Come A Closer Love

Come A Closer Love
102


__ADS_3

Setelah ciuman hangat tersebut, kini keduanya berada di dalam ruangan luxury room. Erwin membantu Marwah dengan menbawa banyak handuk untuk ia berikan pada Marwah yang terlihat sedikit basah karena terkena hujan.


" mas, udah.., Marwah gak papa," ucapnya dengan meraih handuk dari tangan Erwin.


" kamu basah, bisa sakit kalau gak dikeringkan terus," ucapnya dengan berusaha meraih handuk itu kembali dari tangan Marwah dan mencoba untuk mengeringkan rambut Marwah. Marwah pun pasrah.


Membiarkan Erwin membantu dirinya mengeringkan kepalanya.


Marwah menapat pada jendela yang memantulkan sosok Erwin yang serius mengeringkan rambutnya dengan satu tangan. Ia terpaku dengan menelan salivannya.


" mas,"


" hmm," sahut Erwin yang khas, sehingga Marwah terpaku sesaat.


" Marwah gak lagi mimpi kan?," tanya Marwah, sehingga Erwin pun terhenti. Ia menurukan tangannya dari kepala Marwah dan menatap Marwah.


Lalu tangannya menyentuh wajah Marwah yang sedikin dingin.


" enggak, kamu gak lagi mimpi," sahut Erwin dengan merapikan rambut Marwah yang basah.


" karena mas kembali untuk kamu, "


" sungguh?," tanya Marwah ragu.


" mas gak akan pergi lagi??,"


" hmm, mas janji,"


" kali ini mas akan habiskan waktu bersama kamu, 24 jam selama umur berjalan dan menua bersama hingga ajal menjemput," ucap Erwin yang menyentuh hati Marwah.


Titik air mata Marwah jatuh kembali, tapi bukan karena sedihnya, tapi karena rasa bahagianya melihat Erwin kembali.


Dengan instingnya Erwin menghapus air mata Marwah dan perlahan meraih Marwah untuk ia peluk. Ia tau mungkin Marwah telah banyak melewati kesedihannya sendiri tanpa ia tau.


Marwah membalas pelukan Erwin dengan bahagia memenuhi relung hati, pelukan yang selama ini ia rindukan. Bahkan ia dapat merasakan detak jantung Erwin.


" Marwah,"


" ya,"


" ayo, ikut mas ke suatu tempat," ajak Erwin dengan sedikit melongatkan pelukan Marwah.


" kemana??," tanya Marwah dengan wajah bingung.


Erwin tersenyum simpul, lalu ia menyentuh wajah dengan sedikit mencubit pipi Marwah.


" aduh anak kecil, coba nurut aja sekali tanpa tanya bisa gak??," sahut Erwin dengan tertawa kecil.


Marwah seketika kecil, namun tersungging senyum lucu mendengar panggilan anak kecil untuk dirinya.


" anak kecil???," rutunya.


Erwin pun tertawa, namun ia pun mengambil sesuatu dari balik jasnya. Dan memberikannya pada tangan Marwah.


Marwah terkaget.


" syal??, ini untuk apa??,"


Erwin tersenyum simpul.


" untuk menutup mata kamu, ayo dipakai,"


"???," wajah bingung.


" ayo cepat, karena semua telah siap?" ujar Erwin.


Marwah mendengar dengan bingung, namun pada akhirnya ia mematuhi permintaan Erwin lalu menutup matanya dengan syal itu.


" sudah siap," ujar Marwah.


Perlahan jemari Erwin meraih jemari Marwah, dan keduanya berjalan bersama dengan saling bergandengan tangan.


🍃🍃🍃


Butuh waktu 35 menit untuk sampai pada tempat yang di tuju. Erwin turun dengan membantu Marwah yang masih tertutup matanya.


Marwah mencoba menghirup udara yang segar itu, terasa aroma segar lagi sejuk menerpa dirinya. Ia pun mendengar seperti suara debur ombak yang samar-samar.


" mas, ini dimana sih?," tanya Marwah dengan menarik jemari Erwin.


Namun Erwin tak menjawab, ia terus menuntun langkah Marwah untuk menuju kesuatu tempat. Dan terdengar suara dua orang pria yang menyambut mereka.


" Tuan, semua telah siap," ujar pria itu tegas.


Marwah sedikit mengidik. Dan ia jadi sedikit takut.


" mas, sebenarnya mau kemana sih??,"


" hati-hati!!, kita akan lewati sebuah papan," ujar Erwin mengingatkan.


" hah??," sahut Marwah kaget.


Tak..tak.., langkahnya yang terdengar melewati papan tersebut berbarengan dengan langkah Erwin.


" sedikit lagi," ujar Erwin.


Marwah pun menghela nafas penasarannya seraya masih melangkah bersama Erwin. Hingga akhirnya langkah itu terhenti.


Hening..


Hening..


" mas," panggil Marwah yang merasakan jemari Erwin melepaskan tangannya.


" mas," panggil Marwah kembali dengan sedikit bingung. Namun Erwin tak kunjung menjawab.


" mas??, mas, dimana?," tanya Marwah dengan gelisah. Tapi lagi-lagi tak ada jawaban disana.


Namun karena tak kunjung mendapat jawaban dari Erwin, akhirnya ia gundah.


" Marwah buka yaa," ucapnya seraya membuka syal yang menutup kedua matanya.


Dan tiba-tiba..


Dorr..dorrr.., terdengar letusan petasan kejutan seraya lampu hidup dengan bersamaan.


Sehingga Marwah terlihat sedikit memicingkan kedua matanya menerima terangnya lampu yang tiba-tiba.


" Selamat ulang tahun Marwah!!!!!," sorak bersamaan yang membuat Marwah terkaget.


" papa?? mah??," ujar nya terpaku. Dan kedua bola matanya melebar melihat kesekelilingnya sosok kedua orang tuannya, bahkan kak Safa dan Mas Danil, juga Mecca hadir disana.


Marwah pun jadi terpaku ketika melihat sebuah meja dengan dekor sederhana yang terdapat foto-foto kenangan keduanya.


Marwah melihat pada sebuah sepatu yang terdapat didalam sebuah toples besar dengan dihiasin beberapa balon yang mempercantik meja tersebut.



" ini??," lirihnya kaget.


Perlahan Erwin datang dengan senyum hangatnya.


" selamat ulang tahun Marwah,"


Deg..jantung Marwah berdebar.


" kali ini kak Mummy menepati janjinya untuk kamu membahagiakan kamu,"


Marwah terlihat syok.

__ADS_1


" mau kah kamu menjadi istri ku??," ucap Erwin menatap wajah Marwah yang masih kaget.


" aku sengaja melamar mu kembali di depan kedua orang tua mu, dan keluarga ku,"


Perlahan nyonya Aritama mendekat membuat Marwah kaget.


" mama?," lirih Marwah


Nyonya Aritama mendekat dengan membelai wajah Marwah. Lalu ia membarikan sesuatu pada putranya.


" Aku menyukaimu Marwah Sandres, selamat hidupku aku hanya menyukaimu, sampai beberapa detik yang lalu, aku tetap akan menyukai mu," ucap Erwin menatap dalam wajah Marwah.


" mau kah kamu menikah dengan aku??," pinta Erwin dengan memperlihatkan sebuah cincin di tangan kanannya.


Sesaat Marwah terserang rasa haru. Perlahan iya mengangguk, diiringi air mata bahagia yang jatuh bersamaan dengan senyum bahagia terukir di sana.


Erwin tersenyum, dan jemari Marwah pun reflek menahan di hadapa Erwin untuk menerima permberian cincin lamaran Erwin.


Dan ketika cincin itu tersemat dijemari Marwah.


Sorak dan tawa silih berganti memeriahkan suasana romantis itu.


" makasih mas," ucap Marwah menangis haru, dan perlahan Erwin memeluk tubuh Marwah di hadapan keluarga mereka.


Mama Wulan menangis haru, ia tak bisa menyimpan rasa bahagianya akan kebahagaian putrinya. Begitu pun dengan nyonya Aritama yang ikut menangis haru disisi mama Wulan.


" anak-anak ini, benar-benar sudah dewasa," ucap nyonya Aritama dan mama Wulan melihat pada sahabatnya itu dengan wajah bahagia lalu ia spontan memeluk nyonya Aritama.


" sekarang kita besan," ucapnya dengan bahagia.


Dan suasana itu pun berlangsung hangat dengan dinner bersama di atas kapala yang sengaja Erwin rencanakan jauh-jauh hari.


Selesai dari Dinner tersebut, terlihat keluarga keduanya terlibat obrolan hangat. Bahkan Erwin pun dudul dengan papa Evan dan keduanya terlihat membicarakan hal penting.


Disisi lain nyonya Aritama duduk di samping Marwah.


" mama bahagia bisa kembali bertemu dengan kamu Marwah," ucapnya dengan memegang jemari Marwah.


" Marwah juga mah," ucap Marwah dengan mata yang sedih.


" mama pasti melewati hari-hari berat bersama mas Erwin,"


Nyonya Aritama sedikit kaget, karena Marwah membahas hal ini. Namun ia menghela nafas panjangnya dengan senyum simpul.


" hari-hari berat itu mama lewati dengan semangat Erwin yang tak menyia-yiakan untuk segera pulih. Hanya...," ucap nyonya Aritama sedih.


" Erwin tak bisa kembali sempurna, tangan kirinya.."


" Marwah tau," sela Marwah memotong.


" Tapi Marwah bersyukur diatas segalanya, karena mas Erwin kembali, " ucap Marwah tulus.


Nyonya Aritama tersenyum


" mama benar-benar salut usaha kerasnya untuk bisa pulih dan kembali pada kamu Marwah,"


" Dan cinta kalian benar-benar kuat menghadapi ujian itu,"


Marwah hanya tersenyum.


" Terima kasih Marwah, karena kamu menerima putra mama dengan keadaannya yang sekarang," ucap Nyonya Aritama terharu...


Marwah tersenyum simpul dan matanya pun jatuh pada sosok mama Wulan yang datang mendekat.


" apa bisa bergabung??" sela mama wulan.


Dan dengan kaget nyonya Aritama pun menyambut besannya penuh suka cita, sehingga ketiganya pun terlibat obrolan hangat.


Hingga akhirnya, tepat dipukul 12 malam. Seluruh keluarga berfoto bersama sebagai kenang-kenangan moment itu. Dan ketika akan pulang, Erwin menahan papa Evan.


" dokter," sapa Erwin sopan.


" papa, kamu sudah bisa memanggil sebutan papa," sela papa Evan pada Erwin.


Papa Evan tersenyum.


" hmm, pa, boleh saya minta sesuatu??,"


" apa???," tanya papa Evan.


Dengan susah menelan salivannya, Erwin memberanikan diri bertanya.


" bisakah Marwah tinggal disini??,"


" Hah?," sahut papa Evan kaget begitu juga dengan mama Wulan, kak Safa dan nyonya Aritama yang ikut degdengan permintaan putranya.


Marwah ikut kaget, dan melihat serius pada Erwin.


" ya Tuhan," rutu batin nya.


" saya hanya ingin menunjukkan sesuatu pada Marwah, " ucap Erwin singkat.


Papa Evan sedikit berpikir dan menoleh pada istrinya.


Dan tanpa terduga mama Wulan memberi kode untuk mengizikan.


Dengan berat hati papa Papa Evan pun memberi izin pada Erwin yang disambut wajah senyum Erwin.


" Terima kasih pah,"


" hmm, tolong untuk tidak macam-macam sebelum kalian menikah," ancam papa Evan.


" ah, ya pasti," sahut Erwin cepat.


🍃🍃🍃


Setelah semua pulang, kapal itu pun seketika sepi. Erwin yang tengah berada di ruang nakodah pun terlihat membicarakan sesuatu. Marwah yang berdiri di sisi badan kapal dengan menikmati suasana malam itu pun terlihat memandang jauh sepanjang laut gelap.


Marwah melamun. Hingga ia sedikit terkaget ketika kapal itu perlahan bergerak meninggalkan dermaga.


Ia terlihat menikmati gerak kapal itu yang seakan menuju tengah laut.


Namun tanpa ia sadari, Erwin mendekat dari belakang dan perlahan memeluk tubuh Marwah dari belakang sehingga Marwah sedikit terkaget, ketika merasakan tangan Erwin memeluk tubuhnya dan hebus nafas Erwin terasa dekat di sisi telinga Marwah.


" gimana?? kamu suka??," ucap Erwin berbisik pelan.


Sehingga menimbulkan rasa geli di telinga Marwah.


" hmmm, Marwah suka, " jawabnya pelan dengan memegang lengan Erwin yang kuat memeluk dirinya.


" Ini akan jadi ingatan yang indah yang akan kita ingat bersama," balas Marwah dengan memandang luas laut gelap itu.


Perlahan Erwin melepaskan rangkulannya, dan membalikkan tubuh Marwah. Sehingga ia dapat melihat wajah cantik Marwah yang tersenyum hangat.


Erwin kembali memeluk tubuh Marwah.


" aku tak akan melepaskan kamu seumur hidupku, meski hati mu nanti berubah, aku tak akan melepaskan kamu," ucap Erwin serius.


Marwah tersenyum simpul dan membalas pelukan Erwin.


" hmm," gumam Marwah.


Perlahan Erwin mererai pelukannya seraya menatap dalam wajah Marwah. Dengan senyumnya ia memdekat pada wajah Marwah.


" berikan ciuman hangatmu," bisik Erwin diantara bibir Marwah. Marwah mendengarkan hal itu pun tersenyum kecil, dan ia pun menyambut ciuman Erwin yang kini kedua bibir itu bertemu dengan pangutan hangat.



Kapal itu pun terus berlayar hingga berada di tengah laut. Marwah dan Erwin duduk di ujung kapal dengan menikmati waktu mereka berdua, hingga fajar menjelang.

__ADS_1



" mencintaimu selamanya," Erwin.


🍃🍃🍃


Tiga minggu berlalu, hari-hari menuju pernikahan Marwah dan Erwin pun kian dekat.


Dan kini ia berada dirumah sakit Pertamedika diruangan rapat dr. Evan dengan beberapa staffnya.


" Hari ini kami akan memperkenalkan Arsitektur yang akan bertanggungjawab dengan desain rumah sakit Pertamedika yang baru, beliau adalah mbak Seruni Desfa yang memiliki nilai terbaik di bidangnya selama ini," ujar wakil Direktur Chandra.


Dan seorang wanita yang sedari tadi duduk di tim Erwin pun bangun, seraya memberi salam perkenalan pada klien barunya.


dr. Evan hanya melihat sekilas, lalu ia melihat pada Erwin.


" aku percaya pada apa yang kamu pilih,"


" ya dokter , terima kasih, " sahut Erwin.


" semoga dr. Evan puas dengan hasil rancangan mbak Seruni,"


Papa Evan mengangguk.


Dan terlihat obrolan serius pada rapat tersebut, dengan terlihat mbak Seruni mempersentasikan plat rancangan rumah sakit yang akan di garap beberapa minggu kedepan. Terlihat dr. Evan menyimak dengan antusias.


Hingga akhirnya rapat itu selesai dengan dr. Evan mengulurkan tangannya pada mbak arsitek. Sehingga Seruni pun sedikit bergeming dan menyambut jabat tangan itu.


" saya berterima kasih, karena anda merancang ramah sakit tersebut dengan sangat baik, saya puas,"


" ah, yaa terima kasih dokter, saya akan lakukan semampu saya, agar tidak mengecewakan kepercayaan pak Erwin dan anda dr. Evan,"


" terima kasih," balas dr. Evan dengan terrerai jabat tangan itu lalu berlalu.


Setelah semua selesai. Erwin yang tak langsung kembali kekantornya, ia harus menemuai seseorang yang menunggunya saat ini di rooftop rumah sakit.


Dengan langkah pasti ia berjalan menuju seseorang yang telah menunggunya disana, dan langkahnya berhenti disisi pria yang tengah memandang pemandangan luas itu.


Hening


Hening..


Hingga terdengar suara hela nafas dr. Evan. Dan ia merogoh kantong celananya seraya mengeluarkan sebungkus rokok dan mancis. Ia membukanya dan dengan sengaja memawarkannya pada Erwin.


Erwin bergeming, dan meraih kotak rokok tersebut. Terlihat dr. Evan mulai menghidupkan mancisnya dan membakar batang rokok tersebut dengan diikuti tarikan rokok pertama lalu membuangnya begitu saja di udara.


Erwin tersenyum kecil mengingat hal ini seperti mengulang masa lalunya.


" kau tidak merokok?," tanya dr. Evan.


" dulu, tapi sekarang tidak lagi " sahutnya seraya memperhatikan merek kotak rokok tersebut dan ia terkaget ini adalah jenis rokok yang sama dengan waktu itu.


" syukurlah," seru dr. Evan dengan menarik asap rokok kedua dan menghelanya kembali ke udara.


Hening.


Hening.


Erwin tenggelam dalam kenangan masa lalunya dengan sosok lain dr. Evan.


" tolong jaga putri ku," pinta dr. Evan dengan nada serius.


" dan jangan membuatnya menangis lagi,"


Erwin bergeming dan melihat pada dr. Evan yang masih menarik kembali rokoknya.


" dia cukup banyak menderita karena ulah mu," ucap dr. Evan dengan melihat pada Erwin.


Deg...


Erwin terkaget dengan wajah serius dr. Evan seraya menelan salivanya.


" dan, sebaiknya kau menyembuhkan tangan kirimu, aku akan mengenalkan seseroang yang ahli dalam bidang fisioterapi," jelas dr. Evan.


Mendengarkan hal itu, ia tersenyum kaku. Namun ia mengangguk menyetujui ucapan dr. Evan.


" Terima kasih dokter," sahut Erwin sungkan.


dr. Evan tersenyum kecil.


" aku bukan dokter, tapi aku adalah papa mertua mu," celetuk dr. Evan


Dan seketika keduanya tertawa kecil. Mencairkan suasana.


" Terima kasih papa,"


dr. Evan menepuk pundak Erwin dengan bangga.


" aku bangga pada mu," ujar dr. Evan yang mengangetkan Erwin, seolah ucapannya itu mirip dengan yang pernah di ucapkan oleh almarhum ayahnya dulu.


Erwin terpaku.


" kau tumbuh jadi pria yang kuat, ayah mu pasti bangga ," kenang dr. Evan yang mengenal baik almarhum tetangganya dulu.


Erwin tersenyum getir namun ia juga tersanjung dengan ucapan dr. Evan.


🍃🍃🍃


Sore harinya, dengan tidak terduga, Erwin kini berada di toko dr. Dessert. Ia mermegoki Marwah yang baru saja menyelesaikan pekerjaan membuat cake pesanan pelanggan.


" selamat sore nona Marwah," seru Erwin dengan mengagetkan Marwah yang tampak tak menyadari kehadiran dirinya.


Marwah terpaku, namun seketika sebuah senyum terukir cantik di wajah Marwah. Dan dengan segera ia menyambut Erwin.


" mas," serunya dengan mendekat pada Erwin.


" kok gak kabarin kalau mau kesini?," tanya Marwah.


Namun Erwin tak menjawab, ia malah meraih wajah Marwah lalu menjatuhkan kecupan di kening Marwah.


Marwah terkaget.


" mas," protes Marwah malu.


" ikh, diliat sama anak-anak" bisiknya kecil.


" mau protes??," balas Erwin.


Marwah malah tersenyum kecil.


" tunggu Marwah di atas yaa??, sebentat lagi Marwah siap, hmmm" pintanya dengan mengangguk pada Erwin agar pria ini setuju


" baiklah sayang," ucapnya mengangguk seraya melepaskan Marwah dengan berjalan menuju rumah atas Marwah.


Selang beberapa lama, akhirnya Marwah melepaskan apronnya dengan meninggalkan dapur rotinya yang tengah dibenahi oleh beberapa karyawan wanita. Dan ia melangkah menuju rumah atasnya dengan senyum terkembang.


Ia membuka pintu rumahnya perlahan. Dan terpaku melihat pada Erwin yang ternyata tertidur dengan tangannya menopang pada kepalanya.


Marwah menghela nafas panjangnya seraya mendekat dalam senyap. Ia berhenti tepat di hadapan Erwin, lalu perlahan turun dan berlutut di hadapan pria itu.


Ia menatap wajah Erwin hingga sorot matanya terpaku pada tangan kiri Erwin yang berada diatas pangkuan. Lama ia memandang jemari Erwin yang kaku itu.


Dan perlahan ia menyentuh tangan Erwin. Hingga perlahan kedua mata Erwin terbuka dan keduanya saling menatap dalam diam.


Hening...


" i love you," ucap Marwah pelan.


Erwin menatap wajah Marwah, namun perlahan ia sedikit menunduk dan dengan instingnya ia menjatuhkan ciuman hangat di bibir Marwah yang ranum.

__ADS_1


Marwah menyambut dengan mata terpejam, pangutan hangat dari pria yang sangat ia cintai. Perlahan ia sedikit bangun dan meletakkan tangannya di dada Erwin.


" bagi ku, kau tetap sempurna, dengan apa adanya dirimu, love you Erwin," gumam batin Marwah dengan membalas pangutan hangat ciuman Erwin.


__ADS_2