Come A Closer Love

Come A Closer Love
47


__ADS_3

Sesampai di apartemen nya, Erwin menuju pintu kulkas dan meraih air mineral dingin. Lalu berjalan dengan santai ke arah kamarnya. Ia terus tersenyum senang, mengingat bahwa anak perempuan kecil yang selama ini ia cari ternyata berada didekatnya. Ia pun merasa dunia benar-benar sempit seperti yang diumpamakan oleh banyak petuah tua.


" ternyata, dia Marwah kecil itu, " gumamnya dengan merebahkan diri di tempat tidur seraya menghela nafas panjangnya. Lalu tiba-tiba ia mengingat suatu hal, sehingga ia bangun dan mencoba cari hal yang ia simpan dengan sangat rapi.


Erwin mencoba mencari kardus kotak kecil yang telah lama ia simpan. Beberapa rak buku ia bongkar, karena telah terlalu lama, ia jadi lupa dimana menyimpan kenangan itu. Hingga akhirnya ia hampir menyerah mencari kotak tersebut, dan mengingat mungkin saja masih dirumah keluarganya.


" huuuffft, besok saja lah " ujarnya menyerah dan berjalan kekamar mandi untuk membersihkan diri, agar bisa segera istirahat dan bertemu dengan Marwah besok paginya.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Keesokan paginya, Marwah bangun seperti biasa, dan ia membuat roti dalam skala kecil, karena akan sekantor lebih awal untuk merapikan laporan kerjanya yang akan ia berikan pada Erwin hari ini.


Lily yang selalu jadi korban untuk datang lebih pagi karena membantu membereskan pembuatan roti yang tak sempat di masukkan kedalam plastik.


Terlihat Marwah turun dengan telah rapi, dan terlihat ia sedikit terburu-buru untuk keluar dari toko, dengan hanya sekilas menyapa Lily. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti hingga membuat Lily bingung.


" Kenapa mbak??"


" tolong rotinya dua, dimasukin kedalam kotak ya, mbak mau buat coffee latte sebentar, " ucap Marwah yang beralih menuju dapur cafe mininya untuk membuat kopi pagi untuk Erwin.


Dan ketika menunggu air panas dalam mesin pembuat kopi, Marwah terheran dengan dirinya sendiri yang jadi mengingat pesanan Erwin untuk tiap pagi membawa rotinya.


" haa, kenapa jadi gini sih???" ujarnya dengan enggan. Dan ketika selesai membuat kopi tersebut, Marwah berjalan kearah lily yang berada di meja kasir dan dua orang karyawan lain yang telah sampai.


" Mana rotinya??" tanya Marwah pada Lily.


" oh, ini mbak, " ucap Lily seraya memberikan kotak dr. Dessert yang berisi roti, lalu diraih oleh tangan Marwah yang kemudian ia berlari kecil untuk keluar dari toko tanpa ada basa basi pada dua karyawan yang melihat dengan heran pada Marwah.


" mbak Marwah selama ini sibuk yaa??" ujar karyawan 1.


" ehem, iya, sampai cake Premium gak membuat lagi, " timpal yang karyawan kedua dan mereka pun kompak menghela nafas panjangnya.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Dan tepat pukul 8 lewat Marwah sampai di kantor Aritama, ia pun disambut dengan wajah terkejut sekertaris Chandra yang melihat Marwah datang lebih awal dari biasanya.


" tumben datangnya cepet ini hari, " ujar Sekertaris Chandra.


" Ah, hehehe, aneh yaa ??" jawab Marwah yang jadi salah mengartikan ucapan sekertaris Chandra. Dan tanpa banyak bicara Marwah kembali fokus seraya menghidupkan layar komputernya. Terlihat Marwah larut dengan tugasnya yang hampir rampung. Selang beberapa saat Erwin pun datang dengan wajah sumringah, ketika melihat Marwah hari ini telah berada dimeja kerjanya.


Erwin malaj sempat menyapa Marwah, namun yang disapa terlalu serius sehingga tak begitu menggubris sapaan Erwin, dan hal itu membuat Erwin beralih kemeja Sekertaris Chandra dengan sengaja agar Marwah menoleh pada dirinya.


" Sekertaris Cha, siang ini tolong kosongkan jadwal ku, " pinta Erwin dengan melirik Marwah yang terlihat fokus ke layar komputer.


" jadwal siang??, " ucap Sekertaris Chandra yang kemudian meraih tabnya dan melihat jadwal Erwin, yang agak padat.


" Ah, tapi siang ini anda ada tamu, ".


" geser, atau batalkan pertemuan itu, " perintah Erwin yang merasa Marwah masih tak menyadari kedatangan.


" hah !!" sekertaris Chandra terkaget, dan ia pun jadi kelabakan dengan pembatalan pertemuan ini, sehingga sekertaris Chandra harus putar otak untuk menjadwalkan ulang pertemuan Erwin dengan tamunya.


Erwin dengan ragu bergeser ke meja Marwah, lalu mengetuk meja Marwah.


Tok..tok.., ketukan meja itu terdengar, hingga Marwah terkaget melihat Erwin berada di hadapannya.


" Ah, Direktur?? kapan anda disini??" tanya Marwah yang melihat dengan heran.

__ADS_1


" Dari tadi !!" jawab Erwin ngambek.


" Masa ??"


Erwin hanya menghela nafas panjang.


" mana roti untuk ku??" pinta Erwin pada Marwah.


Sekertaris Chandra yang sedang menelpon pun jadi terkaget, ia merasa salah dengar atau kupingnya yang tak benar-benar mendengar, bahwa atasannya meminta roti Marwah??.


" Ah, sebentar, " ucap Marwah yang ingat akan permintaan Erwin semalam. Dan ia mencoba mengambilnya dari dalam tas, namun setelah membuka tasnya ia malah tak menemukan kotak roti yang ia bawa. Ia hanya melihat pada sisi meja nya yang terdapat gelas kertas yang berisi coffe latte.


" maaf, Direktur sepertinya saya tinggalkan di mobil, " ucap Marwah ragu.


" tapi, ini.. saya membuatkan coffe latte untuk Direktur ," jelas Marwah.


Erwin hanya bergumam singkat.


" ehem, ya sudah lah, ini lebih dari cukup, jangan lupa, siang ini aku tunggu laporan mu, Marwah," ucapnya dengan meraih gelas coffee lattenya dan berjalan menuju ruangan kerjanya dengan santai.


" sejak kapan?" tanya sekertaris Chandra pada Marwah.


" apa??" tanya Marwah bingung.


" ini aneh, Direktur gak pernah minum kopi, tapi kamu kasih coffee latte, sepagi ini??, waaah kemajuan besar ini, " ujar Sekertaris Chandra dengan spontan.


Marwah mendengar dengan ragu, dan tak begitu paham maksud aneh sekertaris Chandra. Lalu ia kembalime berjalan laporan yang hampir selesai.


Selang beberapa saat, terlihat Suci datang ke meja Marwah dengan beberapa kertas-kertas penting yang Marwah butuhkan.


" Marwah, ini beberapa berkas dari personalia, dan yang kemarin sudah diperbaiki, " jelas Suci pada Marwah yang terlihat sedang membalas pesan di handphone nya.


" oke, itu akan aku putuskan jika para pemegang saham yang lain ikut turun memberi suara bulat pada ku, " ujar Erwin serius seraya melihat dengan tak senang pada Suci yang masuk keruangan nya.


" Hhmm, oke, akan aku tunggu kabar dari Xxx, " tutur Erwin yang kemudian mengakhiri komunikasi berat itu, dan kembali meraih pulpennya dan kembali meraih kertas laporan di mejanya.


Suci mendekat pada meja Erwin.


" mas, siang ini makan siang bareng mau gak??" ajak Suci berharap.


" mas gak bisa, " jawab Erwin dengan tak bergeming pada pandangannya melihat kertas laporannya.


Dan seketika Suci cemberut.


" gitu banget sih mas, oia kok mas kemarin gak pulang??" tanya Suci penasaran.


Erwin tak menjawab, ia pun merasa tak harus memberi tau Suci alamat apartemennya, itu hanya akan menambah masalah karena Suci bisa setiap hari ke apartemennya yang membuatnya risih.


" maass??" panggil Suci agar Erwin melihat pada dirinya.


Erwin akhirnya menghela nafas panjang.


" Suci, mas lagi kerja, kamu sebaiknya kembali kemeja kerja mu, karena siang ini Marwah dan kamu akan persentasi dengan mas, " jelas Erwin dengan menahan nada bicaranya.


" persentasi?? siang ini??" ujar Suci yang kaget, karena Marwah tak memberi tau apa pun soal itu pada dirinya.


Suci terdiam, dan tanpa banyak bicara ia keluar dari ruangan Erwin dengan wajah curiga pada Marwah yang terlihat serius pada kertas-kertas diatas mejanya.

__ADS_1


" Marwah, "


" ya, "


" kamu tau?? kalau siang ini kita akan persentasi?? dengan mas Erwin, " tanya Suci dengan nada tak senang.


" Ah, iya, maaf aku tak memberi tau kamu, karena aku juga kemarin baru dikabari , tapi gak papa kok, ini udah siap, semoga kita bisa persentasi dengan bagus nanti, " ujar Marwah polos.


Namun Suci merasa tak senang dengan hal itu, ia menduga-duga bahwa Marwah tengah mencari muka dengan mas Erwin, sehingga Marwah ingin mempersentasiΔ·an sendiri , padahal mereka adalah tim.


Dengan tak me jawab Marwah, Suci kembali kemjea kerjanya dengan kesal.


" benar-benar aku dibodohi sama si Marwah, ini gak bisa di diemin, jangan sampai, " rutu kesal Suci yang merasa dimanfaatkan kerjanya oleh Marwah.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Dan tepat di jam setengah 11, tiba-tiba handphone Marwah berdering, hingga mengagetkan dirinya. Dan betapa terkejutnya Marwah ketika melihat nama Direktur Erwin berada di layar handphone nya. Lalu dengan berat ia mengangkat telponnya.


" hallo," ucap Marwah yang tak sengaja melihat tatapan Erwin pada dirinya dari dalam ruangan Direktur.


" ayo, kita mulai persentasenya," ujar Erwin dengan menatap Marwah dari jauh.


" Ah, baik, " jawab Marwah ragu. Dan komikasi itu terputus. Marwah menghela nafas panjangnya, lalu bangun dari kursi seraya menuju meja kerja Suci untuk mengajak teman setimnya masuk keruangan direktur.


Suci mengikuti Marwah yang membawa beberapa lembar print laporan. Terlihat Erwin dan sekertaris Chandra menunggu keduanya di sofa yang terlihat disisi dinding kiri terdapat layar proyektor telah ready.


Erwin tersenyum sekilas pada Marwah yang terlihat tengah.


Sebelum memulai persentasenya, Marwah membagi dua lembar kertas di hadapannya pada Erwin dan Sekertaris Chandra.


Dan Marwah memulai dengan wajah serius membahas persentasi . Ada beberapa poin yang ia tekankan pada perusahaan Aritama karena akan berkerja sama dengan pihak ketiga sebagai penyalur tenang kerja yang akan berkerja sebagai pelayan dan beberapa pegawai lain yang dibutuhkan untuk mengisi pekerjaan di hotel tersebut.


Marwah melibatkan beberapa rekan kerja terdahulu untuk menstabilkan manajemen hotel sementara waktu. Marwah juga memberi ide-ide baru dalam manajemen hotel, bahkan ia membuat beberapa layanan terbaik untuk menarik para tamu.


Erwin menatap dengan serius pada Marwah, sesekali ia tersenyum melihat Marwah yang membuatnya puas, Erwin tak menyangka bahwa Marwah mampu mengurai per sup pekerjaan yang dibutuhkan oleh sebuah hotel dengan sangat detail.


" kau benar-benar pintar, !!" puji batin Erwin dengan tersenyum puas pada Marwah.


Suci melihat dengan sangat tidak senang dengan wajah kagum Erwin pada Marwah. Ia terlihat kesal.


" Hanya, saya belum bisa menemukan untuk seorang kepala chef, " ujar Marwah sedikit ragu.


" Gak papa, kita masih punya waktu, hasil ini sangst bagus dari yang aku bayangkan, dan aku puas, " puji Erwin.


Sekertaris Chandra pun memberi tepuk tangan pada Marwah yang berhasil dalam persentasi pertamanya, tapi tidak dengan Suci ia terlihat kesal pada Marwah yang berhasil mencuri perhatian Erwin.


" oke, untuk hari ini cukup, " ujar Erwin dengan menyudahi persentasi Marwah, dan Marwah pun lega.


Terlihat sekertaris Chandra mendekat pada Marwah dan mereka terlibat obrolan ringan dan mereka berdua keluar. Suci merasa terasingkan diruangan tersebut, ia pun ikut keluar dengan wajah kesal dan menghadang Marwah dengan terang-terangan dihadapan sekertaris Chandra.


" aku gak nyangka sama kamu Marwah, ternyata kamu hanya mementingkan diri sendiri, " ujar Suci tajam.


" maksud kamu??" tanya Marwah bingung.


" aku akan buktiin bahwa, aku pun bisa seperti kamu !!" ujar Suci yang kemudian berjalan meninggalkan Marwah dan Sekertaris Chandra.


Marwah terhenyak melihat sikap marah Suci.

__ADS_1


" Ah, Marwah, kamu harus hati-hati, " ujar Sekertaris Chandra yang mengingatkan Marwah yang terlihat tambah bingung.


__ADS_2