
Erwin sedikit melonggarkan dasinya, ketika ia melihat meja disamping Sekertaris Chandra kosong.
" Jadi, dia pulang jam 3 sore, tadi??, " tanya Erwin yang terlihat kesal.
" Ya, Pak, tepat jam 3 sore, Marwah ijin pulang, " jawab Sekertaris Chandra pasti. Tapi kenyataannya, ia cemas akan jawabannya ini dapat membuat mood atasannya buruk, karena terlihat dari raut wajahnya yang sedikit kesal.
Namun diluar dugaan, Erwin malah masuk kedalam ruangannya dan langsung duduk dimeja kerja dan meraih map laporan baru.
Erwin membuka map dengan asal, dan terlihat ia larut dengan pekerjaan hingga tepat dijam 6 sore ia dikejutkan oleh ketukan pintu dari Sekertaris Chandra yang masuk untuk memberi jadwal Erwin.
Ketika dirasa paham, Sekertaris Chandra pamit untuk segera pulang. Hingga Erwin tersadar bahwa kini ia tinggal sendiri diruangannya. Lalu ia bangun dari kursinya dan melihat keluar jendela kantornya dengan sorot mata nanar. Terlihat lampu-lampu jalanan mulai menyala dan kemacetan pun mulai mengular panjang.
Mungkin bagi sebagian orang pulang cepat adalah suatu keharusan, karena pasti ada keluarga yang akan menunggu mereka dirumah.
" Keluarga??, " gumamnya seraya menghela nafas panjangnya. Dan tak lama ia meraih handphonenya dan menulis pesan pada seorang teman untuk diajak makan malam. Namun, entah mengapa Erwin membatalkan pesan itu. Dan berlahan ia kembali melihat kearah jalan raya yang padat akan kendaraan.
🍃🍃🍃
Esok paginya, Marwah seperti biasa, bangun lebih awal untuk bisa membuat roti-rotinya. Setelah selesai, tepat dijam 6 paginya Marwah buru-buru bersiap untuk menuju kantor keduanya perusahaan Aritama Group.
Dan kali ini ia, hanya lebih cepat 10 menit dari terlambatnya kemarin. Dengan sedikit berlari-lari kecil Marwah berusaha menuju lift yang ternyata terlihat Erwin dan Sekertaris Chandra yang tak melihat kearah dirinya. Marwah reflek berhenti mengejar lift itu, dan seketika pintu lift itu tertutup. Marwah berusaha menghindari untuk tak satu lift dengan bos Aritama.
" Huuufft, untuk aja!!, " ujarnya dengan melihat pintu lift tertutup.
Namun siapa sangka, lift yang tadi tertutup tiba-tiba terbuka kembali dan terlihat bos Aritama dan Sekertaris Chandra masih berada disana dan melihat kearah Marwah yang masih mengatur nafas.
Marwah terkejut, ia malah mematung karena melihat senyum puas pak Erwin dan Sekertaris Chandra yang seolah menangkap basah dirinya terlambat lagi.
" Pagi Marwah, ayo naik," sapa Mas Chandra ramah pada Marwah. Tapi tidak dengan bosnya yang melihat dengan mata tajam seolah menemukan penjahat.
__ADS_1
" Ah, ya, " jawab Marwah ragu, yang benar-benar apes karena sepagi ini sudah satu lift dengan bos Aritama. Dengan berat ia pun masuk kedalam lift tersebut dan berusaha untuk tak dekat dengan Erwin, ia malah berjalan menuju sisi Sekertaris Chandra yang tersenyum ramah.
" Sekertaris Cha, beritahu aku jam berapa bisa para pegawai kantor ini pulang??, " tanya Erwin jelas.
" Ah, itu sekitar jam 4. 30 sore, pak, " jelas Sekertaris Chandra.
" Lalu mengapa ada yang pulang jam 3???, bukankah itu benar-benar keterlaluan??," celetuk yang dengan sengaja menyindir Marwah yang kemarin pulang kerja jam 3 sore.
Marwah diam saja, ia tak mengerti pembicaraan itu. Ia sibuk mengingat-ngingat bahan baku kuenya yang beberapa item telah susah dicari.
Sekertaris Chandra yang paham reflek menoleh pada Marwah yang terdiam. Ia berfikir Marwah tau itu adalah kesalahannya, jadi maka dari itu Marwah pantas diam.
Ting.
Bunyi pintu lift dibuka, Marwah reflek keluar tanpa mendahulukan bos Aritama. Hal itu membuat syok Erwin dan Sekertaris Chandra yang beranggapan mungkin Marwah tersinggung.
🍃🍃🍃
Suasana kerja pun terlihat disana, Marwah terlihat serius menyusun laporannya yang mulai ia susun sedikit demi sedikit. Hingga tanpa ia sadari jam menunjukkan pukul 12 siang, dan beberapa karyawan dan bahkan Sari dan Jova menghampirinya untuk mengajak makan bersama. Namun Marwah menolak halus, karena ia membawa bekal beberapa roti untuk menganjal perut.
" Kamu gak makan siang lagi??, " tanyaS Sekertaris Chandra yang tengah bersiap-siap. Namun tiba-tiba Erwin keluar dari ruangannya dengan wajah bete dan buru-buru berjalan menuju lift lalu Sekertaris Chandra reflek bangun dan mengambil tas ranselnya.
" Mas jalan dulu ya, !!" ucapnya seraya berjalan mengikuti jalan Erwin menuju lift kantor.
" Ah, iyya mas, " jawab Marwah cepat, dan melihat Sekertaris Chandra berlari kecil mengejar lift yang telah ditunggu oleh Erwin.
" Ckckck, segitunya !!, " celetuk Marwah yang berlahan bangun hendak menuju dapur kantor yang bisa menyediakan minuman kopi kemasan dan teh dan beberapa cemilan untuk tamu kantor. Dan tanpa sengaja ia berpas-pasan dengan seorang OB yang tengah menyusun cangkir - cangkir yang baru ia cuci.
" Eh, Mbak??, kok kesini??, " tanya pria muda itu yang sedikit terkejut dengan keberadaan Marwah yang baru ia jumpai.
__ADS_1
" Ah, saya mau ambil air putih mas, " jawab Marwah ramah. " Gelas disebelah mana yaa??," tanya Marwah kembali.
" Oh, disebelah sini mbak, sebentar saya ambil aja mbak, " jawab mas OB yang ramah. Lalu berlahan membuka rak atas dan terlihat gelas-gelas putih tersusun rapi disana.
" Ini Mbak, " ucapnya seraya memberikan gelas itu pada Marwah, yang menyambut sopan.
" Terima kasih Mas, " sambut Marwah, lalu ia pun berjalan menuju dispenser disudut ruangan dapur kantor itu.
" Mbak, karyawan baru yaa??," tany mas OB ragu.
" Ah, iyaa, saya karyawan sementara disini mas, " jawab Marwah yang kemudian meminum air putih hangat itu berlahan.
" Oooh, begitu yaa mbak, Ah, saya Dul Mbak, kalo perlu apa-apa bilang saya aja, biar saya bantu Mbak ".
" Saya Marwah, terima kasih mas Dul, " jawab Marwah ramah.
" Mbak kok gak makan siang??, disini ada kantin dibawah, makanannya enak- enak kok mbak, atau mau saya pesanin mbak??, biar mbak gak capek turun," tawar mas OB.
" Ah gak Mas Dul, makasih banyak tawarannya, tapi saya ada bawa bekal, " jawab Marwah kembali seraya meletakkan gelas kosongnya diwastafel.
" Kalo gitu saya balik dulu yaa mas Dul, " ucap Marwah yang kemudian kembali arah meja kerjanya yang terlihat kosong.
Ia duduk dengan menghadap ruang kerja bos Aritama yang kini kosong dan terlihat beberapa map laporan disana. Dan ia reflek menggelengkan kepalanya dan kembali fokus pada layar komputernya dan kembali mengetik laporan.
🍃🍃🍃
Dan tepat dijam 3.30 sore Erwin kembali bersama Sekertaris Chandra yang berjalan berdampingan seraya berbincang kecil. Namun langkah terhenti tepat di meja kerja Marwah yang kembali kosong. Dan kembali membuat wajah Erwin kesal.
" Apa dia tak paham peraturan??," gumam Erwin yang didengar oleh Sekertaris Chandra yang ikut melihat pada meja Marwah yang kosong.
__ADS_1