Come A Closer Love

Come A Closer Love
84


__ADS_3

Di sebuah restoran mewah, terlihat suasana yang tak bisa dijelaskan oleh Marwah dan Erwin. Ketika melihat nyonya Aritama dengan bahagia memangku baby Mecca yang tengah meminum susu dibotolnya.


Terlihat Mecca hampir habis meminum susu di botolnya dengan wajah bahagia. Lalu dengan telaten nyonya Aritama mengubah posisi gendongan nya pada Mecca, sehingga kini terlihat Mecca dengan posisi duduk dipangkuan nyonya Arimata yang gemas memeluk baby Mecca.


Marwah terlihat bangun dan ingin mengambil Mecca, karena merasa tak enak karena sedari tadi Mecca terus berada dipangkuan nyonya Arimata.


" maaf tante, biar Mecca sama Marwah aja," ucap Marwah ragu.


Namun dengan senyum mengembang nyonya Aritama menolak.


" ah, gak papa," sahut nyonya Aritama senang membelai tubuh Mecca yang terlihat nyaman.


" eh jangan panggil tante, panggil " Mama" aja yaa," sambung nyonya Aritama memperjelas panggilannya pada Marwah yang terpaku.


Terlihat Erwin tersenyum kecil melihat tingkah ibundanya yang benar-benar kesenangan.


" mah, tadi dokter bilang apa??," tanya Erwin.


Dan seketika nyonya Aritama tersadar, lalu dengan wajah kesal melihat pada Erwin putra sulungnya.


" untung mama kedokter, kalau gak, gak mungkin mama bisa tangkap basah kamu sama calon mantu mama," celetuk nyonya Aritama.


Erwin terhenyak. Marwah pun hanya bisa tersenyum canggung.


" tangkap basah??," bisik Erwin.


" iyya??,"


Erwin menghela nafas panjangnya dengan sekilas menatap Marwah yang ter senyum lucu.


" mah, Erwin punya alasan kenapa gak kasih tau mama dulu," jelasnya


" alasan?? alasan apa??,"


" ya ada hal yang gak bisa Erwin jelasin sekarang" jawabnya bersusah payah.


Nyonya Aritama menggelengkan kepalanya.


" alasan yang terlalu di buat-buat," ketus nyonya Aritama seraya kembali melihat pada baby Mecca.


Marwah hanya bisa diam mendengarkan perdebatan ibu dan anak ini.


" Marwah??," panggil nyonya Aritama yang mengangetkan Marwah.


" ya, tante," sahut Marwah cepat.


" mama, panggil mama saja," jelas Nyonya ramah.


Marwah terlihat canggung.


" ah, ya mah," ucap Marwah pelan.


Erwin tersenyum lucu melihat Marwah yang salah tingkah.


" apa mama papa kamu ada disini??," tanya nyonya Aritama.


Erwin bingung.


" enggak ta.., eh.. enggah mah, mama papa lagi di Bandung," jawab Marwah pelan.


" hhmm, kalau begitu nanti mama akan telfon mama kamu," jelas nyonya Aritama seraya berpikir.


" mama kenal sama orang tua Marwah?," tanya Erwin terkaget.


" hhmm"


" kok bisa?," tanya Erwin tak percaya.


Nyonya Aritama tertawa kecil.


" makanya jangan kamu pikir kamu aja yang ada kolega, mama kamu ini duluan kenal semuanya," celetuk nyonya Aritama santai menimbang Mecca yang bermain dengan tangannya yang terlihat memakai gelang.


Erwin terhenyak dan ia jadi diam berpikir.


" jadi kamu sudah siap kan Marwah, jika kalian menikah dalam waktu dekat??," tanya nyonya Arimata serius pada Marwah.


Marwah bergeming, namun ia merasa tangannya di raih oleh jemari Erwin yang menggengam jemarinya dibawah meja.


Sehingga ia reflek menoleh pada Erwin.

__ADS_1


" mah, soal ini biar Erwin yang urus," jawab Erwin menyela.


Nyonya Aritama bingung.


" Erwin, mama ingin kamu dan Marwah segera menikah, kalau perlu Edwin ditunda dulu,"


Erwin menghela nafas panjangnya mendengar ucapan ibundanya yang mendesak.


" mah, itu gak mungkin, Erwin pasti nikah, tapi gak bisa sekarang," sahut Erwin pelan mencoba menjelaskan dengan berat.


" kenapa??, atau orang tua Marwah gak setuju sama hubungan kalian?," tebak nyonya Aritama serius.


" enggak mah, " potong Erwin cepat.


" ini gak ada hubungan dengan orang tua Marwah, tapi..," ucap Erwin berat.


Terlihat Marwah dan nyonya Aritama menunggu penjelasan Erwin.


" Erwin masih ada satu hal yang belum selesai, dan itu masih jadi beban Erwin sampai saat ini, jadi.., Erwin mohon mama ngerti," ucap Erwin berat.


Seketika raut wajah nyonya Aritama pun berubah serius, seolah ia paham maksud dari perkataan putranya. Ya, ini masalah keluarganya dan keluarga iparnya yang masih belum membaik. Dan tujuan kebencian mereka adalah Erwin.


Marwah bingung dengan situasi yang tiba-tiba menegang diantara ibu dan anak ini.


" mama ngerti, maaf jika mama terus mendesak kamu," sahut nyonya Aritama melemah dan terlihat raut wajah sedihnya disana.


" maaf mah," lirih Erwin merasa bersalah.


" kamu gak salah, " sambung nyonya Aritama pelan.


" mama percaya, suatu saat masalah keluarga kita selesai, dan kamu bisa bahagia bersama Marwah, " ucap Nyonya Aritama berharap yang terbaik untuk putranya.


Sesaat suasana hening menerpa, hingga tiba seorang pelayan datang dengan membawa hidangan yang telah dipesan sedari tadi.


Terlihat nyonya Aritama kembali bermain dengan baby Mecca yang tersenyum pada dirinya.


" Tapi, win..," ucap nyonya Aritama seraya mengendong baby Mecca dengan wajah bayi itu melihat pada Erwin dan Marwah.


" mama mau cucu begini dua," pintanya dengan memperlihatkan wajah baby Mecca yang tersenyum bayi pada kedua sejoli itu.


Erwin terhenyak dengan permintaan ibundanya yang tak sabar ingin menimbang cucu lagi.


Dan terdengar nyonya Aritama tertawa lepas seraya melihat pada Marwah yang terlihat kepalang malu dengan ucapan putranya. Hingga seketika gelak tawa pun terlihat disana menghangatkan suasana pertemuan Marwah dan Nyonya Aritama.


Setelah hampir 2 jam mereka ngobrol sehingga kini Marwah pun terbiasa menanggil nyonya Aritama dengan panggilan Mama. Terlihat keduanya membahas soal masa lalu yang ternyata memang keluarga Aritama sempat menjadi tetangga dengan keluarga Sandres pada waktu itu walau berselang lorong komplek rumah mewah. Sebelum akhirnya keluarga Aritama harus keluarga dari kota jakarta untuk melarikan diri dari para rantenir yang mengejar-ngejar keluarga Aritama.


Dan akhirnya, Mecca pun tertidur di gendongan Marwah dengan lelapnya.


" Erwin, lain kali bawa Marwah main kerumah kita," ujar nyonya Aritama seraya berjalan menuju parkiran mobilnya.


" iyya mah," sahut Erwin.


" Marwah," panggil nyonya Aritama mendekat seraya meraih wajah Marwah.


" terima kasih, karena kamu mau nerima Erwin," ucap nyonya Aritama bahagia.


Marwah tak bisa menjawab, ia hanya membalas senyum pada calon mama mertuanya.


" dampingi Erwin, suport dia selalu, dan mama berharap kamu bisa bersabar hingga waktu bahagia kalian," ucap nyonya Aritama dengan penuh harap.


" iyya mah, "


" kalau begitu mama duluan yaa, salam untuk kedua orang tua kamu dulu, nanti mama pasti akan berkunjung kerumah orang tua kamu," ucapnya lagi seraya berjalan pelan meninggalkan Marwah dan menuju arah pintu mobilnya yang telah ditunggui oleh supir.


Terlihat Erwin dan Marwah melepas kepergian mobil sedan hitam itu berlalu meninggalkan parkiran.


Dan seketika terdengar hela nafas panjangnnya keduanya yang reflek menghela bersamaan. Sehingga Erwin dan Marwah pun sama-sama terkaget dan menoleh satu sama lain, hingga keduanya pun tertawa kecil bersama seolah menertawakan satu sama lain.


" kita pulang yuk??,"


Marwah reflek mengangguk pelan.


" sini Mecca sama mas aja," pinta Erwin pada Marwah yang terkaget karena Erwin langsung mencoba meraih Mecca dari dirinya.


" loh mas!!," ucap Marwah heran.


Dan seketika baby Mecca pun kini berada di dalam gendongan Erwin.


" ini, kamu aja yang bawa mobil," ujar Erwin dengan tangannya memberikan kunci mobil pada Marwah yang bengong.

__ADS_1


" mas masih mau ngendong Mecca," ujarnya santai seraya mencium Mecca dengan sayang.


Marwah terpelongo melihat Erwin yang jatuh cinta pada baby Mecca. Dan ia pun tersenyum kecil ketika akan melangkah menuju mobil Erwin yang terparkir tak jauh dari mereka.


🍃🍃🍃


Selama dalam perjalanan Marwah terus mengingat obrolan Erwin dan ibundanya. Ia sedikit penasaran ada masalah besar apa sampai Erwin begitu berat jika mereka menikah saat ini.


Sesekali ia pun melihat pada diri Erwin yang memangku baby Mecca dengan santai, dan tatapannya tetap fokus melihat pada layar handphone dengan serius.


Erwin bergeming, ia pun merasa bahwa dirinya di tatap Marwah berkali-kali.


" ada apa??, apa ada hal yang ingin kamu ketahui??," tanya Erwin menebak dengan menghentikan aktifitas layar handphone nya.


Marwah terkaget, dan ia sedikit kelabakan ketika mendengar ucapan Erwin yang tebat menebak.


" hmmm," gumam Marwah ragu dengan kembali fokus membawa kendaraan itu dengan laju pelan.


" apa??," sahut Erwin cepat dengan melihat pada wajah tidur Mecca.


" apa mas sedang ada masalah??," tanya Marwah ragu.


Erwin terdiam, ia mencoba berpikir. Dan akhirnya ia menoleh pada Marwah yang terlihat berwajah penuh tanya.


Erwin menghela nafas panjang.


" masalah keluarga yang susah untuk dijelaskan, dan jika kejadian naas itu memilih mas yang harus mati mungkin permusuhan kedua keluarga ini tak akan pernah ada," ucap Erwin bernelangsa jauh dengan wajah sedih.


Marwah terdiam, seolah ia benar-benar berada di dunia berbeda dengan Erwin.


" mungkin kata maaf memang tak bisa mengantikan sesuatu hal yang telah hilang, "


" huuufft, maaf karena nanti akan banyak hal yang membuat kamu mungkin akan menyesal bertemu kembali dengan mas," ucap Erwin sedih.


Marwah terpaku mendengar ucapan dalam Erwin tersebut. Walau sebenarnya ia tak benar-benar paham akan masalah besar apa yang di hadapi oleh Erwin Namun secara nalurinya ia ikut merasakan kesedihan yang Erwin rasa, hingga tangannya pun reflek menyentuh tangan Erwin yang berada di ujung kaki Mecca, sehingga Erwin pun bergeming menoleh dengan bingung.


" gak papa, " ucap Marwah seolah menenangkan Erwin.


" yang membuat kita bertahan bukan karena semua berjalan dengan indah, tapi jika salah satu memiliki kekurangan, maka satu lagi berusaha melengkapi agar seimbang," ucap Marwah perlahan dengan senyum hangat mengembang tulus untuk Erwin.


Erwin terpaku, jemarinya pun meraih jemari Marwah dengan erat, lalu menariknya berlahan dan menjatuh ciuman dipunggung wanita yang menguatkannya.


" makasih yaa sayang," ucap Erwin dengan kembali mencium punggung tangan Marwah. Namun tak lama baby Mecca bergerak-gerak, pelan terlihat kedua mata bulat Mecca terbuka perlahan dengan geliat-geliat tangan meminta sesuatu.


Erwin reflek siaga mengubah posisi tidur Mecca agar terbangun.


" waah seger banget liat matanya Mecca," ucap Erwin kagum.


Marwah melihay sekilas dan kembali menyetir dengan serius.


" apa Mecca tidak punya kembaran?," tanya Erwin


" enggak," jawab Marwah cepat.


" hhmm, rasanya mas jadi pingin punya bayi kembar," ucapnya dengan melihat pada Marwah.


Marwah yang mendengar sedikit kaget.


" waah??? kenapa tiba-tiba??," sahut Marwah lucu.


" entah laah, rasanya jadi ingat waktu kamu kecil jalan berdua dengan kembaran kamu itu benar-benar lucu," jawab Erwin mengenang.


Marwah tertawa lucu.


" ikh keliatannya aja lucu, coba deh tanya papa, gimana rempongnya ngerawat anak kembar," jawab Marwah


" memangnya susah yaa?,"


" ehem, mas belum tau aja repotnya punya anak kembar," sambung Marwah lagi.


Erwin tertawa kecil.


" serepot apa pun, mas tetap ingin punya anak kembar," ucapnya lagi seraya mencium kepala baby Mecca yang mulai mencari perhatian Marwah.


Marwah menyadari bahwa mungkin mecca mengira dirinya adalah mamanya.


" tunggu yaa sayang, sebentar lagi kita sampai, dan mommy akan gendong kamu," ucap Marwah pelan.


" sama papi aja," sahut Erwin dengan membalikkan badan Mecca agar melihat dirinya.

__ADS_1


" cieee.. papi??," celetuk Marwah mengejek Erwin yang terlihat menyukai Mecca.


__ADS_2