Come A Closer Love

Come A Closer Love
74


__ADS_3

Marwah kini berada didalam kamarnya dengan baru saja selesai mandi. Ia jadi menertawakan dirinya sendiri ketika dikecohkan dengan sifat munafik Suci.


" kok kayak balik jaman SMA yaa??," ujarnya lucu. Dan dengan masih mengeringkan rambutnya terdengar suara deringan telfon yang mengusik Marwah. Marwah pun meraih handphone nya dan tersenyum simpul ketika melihat nama kak Safa.


" hallo kak??,"


" hei, bukain pintu, kakak diluar nie," ujar kak Safa.


" oh, sebentar," jawab Marwah cepat dengan bangun dan membuka pintu kamarnya lalu berjalan menuju pintu rumahnya.


Dan ketika pintu terbuka, terlihat wajah kak Safa dan Mecca tersenyum menyambutnya.


" tumben kunci pintu," ujar Kak Safa pada Marwah yang menyambut Mecca dalam pelukkannya.


Marwah hanya nyegir sesaat lalu berjalan masuk.


" kamu baru pulang kantor??,"


" Hhmm," gumam Marwah yang masih mencium pipi Mecca.


" ada apa kakak kemari?," tanya Marwah.


" memangnya gak boleh?," celetuk kak Safa.


" ah enggak, kayak sehati, Marwah rindu kakak?" ujarnya dengan melihat pada kak Safa yang baru membereskan tas bayi Mecca.


" apa ada sesuatu??," tanya kak Safa menebak


" enggak,"


" bagaimana dengan Direktur Aritama itu?,"


" baik-baik saja," jawab Marwah yang seketika terteguh dan melihat pada kakaknya.


" kenapa?,"


" Hhmm, sebenarnya.., ada hal harus kakak tau," ujar Marwah serius.


" apa??," tanya kak Safa yang jadi ikut serius dan duduk di sebelah Marwah.


" kakak percaya gak sih??," tanya Marwah ragu dan tatapan mata kak Safa pun menunggu.


" memang terdengar gak masuk diakal, tapi ternyata mas Erwin itu.., sebenernya " kak Mummy"," jelas Marwah dan sesaat keduanya diam dengan mata Safa seolah tak percaya.


" kamu yakin??,"


Marwah mengangguk pelan.


" awalnya Marwah gak yakin, tapi mas Erwin punya kotak bekal Marwah dulu yang Marwah pikir hilang, ternyata kotak itu selama ini ada sama mas Erwin," ujarnya cepat.


" kakak tau??, ternyata selama ini dia cari Marwah," jelasnya lagi.


Safa tersenyum sekilas.


" padahal kamu sempat berpikir buruk tentang kak Mummy, siapa sangka kalau dia datang lagi untuk cari kamu," ucap kak Safa senang.


" aneh kan kak??,"..


" enggak, kamu beruntung" ujar kak Safa.


Marwah pun ikut tersenyum.


" tapi.., Hhmm, sepertinya Marwah dapat antifan baru," ujarnya dengan memberikan Mecca pada kakak ya.


Safa terlihat bingung.


" anti fans??,"


" mas Erwin punya sepupu, dan dia sekarang satu tim sama Marwah dan tingkahnya itu.., huuufft" hela nafas Marwah seolah menganjal.


" kenapa??,"


" kakak ingat Gladis??," tanya Marwah.


Safa reflek mengangguk yakin mengingat musuh Marwah dan Sisil semasa di SMA dulu.


" sifatnya 11-12 dengan Gladis," celetuk Marwah.


" waaah, gimana bisa???, terus kenapa sepupu mas Erwin itu gak suka sama kamu?? bukan kah aneh??," tanya kak Safa.


" entahlah, dari awal memang enggak terlalu ramah, apa lagi dia pernah memperingati Marwah untuk jauhi mas Erwin, aneh kan??," ujar Marwah dengan ekspersi wajah heran.


" terus, sekarang kamu gimana??,"


" bertahan, anggaplah sebagai tantangan kecil, " jawab Marwah santai.


" kamu yakin??," ..


" Hhmm, ya.., lagi pun sepertinya mas Erwin juga tak benarโ€benar tau sifat sepupunya itu," ujar Marwah.

__ADS_1


Kak Safa seolah berpikir sesaat.


" aneh, kenapa seorang sepupu bertingkah seperti itu yaa?? atau jangan-jangan dia menyimpan perasan pada Erwin," ujar kak Safa menerka.


Marwah seolah berpikir dengan ucapan kak Safa.


" benar, pasti karena Suci menyukai mas Erwin, " gumamnya pelan.


" Suci??,"


" Suci nama sepupu mas Erwin, ah.., rasanya seperi kembali jaman SMA ketika melihat sifat Suci itu persisi Gladis," ujar Marwah.


Kak Safa tersenyum melihat kembarannya ini, dan sekilas senyum Safa hilang.


" kamu tau soal Sisil??," tanya Safa yang seketika serius.


Marwah terkaget.


" kakak tau?,"


Safa mengangguk.


" kakak cuma tau sekilas dari group para dokter yang membahas tentang dokter Dimas," jelas Safa dengan menimbang-nimbang Mecca yang terlihat tertidur.


Marwah menghela nafas panjangnya.


" walau kenyataannya pahit, tapi Marwah gak pernah mendoakan hal buruk untuk mereka," ujarnya sekilas murung.


Kak Safa duduk dan memandang wajah kembarannya yang seperti melihat cermin dirinya sendiri.


" kakak tau, karena kamu orang yang punya hati lembut,"


" ck.., gak selembut itu juga," ujar nya dengan santai mengulung rambutnya ke atas.


" besok, minggu temani kakak bisa gak??,"


" kemana??,"


" temani kakak tempat teman yang akan acara pesta,"


Marwah ragu.


" Hhmm, maaf kak gak bisa,"


" kenapa?? sibuk di toko yaa?,"


Dan terdengar suara deringan handphone Marwah, seraya Marwah menggelengkan kepalanya pada kak Safa.


" hallo"


" sepertinya kamu terdengar baik-baik saja," ucap Erwin dari balik telfon.


Marwah tersenyum simpul.


" Marwah memang baik-baik saja, mas dimana? apa masih dikantor?," tanya Marwah.


" enggak, "


" oh,"


" Marwah,"


" Hhmm," jawab Marwah bergumam.


" benar, kamu baik-baik saja??," nada bicaranya terdengar cemas.


" Iyya, kenapa??," tanya Marwah bingung.


" ah, enggak, mas hanya rindu kamu," jawab Erwin berat dengan memegang sebuah amplop dan terdapat foto Marwah yang terampil secara candit.


Marwah mendengar jadi malu sendiri.


" mas ini biasa aja, kan tadi dikantor udah ketemu," jawab Marwah santai.


" Hhmm, memang aku merindukan kamu, siapa yang berani protes," jawab Erwin lagi.


Dan seketika terdengar suara tawa Marwah.


" ssst, dasar.., besok jangan lupa," ujar Marwah.


" siap nyonya ku, besok mas jemput kamu," ujar Erwin .


" iyya..," jawab Marwah.


" Marwah,"


" Ya, tuan Mummy," canda Marwah


" Mas mencintai kamu, Marwah," ucap Erwin yang terdengar di telinga Marwah seolah ucapan itu merasuk kehatinya.

__ADS_1


Marwah terpaku.


" makasih mas, love you too" jawab Marwah seolah berbisik. Dan komunikasi itu pun terputus.


" Cieee, love you too," celetuk kak safa yang ternyata mencuri dengar obrolan Marwah di telfon tadi.


Marwah terkaget, dan pura-pura tak mendengarkan ucapan kak Safa.


" jadi,, besok kamu kencan sama Direktur itu yaa??, pantes sampai gak bisa temanin kakaknya," ujar kak Safa cemberut.


Marwah jadi serba salah mendengar ucapan kakaknya.


" ah, itu bukan kencan, besok itu ada pemotretan.. sa..,"


" pemotretan??, " tanya kak Safa penasaran.


Marwah jadi kelabakan menjawab pertanyaa kak Safa.


" ah, itu Marwah jadi model baju pengantin,"


Mendengar kata " pengantin" Kak Safa terpelongo.


" kamu.. jangan-jangan??,"


" bukan.., bukan yang seperti kakak pikirkan? itu desain baju pengantin yang didesain Dinda untuk kompetisi desainer dan ia butuh model, jadi Marwah bantu Dinda,"


Kak Safa masih tak percaya.


" kamu..??,"


Marwah menghela nafas panjangnya mencoba berdamai dengan arah pembicaraan kak Safa yang salah paham.


" Marwah hanya jadi model, bukan pengantin oke!!,"


" terus kenapa Direktur itu juga ikut??," tanya kak Safa yang masih kepo.


" ah, itu karena Dinda merasa mas Erwin cocok jadi model pengantin prianya," jawab Marwah santai, namun seketika ia mendapat kan wajah kaget kak Safa lagi.


Marwah pun reflek menghela nafas panjangnya.


" ya Tuhan salah ngomong lagi dah gue!!," rutunya dalam hati.


" tetap bukan seperti yang kakak pikirkan, oke, Marwah masih lama menikah," jelasnya dengan menggelengkan kepalanya tak habis pikir bagaimana Safa bisa jadi dokter dengan pola pikir nya yang suka salah arti begini.


Lalu ia pun berjalan hendak meraih pedal pintu.


" kamu mau kemana?," tanya Safa yang masih menggendong baby Mecca yang tertidur.


" mau kebawah kak, mau buat dessert box," jawab Marwah.


" ikut donk," sahut Safa dengan membawa serta baby Mecca yang teridur.



๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ


Disisi lain, terlihat suasana sunyi dan Erwin duduk diruang kerjanya dengan wajah kesal. Dan ditangannya terdapat foto Marwah yang terampil secara candit.


" siapa???," gumamnya geram dan bersikeras berpikir siapa pelaku yang mulai mengancap dirinyan dan Marwah.


Lalu ia meraih secarik kertas diatas meja kerjanya. Terlihat tulisan mengancam disana.


Apa yang akan kamu pilih?? Aritama atau Gadis ini??.


Seketika Erwin bangun dari kursinya dan ia pun meninggalkan ruangan kantornya dengan hati gundah.


Dan tiba-tiba langkahnya terhenti ketika merasakan sakit kepalanya yang seolah membuatnya limbung, tangan Erwin mencari pegangan pada dinding. Erwin berusaha untuk menahan serangan sakit kepalanya yang seolah terkena hantaman kuat dibagian kepala belakangnya.


" Hhmm ," desir kesakitan Erwin pada kepalanya.


Dengan berusaha menahan sakit kepalanya, Erwin meraih handphone dan mencari nama Johan. Terdengar nada menunggu disana. Dan seketika terdengar suara Johan menjawab telfon Erwin.


" ada apa?,"


" cari kan aku pengawal, yang bisa menjaga wanita ku," ujar Erwin berat.


Seketika terdengar suara tawa mengejek Johan mendengar permintaan Erwin.


" aku tidak pernah tau ternyata kau seorang piskopat wanita,"


" cepat berikan kontaknya, aku butuh segera," ucap Erwin serius.


Johan pun seolah tersadar, nada bicara Erwin kali ini tak main-main.


" aku cari sekarang," jawab Johan serius dan komunikasi itu pun terputus.


Setelah beberapa saat rasa sakit itu pun berangsur-angsur hilang. Erwin menghela nafas panjangnya yang berat.


" ck, sial.., sakit ini benar-benar menganggu sepertinya harus periksa kedokter," ujarnya seraya kembali berjalan keluar dari ruangan kerja dan meninggalkan kantor Aritama dan segera kembali ke apartemennya.

__ADS_1



__ADS_2