
Tepat di jam 8 malam , Erwin terlihat tengah serius menonton tayangan info tentang MotoGp. Hingga terdengar suara bel berbunyi dari pintu apartemennya.
Ting.., Tong...
Dengan sedikit kesal ia pun bangun untuk membuka pintu apartemennya.
Dan Erwin terkaget ketika melihat Marwah berdiri didepan pintu apartemennya dengan membawa kotak bekal.
" Kau ?? ".
Marwah hanya tersenyum terpaksa, ia terlihat ragu.
" Hhmm, maaf, saya datang untuk memberikan ini untuk Direktur, " ujarnya ragu seraya memperlihatkan kotak bekal ditangannya.
Erwin hanya bengong melihat Marwah. Ia bahkan tak mempersilahkan Marwah untuk masuk. Lalu ia menghela nafas panjangnya.
" Cukup !!, aku bisa mengurus diriku sendiri, " ujar Erwin datar.
Marwah sedikit kecewa karena kebaikannya di tolak. Namun tak berselang lama, terdengar suara handphone milik Marwah berdering sehingga keduanya menoleh bersamaan ke arah suara handphone yang berada didalam ruangan apartemen Erwin.
" Mama??, itu pasti Mama, " ucap Marwah yang yakin pada instingnya. Lalu Marwah masuk dengan mendorong Erwin yang terkejut, karena wanita itu lolos masuk kedalam apartemennya tanpa ijin.
Dan Marwah mencari sumber bunyi handphone yang terdapat di meja TV besar Erwin, lalu meraihnya segera.
" Hallo mah ?? ".
" Hallo sayang, apa kamu baik-baik saja??, " tanya mama Wulan pada putrinya dengan nada cemas.
" Ah, yaa Mah, Marwah baik-baik saja, kenapa,??" tanya Marwah balik seraya matanya melihat kearah Erwin yang kembali masuk dan duduk di sofa dengan wajah dingin.
" Tadi, katanya papa, waktu Papa telfon kamu tapi yang angkat malah suara cowok??, " jelas mama Wulan.
Mata Marwah melebar, dan melihat ke arah Erwin dengan sedikit kesal.
" Ya Ampun, !!" pekik hati Marwah yang kesal,
" Kenapa di angkat sih telfon dari Papa??" gumam hatinya lagi, dan melihat ke arah Erwin yang dengan santai menganti chanel TV nya.
" Jadi, makanya Mama telfon kamu, buat pastiin, " jelas mama Wulan lagi.
" Ah, itu.., " Marwah ragu untuk menjawab, lalu ia pun berjalan ke arah dapur dengan mengecilkan suaranya.
" Kamu baik-baik aja kan sayang??, " tanya mama Wulan lagi, untuk memastikan.
" Ah, iyya mah, dan mungkin untuk beberapa hari handphone ini di servis, jadi kalo Mama Papa mau telfon Marwah ke nomor dr. Dessert aja, " jelas Marwah.
" Ooh gitu yaa, kamu ini sekarang dimana??, " tanya mama Wulan.
Jleb.
Jantung Marwah syok mendengar pertanyaan Mamanya yang seakan punya insting kuat.
" Ah, itu.., Marwah.., Marwah lagi dirumah temen, hehehe iyya temen, " ujarnya sedikit berbohong.
" Temen buaya, " celetuk hati Marwah yang melirik kearah Erwin yang tak bergeming di sofa TV nya.
" Ooh, gitu yaa, maaf yaa Marwah, Mama hanya khawatir sama kamu, " ucap mama Wulan yang seperti tidak enak pada putrinya yang telah dewasa.
Sesaat Marwah terteguh.
" Mah, miss you, " ucapnya yang rindu akan mama Wulan.
" Miss you too baby, jaga diri yaa , " pesan mama Wulan yang menghangatkan hati Marwah. Dan komunikasi itu pun terputus, seiring dengan leganya hati Marwah yang menjawab telfon mama Wulan dengan perasaan ketar ketir. Lalu ia menoleh pada Erwin dan meninggalkan tas bekal yang ia bawa tadi.
__ADS_1
" Maaf, saya masuk dengan terpaksa, " ucap Marwah disisi samping sofa yang tengah Erwin duduki.
" Tapi, kenapa Direktur mengangkat telfon yang masuk ke handphone saya ??, " tanya Marwah serius.
" Karena.., " ujar Erwin terputus, karena kembali terdengar suara pintu apartemennya berbunyi.
Ting.., Tong..
Dan hal itu mengagetkan keduanya, dan menoleh pada suara bel tersebut. Lagi, Erwin bangun dari sofanya untuk berjalan membukakan pintu apartemennya.
Marwah menunggu dengan penasaran, siapa tamu yang datang ke apartemen Erwin . Sayup-sayup terdengar suara pria mengobrol dengan santai. Marwah sedikit mengeyitkan dahinya melihat tamu yang sepertinya disambut dengan welcome oleh Erwin.
Dan ketika kedua pria itu berjalan masuk keruang tengah, terlihat wajah Marwah terkaget. Ia mengenali tamu pria ini yang tak asing bagi Marwah, dan sontak matanya melebar.
" Johan ??," liriknya nyaris berbisik dan menutup mulutnya dengan tangan karena terkaget.
Dan pria itu pun, melihat kearah Marwah dengan sorot mata dingin. Erwin pun menoleh pada Marwah yang terlihat syok.
" Siapa??, pacar mu??" tebak Johan pada Erwin, yang sepertinya tak mengingat bahwa ia pernah bertemu dengan Marwah beberapa waktu yang lalu bersama Dinda.
Dan keduanya sontak menjawab kompak.
" BUKAN!!, " jawab Erwin dan Marwah berbarengan.
Johan terlihat kaget dengan jawaban spontan keduanya.
Marwah pun terlihat canggung, lalu Erwin menghela nafas panjangnya lagi.
" Bukan, nanti aku jelaskan, " ujar Erwin yang menyentuh sisi lengan Johan seraya menyuruhnya untuk duduk.
" Hah, ini apa ??, mengapa Direktur bersikap lembut pada pak Johan??, " gumam hati Marwah yang berpikiran melenceng melihat keakraban kedua pria ini yang saling melempar senyum.
" Jika kau sudah selesai, maka tolong untuk keluar dari rumah ku, " perintah Erwin yang berjalan menuju dapur dan meraih pintu kulkas.
Marwah sedikit terkaget, namun ia malah mendekat pada sisi Johan dengan wajah curiga.
" Apa, anda tidak mengingat saya??, " ujar Marwah lagi.
Johan mengenyitkan dahinya, seolah mencoba mengingat siapa gadis ini. Namun Marwah terlihat gelisah.
" Ah, sudah lah, anda pasti tak mengingat saya, hanya saja, untuk apa anda datang kemari?? ". Pertanyaan Marwah cukup mengusik ketenangan Johan yang tidak nyaman.
" Kenapa ??, " tanya Johan dengan mengeyitkan dahinya lagi.
" Aduh !!, " ucap Marwah dengan cemas dengan menepuk keningnya sendiri. Ia merasa harus menolong pak Johan ini untuk menjauh dari bosnya Erwin. Dengan sedikit turun ia berbicara kecil dengan mencoba mencuri-curi pandang pada Erwin yang tengah sibuk di dapur.
" Ssstt, ini cukup rahasia, lebih baik anda menjauh dari pak Erwin, jika terlalu dekat bisa-bisa anda jadi korban berikutnya, " celetuk Marwah ragu.
Johan tak menjawab, ia hanya mendengarkan dengan bingung perkataan Marwah. Lalu tak lama Erwin kembali dengan membawa beberapa kaleng minuman ditangannya dan mencoba menyerahkan pada Johan, namun ia terkaget ternyata Marwah masih berada disana.
" Mengapa kamu masih disini?? " ucap Erwin sedikit kesal.
Marwah reflek bangun dan berdiri seraya menjawab.
" Ah, iyya, saya segera kembali, tapi.. saya ambil dulu kotak bekal yang tadi pagi " .
" Oh, semua kotaknya di dalam rak, " jawab Erwin seraya memberikan kaleng minuman itu pada Johan.
Dan berlahan Marwah pun berjalan kearah dapur, dan sesekali menoleh kearah kedua pria itu yang terlihat akrab satu sama lain.
" Celaka nie, kalo pak Johan lama-lama disini, bisa-bisa jadi korban pak Erwin berikutnya, kayak mas Chandra!!," ucapnya seraya mengidik berinding mengingat suara-suara pagi tadi ketika mas Chandra dan pak Erwin dikamar.
Marwah pun pura-pura mencari kotak bekal tadi pagi dengan terus memantau kedua pria itu yang saling berbicara dengan santai, hingga membuatnya curiga.
__ADS_1
" Jadi??" tanya Erwin.
" Ya aku harus mencari cara lain agar wanita itu masuk ke penjara, " ucap Johan serius, dan terdengar oleh Marwah.
Dan terlihat Erwin menepuk pundak Johan seolah memberi semangat. Namun dalam pandangan Marwah, Erwin seolah membelai lembut pundak Johan dengan mata menggoda.
" Jadi, kamu akan tidur disini??" tanya Erwin pada Johan yang tengah menegguk minumannya.
" Ya, " jawab Johan.
Namun tiba-tiba terdengar sanggahan dari Marwah mengejutkan keduanya.
" JANGAN !!" ucap Marwah panik ketika mendengar Johan akan menginap di apartemen Erwin. Lalu ia pun berjalan dengan cepat menuju kearah sofa.
" Pak Johan, se..sebaiknya anda tak menginap !!" ujar Marwah ragu namun serius.
Erwin terkaget Marwah mengenal Johan.
" Lo kenal dia??" tunjuk Erwin pada Marwah seraya melihat Johan.
" Gak !!" jawab Johan cepat.
" Ah, yaa saya juga gak kenal pak Johan, " jawab Marwah kembali.
" Tapi pak Johan, lebih baik anda tidak menginap disini, itu lebih baik untuk anda berdua".
Erwin dan Johan terlihat bingung dengan perkataan Marwah yang absurd.
" Lebih baik kamu yang harus segera keluar dari apartemen ini, " ujar Erwin marah karena Marwah telah ikut campur dengan urusannya.
Marwah sedikit kesal.
" Iya saya akan keluar kok, tapi.. pak Johan !!" ucapnya lagi.
" Apa, kamu suka sama teman saya ini??" tukas Erwin ketus.
Dan hal itu membuat Marwah terperangah, dan ia pun menghela nafas panjangnya.
" Suka dari mana?? ini orang majikannya temen gue Dinda!!" pekik hati Marwah yang niatnya ingin berkata demikian pada kedua pria ini. Namun kenyataannya ia hanya bisa membantin saja.
Lalu berlahan berjalan ke arah Johan, seraya menyuruh pria itu sedikit turun pada dirinya.
Johan melihat dengan bingung, dan mencoba mengikuti intruksi lalu sedikit turun kearah Marwah.
" Sorry pak, tapi ini rahasia, pak Erwin ini seorang GAY !!" bisik Marwah pelan. Dan sontak membuat kedua mata Johan melebar, lalu melihat ke arah Erwin yang melihat kearah mereka dengan wajah kesal, dan sedetik kemudian Johan tertawa terpingkal-pingkal.
Yang membuat Erwin terkejut dan sekaligus terperangah melihat seorang Johan B. Bastian bisa tertawa selepas itu.
" Lo kenapa??" tanya Erwin sedikit penasaran pada Johan yang terus tertawa tanpa henti.
Namun Marwah malah ikut terlihat kaget kearah Johan.
" Kok malah ketawa sih nie orang !!, dikira lucu apa??," rutu hati Marwah yang melihat heran. Lalu tak berselang lama ia berjalan menjauh.
" Kalo begitu saya permisi, semoga anda cepat sembuh pak Direktur, dan mohon dimakan bekal yang saya buat, " ucapnya pelan dan berlahan Marwah pun berbalik badan menuju pintu pintu keluar apartemen Erwin, meninggalkan Erwin dan Johan yang masih terus tertawa hingga nyaris menangis.
🍃🍃🍃
Selang beberapa saat setelah Marwah pergi, terlihat wajah kesal Erwin ketika mendengar perkataan Johan.
" Sialan nie cewek !!, jadi dia pikir gue GAY ??" ucapnya yang benar-benar kesal.
Dan kembali Johan tertawa, dan sorot mata Erwin tajam melihat pada Johan yang mentertawakan dirinya. Lalu berlahan mencoba mengontrol tawanya.
__ADS_1
" Pft..,Sorry !!, " ucap Johan dengan mencoba meraih kaleng minuman itu.
" Benar-benar bikin pusing, kata siapa gue GAY??" , ucap Erwin lagi dengan menggelengkan kepalanya yang tak percaya.