
Hampir 1 minggu terlewatkan setelah terakhir kali Marwah mencari mas Dimas ke apartemennya.
Dan siang ini Marwah dengan serius duduk di mini cafe tokonya. Ia duduk dengan lesu, sudah kali keberapa ia menelfon dan mengirim pesan pada mas Dimas, namun tak kunjung mendapat jawaban. Dan sahabatnya pun demikian, Sisil yang juga tiba-tiba menghilang membuat Marwah terlihat gundah.
Ia trus berargumen sendiri, ada gerangan apa yang menbuat Sisil susah untuk membalas telfon atau pesannya. Jika benar ia pindah, harusnya ia memberi kabar pada Marwah.
Dan tiba-tiba handphonenya berdering hingga membuatnya terkaget Marwah yang tengah melamun.
Marwah/"hallo??"
Suara pria/"hallo, apa benar anda Marwah Sandres??"
Marwah/"ah, iyya benar saya Marwah Sandres. ini dengan siapa yaa??"
Suara pria/"saya eza dari perusahaan Sss, mbak Sisil yang merekomendasikan anda pada kami sebagai tim perhotelan"
Seketika Marwah terhenyak, "ya Tuhan!!" gumamnya tak percaya, ia benar-benar lupa akan kerjaan yang ditawarkan Sisil dan ia telah menandatangani kontrak kerja itu 1bulan yang lalu.
Marwah/"ah, benar, saya benar-benar minta maaf dan saya benar-benar lupa mas Eza akan kontrak itu" ujarnya tak enak.
Eza/"baik lah mbak, karena waktu juga, siang ini mbak bisa kekantor kita untuk mulai bekerja"
Marwah/"apa?? sekarang? ? "
Eza/"iyya mbak, karena kami juga tengah dikerjar-kejat pihak klien yang mulai kecewa karena kerjaan ini terbengkalai" jelasnya lagi.
Marwah/"tapi, saya sekarang masih jualan ro.."
Eza/"ah ya mbak kami tau, didalam kontrak juga tertulis jam kerja anda hanya sampai jam 3 sianΔ£, karena anda sudah bersepakat dengan mbak Sisil"
Marwah/"ah baiklah, sebentar lagi saya kesana" dan komunikasi itu pun putus begitu saja. Lalu Marwah dengan berat hatinya menuju lantai atas rumahnya untuk berganti pakaian semi formal.
Dan berselang beberapa saat ia turun lalu menghampri Lily yang tengah berbenah roti-roti di estalase.
Marwah/"lily??"
Lily/"ya mbak Marwah??"
Marwah/"mbak titip toko yaa"
Lily/"ah iyya mbak"
Lalu Marwah pun berjalan keluar menuju mobil sedan civic miliknya. Dan berlahan mobil sedan mewah itu pun berjalan keluar dari parkiran toko dr. Dessert.
πππ
Dan sesampainya di gedung perusahaan Sss, Marwah sejenak terhenti melangkah. Ia merasa sedikit tertekan untuk masuk kedalam perusahaan Sss. Perasaan seolah tak begitu nyaman.
Namun berlahan iya mencoba untuk masuk, karena ia berpikir untuk mencari info tentang kepindahan Sisil.
Ketika tiba dimeja resepsionis Marwah diarahkan menuju lantai 4 ruang proyek. Dan ia disambut oleh Eza yang terlihat telah menunggu dirinya.
Eza/"mbak Marwah?? selamat datang mbak" ujarnya ramah.
__ADS_1
Marwah/"ya terima kasih, saya benar-benar mintaa maaf" ucapnya canggung. Lalu mereka pun masuk pada ruangan Eza yang terlihat beberapa karyawan saling pandang melihat kearah Marwah.
Eza/"ini sebenarnya ruangan mbak Sisil, tapi karena kosong sebaiknya ruangan ini untuk aktivitas tim mbak nantinya".
Marwah/"tapi saya belum membaca laporan hotel yang akan saya pegang"
Eza/"ah, iyya mbak nanti akan saya berikan beberapa dokumen berkaitan dengan hotel yang akan mbak tanganin" ujarnya jelas.
"disini ada Putri, ada Jova dan Sari yang akan masuk dalam tim mbak Marwah" ujarnya seraya memperkenalkan ketiga karyawan yang terlihat ramah.
"perkenalkan ini mbak Marwah yang akan berkerja sama dalam di tim perhotelan kita" ujarnya yang memperkenalkan sosok Marwah dihadapan ketiga karyawan itu.
Marwah terlihat canggung, namun ia berusaha untuk benar-benar rileks.
Dan terlihat beberapa saat suasana akrab dari keempatnya yang kini berada dimeja rapat sederhana.
Sari/"jadi mbak temennya mbak Sisil??"
Marwah/"hhmm yaa, saya berteman sedari SMA" ujarnya ramah yang kini ia tengah membaca laporan hotel yang akan ia tangani.
Putri/"jadi dulu mbak sekolah perhotelan??"
Marwah/"iyya lebih tepatnya manajemen perhotelan dan pengelolaan hotel diprancis"
Sari/"jauh banget mbak??"
Marwah hanya tersenyum simpul dan ia trus membaca laporannya. Dan sedikit demin sedikit ia paham akan gaya dan kenyamanan yan ingin diberi dari si pemilik hotel "warm and cozy"
Dan terlihat obrolan-obrolan hangat keempatnya. Lalu obrolan itu pun menjadi sedikit serius untuk Marwah yang mendapat info mengejutkan tentang Sisil dari ketiga rekan kerja barunya ini.
Sari/"iyya mbak, kita disini kaget juga begitu tau mbak Sisil akan pindah"
Jova/"bahkan asistenya mbak Sisil sama kagetnya dengan yang lain ketika kabar itu tersebar"
Putri/"tapi terdengar kabar bahwa mbak Sisil menikah dan ia ingin ikut calon suaminya itu pindah"
Marwah terkaget mendengar berita itu.
Marwah/"menikah??" ucapnya tak percaya.
Sari/"loh mbak gak tau??"
Marwah menggelengkan kepalanya.
Putri/"masa sih mbak??"
Marwah/"saya hanya tau kalo Sisil pindah, dan saya gak tau kalo sisik berencana menikah!!" ucapnya yang sedikit pucat.
Jova/"aneh juga yaa" ucapnya bingung. Lalu tiba-tiba ia melihat sosok yang akan menjadi kunci jawaban akan kepindahan Sisil. Jova bangun dan mencoba mengejar Desi mantan asisten Sisil yan baru saja lewat didepan ruangan itu, yang membuat kaget teman-temannya dan Marwah.
Jova/"Desi!!" panggilnya yang seketika menghentikan langkah wanita ayu itu.
Desi/"Jova?? ada apa??"
__ADS_1
Jova/"lo kemari deh!!" pintanya seraya meraih lengan Desi untuk ikut masuk kedalam ruang rapat sederhana yang terlihat wajah dua rekan temannya saling menyapa pada Desi.
Desi/"ada apa sih??" ujarnya bingung seraya duduk disampig Jova.
Sari/"kenalin nie des, temennya mbak Sisil dan sekarang mbak ini ada di tim perhotelan"
Desi seketika terlihat senang.
Desi/"mbak Marwah ya??" ujarnya ramah.
Marwah terkaget karena Desi mengenali dirinya.
Marwah/"ah iyya saya Marwah"
Desi/"beberapa waktu lalu karena dalam rapat inti tim mbak sisil selalu merekomendasikan anda mbak, jadi saya teringat"
Marwah hanya tersenyum.
Putri/"eh, kita masih penasaran dengan mbak sisil yang pindah tiba-tiba, bahkan mbak Marwah pun gak tau, padahal sahabatnya loh"
Desi/"ah, sama aku pun gitu, tapi sebentar!!" ucapnya yang seraya memperlihatkan layar handphonenya pada ke empat orang yang sangat penasaran. Dan ia membuka laman aplikasi WA yang terlihat status terakhir dari Sisil "love not crime" dan terlihat foto bertautnya kedua tangan yang saling mengengam.
Marwah sedikit terperanjah melihatnya dan terlihat ia syok.
Desi/"ini yang terakhir mbak Sisil up date, dan sepertinya ia memang sudah menikah dengan pacarnya itu!"
Marwah/"pacar?? siapa??" ujarnya tak percaya, karena seingatnya Sisil tak mempunya pacar atau teman pria spesial.
Desi/"hhmm kalo gak salah dokter mbak, tapi itu juga saya liatnya sekali ketika pacarnya itu menjemputnya di bandara, setelah kami baru pulang dari Batam" jelasnya yang membuat degup jantung Marwah seolah sakit.
Marwah mencoba menguasai dirinya akan kekhawatiran dan dugaan-dugaan terburuk.
Dan beberapa menit kemudian Desi memperlihat kan foto yang sempat ia abadikan, terlihat sosok Sisil berjalan berdampingan dengan pria yang tak lain adalah mas Dimas dan terlihat foto itu diambil dengan tanpa sepengetahuan keduanya yang berjalan bergandengan membelakangin Desi yang mengambil foto tersebut.
Desi/"ini mbak, pacarnya mbak Sisil" ujarnya yang mengarah foto itu ketengah-tengah keempat orang yang penasaran.
Dan seketika tubuh Marwah membeku, ia benar-benar terlihat syok mengetahui kebenaran ini.
Marwah/"kapan foto ini diambil??" tanyanya dengan berat.
Desi/"hhmm, kapan yaa?? kalo gak salah ya mbak sekitar 4 atau 5 bulan yang lalu mbak"
Dan tak terasa air mata Marwah lolos begitu saja, yang membuat terkejut Sari, Jova dan Putri.
Marwah/"maaf, sepertinya untuk hari ini saya sampai disini, saya permisi dulu yaa" ujarnya yang mencoba untuk mengalihkan keterkejutan ketiga rekan kerja barunya itu. Lalu ia kembali keruangan timnya untuk mengambil tasnya, dan ia berjalan keluar untuk meninggalkan kantor itu dengan segera.
Desi pun ikut terkaget bersama ketiga temannya yang sama-sama ikut mematung melihat reaksi Marwah yang terlihat syok akan kabar pernikahan temannya sendiri Sisil.
Marwah yang tanpa tak bisa menguasai dirinya sendiri sehingga Jemari-jemari gementar ketika akan menekan kunci pintu mobilnya yang tak benar-benar ia tekan karena terlalu syok dan panik.
Marwah/"gak,,ini gak benar!!" ucapnya masih tak percaya. Namun berlahan air matanya kembali jatuh, kali ini lebih sakit seakan dadanya sesak mengingat foto mas Dimas dan Sisil tadi.
"Bagaimana bisa kalian??" ujarnya parau.
__ADS_1