
Dan ketika malam menjelang, mobil sedan Marwah kini terparkir didepan sebuah rumah mewah dikawasan elit. Ia turun dengan ragu menatap rumah besar itu. Ini adalah rumah keluarga Sisil, keluarganya merupakan anggota dewan sehingga sedari dulu kehidupan Sisil benar-benar mewah.
Tapi kali ini Marwah datang untuk melihat dan mendapatkan kebenaran yang sebenarnya. Marwah masuk berlahan dan ia disambut oleh penjaga rumah itu yang terlihat familiar melihat kedatangan Marwah.
Penjaga/"mbak Marwah?? lama tidak bertemu??" ujarnya ramah.
Marwah/"eh iyya pak" jawabnya ragu.
Penjaga/"mbak malam-malam kemari ada keperluan apa??"
Marwah/"hhmm biasa pak, mau ketemu sama Sisil, apa dia ada??"
Penjaga/"cari non Sisil?? maaf mbak!!"
Marwah/"??"
Penjaga/"non sisil sudah lama tidak pulang kerumah mbak, lebih tepatnya sudah keluar dari rumah ini mbak!!" jelasnya.
Marwah terkejut.
Marwah/"apa??kenapa??"
Penjaga/"kurang tau mbak, tapi setelah pertengkaran besar sama tuan besar non Sisil tidak pulang kerumah selama itu"
Marwah benar-benar terkejut mendengarkan berita itu, karena ia tak pernah melihat sisil dalam kesusahan sama sekali, bahkan Sisil selalu yang mendengar curhatnya.
Marwah/"baiklah pak, kalo begitu saya permisi yaa, salam buat mbak sinta dan tante dwi (mama Sisil) ya"
Penjaga/"ah baik mbak" ujarnya ramah.
Lalu terlihat Marwah mengarah ke mobil sedannya yang terparkirnya. Sesaat didalam mobil Marwah seolah lemas sekujur tubuhnya. Ia merasa teramat sangat lelah karena terus mendapatkan fakta yang menyakitkan hatinya.
Berlahan laju mobil sedan itu meniggalkan kawasan elit itu, dan ia mengarahkan mobil sedannya untuk mengarah kejalur pulang ketoko dr. Dessert yang sepertinya telah tutup satu jam yang lalu.
🍃🍃🍃
Dikamar atasnya Marwah terlihat duduk merenungkan semua hal ia dapat. Ia trus berpikir keras untuk hal yang janggal menurut. Bagaimana bisa mas Dimas dan Sisil bermain dibelakang dirinya selam itu. Bahkan ia sendiri benar-benar bodoh hingga bisa-bisanya curhat pada Sisil soal mas Dimas yang tak kunjung melamarnya.
Marwah/"bodoh!!" helanya mengasihi dirinya yang sendiri yang benar-benar dibodohi oleh sabahatnya sendiri.
Dan semakin pekatnya malam Marwah terus tenggelam dalam pikirannya sendiri, hingga pagi menjelang ia masih terus terjaga tanpa bisa memejamkan matanya untuk beristirahat.
🍃🍃🍃🍃
Pagi itu kegiatan toko dr. Dessert berjalan seperti biasa, tapi tidak dengan pemiliknya yang masih mengurung diri dikamar atas tanpa makan dan istirahat.
Bahkan beberapa karyawan merasa heran karena sedari pagi hingga siang hari bos mereka tidak tampak batang hidungnya. Sehingga Lily memutuskan naik kelantai atas rumah Marwah yang terlihat sunyi.
Lily/"mbak Marwah??" panggilnya berlahan.
Tak ada jawaban dari dalam sana. Dan karena khawatir lily masuk lebih dalam hingga menuju pintu kamar Marwah yabg terlihat sedikit terbuka. Dan betapa kagetnya Lily ketika melihat tubuh Marwah terkulai lemas disisi tempat tidur dengan wajah pucat pasih.
Lily/"ya Tuhan, mbak Marwah!!!" ujarnya panik sehinggga suaranya melengking mengagetkan beberapa karyawan yang berada didapur roti bawah dekat tangga rumah atas bosnya. Dan sontak saja beberapa karyawan naik keatas untuk melihat apa yang terjadi.
__ADS_1
Lily/"cepat!! tolong mbak Marwah!!" ujarnya panik.
Dan beberapa karyawan menolong untuk memopong tubuh Marwah untuk dibawa kerumah sakit.
Lily dengan panik menelfon sodara kembaran Marwah, Safa yang berada dirumah sakit.
Lily/"hallo?? mbak safa??" ucapnya panik.
Safa/"eh iyaa ly ada apa?? panik bener suaranya!!"
Lily/"mbak Marwah mbak?? mbak Marwah pingsan dan sekarang tengah dibawa kerumah sakit"
Sontak Safa terkaget.
Safa/"apa?? oke!!" ucapnya yang panik seketika menelfon suaminya untuk menuju ruang IGD untuk menyambut Marwah yang akan segera tiba.
🍃🍃🍃
Menjelang sore, Marwah berangsur-angsur sadar dari obat yang diberikan padanya. Ia mencoba melihat sekeliling dengan aneh, dan ia merasa pusing dikepalanya. Dan tiba-tiba terdengar suara langkah sepatu tinggi seorang wanita.
Safa/"lo dah sadar??" tanyanya yang seraya mendekat pada bad rumah sakit Marwah
Marwah/"kak Safa?? ini??" ujarnya bingung.
Safa/"lo dirumah sakit, siang tadi lily kabarin kaka, kamu pingsan dikamar atas kamu"
Marwah terdiam. Dan ia berusaha membuka jarum infus miliknya namun tiba-tiba ditahan oleh tangan Safa dengan cepat.
Safa/"kamu kenapa sih??" ucapnya cemas.
Safa/"tensi 80/70, tubuh kamu dehidrasi, apa masih bisa bilang baik-baik aja??"
Marwah/"....."
Safa/"apa karena dr. Dimas??"
Marwah berekasi, ia sedikti tertekan oleh nama yang disebut oleh kakaknya Safa.
Dan seketika airmatanya jatuh begitu saja. Safa yang menyadarinya mendekat dan memeluk tubuh adik kembarnya yang benar-benar pribadi yang tertutup.
Safa/"menangislah, kakak akan disini untuk memelukmu!!" ucapnya bersimpati pada kesedihan kembaranya yang terlihat tegar namun menyimpan luka dihatinya.
Dan benar, kata-kata itu disambut isak tangis Marwah yang tak tertahan kan lagi. Ia benar menangis dipelukan kembarannya ini. Entah berapa lama rasa lega itu datang hingga tangis Marwah mereda.
Dan fakta pun terungkap mengapa sampai Marwah jatuh sakit.
Safa menatap tak percaya akan cerita Marwah tentang dr. Dimas dan sahabat yang benar-benar telah seperti saudara bagi mereka dengan tega menghianati Marwah.
Safa/"kakak benar-benar gak percaya!! Sisil??"
Marwah/"tapi itu kenyataan dari semua yang Marwah alami kak, mau Marwah berpikir berpuluh-puluh kali pun ternyata faktanya mereka menghianati Marwah!!" ujarnya geram.
Safa menepuk pundak adiknya yang terlihat benar-benar kecewa.
__ADS_1
Safa/"sudah laah, tutup buku soal mereka, kamu berhak untuk membuka lembaran baru, dan kamu harus lebih bahagia dari mereka" ujarnya memberi nasehat dan semangat untuk Marwah yang menatap nanar pada dirinya.
Marwah terdiam. "Kata-kata yang mudah untuk diucap, tapi susah untuk direalisasikan" gumamnya dalam hati. Lalu ia menghela nafas panjang.
Safa/"pulang lah kebandung, atau berliburlah untuk beberapa waktu agar pikiranmu rileks" sarannya serius.
Marwah hanya tersenyum simpul melihat kearah kakaknya yan terlihat cantik dengan jas Dokternya.
Marwah/"pulang laah, kasian Mecca jika lama tak bertemu mamanya"
Safa/"apa lo gak papa??" ucapnya sedikit cemas.
Marwah/"tenang, ini rumah sakit kita, perawat jaga 24 jam" ucapnya meyakinkan.
Safa tersenyum melihat adiknya yang sepertinya jauh lebih baikkan.
Safa/"baiklah kakak akan pulang, tapi bila lo butuh sesuatu cepat telfon kakak, okeh??"
Marwah/"iyya Marwah tau!!" ucapnya malas, yaa karena tau hal itu tidak lah mungkin, secara kak Safa ada mecca tidak mungkin ia akan bisa bebas merawat adiknya ini. Lalu seketika ia turun dari bad pasien dan disambut kaget oleh Safa.
Safa/"lo mau ngapain??"
Marwah/"mau antar kak Safa sampai depan"
Safa/"udah gak usah, lo kan sakit, masa antar kakak segala sih, udah lo istirahat aja!!" perintahnya yang khawatir.
Marwah/"tenang kak, marwah udah jauh baikan, mungkin kalo sudah habis infus ini Marwah akan balik ke toko, lebih baik istirahat dikamar sendiri" ucapnya yang paham akan beberapa obat kedokteran.
Safa hanya bisa menghela nafas panjangnya melihat Marwah yang kini berjalan kepintu keluar dengan mendorong tiang infus.
Dan keduanya pun berjalan berlahan menuju bawah rumah sakit seraya berbincang-bincang ringan. Hingga tak terasa mereka telah sampai di pintu gerbang utama Rumah Sakit yang masih terlihat agak sedikit ramai para pembesuk pasien.
Safa/"masuk laah, pakai selimut jika tidur" nasehatnya.
Marwah/"iyyyaa bawel!!" ucapnya tertawa.
"kak, jangan bilang mama papa soal kejadian ini" pintanya
Safa hanya tersenyum dan memeluk kembarannya dan kemudian berlahan ia berjalan menuju parkiran mobil para dokter.
Marwah memandang dengan sedikit menghirup udara malam yang terasa dingin. Dan ia kembali sedikit sedih memandang sekeliling dan berlahan ia berjalan masuk kedalam rumah sakit.
🍃🍃🍃
Disisi lain Erwin yang tengah berada dirumah sakit Pertamedika pun tengah serius menunggu telfon dari sebrang sana untuk mendapatkan info kamar temanna yang sakit untuk bisa ia kunjungi.
Erwin/"lo dikamar berapa?? gue udah dirumah sakit, dilobby bawah!!" jelasnya dengan melihat sekeliling rumah sakit mewah itu.
Johan/"kamar super Vip 111 lantai 4"
Erwin/"ah, oke" dan komunikasi itu pun terputus. Lalu langkahnya pun menuju lift rumah sakit. Dan pas disana terlihat pintu lift terbuka hingga ia pun sedikit berlari kecil untuk bisa masuk kedalam lift yang terlihat kosong.
Setelah masuk tanpa ragu ia menekan tombo 4 di sisi pintu lift. Dan tepat pada saat itu Marwah baru tiba di depan pintu lift yang terlihat akan tertutup berlahan.
__ADS_1
Dan seketika Erwin terpanah melihat wajah wanita yang sangat ia ingat dengan jelas, dan kini berada didepan lift. Namun pintu lift terus menutup sehingga Erwin baru tersadar untuk menekan tombol pembuka pintu lift yang tak bisa lagi menerima respon karena telah menuju lantai 4.
Erwin/"sial!!" ucapnya geram pada diri sendiri karena kehilangan wanita misterius itu.