Come A Closer Love

Come A Closer Love
80


__ADS_3

Siang itu, dibandara terlihat gadis belia menunggu dengan gelisah. Ia berkali-kali melihat pada layar informasi jadwal pesawat pria yang ia rindukan.


" kenapa lama sekali sih?? seharusnya kan udah sampai yaa?," gumamnya gelisah.


Hingga lebih dari 15 menit ia terlihat gelisah menunggu dengan harap-harap cemas.


" tenang aja, mas Erwin pasti udah sampai, cuma mungkin lagi beresin barangnya," ujar Edwin menenangkan Suci.


" gitu yaa??," sahut nya.


Edwin reflek mengangguk.


Dan berselang 10 menit, pelan namun pasti muncul sosok yang membuat Suci gelisah selama hampir 1 minggu ini. Pria yang terlihat santai berjalan dengan membawa dua koper besar ditangannya.


" itu dia," ujar Edwin seraya memberi kode pada Suci melihat pada arah jari telunjuknya.


Suci reflek melihat dan terpaku, namun dengan instingnya ia mulai melangkah pelan namun seiring itu langkahnya berubah menjadi lari kecil menghampiri pria yang ia rindukan selama 4 tahun ini. Dan dengan cepat ia meraih tubuh pria yang ia rindu kan.


Hingga pria itu terhenti dan terkejut menerima pelukan seoang gadis.


" mas pulang.., akhirnya mas Erwin pulang," ucapnya seiring tangisan yang pecah dipelukan pria itu.


Erwin tersenyum.


" katanya udah besar, tapi mas liat kamu masih cengeng aja," ujar Erwin yang berlahan melepaskan tangan Suci yang memeluk dirinya. Lalu tersenyum lucu melihat pada Suci yang masih berderai air mata.


" udah donk nangisnya, mas kan udah pulang," celetuk Erwin dengan memberikan usapan lembut di kepala Suci.


" ck.., namanya juga rindu, lagian air mata ini tuh spontan," jelas Suci seraya menyeka air matanya.


Erwin tertawa kecil, ternyata tak banyak berubah dari gadis kecil cerewet yang kini menjelma menjadi gadis tanggung.


" ya udah kalau mau lanjut nangis silahkan, tapi mas mau pulang, capek banget soalnya," ujarnya cuek seraya kembali mengerek dua koper besar menuju adik laki-lakinya Edwin yang sedari tadi menunggu.


" ikh, jangan ditinggalin donk, Suci ikut," jawabnya cepat seraya berusaha mengapa lengan Erwin yang mengerek koper besar dan akhirnya berhasil walau sedikit susah karena terhalang koper.


" selamat datang kembali mas," ujar Edwin yang menyambut kepulangan kakak tertuanya yang hampir 4 tahu diluar negeri. Ia pun tak tahan untuk tak memberi pelukan rindu nya pada kakak tertuanya itu yang disambut hangat oleh Erwin.


" kamu sehat??,"


Edwin mengangguk cepat lalu mererai pelukan persaudaraan itu dengan cepat.


" ayo kita pulang, mama dan Eza rindu berat sama mas," jelasnya seraya meraih satu koper besar milik Erwin.


Sehingga Suci pun jadi leluasa bergantung manja pada lengan Erwin yang tak menggubris nya.


" ayo kita pulang, Suci juga udah rindu masakan tante," ujarnya bersemangat untuk bisa berkumpul dengan keluarga Aritama.


🍁🍁🍁


Disebuah ruangan kantor sederhana, terlihat Suci yang baru datang dengan membawa map penting duduk memandang Erwin yang baru saja memperkokoh perusahaan Aritama.


" kamu kalau mau liatin mas terus, mending cepat pupang kerumah dan liat foto aja, lebih jelas dan lebih bagus," ujar Erwin yang sedang mempelajari hal baru didunia kerja namun ia menyadari sedari tadi pandangan Suci tertuju pada dirinya.


Suci tersenyum kecil.


" kadang kalau liat di foto gak cakep," sahut Suci santai.


Erwin melirik pada Suci sekilas, lalu ia pun ikut menggelengkan kepala.


" gimana?? udah tau mau masuk universitas apa??," tanya Erwin santai seraya meraih layar laptopnya.


" belum," jawab Suci singkat.


" kenapa belum???, gak mau kuliah?," tanya Erwib serius.


" kuliah, cuma berat, papi nyuruh di LA biar sama tempat kuliahnya mas dulu," jawab Suci malas.


" nah bagus tuh," sabut Erwin setuju dengan pendapat paman.


" ikh bagus apaan? tar bakal jauh sama kamu mas," gumam Suci membatin.


Terlihat Suci cemberut dan diam dengan menekuk wajahnya yang memandang lesu. Erwin menghela nafas panjangnya seraya bangun dari kursinya lalu berjalan untuk duduk di kursi sofa yang berhadapan dengan Suci.


" apa cita-cita kamu??," tanya Erwin santai.


Suci melihat dengan mengerutkan keningnya.


" masa mas gak tau???," jawab Suci dengan wajah cemberut.


" ya jadi istri mas laah," sahutnya kemudian dengan kesal.


Erwin tertawa kecil seraya menggelengkan kepalanya yang tak habis pikir dengan isi otak anak perempuan satu-satunya paman.


" kamu ini yaa?? jadi istri itu bukan cita-cita, tapi takdir yang udah pasti, " jawabnya nyeleneh.


" loh memang bener kok," sahut Suci berkeras.


" huuufft, bisa pendek gigi mas kalau ngomong sama kamu," celetuk Erwin dengan melonggarkan dasinya dan sedikit melemaskan tubuhnya yang lelah.


" dalam hidup kita cuma punya 1 kesempatan emas, dan sekarang kamu harus fokus sama tujuan kamu, kamu harus kuliah, karena nanti beban besar akan berada dipundak kamu, inget itu," ujar Erwin serius.


Suci terdiam, ia tau arah pembicaraan Erwin, perusahaan besar papinya membutuhkan penerus yang handal.


" kan ada mas Erwin," celetuk santai.


Erwin hanya bisa menggelengkan nya mendengar ucapan Suci.


Suci melihat dengan perhatian.


" mas lelah??, sini Suci pijat," tawar Suci bersemangat.


Erwin bergeming dan bersiaga.


" oh JANGAN !!," sahut Erwin tegas seraya bangun. Ia harus was pada karena Suci terkadang suka seenaknya.


" kenapa??,"


Erwin lagi-lagi menghela nafas penatnya.


" kenapa apanya?? ini dikantor, bisa ada gosip buruk gara-gara kamu," jawab Erwin cepat.


Suci tertawa lepas dan bangun dari duduknya.


" masa sih ada yang berani gosip bos Aritama," ujarnya seraya tertawa lepas.


" dasar kamu," sahut Erwin seraya melihat pada jam tangannya.


" mau makan es crim??," tawar Erwin pada Suci.


Suci terkaget, dan seketika ia bersemangat.


" mau banget mas" jawabnya sumbringah.

__ADS_1


🍁🍁🍁


Di satu kesempatan, Erwin yang datang di tengah-tengah acara ulang tahun Suci, menjadikan ia pusat perhatian .


" Suci, siapa cowok itu??," tanya teman wanita Suci yang sanggat antusias ketika Erwin yang baru tiba di acara.


Suci menoleh dengan cepat dan melihat Erwin yang berpakaian santai sehingga membuat ia begitu menawan.


" mas Erwin," bisik Suci senang, pelang ia melangkah meninggalkan kerumunan teman-teman kuliahnya yang terpesona pada Erwin.


Erwin yang terlihat santai tengah berbicara dengan beberapa rekan bisnis pamannya itu tak menyadari kejadiran Suci yang datang mendekat. Hingga dengan cepat Suci memeluk tubuh Erwin dari belakang.


" mas Erwin," sapa Suci yang senang menghirup aroma tubuh maskulin Erwin dari belakang.


Erwin terkaget.


" Suci !!," jawabnya kaget seraya mencoba melepaskan tangan Suci dari tubuhnya.


" kamu kok gitu sih, " ujar Erwin yang merasa tak enak pada rekan bisnisnya.


" mas datang sendiri?? tante dan mas Edwin Eza mana??," tanya Suci tak mengubris teguran Erwin yang tak nyaman.


" mama gak bisa datang, Edwid ada, tapi Eza datang belakangan katanya," sahut Erwin yang sedikit demi sedikit meninggalkan rekan bisnisnya.


" oh, ayuk sini..," ajak Suci seraya menarik lengan Erwin yang sedikit terpaksa.


Hingga sore hari satu persatu tamu pulang. Sehingga Erwin pun dengan santai duduk bersama papa Suci yang tengah serius berdiskusi.


" papi, pinjem mas Erwin dulu yaa" ujarnya manja seraya menarik lengan Erwin dengan terpaksa.


" Suci!!," ucap Erwin tak enak.


" kamu yaa , baiknya hanya sama Erwin aja," celetuk papi Suci.


" paman," Erwin jadi salah tingkah dan merasa tak enak dengan pamannya ini karena ulah Suci.


" ikh, gak kok, sama semua Suci baik, yuk mas.., kita mau foto dulu," ajak Suci.


" terus sama papi kapan??," tanya pria paruh baya itu melihat pada putrinya yang memaksa Erwin untuk bangun dari kursinya.


" tenang papi, setelah foto bareng mas Erwin, baru setelah itu Suci foto bareng sama papi oke?," jelasnya.


Pria paruh baya itu pun tertawa lepas mendengar ucapan putrinya yang lebih memilih Erwin dari pada dirinya.


" baiklah,"


" tapi paman, kita.." sela Erwin terganggu


" pergilah, putri ku tak bisa dibantah, urusan perusahaan kita bicarakan lain kali saja," sahut pria paruh baya itu tertawa kecil.


Dan dengan berat Erwin pun bangun bersamaan dengan senyum senang Suci.


Namun pada saat pengambilan foto wajah serius Erwin terlihat disana. Dan fotografer itu menyuruh mengulang berkali-kali hingga Suci jenuh.


" mas, senyum dikit kenapa sih?,"


" males," jawabnya bete.


" oke, gak papa, bearti kita bisa foto begini sampai malam," sahut Suci senang.


Erwin terhenyak dan dengan terpaksa ia pun tersenyum pada kamera fotografer.



🍁🍁🍁


Hanya beberapa kerabat dekat keluarga Aritama yang datang. Hal itu terlihat jelas dengan tamu undangan yang hadir tidak lah banyak.


Erwin terduduk santai di sudut ruangan dengan memandang ruang aula yang terlihat tak begitu ramai di acara pernikahan adiknya Eza.


Suci mendekat dengan pelan. Dan ia duduk di sisi Erwin dengan memandang wajah sendu pria yang ia puja.


" mas,"


" hmmm," sahut Erwin dengan masih memandang ruang aula itu.


" kok mas keliatan sedih??," tanya Suci.


" enggak" jawabnya santai.


" bohong," celetuk Suci cepat .


Erwin tak bergeming ia hanya membenarkan posisi duduknya agar lebih santai.


" mas sedih yaa karena Eza duluan nikah??," tebak Suci dengan ikut melihat yakin.


Erwin tertawa kecil mendengar pertanyaan Suci.


" kok ketawa??,"


" ah, enggak," jawab Erwin mengelak.


" bearti bener donk, mas mau cepet nikah juga??," tebak Suci jadi yakin.


" enggak kok, mas sedih aja, keluarga yang datang gak ramai," tuturnya dalam.


Suci terpaku.


" padahal dulu mas inget banget waktu almarhum papa mas masih ada, saudara-saudara mas ramai berdatangan, tapi sekarang mereka..," ucapnya berat.


Suci dengan cepat mengusap punggung Erwin yang terlihat sedih.


" jangan sedih mas, setidaknya dengan begini mas jauh lebih tau yang mana benar-benar saudara," ucap Suci.


" benar, contohnya kamu, kamu saudara sepupu paling setia yang selalu ada ditiap moment keluarga Aritama ," sahut Erwin setuju dan melihat pada Suci yang sedikit kecewa.


" ck, sepupu setia apaan?? kita gak ada ikatan saudara apa pun," sahutnya jadi bad mood mendengar ucapan Erwin yang seolah memperjelas hubungan mereka.


" ada," sahut Erwin.


" papi kamu kan paman mas" jawab Erwin yang membuat Suci tambah geram.


" ikh, sebel banget kamu mas," celetuk Suci seraya bangun ingin meninggalkan Erwin, namun tiba-tiba lengan Suci diraih oleh lengan Erwin yang menahan langkahnya.


Suci terkaget dan melihat pada Erwin yang tersenyum hangat pada dirinya.


" makasih yaa, kamu selalu ada disaat yang tak terduga," ucap Erwin tulus.


Deg..Deg.. jantung Suci berdebar mendengar ucapan Erwin yang penuh makna. Ia terpaku lama memandang wajah tulus Erwin.


" Suci" panggil Erwin yang melihat pada Suci yang diam membisu.


" ah, i.., iyya mas..,"

__ADS_1


" kamu mau kemana?," tanya Erwin dengan masih tangannya berada di jemari Suci yang terasa sedikit dingin karena gugup.


" ah, itu.., hhmm, mau foto," jawab Suci yang tak sengaja melihat tempat post foto diruangan itu.


" hhmm, oke kita foto bareng yuk," ajak Erwin yang membuat Suci terkaget.


" serius?,"


" hhmm, ayuk," ajak Erwin dengan menarik tangan Suci yang sontak mengikut langkah Erwin dengan perasaab berbunga-bunga. Sehingga beberapa tamu undangan sempat melihat pada keduanya yang terlihat serasi.


Dan ketika sampai pada tempat post foto, sang fotografer menyambut dengan antusias pada keduanya.


" waah mas, pacarnya cantik banget" ujar fotografer itu terkesima akan parah Suci.


Erwin tertawa simpul.


" wah, maaf mas dia adik sepupu saya, " jawab Erwin spontan .


" ooh sepupu yaa, tapi gak mirip ya," sahut sang fotografer kepo.


Erwin hanya tersenyum simpul.


" tolong foto yang bagus yaa," ujar Erwin seraya ikut duduk disebelah Suci yang terlihat bersiap-siap merapikan bajunya yang panjang.


" mas,"


" mas suka tipe cewek gimana?," tanya Suci sekilas.


Erwin sedikit bingung dan seolah berpikir dengan mencoba merapikan lengan jasnya.


" hhmm, entah laah, " jawab Erwin singkat namun dalam bayangannya terbayang wajah anak perempuan kecil berambut panjang yang cantik.


Suci menghela nafas panjangnya seolah bersiap untuk di foto.


" mas, apa Suci harus jadi indomie biar jadi selera mu," ucap Suci dengan sedikti mendekat pada bahu Erwin lalu tersenyum manis pada kamera fotografer.


Erwin yang mendengarkan perkataan Suci pun sontak tertawa kecil lalu reflek menoleh pada Suci yang tersenyum cantik.


Cekrek.. moment cantik itu pun terrekam pada kamera fotografer.



🍃🍃🍃


Disebuah club mewah terdengar lagu mendayu sedih seirama dengan dingin nya malam yang ditemanin rintik hujan diluar sana.


Whee In Mamamoo - Whit my tears.


Pada saat satu persatu cahaya di luar jendela mulai padam


Aku menuliskannya di atas langit sana


Orang yang telah meninggalkanku dan pergi pada orang lain


Karena aku tak bisa melupakanmu


Air mataku ini, aku mengumpulkannya di atas langit sana


Meski aku bukanlah cintamu


Saat kau mencariku, aku akan berada di sisimu


Aku akan berbaring dan menutup tiraiku


Karena aku tak bisa melupakanmu


Karna sudah ku bilang aku hanya mencintaimu


Sayangku, aku akan menunggumu


Saat surat dari air mataku ini mencapai langit


Maka suatu saat nanti kau akan kembali kepadaku


Aku akan mempercayainya, aku mengumpulkan air mataku ini


Meski aku bukanlah cintamu


Saat kau mencariku, aku akan berada di sisimu


Aku akan berbaring dan menutup tiraiku


Karena aku tak bisa melupakanmu


Ya, sudah ku bilang aku hanya mencintaimu


Terlihat Suci duduk termenung di mini bar club kelas atas tersebut dengan terus memandang foto dirinya dan Erwin secara bergantian.




Tanpa sadar air matanya jatuh dengan sendirinya. Dan ia pun kembali mengingat ucapan Erwin yang menyakitkan hatinya.


Pelan, seorang pria duduk disebelahnya dengan santai dan memesan minuman yang sama dengan Suci.


" tumben, kamu akhir-akhir ini sering mengunjungi club," ujar Toni dengan memandang wajah sendu Suci yang sedih.


" kenapa?? apa sesuatu terjadi pada kamu??," tanya Toni dengan melihat pada layar handphone Suci yang terpajang foto dirinya dan Erwin.


" kamu pernah jatuh cinta??," tanya Suci pelan.


Sontak Toni tertawa kecil.


" pertanyaan apa itu??," sahut Toni seraya menggelengkan kepala seolah tak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu.


Suci pun ikut tertawa kecil dengan sedih mendengar tawa Toni yang menertawakan dirinya.


" bahkan kamu juga tertawa lucu, " ucap Suci tersakiti.


" bagiku cinta dan sayang itu hanya ilusi, hanya perasaan manusia yang terlalu dibawa-bawa, padahal biasa saja" ujar Toni santai.


" tapi, selama hidup, aku tak pernah menyayangi seseorang melebihi dari diriku sendiri, ini pertama kalinya ada seseorang yang begitu berharga melebihi diriku sendiri," sahut Suci dengan nada sedih.


" ah, kamu mau ceritain Erwin disini??," tebak Toni.


Suci reflek mengangguk pelan dengan seolah butiran-butiran air matanya akan tumpah.


" apa aku harus menerima kenyataan, jika dia tak menyukaiku?," ucap Suci seriring air matanya jatuh melihat pada layar handphone yang terpajang foto Erwin yang tersenyum hangat.


Toni terpaku sesaat melihat sahabatnya ini menangis dalam diamnya. Ia pun reflek memberi usapan sayang pada punggung Suci yang terlihat terguncang.


" apa kau tau??, aku hanya ingin membuatnya tertawa dan memeluk jiwanya yang hanya untuk ku," ucap Suci putus asa seraya menutup handphone tersebut seraya menuduk dan tangannya berusaha menutup mulutnya yang terdengar desiran tangisan yang akhirnya pecah.

__ADS_1


Toni hanya bisa menghela nafas panjangnya seraya menepuk-nempuk punggung Suci seolah menenangkan wanita yang tengah tersakiti. Toni diam dengan hanya bisa menemani Suci yang terus menangis karena Erwin sepupunya.


__ADS_2