidak ia kenal.
" mas marah???," tanya suci tak percaya.
" bagaimana bisa?? mas lakukan ini??," lirih Suci dengan suara bergetar.
" mas pasti tau perasaan Suci selama ini, iyya kan??" tanya Suci frustasi.
" aku mencintaimu, mas,!!," ucap Suci seriring jatuh air matanya.
" sekian lama Suci pendam perasaan ini, apa mas tau??," ujarnya bersuara berat seraya menyeka air matanya.
" Ini menyakitkan??," ucap Suci dengan wajah sedih.
" dan.. dia..kenapa harus dia??? apa yang mas lihat dari dia??? ," ucap Suci frustasi.
Erwin menghela nafas panjangnya mendengar ungkap perasaan Suci, yang selama ini ia hindari.
" Suci, cukup!!," bantah Erwin tegas.
" mas akan berpura-pura tidak mendengar ucapan kamu tadi, jadi berhentilah berbuat diluar batas, karena kita adalah sepupu," jelas Erwin tak memberi cela pada Suci.
Suci terhenyak dan hatinya terasa pilu mendengar ucapan Erwin yang tak peduli akan perasaannya.
" diluar batas???," ucap Suci mengulang.
" apa Suci seburuk itu dimata mas??," tanya Suci menatap wajah pria yang ia puja.
" mas gak bermaksud menyinggung kamu, tapi jika kamu melewati batas maka jangan salahkan jika mas akan membenci kamu," jelas Erwin tajam.
Suci terhenyak.
" apa yang telah Marwah berikan pada mas??, harta?? atau tubuhnya? sex?," tanya Suci menatap serius pada Erwin yang kini telah hilang sorot mata hangat pria ini pada dirinya.
Erwin terhenyak mendengar tuduhan Suci pada Marwah serendah itu. Dan ia terlihat tak senang.
" Marwah bukan seperti itu, mungkin kamu salah sangka, tapi mas mencintai Marwah dengan tulus," terang Erwin tegas pada Suci.
Suci terpaku tak percaya mendengar ucapan Erwin.
" bohong??," lirihnya pelan.
" terserah apa yang kamu pikirkan, tapi Marwah adalah wanita yang selama ini mas cari, jadi berhentilah untuk ikut campur urusan mas dan Marwah, kamu mengerti Suci," ucap Erwin mengingatkan Suci seraya hendak melangkah meninggalkan .wanita yang ia tolak cintanya.
Namun dengan cepat tangan Suci menahan lengan Erwin.
" tidak bisakah kita kembali seperti dulu??," pinta Suci memelas.
Erwin menatap wajah Suci.
" dimasa depan, mas harap kamu harus bertemu dengan seorang pria yang tulus mencintaimu dan peduli pada mu, Suci,"
" dan kita selamanya akan menjadi sepupu, jadi bersikaplah seperti selayaknya sepupu," tukas Erwin.
Erwin menarik lengannya dari jemari Suci dengan tegas seraya berlalu meninggalkannya. Suci terpaku dengan seribu luka dihati.
" aku akan membuat mu kembali" ucap Suci lirih dengan seiring air matanya jatuh memandang punggung Erwin yang tak menoleh sedikit pun pada dirinya.
Hari ini, adalah hari yang menyakitkan bagi Suci. Sekian lama ia memendam rasa pada Erwin namun pada akhirnya kesakitan mendalam yang harus ia terima dengan penolakan Erwin.
🍃🍃🍃
Disisi lain, Marwah menunggu Ewin dengan cemas. Ia merasa menyesal menantang Suci.
" sst, apa aku tadi keterlaluan yaa?," gumamnya seraya termenung melihat luar jendela hotel. Namun tampa ia sadar seorang pria datang mendekat dari belakang tubuhnya.
" mikir apa???," bisik pria itu yang sontak mengagetkan Marwah dan reflek menjauh seraya memegang jantungnya.
__ADS_1
Dan Erwin sukses tertawa kecil melihat reflek Marwah yang berlebihan.
" ikh, mas.., kagetin aja," rutu Marwah dengan menghela nafas panjangnya lalu memukul sisi lengan Erwin dengan sengaja.
" Kamu mikir apa??," tanya Erwin kembali dengan membenarkan rambut Marwah.
" Suci, bagaimana dengan Suci??," tanya Marwah.
Erwin seperti diam sesaat.
" sudah lah lupakan soal tadi," bujuk Erwin.
" apa tadi Marwah keterlaluan ya, sampai Suci jadi marah," ujarnya seolah menyesal.
" biarkan Suci, karena dia terlalu manja, jadi sifat egoisnya itu terkadang memang sering menganggu,"
" maaf yaa mas, padahal Suci itu sepupunya mas yaa, harusnya Marwah harus baik-baik," sahutnya lagi.
Erwin tertawa kecil dengan mencubit pipi Marwah.
" ini juga udah baik kok" ucapnya, namun seketika ia merasakan sakit kepalanya lagi.
" setelah ini mas ada jadwal apa??," tanya Marwah yang tak menyadari reaksi sakit Erwin.
" ah.. itu," jawab Erwin tertahan dengan mencoba bersikap biasa dihadapan Marwah.
Marwah seolah memperhatikan Erwin, namun tiba-tiba Marwah dikejutkan dengan bunyi deringan telfon didalam tasnya. Hingga ia reflek merogoh tasnya dan mendapat kan handphone dengan segera mengangkatnya.
" hallo???,"
" mama??," jawab Marwah cepat seraya memberi kode sedikit menjauh dari Erwin yang masih berusaha kuat.
Erwin mengangguk paham, dan seketika Marwah berdiri sedikit menjauh dari sisi Erwin. Terlihat Erwin berbalik badan dengan mencoba menahan sakit kepalanya.
Tangan Erwin reflek menyentuh kepalanya seolah mencoba menahan rasa sakitnya. Tak jauh, Marwah pun seolah melihat pada Erwin dengan aneh.
" makasih ya mah, hhmm, nanti Marwah telfon lagi boleh, ini Marwah masih kerja, love you mah," ujarnya yang ingin cepat-cepat mengakhiri komunikasi itu. Lalu berjalan cepat mencoba menghampiri Erwin dan tangannya mencoba menyentuh lengan Erwin.
" mas..,"
Erwin reflek menoleh dan sedikit terkaget mendapatkan wajah cemas Marwah melihap pada dirinya.
Seketika Erwin tersenyum simpul dan mengangguk pelan.
" kenapa kamu melihat mas seperti itu??," tanya Erwin seolah tak terjadi apa-apa.
" mas sepertinya kesakitan, " jawab Marwah.
Erwin tertawa kecil.
" ya, memang sakit, sakit perut karena laper, kita makan yuk?," ujar Erwin dengan nada santai.
Marwah terbengong mendengar ucapan Erwin, dan seketika memukul lengan Erwin dengan manja.
" ck, bikin takut aja.., ya udah ayuk, mas mau makan apa?".
Erwin tak menjawab, namun ia meraih tangan Marwah dan mengandengnya dengan senang.
" nanti kita pikirkan, sekarang kita jalan dulu,"
" hhmm," balas Marwah setuju.
Dan keduanya pun berjalan bersama meninggalkan gedung hotel Sunrise seraya bercanda.
Disatu sisi, Suci menatap terpaku pada dua sejoli itu. Dan tampa sadar air matanya jatuh kembali di pipinya. Namun seketika sebuah tangan memberikan saputangannya di hadapan Suci.
" pakai lah," ujar Sekertaris Chandra dengan wajahnya menatap pada Erwin dan Marwah.
Suci menoleh pada Sekertaris Chandra dengan datar.
" untuk apa??? Suci gak nangis," ucapnya dengan cepat menyeka air matanya.
Sekertaris Chandra menghela nafas panjang. Lalu ia melangkah dengan sigap meraih tubuh Suci dan memelukanya dengan cepat. Suci terkaget.
" apa yang mas lakukan??" ucapnya panik.
" menangis lah, jangan menahannya," pinta Sekertaris Chandra yang tau pembicaraan Suci dan Erwin tadi.
Pelan Suci mencoba menolak tubuh sekertaris Chandra dan menantapnya.
" mas pasti tau semuanya, " ujar Suci datar.
__ADS_1
" walau aku tau, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa, perasaan manusia itu tak bisa di ubah sesuka hati," jelas sekertaris Chandra pada Suci.
Suci tersenyum pahit.
" tapi bagi ku hati itu bisa berubah, jika terdesak, bahkan tanpa diminta pun hati itu pasti akan memohon untuk kembali," tuturnya yang melihat mobil milik Erwin kini keluar dari area parkir hotel.
Sekertaris Chandra memandang dalam wajah Suci.
" sampai kapan kamu akan bersikap seperti itu??,"
" kenapa?, bukan kah mas lebih tau bahwa tujuan Suci adalah mas Erwin, dan sampai kapan pun tetap Erwin Aritama," sahut Suci dengan yakin membalas tatapan sekertaris Chandra.
Sekertaris Chandra terhenyak.
" mas hanya mengingatkan kamu, cintai lah dirimu sendiri, jangan menyia-yiakan dirimu untuk hal yang tak bisa kamu raih lagi, karena itu bukan milik mu," ujar Sekertaris Chandra mengingatkan Suci dengan bijak.
Lalu tak lama Sekertaris Chandra pun pergi berlalu meninggalkan Suci seorang diri.
🍃🍃🍃
Didalam mobil terlihat Erwin dengan wajah tertekuk cemberut. Ia mendapatkan dirinya kini duduk di sisi Marwah yang menyetir mobil miliknya.
" mas baik-baik aja," ucapnya lagi pada Marwah.
" iyya percaya, tapi boleh kan sekali-kali Marwah yang nyetir dan mas cukup duduk dengan santai, hhmm," gumam Marwah dengan menyakinkan Erwim dan menyetir dengan santai.
Erwin menghela nafas panjang seraya melihat sekitaran jalan yang mereka lewati.
" mas..,"
" hmm,"
" kenapa tadi pagi mas gak jemput Marwah?," tanya Marwah pelan.
Erwin bergeming dan ia melihat bingung pada Marwah.
" memangnya mas ada janji begitu sama kamu??, "
" iyya, kemarin pas mas antar Marwah pulang mas bilang besok boleh telat karena mas yang akan jemput Marwah," jelasnya mengingat ucapan Erwin.
Erwin terdiam, dan ia berusaha mengingat-ingat ucapannya semalam. Tapi tak ada bayangan.
" maaf yaa.., mas juga tadi datang nya telat kekantor, untung sekertaris Cha nelfon buat ingetin, jadi mas langsung meluncur ke hotel,"
" mas kekantor??,"
" hmmm," jawab Erwin singkat.
Marwah berpikir dalam diamnya.
" mobil kamu kemana??," tanya Erwin.
Marwah terhenyak, dan reflek melihat pada Erwin dengan bingung.
" mas, bukan kah mobil Marwah dikantor?? kan kunci mobilnya masih sama Suci" jelas Marwah ragu.
Erwin terpaku dengan penjelasan Marwah yang heran.
" apa mas gak ingat??," tanya Marwah
Erwin seperti kelabakan mendapat pertanyaan itu dari Marwah.
" ah.., maaf yaa, mungkin mas..,"
Tiba-tiba handphone Erwin berbunyi. Sehingga keduanya pun terusik, dan Erwin pun meraih handphone nya itu dengan menjawab segera.
" hallo??," sapa Erwin dan seketika Erwin pun larut dalam obrolan singkat dengan si penelfon.
Dan seketika ia sadar, ketika laju mobilnya berhenti pada daerah yang tak asing di ingatannya.
" ini..,"
Marwah tersenyum simpul.
" mas ingat??," tanya Marwah.
" iya, tempat kejadian waktu itu," ujar Erwin dengan melihat daerah sekitar yang jauh banyak berubah.
" benar," jawab Marwah seraya membuka sevety beltnya.
" yuk mas turun," ajak Marwah.
__ADS_1