Come A Closer Love

Come A Closer Love
25


__ADS_3

Jam 5 pagi, Marwah terbangun dengan terkejut yang mendapatkan dirinya bukan di kamarnya. Ia terduduk, dan melihat sekeliling dan seketika ia ingat bahwa ia pulang kerumah keluarganya dan tidur dikamar Mecca. Marwah pun menepuk dadanya seolah lega bahwa ia ditempat yang aman.


Berlahan ia turun dari tempat tidur lalu menuju kamar mandi. Selang beberapa saat ia keluar dari kamar mandi, dan menuju pintu kamar untuk keluar melihat jam dinding diruang TV. Ternyata baru jam 5 pagi, Marwah pun hanya menghela nafas panjang. Kebiasaan yang tak bisa ia ubah, karena sedari kecil ketika bersama mama Wulan, ia dan kakaknya selalu bangun lebih awal untuk bisa menemani mama Wulan membuat kue di pagi hari.


Namun sayup-sayup ia mendengar suara dari dapur. Berlahan ia keluar untuk menuju dapur belalang rumah kakaknya. Dan terlihat kak Safa tengah memasak sesuatu di depan kompor.


" Masak apa kak?, " tanya Marwah yang mengagetkan Safa yang terkejut menoleh pada Marwah yang tengah mengikat rambut panjangnya keatas.


" Eh, kamu Marwah, kagetin aja, " celetuknya seraya meraih sendok dan mencoba mencicipi masakannya.


" Hhmm, pas, " ujar Safa yang kemudian mematikan kompor nya.


Terlihat Marwah duduk di kursi yang berada di dekat dengan meja makan dapur tersebut. Lalu melihat-lihat bahan makanan disana.


" Masih sempat masak juga ya kak ??, "


" Sesekali, ini juga karena ada kamu, " jawab Safa yang berjalan dengan membawa mangkung besar yang telah berisi nasi goreng.


" Oh, " jawab Marwah singkat.


" Eh, kamu kok kesini malam-malam sih??, ada apa?" tanya kak Safa pada Marwah.


" Loh ??, ini baju kamu, kenapa ada bekas darah begini?," tanya kak Safa dengan nada khawatir melihat Marwah.


Sontak Marwah refleks melihat bajunya yang berwarna pink yang kini terdapat noda darah.


" Semalam, ada insiden buruk, " ucap Marwah ragu untuk bercerita. Namun kak Safa malah jadi duduk untuk mendengar cerita dari kembar nya.

__ADS_1


Dengan menelan salivannya berlahan Marwah bercerita tentang kejadian semalam sampai bagaimana noda darah ini berada di bajunya.


Mata kak Safa melebar, ia terlihat syok mendengar cerita adiknya yang mengerikan.


" Tapi, tapi kamu gak papa kan??, " tanya kak Safa khawatir seraya menyentuh wajah dan tubuh adiknya.


" Marwah gak papa kak, tapi.., pak Erwin itu yang lengannya tersayat parah hingga mendapat 3 jahitan, " ujar Marwah dengan lesu.


" Huuuffft, syukurlah kamu gak kenapa-napa, lagian kamu juga sih, udah malam gitu kenapa juga pergi sendiri ketempat-tempat begituan, " tukas kak Safa yang marah pada Marwah.


Marwah pun hanya menghela nafas panjang, ia paham kenapa kakaknya marah. Memang kejadian semalam benar-benar berbahaya untuk dirinya yang seorang gadis.


" Eh, tapi, pak Erwin itu siapa??, kok kayaknya kamu kenal??, " tanya kak Safa yang penasaran.


Tiba-tiba Marwah tersadar, ia tak benar-benar bercerita selama ini pada kakaknya bahwa ia beberapa waktu yang lalu sempat bekerja di kantor Aritama group.


" Mantan bos, " jawab Marwah cepat , seraya bangun menuju pintu kulkas dan membukanya.


Dengan menghela nafas panjangnya, akhirnya Marwah menyerah, ia pun meraih beberapa telur dan kornet dari dalam kulkas lalu berjalan kembali ke meja tempat kak Safa berada.


" Beberapa minggu yang lalu Marwah kerja di Aritama Group, dan pak Erwin itu bos disana, " jelasnya singkat.


Safa sedikit terkaget, sudah lama adiknya tak berkecimpung didunia perkantoran. Bahkan yang ia tau Marwah tak suka bekerja kantoran karena ingin trus mendalami dunia Baker Cake.


" Aritama Group??, waaah, kok bisa?, " tanya kak Safa serius dan semakin penasaran, karena kurang lebih ia tau profil Aritama Group adalah perusahaan yang memiliki beberapa aset kecil namun bernilai fantastis.


" Duh, panjang ceritanya.., " ujar Marwah yang malas untuk bercertia asal muasal ia bekerja di Aritama Group, apa lagi ia dipecat dengan tidak menyenangkan.

__ADS_1


" Ikh, kamu ini yaa, gak berubah-berubah, susah banget terbuka, " ketus kak Safa. Namun tiba-tiba ia kembali melihat adiknya yang tengah memotong daun bawang dan tomat.


" terus, kenapa sekarang jadi mantan bos ?, " ucap Safa yang masih penasaran.


" Yaa udah gak kerja lagi lah kak, jadi julukannya mantan bos, " jawab Marwah cepat.


" Yaaa, sayang banget, !!" ujar kak Safa yang tiba-tiba terdengar suara panggilan seorang pria yang memanggilnya "mama"


" Mah, Mecca nangis nie, !!" ujar mas Daniel panik dengan menggendong Mecca putri mereka yang terlihat merah karena menangis, lalu memberikannya pada istrinya dan dengan canggung mas Daniel balik kembali ke kamarnya karena malu pada Marwah, ia hanya pakai celana trenning dan kaos tak berlengan.


" Ooh, sayang-sayang, maafin mama yaa nak, tadi lagi asyik ngobrol sama mommy Marwah, " ucapnya dengan menimang Mecca didalam gendong nya, dan mencoba menenag kan putri kecilnya itu.


" Marwah , kakak kasih asi Mecca dulu yaa, kamu makan dulu gih, " ujar kak Safa pada Marwah yang melihat Mecca.


" Iyya tenang, maaf ya kak, jadi ganggu karena bangun jam 1 malam bukain pintu untuk Marwah, " ujar yang merasa bersalah pada kakak kembarannya.


" Ikh, apa sih, ini kan rumah lo juga, udah pasti pintu rumah ini terbuka untuk lo kapan pun, " jawab kak Safa bijak.


" Tapi kak, tar pinjem baju yaa, " ujar Marwah.


" Beres, tar kakak ambil baju kakak untuk kamu, " jawab kak Safa.


Marwah pun memeluk kakaknya dengan sayang, lalu kemudian menjatuhkan ciuman gemes pada keponakannya yang benar-benar terlihat haus.


🍃🍃🍃


Tepat jam 7.00 pagi, mobil Marwah keluar dari perkarangan rumahnya. Marwah terus mengecek handphone jadul miliknya yang tak terdapat panggilan dari nomor handphone yang ia berikan pada Erwin.

__ADS_1


Dengan melaju pelan, Marwah menelfon Lily untuk mengabarkan bahwa ia tak berada di toko, ia akan pulang beberapa jam lagi. Setelah memberi kabar pada Lily, laju mobil Marwah pun kembali menuju kearah apartemen Luxury.


Bagaimana pun, Marwah merasa harus bertanggungjawab atas luka Erwin yang telah menolong dirinya dari kejadian buruk semalam.


__ADS_2