
Disebuah ruangan aula besar, terlihat seorang gadis kecik dengan rambut panjang tergerai tengah memainkan tuts piano dengan susah payah yang ditemani seorang anak laki-laki ABG yang terlihat perban dikepala dan lengannya yang menyerupai Mummy.
" Berhenti !!," ujar anak laki-laki ABG dengan wajah kesal seraya menahan sakit pada kepalanya yang terlihat diperban.
" Jelek-jelek, kakak gak sanggup dengerinnya," tukasnya kasar.
Wajah Marwah kecil pun seketika cemberut.
" Dasar yaa Mummy, gak sabar banget sih??, baru juga pemanasan!!," gumamnya dengan melihat kesal wajah laki-laki ABG itu.
" iya, tapi memang kamu tuh kayaknya gak ada bakat buat main piano, jadi jangan diterusin," ujar anak laki-laki ABG itu dengan mencoba meraih tongkatnya.
Marwah melihat dengan bingung pada anak laki-laki ABG itu.
" Kak Mummy mau kemana??," tanya Marwah yang reflek mencoba membantu memegang tubuh yang jauh lebih tinggi dari tubuh kecilnya.
" Ya mau balik kekamar, sebentar lagi dr. Evan bakal masuk," ujarnya dengan nada sedikit sedih.
" Kok, kak Mummy kayak sedih???, Kenapa??," tanya Marwah dengan polosnya.
Anak laki-laki ABG itu pun menghela nafas panjangnnya dan sekilas ia melihat wajah polos Marwah dengan penasaran. Lalu ia tersenyum simpul dengan membelai kepala Marwah.
" Kamu anak kecil tau apa sih??, Sok-sok tanya kenapa lagi," tukas anak laki-laki ABG itu dengan tersenyum simpul.
" Ikh, gini-gini Marwah udah besar loh, kata mama Wulan 10 tahun itu udah gede," celetuknya polos.
Dan seketika anak laki-laki ABG itu tertawa kecil.
" Iyya, tapi kamu kalau bener udah besar jadi anak yang baik, jangan kayak kak Mummy yang bandel," tukasnya memberi nasehat.
" Pasti donk, kan Marwah dan kak Safa sayang banget sama Mama Wulan udah pasti jadi anak yang baik," ucapnya bangga dengan memberi jempol pada anak laki-laki ABG itu.
" Ya udah yuk, balik, nanti dr. Evan cariin kamu lagi," ujarnya dengan bangun perlahan meraih tongkat.
Namun tiba-tiba tangan Marwah yang kecil menarik ujung baju pasien anak laki-laki ABG itu, sehingga anak laki-laki itu menoleh pada Marwah dengan bingung.
" Kenapa??," tanya anak laki-laki ABG itu dengan bingung.
" Tunggu dulu kak, " ujar Marwah seraya turun dari kuris piano dan meraih tas ranselnya, lalu membuka seraya mengambil kotak bekal purper dengan terdapat inisial M disana.
" Ini," ujar Marwah seraya memberikan kotak bekal itu dengan membukanya dihadapan anak laki-laki ABG itu.
Anak laki-laki itu terlihat bingung.
" Makan laah, cookies coklat ini bisa membuat perasaan kakak jauh lebih baik," ujar Marwah senang.
" Serius??," tanya anak laki-laki itu tak yakin dengan mencoba mengambil 1 cookies cokelat itu dari dalam kotak bekal.
Marwah mengangguk pelan. Dan perlahan anak laki-laki itu mulai mencicipi cookies cokelat itu dan ternyata ditengah terasa ada coklat lumer yang manisnya pas dilidahnya.
" Waah, ini enak !!," ujar anak laki-laki itu tak percaya.
" Benerkan," ujar Marwah senang.
" Mama Wulan memang hebat kalau soal membuat kue, dan ini cookies kesukaan Marwah, kalau lagi sedih atau bete pasti deh Marwah makan Cookies ini," jelasnya dengan bangga.
" Rajin banget mama kamu, buat cookies begini," ujar anak laki-laki itu seraya mengambil lagi cookies tersebut kedalam datangan.
__ADS_1
" Bukan rajin, mama Wulan memang hobi buat kue dan mama ada toko kue loh," jelas Marwah dengan ikut memakan cookies itu bersama.
" Ooh, hebat donk," puji anak laki-laki itu dengan menikmati cookies dimulutnya.
Marwah tersenyum mendengar pujian kak Mummy untuk mama Wulan.
" Makanya, kalau udah besar Marwah mau ikut buat kue kayak mama Wulan, " ujarnya seraya bernelangsa jauh.
" Memang kamu bisa??," tanya anak laki-laki itu tak yakin.
" Yaa belajar donk, kan ada ilmunya, dan Marwah mau belajar ke Prancis untuk bisa belajar itu semua," timpalnya lagi seraya berhayal.
" Ooh, " ujar singkat anak laki-laki itu yang mengambil lagi cookies tersebut.
" Nanti kak Mummy beli yaa??," pinta Marwah semangat.
" Beli??, kalau enak pasti kakak beli, kalau enggan yaa maaf,maaf aja," ujarnya seloroh menjahili Marwah.
" Iikkkh, jahat banget siih, udah pasti enak laah," ujar Marwah yakin.
Anak laki-laki itu pun tersenyum simpul.
" Iyya, nantin pasti kakak beli cookies buatan Marwah, gak cuma cookies, toko-tokonya pun bakal kakak beli," ujarnya dengan tertawa kecil.
Marwah mendengar dengan reflek mencubit lengan anak laki-laki itu, yang kemudian terdengar suara erangan sakit anak laki-laki itu kesakitan dengan cubitan Marwah.
" Gak boleh serakah, cukup beli cookies aja, jangan dengan tokonya, mau jualan dimana nanti Marwah??,'" ujar Marwah yang serius menanggapi ucapan kak Mummy itu serius.
" Ya kalau kakak mau beli semua, kamu mau bilang apa??," balas anak laki-laki itu jadi ikutan serius mempersoalkan membeli toko.
" Ikh, gak boleh serakah !!," ujar Marwah serius.
Marwah terbengong.
" JANGAN !!, pokoknya kak Mummy harus beli cookies Marwah," ujar Marwah serius pada anak laki-laki ABG itu yang terkaget mendengar suara Marwah yang besar sehingga mengema diseluruh aula.
Anak laki-laki itu pun terpaku dan dengan cepat berbalik badan melihat pada Marwah yang hampir menangis.
" Ya.., yaa udah.., udah, iyya beli, iyya kakak beli nanti, jangan nangis yaa," bujuk anak laki-laki itu dengan panik mencoba membujuk Marwah yang mulai berkaca-kaca seakan menangis detik itu juga.
" Janji??," ucap Marwah dengan memberikan kelingkinnya yang kecil pada anak laki-laki ABG itu.
Dengan menghela nafas panjangnya.
" Janji," jawab anak laki-laki itu yang reflek menuruti keinginan Marwah kecil untuk berjanji kelingking lalu ia pun tersenyum hangat melihat pada Marwah kecil yang cantik dengan rambut panjang tergerai. Ia pun memberi belayan sayang dikepala Marwah.
" Janji," bisiknya mengulang.
" Kak Mummy," panggil Marwah dewasa yang mengingau memanggil nama anak laki-laki dalam mimpinya.
Namun, sayup-sayup terdengar suara deringan telfon yang mengusik Marwah, ia pun merasa pundaknya terasa berat menahan sesuatu.
" Ya ampun, siapa sih yang telfon malam-malam gitu??, " ujar Marwah dengan bersusah payah memindahkan sesuatu yang memberatkan pundaknya, lalu meraba mencari handphone yang terdapat dua buah diatas meja. Dan ia pun dengan setengah sadar meraih handphone yang berdering tampa melihat layarnya.
" Hallo..," suara parau Marwah yang baru bangun.
" Hallo Direktur.., anda sudah bangun??," tanya pria itu dari sebrang handphone.
" Saya baru tidur, dan saya bukan Direktur??," jawab Marwah dengan mencoba sadar dan sedikit mengeyitkan dahinya ketika melihat sekitaran dengan bingung.
__ADS_1
" Hah??, jadi anda siapa?? mengapa handphone pak Erwin ada pada anda mbak??," tanya pria itu panik.
Seketika Marwah tersadar ketika mendengar nama Erwin, dan ia pun menoleh pada sisi sampingnya yang terlihat Erwin tertidur pesisi disampingnya dengan kepala lebih miring.
" ya Tuhan !!, " ujar Marwah panik, dan membangungkan Erwin.
" Mas.., mas?, mas bangun," panggil Marwah dengan menguncangkan tubuh Erwin yang masih enggan bangun.
" Hhmm," gumam Erwin dengan membenarkan posisi tidurnya.
" Hallo, mbak??," sapa pria penelfon yang masih terhubung.
" ah, iyya, Direktur masih belum bangun, apa ada hal penting??, biar saya sampaikan??, " tanya Marwah yang jadi panik dan masih mencoba membangunkan Erwin.
" Oh gak papa, maaf saya menganggu waktu tidur mbak dan pak Direktur, maaf," ujar pria penelfon dengan sedikit sesal dan komunikasi itu pun terputus begitu saja dengan wajah bengong Marwah yang tak percaya melihat nama si penlfon adalah mas Chandra sekertaris Erwin.
" Ya Tuhan !!, " ucap Marwah yang seakan sesal.
" Celaka!!, apa yang akan dipikirkan mas Chandra, denger aku tidur sama mas Erwin??," rutu Marwah dengan wajah sesalnya.
Lalu ia melihat pada Erwin yang masih betah tertidur dengan nyenyaknya.
Ketika ia melihat kembali pada jam di layar handphone Erwin, betapa terperanjaknya Marwah melihat jam 5 pagi. Dan seketika ia lemas.
" jadi??, jadi ini udah pagi??," ujar Marwah yang tak percaya bahwa ia kembali bermalam dengan Erwin.
Lalu dengan perlahan, Marwah kembali membangunkan Erwin.
" Mas?, mas Erwin," ujar Marwah dengan menguncangkan lengan Erwin.
" Mas bangun, kita harus pulang," ujar Marwah lagi.
Perlahan kedua mata Erwin terbuka, dan tak lama ia tersenyum ketika mendapatkan wajah Marwah berada dihadapannya.
" Pagi Sayang," ujar Erwin berat seraya tangannya membelai wajah Marwah.
" Bangun mas, kita harus pulang," rengek Marwah.
" ssst, sebentar lagi, bisa??," ujar Erwin dengan mencoba merenggangkan tubuhnya.
Namun ia malah disambut dengan wajah cemas Marwah.
" kenapa siih??, " ujar Erwin dengan meraih jemari wanita yang membangunkannya sepagi ini.
" hari ini kan kita ada rapat dengan pihak ketiga, dan ini Marwah belum balik ketoko untuk buat roti," ujar khawatir.
" bisa gak besok aja?, aku masih ingin begini sama kamu," pinta Erwin dengan memelas.
" Maaas," ujar Marwah manja.
Seketika Erwin tersenyum, akhirnya Marwah memanggilnya dengan mesra.
" Oke, " jawab Erwin yang luluh dengan panggilan Marwah padanya.
Keduanya pun beranjak dari sofa itu dan keluar dari ruang kantor panti asuhan. Dan ternyata sepagi itu, sebagian anak panti sudah bangun dan sedang mengantri mandi.
Marwah pun akhirnya bertemu dengan ibu Nur didapur, lalu ia dan Erwin pun meminta izin pulang.
" hati-hati yaa Marwah dan pak Erwin, semoga kalian langgeng," doa ibu Nur yang membuat Marwah kaget mendengarkannya.
__ADS_1
" Aamiiin, terima kasih ibu," jawab Erwin cepat dengan tersenyum.