
Sore itu, dipanti Asuhan, Marwah dan Erwin mandi dan ganti baju setelah lelah bermain lumpur seharian bersama anak-anak panti asuhan. Kini Marwah duduk di sebuah gazebo yang terlihat telah sedikit rusak dibawah rindang pohon asam jawa.
Marwah menarik nafas panjangnya sembari mengingat ketika beberapa tahun yang lalu ia kemarin bersama mama papa dan Brian adiknya sebelum ia masuk ke akademi polisi.
Waktu benar-benar berlalu begitu cepat. Dan kini ia datang bukan dengan keluarga, tapi dengan seorang pria yang baru masuk kedalam kehidupan, Erwin.
Perlahan dari kejauhan terlihat sosok Erwin yang berjalan pada arah gazebo tempat Marwah duduk termenung.
Marwah melihat dengan aneh pada Erwin, dan ketika sosok Erwin berada di hadapannya. Sontak Marwah tertawa ketika melihat penampilan Erwin yang lucu.
" Kenapa?? apa benar-benar lucu??" tanya Erwin yang kini memakain pakaian kaos yang terlihat serba kekecilan ditubuh dewasa Erwin, dan celana yang dikenakan juga gantung dikaki Erwin yang tinggi. Melihat hal itu Marwah seolah melihat film tokoh kartun "Baby Huey", tubuh besar dengan baju serba kekecilan.
" Sudah ku duga, pasti aneh jika aku kenakan," ujar Erwin kesal dengan menarik-narik bajunya yang menampakkan perut six pack Erwin.
Marwah benar-benar tak kuat untuk menahan tawanya melihat tingkah laku Erwin yang menarik-narik ujung baju agar lebih bisa menutup perutnya.
" Direktur , benar-benar terlihat seperti baby huey," ujarnya memcoba mengambarkan tokoh yang ia bayangkan ketika melihat kondisi Erwin saat ini.
Wajah Erwin seketika cemberut, melihat Marwah yang puas menertawakan dirinya.
" Kamu ini, benar-benar,!!" ujar Erwin kesal melihat tawa Marwah yang tak kunjung reda.
Namun tiba-tiba, terlihat ke tiga anak remaja tanggung datang mendekat pada Marwah dan Erwin.
" Kak Marwah, " sapa ke tiganya dengan sungkan.
Marwah tersadar dan berusaha menahan tawanya ketika ke tiga gadis tanggung itu berada dihadapan Marwah dan Erwin.
" Hai, kalian Ab three imut, " sapa Marwah yang mengenali ketiganya.
" Kak Marwah , kami mau tanya sesuatu, boleh??" tanya seorang gadis tanggung yang terlihat ragu.
" ??" Marwah melihat bingung pada ketiganya yang saling menyikut satu sama lain.
" Kenapa??, ada yang ingin kalian bicarakan??" tanya Marwah penasaran.
" Maaf kak Marwah," ucap ragu gadis tanggung yang duduk ditengah.
" Apa sih??, bikin penasaran aja," ucap Marwah tambah penasaran.
" Bisa gak kakak masak spaghetti seperti tahun lalu, spaghetti itu benar-benar makanan terenak dan terlezat yang pernah kami rasa kak Marwah," jawab si gadis yang duduk ditengah dengan was-was.
Marwah terteguh, ia tak menyangka masakan spaghetti dadakan waktu dengan bumbu alakadar bisa begitu berkesan bagi anak-anak panti ini.
Dan seketika Marwah tersenyum hangat pada ketiganya.
" baiklah, malam ini kita masak spaghetti lagi yaa, tapi kali ini kakak akan masak dengan rasa yang beda dari kemarin, dan pasti lebih enak dari yang tahun lalu," ucap Marwah serius.
Sontak ketiga gadis tanggung itu bersorak senang, dengan saling berpelukan satu sama lain.
" Makasih yaa kak Marwah, " ucap ketiga nya dengan senang lalu ketiganya berlalu pergi menuju ruang tengah.
Erwin melihat dengan terpaku pada Marwah yang berbeda.
" Sepertinya Marwah harus belanja bahan spaghetti," ujarnya yang kemudian turun dari gazebo seraya melihat pada Erwin yang sedari tadi diam.
" Ayo pergi bersama," ajak Erwin pada Marwah.
Marwah melihat dengan bengong pada Erwin, seraya melihat kembali penampilan Erwin yang kacau dengan baju serba kecil. Dan lagi-lagi Marwah menertawa penampilan Erwin.
" Jangan ah, nanti orang-orang pada menertawakan Direktur nanti, biar Marwah pergi sendiri saja," ujar dengan melangkah melewati Erwin. Namun tangan Erwin dengan cepat meraih lengan Marwah, sehingga Marwah pun terhenti.
" Jadi kamu gak mau sama aku jika aku miskin??" tanya Erwin kesal karena diacuhkan Marwah.
Marwah terhenyak dengan pertanyaan Erwin yang konyol.
" maksudnya apa?? gak nyambung ikh, " rutu Marwah dengan wajah bingung pada Erwin.
" Gak nyambung??," ucap Erwin geram dengan wajah polos Marwah.
" Oke aku mau liat, kamu berani gak bawa aku dengan kondisi aku seperti ini??," uji Erwin pada Marwah yang tak mengerti dari maksud Erwin yang absurd.
" Tunggu disini, aku ambil kunci mobil, " ujar Erwin tegas pada Marwah yang tak tau apa-apa.
Marwah terlihat bengong dengan tingkah Erwin yang tiba-tiba mood nya berubah buruk.
" kenapa jadi marah??," tukas Marwah heran.
🍃🍃🍃
Didalam mobil terlihat wajah kesal Erwin yang dengan serius menbawa mobil menuju Mini Mall yang berada dikawasan itu. Marwah melihat Erwin dengan bingung.
Dan akhirnya mobil mewah Erwin pun berhenti pada halaman parkir Mini Mall. Terlihat Erwin tengah siap-siap akan turun dengan membawa dompet dan handphone ditangannya.
Namun sebelum Erwin membuka pintu mobilnya, dengan cepat tangan Marwah menahan tangan Erwin.
" Direktur yakin?? turun??," tanya Marwah serius.
" IYA," jawab Erwin dengan sedikit marah.
Marwah jadi heran melihat tingkah Erwin yang tiba-tiba mood nya berubah buruk. Dan tak berselang lama mereka pun turun bersamaan dan berjalan untuk masuk kedalam gedung Mini Mall tersebut.Dan benar saja, dari awal pintu kaca Mall itu terbuka, orang-orang melihat aneh pada Marwah dan Erwin yang lebih terlihat seperti orang gembel.
Terlihat Erwin sedikit risih, namun ia menutupinya dengan berjalan dibelakang Marwah.
" Kenapa?? Direktur risih??," tanya Marwah dengan mencoba melihat wajah Erwin yang berjalan dibelakang tubuhnya.
" enggak, memang kamu gak risih diliatin orang-orang dengan baju daster begitu??" tanya Erwib pada Marwah yang terlihat santai berjalan dengan sendal jepit dan baju daster ibu Nur yang terlalu besar sizenya ditubuh Marwah yang ramping.
Marwah menggelengkan kepalanya. Marwah tidak peduli dengan tatapan orang lain, karena ia merasa nyaman dengan baju daster besar itu.
Ketika melewati sebuah counter baju bermerek, Erwin berhenti. Ia menarik lengan Marwah untuk masuk kedalam counter itu dengan cepat. Marwah melihat dengan bingung pada Erwin, dan mengikutinya dengan cepat.
" Kenapa kemari???," tanya Marwah pada Erwin yang kini tengah memilih pakaian rak display.
" Aku tidak tahan dengan tatapan aneh orang-orang , " ucap Erwin.
Marwah sedikit tersenyum.
" Siapa suruh, kan tadi udah dibilang jangan, bandel sih!!, ujar Marwah santai, namun yang dinasehati tidak peduli, ia fokus mencari pakaian ganti dengan cepat. Lalu mengambil nya dan membawanya keruangan pengepasan.
Terlihat beberapa SPG melihat dengan aneh pada Erwin dan Marwah, mereka berbisik-bisik melihat sini pada keduanya.
" Yakin banget, pasti gak bisa beli," celetuk salah satu SPG dengan sinis pada Marwah yang tengah melihat pakaian seorang diri karena Erwin tengah menganti pakaian.
" Maaf mbak, tolong jangan dipegang-pegang nanti bisa kotor baju-bajunya," ucap SPG pertama dengan sinis pada Marwah.
Marwah terlihat kaget dengan teguran langsung SPG tersebut yang menegur dengan nada marah.
" Ah, maaf, " ucap Marwah kaget dan reflek kemudian mundur dengan sendirinya.
__ADS_1
" Kalau kotor nanti gak sanggup ganti, ini pakaian mahal, tau gak mbak??, bisa repot nanti urusannya ," ujar SPG kedua dengan merapikan gantungan pakaian tempat Marwah tadi memegang tadi.
Marwah hanya melihat heran dengan ucapan sinis kedua SPG itu pada dirinya.
Namun tiba-tiba, Erwin yang telah siap berganti pakaian di marah mendengar ucapan sinis kedua SPG itu pada Marwah.
" Sayang !!!" panggil Erwin seraya berjalan pada Marwah, yang terlihat kedua SPG itu terkaget dan terkesima dengan tingkat level ketampan Erwin yang terpancar berbeda setelah berganti pakaian.
" Waah, ganteng banget," puji SPG pertama.
" Ya Tuhan," kagum SPG kedua yang tak berkedip melihat Erwin yang benar-benar tampan.
" Direktur??," ujar Marwah yang jadi ikut reflek melihat pada Erwin yang berjalan mendekat pada dirinya.
" Kamu gak usah milih lagi, kita beli semua yang ada di counter ini," ujar Erwin pada Marwah.
Marwah terkaget mendengar ucapan Erwin.
" Buat apa??, gak usah deh," tolak Marwah dengan mencoba berjalan, namun lengannya dengan cepat dipegang oleh Erwin.
" Aku yang beli, kamu jangan protes," kata Erwin yang kemudian memilih pakaian dan celana untuk Marwah.
Terlihat kedua SPG itu kaget mendengar ucapan Erwin yang akan membeli semua isi counter.
" Ini, ganti baju kamu," ujar Erwin dengan memberikan dua potong pakaian dan dua potong celana pada Marwah.
Marwah melihat dengan bingung.
" Marwah gak mau, ini aja udah nyaman kok," tolak Marwah.
" Aku bilang ganti, SA-YA-NG ," ujar Erwin yang geram melihat penolakan Marwah dan Marwah yang terkaget mendengar panggilan " sayang" dari Erwin sehingga Marwah reflek dibuat harus menerima hanger pakaian itu, lalu dengan enggan Marwah pun terpaksa masuk keruangan pengepasan.
" Bungkus semua pakaian wanita ukuran istri saya tadi," ujar Erwin yang marah pada kedua SPG tadi.
Terlihat kedua SPG itu kaget mendengar ucapan Erwin.
" Tapi..," sahut SPG kedua yang ragu.
" Kenapa?? kalian pikir saya tidak sanggup membayarnya??," ujar Erwin sinis.
" Bu..,bukan..," jawab SPG pertama yang takut melihat kemarahan Erwin.
" Panggila manajer kalian sekarang !!" perintah Erwin dengan marah. Sontak kedua mulai menangis karena takut, takut jika berurusan dengan pihak manajer akan fatal untuk mereka.
" Maaf mas, mas kami salah mas, tolong maafin kami mas, jangan panggil manajer mas," ucap SPG pertama yang ketakutan dan memelas.
SPG kedua pun ikut memelas dihadapan Erwin yang kesal. Dan karena kejadian itu seisi counter melihat pada Erwin yang tak bisa menerima kesalahan kedua SPG itu.
" Bungkus semua pakaian wanita itu, dan panggil manajer kalian, saya tunggu di kasir," ujar Erwin tegas dengan tak memberi maaf pada kedua SPG tersebut. Terlihat Erwin tak peduli ketika mata-mata para pelanggan lain melihat pada dirinya yang berjalan dibuntuti oleh kedua SPG yang menangis.
Tak berselang lama, Marwah pun keluar dengan heran ketika melihat orang-orang sedang sedikit berkerumunan di tengah kasir.
" Ada apa sih??," ucap Marwah bingung melihat kearah kerumunan itu. Perlahan ia pun berjalan menuju kerumunan itu, dengan wajah heran. Dan betapa terkejutnya Marwah ketika melihat Erwin dengan santai duduk bak raja yang dikelilingin paper bag besar dan beberapa SPG yang terlihat menangis.
" Di..Direktur??," sapa Marwah dengan wajah kaget.
Erwin menoleh dengan kaget dan ia terpesona ketika melihat Marwah yang cocok dengan pakaian yang ia pilih tadi.
" Kamu cantik sayang," puji Erwin pada Marwah.
Tapi tidak dengan Marwah, ia terkejut melihat situasi kacau itu yang terlihat kedua SPG itu menangis dengan tak henti seraya melipat tumpukan pakaian yang banyak.
" Apa yang Direktur lakukan??," ujar Marwah khawatir.
" APA???, ini gila," ucap Marwah tak percaya.
" enggak.,, enggak, udah mbak jangan dilipat lagi," pinta Marwah dengan panik.
" Kenapa??," ucap Erwin heran dengan penolakan Marwah.
" Siapa yang mau pakai semua pakaian itu??," tanya Marwah.
" Ya kamu lah," jawab Erwin santai.
" Dan biar mereka tau, kalau kamu sanggup membeli itu semua," timpal Erwin dengan sinis kepada dua SPG yang terdiam dengan wajah sedih.
Marwah terhenyak, hanya karena ucapan sinis tadi kedua SPG tadi terkena imbas kemarahan Erwin.
" Direktur??" ucap Marwah kesal.
" Ini terlalu kekanak-kanakan, Marwah gak mau, lagian kedua mbak itu gak sengaja, jadi udah laah jangan dipermasalahkan begini," timpal Marwah dengan melepaskan diri dari Erwin.
Erwin kesal mendengar panggilan Marwah yang masih betah memanggilnya dengan " Direktur ".
" Kalau aku tetap membeli, kamu mau apa??," jawab Erwin kesal dengan mengeluarkan kartu master dan memberikan pada mbak kasir yang seperti dengan siap menerima kartu Dewa itu.
Marwah reflek menahan tangan Erwin yang akan menyerahkan kartu itu pada mbak kasir.
" Jangan Direktur , Marwah bilang jangan," ucap Marwah panik menahan tangan Erwin.
Erwin melihat tajam pada Marwah.
" Oke, aku akan menurut dan maafkan kedua orang itu dengan satu syarat," tawar Erwin pada Marwah.
" Apa??," jawab Marwah cepat tanpa pikir panjang.
Erwin bangun dan mendekat pada Marwah.
" Panggil aku dengan panggilan sayang," ujar Erwin tersenyum.
" Bagaimana??," tantang Erwin.
Marwah terpaku, dan reflek menutup kedua matanya seraya menelan salivanya yang tiba-tiba susah ditelan.
" Ah, ba.., baiklah "sa..yang" ujar Marwah ragu.
" Hhmm kurang mesra," ujar Erwin dengan mimik wajah menunggu.
Dengan berat Marwah menghela nafas panjang seolah mengatur kejiwaannya yang terlihat ragu dengan mengigit bibir bawahnya.
" Baiklah sayang, tolong yaa maafin mbak SPG, mau kan sayang??," pinta Marwah yang kemudian mencoba manja pada Erwin.
Erwin terlihat mematung dengan ucapan Marwah yang terlihat manja pada dirinya, dan terlihat Erwin merangkul pinggang Marwah dengan senyum terkembang disana.
" Oke, saya maafkan " jawab Erwin senang.
Lalu dengan bangganya, Erwin memberi maaf pada kedua SPG tersebut. Dan menyuruh keduanya untuk berhenti menangis dan tak mengulangi hal tersebut pada pelanggan lain.
Terlihat wajah lega Marwah disana. Lalu Erwin dengan santai memberikan kartu Master nya pada mbak kasir hang sedari tadi menunggu pembayaran.
" total 13 juta 800 rupiah," ucap mbak kasir memberikan info nominal yang akan tertransksi pada kartu Master Erwin.
"Hah??, 13 juta??," ujar Marwah terkejut.
__ADS_1
" Maaf mbak, tapi saya hanya membeli pakaian ini dan pakaian yang dipakai saja, yang dipapaer bag itu gak jadi mbak," jelas Marwah pada mbak kasir yang hampir menekan tombol pembayaran.
" Lakukan saja mbak, " ujar Erwin santai.
" Tapi..," sela Marwah panik.
" Tak ada tapi, aku memang ingin membelikannya semua untuk mu," jelas Erwin menenangkan kepanikan Marwah.
" bayar saja mbak," ujar Erwin pada mbak kasir dengan yakin, dan sedetik kemudian terdengar suara mesin pembayara mengeluarkan struk bayaran yang telah terjadi.
Dan Marwah pun dibuat kesal dengan tingkah Erwin.
Namun, tiba-tiba kedua SPG itu mendekat pada Marwah dengan ragu.
" Maafin kami ya mbak, kami salah,"
Marwah kaget.
" Ah , yaa gak papa mbak," ujar Marwah memaafkan.
Dan setelah semua transaksi itu terjadi, terlihat 6 paper bag besar dibawa oleh kedua SPG tersebut dengan mengikuti Erwin yang berjalan keluar gedung Mall, untuk menaruh paper bag itu kedalam mobil.
Marwah menghela nafas panjang seraya menikmati suasana mini mall tersebut yang sedikit ramai.
" Sayang," ucap Marwah berbisik yang tiba-tiba mengulang panggilannya tadi untuk Erwin.
" Sayang," ulangnya lagi seolah merasa hatinya sedikit hangat ketika mengucapkan panggilan untuk Erwin.
Sejenak Marwah berpikir tentang Erwin yang bisa dengan cepat menutupi luka hatinya, dan memaksanya untuk percaya pada pria ini.
Namun tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara Erwin yang memanggilnya.
" Sayang," sapa Erwin pada Marwah yang menoleh padanya dengan terkejut. Terlihat wajah Erwin tersenyum hangat pada Marwah.
" Yuk, jalan," ajak Erwin dengan mengukurkan tangannya dihadapan Marwah.
Marwah memandang Erwin dengan dalam seraya melihat pada uluran tangan Erwin yang seolah mengingatnya pada malam itu, ketika Erwin meminta Marwah untuk menjadi milik pria ini.
" Jadilah milik ku, Marwah," ucapan Erwin itu seolah mengema kembali dikepala Marwah yang terpaku.
" ayo, kok bengong," ajak Erwin lagi dengan membuyarkan lamunan Marwah.
" Ah, iyya..," jawab Marwah tersadar, dan perlahan dengan ragu Marwah meraih jemari Erwin yang sedetik kemudian digengam erat oleh Erwin dengan sigap. Dan keduanya pun berjalan dengan santai menuju Eskalator untuk turun kebawah yang terdapat market sembako dibawah mini mall tersebut.
Keduanya pun berbelanja dengan membuat sekitaran melihat mereka bak penganti baru. Yang saling rangkul dan bergandengan tangan. Tak jarang beberapa wanita yang melihat kagum akan ketampanan Erwin yang dengan mesra memperlakukan Marwah.
Setelah berbelanja bahan untuk spaghetti, keduanya pulang dengan mobil Erwin terlihat penuh dengan belanjaan.
Setiba di panti asuhan keduanya disambut gembira oleh anak-anak panti yang menunggu kepulangan keduanya dengan menbawa bahan spaghetti. Dan dengan cepat mereka membantu bahan-bahan itu turun dari mobil Erwin.
Sore menjelang malam, terlihat kegiatan gotong royong didalam dapur lanti asuhan, beberapa anak laki-laki membantu Erwin merebus 4 kotak spaghetti, dan beberapa anak perempuan membantu Marwah merajang bawang bombay dan menumis daging kornet dan beberapa bahan lain untuk bumbu spaghetti, lalu sebagian anak-anak panti juga membantu bersiap-siap dengan membereskan peralatan makan mereka yang berjumlah 40 anak.
Marwah dan Erwin terlihat kompak ketika berada didapur dengan berusaha memasak spaghetti dengan resep Marwah yang simpel.
Setelah melewati proses panjang dan seru, akhirnya spaghetti itu pun terhidang dengan cita rasa lezat, seperti yang diharapakan Marwah.
Malam itu, terlihat anak-anak panti melahap makan itu dengan nikmat. Dan perlahan sorot mata Marwah pun jatuh pada Erwin yang duduk disebrang meja makannya, yang tengah asyik menikmati spaghetti seraya berbicara dengan anak panti asuhan yang duduk disisi samping Erwin.
Terukir senyum Marwah untuk Erwin. Namun tiba-tiba Marwah merasakan handphone nya bergetar dibalik saku celananya. Dengan cepat ia mengambil handphone nya seraya bangun meninggalkan meja makan, dan terlihat nama mama Wulan dilayar handphone nya.
" Hallo,mama??," sahut Marwah yang kemudian berjalan keluar dari ruang makan yang sedikit berisik untuk pindah menuju kantor panti asuhan yang sepertiya lebih tenang.
" Marwah, kamu dimana??," tanya mama Wulan.
" Marwah masih di panti asuhan mah," jawab Marwah dengan duduk di sofa seraya melepas lelahnya.
" ooh, masih di panti, apa Direktur Erwin juga masih disana??," tanya mama Wulan yang mengagetkan Marwah.
" Loh, kok mama tau, ada Direktur disini??," tanya Marwah bingung.
" Ah, iyya tadi ibu Nur yang kabarin mama, " jawab mama Wulan dengan nada senang.
" Gimana?? apa dia baik sama kamu??," tanya mama Wulan dengan penasaran.
Marwah terkaget mendengar pertanyaan mama Wulan.
" Maksudnya mah??, yaa Direktur memang baik kok mah, hari ini dia sumbang 2 mobil box kasur untuk anak-anak panti," jawab Marwah yang tak nyambung dengan pertanyaan mama Wulan.
" Ah, begitu yaa," terdengar mama Wulan jadi salah memberi pertanyaan.
" ya sudah, nanti pulangnya hati-hati yaa," ujar mama Wulan.
" ya mah, " jawab Marwah cepat dan kemudian komunikasi itu pun terputus begitu saja.
Namun, sesaat Marwah jadi kembali berpikir dengan maksud pertanyaan mama Wulan tadi.
" Apa dia baik sama kamu??," mama Wulan.
" Apa mama tau yaa??, ah gak mungkin kan mama punya insting sehebat itu sampai tau hal ini," ujar Marwah seolah mengelak dari pikiranya bahwa mama Wulan tau bahwa ia tengah menjalin hubungan dengan Erwin.
Terlihat Marwah merenggangkan tubuhnya yang terasa lelah sekali hari ini. Ia pun melemahkan tubuhnya dan perlahan Marwah pun tertidur dengan lelapnya terduduk disofa.
Disisi lain, Erwin yang baru selesai mencuci piring bersama anak-anak panti itu pun akhirnya menyadari bahwa sedari tadi ia tak melihat Marwah. Dan dengan bertanya pada anak-anak perempuan tanggung ia pun menuju kantor panti asuhan untuk menemukan Marwah.
Ketika ia membuka pintu kantor panti asuhan itu, Erwin terkejut melihat Marwah yang ternyata terlelap tidur dengan terduduk nyaman disofa. Erwin pun masuk dengan senyum terkembang melihat pada Marwah. Ia pun perlahan duduk disamping Marwah yang terlihat tenang.
Lama ia memandang wajah Marwah yang menenangkan hatinya. Perlahan ia meraih jemari Marwah yang terlihat sedikit memerah pada punggung tanganya seperti bekas terkena percikan cairan panas. Erwin melihat dengan sayang pada tangan Marwah, dan dengan instingnya ia mencium tangan Marwah.
Terlihat Marwah sedikti bergerak mengubah posisi kepalanya miring, dan reflek Erwin duduk bersandar pada sofa dan menahan jatuh kepala Marwah tepat dipundaknya. Erwin terlihat merasa lega, dan ia merasa senang dengan tersenyum kecil ketika mendapatkan kepala Marwah kini berada dipundaknya.
" Benar, kamu harus percaya padaku dan menyerahkan semua gelisahmu dipundak ku," ujar Erwin berbisik dan dengan sayangnya ia menjatuhkan ciuman dikepala Marwah. Dan perlahan ikut terlelap tidur bersama Marwah.
Tak berselang lama, terlihat ibu Nur yang mencari-cari Marwah dan Erwin kini terkejut ketika melihat pemandangan keduanya tertidur dengan Marwah bersandar pada pundak Erwin. Sekilas ibu Nur tersenyum, dan reflek meraih remot AC untuk memdinginkan ruangan itu agar terlihat nyaman.
Lalu ia berjalan ke sisi lemari kecil di dekat meja kerjanya dengan pelan-pelan agar tak mengeluarkan suara. Lalu meraih selimut yang sebenarnya punya panti asuhan yang biasanya akan diberi pada anak baru yang akan masuk sebagai penghuni panti.
Perlahan ibu Nur merentangkan selimut itu di atas pangkuan keduanya yang terlihat tak bergeming dari tidurnya. Dan ia pun reflek meraih handphone untuk mengabadikan moment Marwah dan Erwin yang tertidur, lalu mengirimkan foto tersebut pada mama Wulan.
" Sepertinya putri dan menantu ibu akan bermalam dipanti," tulis pesan ibu Nur yang ia kirim pada mama Wulan dengan tak lupa mengirim foto keduanya.
Dan perlahan ibu Nur meninggalkan keduanya dengan dikagetkan ketiga anak perempuan tanggung yang hendak masuk kedalam kantor panti.
" Kalian kenapa belum tidur??," tanya ibu Nur.
" kami mau ketemu sama kak Marwah dan pak Erwin," jawab anak perempuang yang pertama.
" Untuk apa?".
" kami mau ucapin terima kasih sama kak Marwah yang udah masak spahgetti yang enak untuk kami," jawab anak perempuan kedua.
" ooh, besok saja, yaa, sekarang kalian balik kekamar kalian dan segera tidur, ini udah malam," perintah ibu Nur dengan menuntut ketiganya untuk meniggalkan lorong depan pintu kantor panti asuhan.
__ADS_1