
Setiba Marwah di toko dr. Dessert, ia dikejutkan dengan kehadiran mama papa yang kini berada dirumah atasnya dengan wajah seribu tanya pada Marwah yang syok.
" mah, pa ??, kapan sampainya??" tanya Marwah dengan ragu.
" Kamu dari mana?? " tanya papa Evan dengan wajah serius melihat jam ditangannya dan kembali melihat pada putrinya yang terlihat dengan baju kantor yang kusut.
Marwah terlihat panas dingin mendengar pertanyaan papa Evan yang curiga.
" Ah, itu.., Hhmm, Marwah tidur dirumah Dinda pah, iya bener dirumah Dinda, " ujar Marwah bohong dengan menyeret nama temannya Dinda disana.
" semalam katanya jantungnya agak sakit dan.., dan perlu temen, gitu pah" jawab Marwah ragu dengan mencoba tersenyum simpul untuk meyakinkan kedua orang tuanya.
" Dinda sakit?? apa parah?, coba mama telfon ibu Dinda ??" tanya mama Wulan yang mengenal mama Dinda yang merupakan teman dan pelanggan setia kuenya dulu.
Dan Marwah pun terserang kepanikan ketika melihat mama Wulan tengah mengeluarkan handphone dari tasnya. Marwah dengan cepat meraih tangan mama Wulan dengan wajah paniknya ia mencegah handphone mama Wulan keluar dari tasnya.
" gak usah mah !!" ujar Marwah panik, dan terlihat wajah mama papa kaget dengan gelagat aneh Marwah.
" kenapa??" tanya Mama Wulan kaget.
" itu.., Hhmm, ibu Dinda gak tau kalau dia sakit, tapi..,tapi bukan sakit parah kok mah !!" ucap Marwah dengan wajah meyakinkan mama Wulan.
" Kamu ini gimana sih?? Dinda itu pasien cangkok jantung, pasti ada hal yang gak bagus makannya dia sakit !!" ujar papa Evan yang seorang pensiunan Dokter.
" ah, iyya, tapi hari ini dia kedokter kok pah, Marwah udah sarankan dia gitu, ".
Dan sepertinya kebohongan yang dibuat Marwah diterima dengan baik oleh mama Wulan dan papa Evan yang tak lagi terlihat tegang wajahnya.
" Huuuffft, syukur !!" gumam batin Marwah yang lega alasannya diterima.
" ya udah, tapi !!??" ucap mama Wulan dengan melihat jeli pada Marwah.
" ya Tuhan, apa lagi siiih !!" gumam batin Marwah yang kembali kaku.
" kamu kok pakai baju kantor begini?? " tanya mama Wulan dengan melihat penampilan Marwah yang formal, berbeda yang biasanya yang kasual.
Terlihat wajah Marwah tersenyum kaku.
" Hhmm, maaf mah, pah.., Marwah belum cerita, sebenernya, " ucap Marwah ragu.
" duuh, harus cerita dari mana!!" ritu batinnya yang hendak menjerit.
Terlihat papa Evan menunggu penjelasan dari putrinya dengan serius.
" Marwah sekarang kerja, diperusahaan Aritama mah, " ujarnya cepat.
Papa Evan dan mama Wulan terlihat bengong mendengar ucapan putrinya.
" perusahaan Aritama?? Aritama?? kok kayak pernah denger yaa pah??" ucap mama Wulan dengan melihat kearah suaminya yang lebih serius.
" kamu kerja diperusahaan??" tanya papa Evan serius pada Marwah yang masih berdiri.
__ADS_1
" Marwah hanya sebagai pengurus manajemen hotel yang akan perusahaan Aritama yang akan buka, hotel lama di daerah Xxx, dan sekarang akan dibuka kembali, jadi karena mereka butuh pembentukan manajemen hotel makanya Marwah dikontrak kerja selama 1 tahun, " jelas Marwah.
" 1 tahun !!" ucap mama Wulan syok.
" terus toko ini?? kamu mau tutup toko ini??" tanya papa Evan yang mulai marah.
" gak pah, enggak !!" jawab Marwah panik, yang tau arah pembicaraannya.
" Marwah punya kontrak khusus, jadi Marwah masih bisa tanggung jawab kelola toko ini pah !!".
" kontrak khusus APA?? mama kamu udah liat hasil laporan penjualan dua bulan ini yang menurun !! kamu benar-benar gak bertanggungjawab Marwah, papa kecewa !!"
" pah !!" ucap Mama Wulan yang mencoba menenangkan amarah suaminya dengan memegang lengan suaminya yang melihat tajam pada putrinya yang mulai gelisah.
" Marwah, marwah akan perbaiki pah, kemarin.., kemarin!!" ucapnya yang berat dan tertekan.
" Marwah !!, papa udah pernah ingetin kamu bahwa kamu harus tanggung jawab penuh jika udah ambil pilihan ini, ada banyak orang bergantung dari usaha toko ini, jika kamu berniat main-main, lebih baik papa kasih tanggung jawab ini untuk anak tante Nita yang memang jelas bisa bertanggungjawab," ucap papa Evan tegas.
Dan seketika air mata Marwah tumpah. Betapa ia terpukul dengan ucapan tegas papanya. Marwah tau bahwa semua karena kesalahannya yang tak bisa fokus pada kegiatan toko beberapa bulan ini, karena kisah cintanya yang kandas dengan tragis hingga pikirannya pun tak bisa fokus
" maaf pah !!" dengan derai air mata.
" Marwah benar-benar minta maaf pah, mah.., sejujurnya karena, mas Dimas khianati Marwah, dia menikahi orang lain, " ucap Marwah yang akhirnya pertahanannya roboh lalu menangis menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Papa Evan terlihat menghela nafas panjangnya, mendengar tangisan Marwah yang membuatnya teringat betapa waktu banyak berubah, kini putri kecilnya yang telah dewasa pun kini menangis tersakiti, tanpa bisa ia berbuat apa-apa, sama ketika waktu Marwah kecil.
Wajah mama Wulan yang terlihat syok, dengan cepat ia berjalan untuk memeluk tubuh putrinya yang terlihat rapuh.
🍃🍃🍃
Dan akhirnya setelah tangisan Marwah mereda, Marwah bercertia secara singkat bagaimana kontrak itu terjadi.
" kan kamu bisa batalin kontrak itu, " ucap papa Evan.
Marwah menggelengkan kepalanya yang membuat papa Evan mengeyitkan dahinya.
" gak bisa pah, udah gak bisa lagi !!"
" kenapa?? " tanya papa Evan serius.
Kedua mata Marwah melebar.
" ya Tuhan, ini gimana ngejelasinnya !!" rutu batin Marwah, " gak mungkin kan bilang soal kejadian hampir diperkosa dan diselametin sama direktur Aritama !!, bisa pingsan berjamaah ini !!," gumam batin Marwah dengan melihat pada mama Wulan seolah meminta pertolongan.
Mama Wulan pun seolah menyadari sorot mata Marwah, lalu meraih lengan suaminya.
" pah, udah.., biar Marwah selesaikan kontraknya, lagian 1 tahun gak lama kok !!" rayu mama Wulan menenangkan suaminya yang cemas pada putrinya.
Papa Evan pun menghela nafas panjangnya, dan akhirnya ia pun luluh dengan bujukan istrinya.
" Tapi, papa gak mau kalau sampai mempertaruhkan toko ini jadi kacau, jadi papa mau kamu temui tante Nita dan minta anaknya paling kecil Salwa untuk ngebantu kamu " tegas papa Evan yang masih tak bisa melepaskan kecemasannya pada Marwah.
__ADS_1
Marwah mengangguk patuh dan menurut dengan nasehat papanya.
" Makasih ya pah, mah.., maaf sebelumnya jadi buat mama papa cemas, " ucapnya dengan memeluk mama Wulan yang berada disampingnya.
" terus sekarang kamu gak ada pacar donk ??" tanya papa Evan yang kemudian berjalan menuju meja makan yang terdapat beberapa kue disana.
" ya, iyya..," jawab Marwah polos.
" Kalau gitu, bisa nie papa jodohin sama anak temen papa " ujar papa Evan dengan wajah cerah dan melahap kue itu dengan sekali makan.
Kedua mata Marwah melebar dan ia jadi tercengang dengan ucapan papanya.
" ngejodohin??" rutu batin Marwah.
" Gak mau ah pah, " ucap Marwah yang kemudian bangun dari duduknya, lalu berjalan menuju kamar dan menutup pintu begitu saja.
Hingga wajah dr. Evan tertawa melihat kearah istrinya yang yang ikut tersenyum melihat keusialan suaminya.
" kamu ya mas, gak sabaran banget !! mas gak inget apa?? sendirinya bisa nangis bombay waktu nikahin Safa, " ujar Wulan yang bangun dari duduk nya dan cepat-cepat mengambil kue dari jemari tangan suaminya yang akan memakan kue kedua.
Dan terlihat wajah kecewa suaminya yang gagal makan kue kedua.
" inget mas, tar DM nya naik, " ujar Wulan seraya memakan kue itu kedalam mulutnya sendiri, lalu berjalan turun menuju toko.
" huuuffft, selalu saja dibatasi !!" protes dr. Evan yang kemudian ikut turun kebawah mengikuti istrinya.
🍃🍃🍃
Terlihat Marwah membuka kemeja kerjanya dan hendak mengambil handuknya untuk mandi. Ia masih punya waktu 2 jam lagi untuk masuk kantor siang. Butuh 10 menit Marwah untuk membersihkan diri, dan setelah itu ia berpakaian kantor dengan kasual.
Dan ketika ia akan memakai lipstik jemarinya pun terhenti.Seketika bayangan wajah Erwin yang menciumnya pun terlintas disana. Spontan kedua mata Marwah terpejam seolah menolak untuk mengingat kecupan manis itu
" Ah, kenapa jadi inget Direktur sih!!" ujarnya yang kemudian menghampus lipstik pinknya dan mengantinnya dengan lipstik warna nude. Dan setelah dirasa pas dan rapi, ia pun keluar dari kamar dengan telah terlihat rapi. Lalu turun ketika bawahnya yang terlihat mama Wulan tengah berbincang dengan beberapa karyawan dengan serius. Dan menoleh pada Marwah yang terlihat rapi.
" kamu mau jalan sayang?? mau sarapan??" tanya mama Wulan yang menghampiri Marwah.
" iyya mah, tapi masih ada waktu kok, karena hari ini masuk jam 10, " jawab Marwah dengan merapikan rambutnya.
" papa mana??" tanya Marwah.
" Ah, papa ke rumah sakit, biasa cek keadaan, " jelas mama Wulan dengan membantu merapikan rambut Marwah yang panjang.
" makan dulu yuk, mama buat sandwich untuk kamu," ujar mama Wulan seraya mengahak Marwah untuk duduk ke mini cafe dr. Dessert.
Marwah mengangguk, dan mengikuti mamanya yang selalu bisa menenangkan hatinya. Dan mereka berdua pun bercertia dengan diselingi senda gurau tanpa mengungkit lagi masalah Marwah, hingga waktu yang harus membuat Marwah meninggalkan wanita paruh baya itu sendiri dimeja cafe.
" ini, bawa sandwich, bisa untuk makan siang kamu " ujar mama Wulan dengan memberikan kotak dr. Dessert pada Marwah.
" makasih yaa mah, dan maafin kesalahan Marwah !!" ucapnya dengan memeluk tubuh mama Wulan yang harum lavender.
" ya sayang, mama percaya kamu, dan mama selalu dukung kamu " ucap mama Wulan dengan membelai wajah putrinya. Dan dengan cepat Marwah mencium tangan mama Wulan lalu pamit menuju kantor.
__ADS_1