
Di rumah atas terlihat kak Safa menatap kembarannya itu dengan tajam.
" benarkah?? jadi kenapa kamu gak cerita sama kakak dari kemarin-kemarin??," tanya Safa kesal.
" Ah, maaf kak, lagian kan kak Safa juga sibuk, jadi gimana mau cerita," kilah Marwah dengan ragu.
" basi banget alasan kamu," celetuk Safa kesal.
" tapi??, apa benar dia gak Gay??," tanya Safa sedikit mengidik pada Marwah.
Marwah mengangguk dengan yakin.
" malah tersebar gosip dikantor, kalau Direktru sendiri yang membantahnya pada rapat saham di kantor Zinus," jelas Marwah.
" gosip, belum tentu bener kan?? memang kamu udah coba buktiin kalau dia gak Gay??," tanya Safa serius.
" bukti?," tanya Marwah bingung.
" ikh kamu ini, itunya??," ujar Safa ragu.
" apa sih???," balas Marwah aneh dengan arah bicara Safa yang tak jelas.
" isss, anak ini!!," ujar Safa kesal. Lalu Safa terlihat berbisik pada Marwah, dan tak lama berselang terlihat kedua mata Marwah melebar karena kaget.
" IKH KAK, gila apa??, ya gak pernah laah!!," pekik Marwah sehingga Mecca yang berada dipangkuannya pun ikut terkejut hingga terlihat menangis karena kaget.
" ah, sayang-sayang, maaf kamu jadi kaget yaa, gara-gara mama kamu nie, " celetuk Marwah dengan reflek bangun dan menimbang-nimbang Mecca dengan sayang.
" kalau itu gak di test gimana kamu yakin dia gak Gay , hati-hati loh penyakit yang gitu terselubung, " jelas Safa tajam yang kemudian ikut bangun dan meraih Mecca untuk ia tenangkan dalam pelukkannya.
Marwah terlihat menelan salivanya mendengar ucapan kak Safa yang no sensor itu.
" Marwah yakin kok kalau Direktru bukan Gay," ujarnya seolah membayangkan kembali ciuman hangat yang beberapa kali diberikan mas Erwin padannya, dari tiap reaksi tubuh mas Erwin yang terbawa naluri kelakian-lakiannya saja itu cukup jelas bahwa dia memang bukan Gay.
" seberapa yakin ??," tanya kak Safa balik.
" Hhmm.., ituu..," Marwah sedikit kelabakan , dan terlihat cemas dengan mengigit bibir bawahnya. Kak Safa seolah membaca gerak gerik Marwah yang seolah menghindar.
" berapa kali dia pernah cium kamu???, atau dia..??".
" ah udah akh kak, jangan dibahas lagi" tolak Marwah dengan menutup kupingnya seolak sanggup mendengarkan pertanyaan diinterogasi oleh kak Safa yang super detail.
Safa sedikit cemberut.
" kamu ini".
" maaf kak, tapi untuk kali ini Marwah coba untuk yakin dan percaya, bahwa mas Erwin benar-benar tulus mencintai Marwah".
Safa sedikit tersenyum jahil.
" mas Erwin??, Hhmm ya deh, kakak hanya khawatir aja, tapi sejujurnya kakak hanya berharap kalau kamu benar-benar bertemu dengan orang yang gak buat kamu kecewa lagi, itu aja kok," jelas Safa dengan menepuk-nepuk punggung adik kembarnya yang jadi ikut tersenyum simpul.
Sesaat Marwah pun reflek memeluk kakaknya yang sedang mengendong Mecca yang sudah tak mengangis lagi.
" makasih yaa kak , dan maafin adik mu ini," ujar Marwah manja dan merebahkan kepalanya dipundak Safa.
__ADS_1
" Kamu benar-bener gak berubah, keliatan aja paling kuat, dan paling sering nangis dibelakang, tapi kakak akan selalu ada buat kamu, ngerti??," ucap Safa dengan mencoba melihat pada Marwah.
" makasih ya kak Safa, " ujar Marwah lagi dengan tersenyum tulus pada Safa.
Lalu terlihat suasana kembali hangat kembali.
" Jadi rindu mama yaa??," ujar Safa.
" iyya, coba kalau ada mama, pasti selalu bisa tenangin kita," sahut Marwah yang juga rindu mama Wulan.
Tiba-tiba Marwah teringat sesuatu.
" kak, inget gak dulu soal anak laki-laki.., "
" Siapa??," tanya Safa bingung.
" Hhmm anak laki-laki yang dulu pernah Marwah tolong.., ".
" iyya siapa??".
" yang Marwah panggil "kak Mummy", jelasnya lagi.
" oh, yaa gak inget-inget banget, memang kenapa??," tanya Safa cuek.
" aneh deh kak, kemarin Marwah sempat mimpi soal "kak Mummy" , padahal udah lama banget yaa," ujar Marwah dengan memainkan jemari Mecca.
" kok bisa??," tanya Safa balik.
" iyya gak tau, apa mungkin karena kecapeaan kali ya waktu dipanti asuhan, padahal lagi tidur sama mas Erwin, ck.., aneh deh," celetuka Marwah.
" apa kamu bilang??, kamu apa tadi??, tidur sama siapa??," tanya Safa dengan kedua mata melebar. Dan sontak Marwah reflek menutup mulutnya yang terceplos.
" bukan, bukan yang seperti kak Safa pikir kok bener, cuma tidur gitu aja disofa?" jelas Marwah serba salah.
" waah kamu bener-bener bebas deh, kayak kakak harus lapor sama papa," ujar Safa serius.
" ya ampun kak, apa sih???, tidurnya juga gak ngapa-ngapain, mas Erwin gak kayak cowok-cowok lain yang udah bejat aja pikirannya, dia gak gitu kok," ujar Marwah membela diri dan mas Erwin.
" ciee, jadi ngebela pacarnya si mas Erwin itu nie ceritanya??," celetuk Safa jahil.
Marwah pun menghela nafas panjangnya dengan tingkah kak Safa. Lalu ia pun berjalan menuju pintu rumahnya.
" mau kemana??," tanya kak Safa yang kaget ditinggal begitu saja oleh Marwah.
" mau turun kak, mau buat dessert box, " jelas Marwag dengan mengumpulkan rambutnya untuk diikat.
" hah?? dessert box??," jawab Safa semangat.
" avocado cake bukan??," tanya Safa lagi.
Marwah mengangguk pelan.
" ahh, kakak mau donk, itu dessert kesukaan kakak" ujarnya senang sembari mengikuti langkah Marwah yang ikut turun kebawah dengan mengendong Mecca.
" pasti kesukaan kita dari kecil donk, karena avocado cake ini buat kita bisa ketemu mama sebaik mama Wulan," sambung Marwah mengenang masa kecilnya.
__ADS_1
" iyya," ujar Safa yang ikut mengenang.
" kakak ikut bantu yaa??," pinta Safa.
" oke, Mecca titip aja sama Salwa".
Dan tak berselang lama, keduanya sibuk membuat avocado dessert box. terlihat Safa tak sepandai Marwah dalam membuat cake, karena memang dari kecil yang lebih mencintai dunia perkuehan adalah Marwah yang memang bercita-cita sebagai pemilik toko roti seperti mama Wulan.
🍃🍃🍃
Disisi lain, terlihat Erwin tengah berada diruang baca disalah satu rumah mewah di surabaya. Dengan santai ia menikmati kopi pahit yang disediakan tuan rumah yang selalu ia hormati ini. Dan terlihat seorang pria paruh baya yang mengunakan tongkat disebelah tangannya sedang berusaha menikmati suasana asri rumahnya dari balik jendela ruangan baca.
" paman??," sapa Erwin dengan memberikan laporan yang ia bawa tadi diatas meja.
Pria paruh baya itu pun berbalik dengan memandang ramah pada Erwin yang menunggunya di kursi yang tersedia diruangan baca itu.
" kamu benar-benar tau balas budi, padahal paman tidak berharap hal yang seperti ini," ujar paman Yono.
Erwin diam.
" bagaimana Suci???, apa dia membuat masalah lagi??," tanya paman Yono serius.
" ah, enggak paman, sejauh ini ia bisa bekerja dibawah tim yang ditempatkan," jelas Erwin.
Sesaat paman Yono seperti menghela nafas panjangnya lalu berjalan tertatih untuk bosa duduk disebelah kursi Erwin.
" syukurlah jika anak itu tidak mengacau lagi," ucap paman Yono lega.
" bagaimana dengan pernikahan Edwin?? bukan kah tidak lama lagi" tanya paman Yono dengan duduk perlahan.
" ah, yaa paman, sekitar 4 bulan lagi, Edwin akan menolah dengan sesama pengajar Dosen dikampusnya," jelas Erwin dengan memberi info yang ia tau.
" jadi tinggal kamu yang belum menikah??," ujar paman Yono to the poin.
Erwin hanya diam dengan sedikit senyum simpul.
" apa kamu sudah ada calonnya??," tanya paman Yono santai.
Paman Yono hanya memperhatikan Erwin yang sedikit bergeming dengan membenarkan duduknya santai lalu mengambil cangkir kopi pahit di atas meja.
" jika sudah waktunya, harap paman bisa datang pada acara sakral itu nanti," jawabnya sopan.
Pamam Yono tersenyum mendengar ucapan Erwin yang tetap pada pendiriannya. Ia tau betapa putrinya Suci menyukai keponakan angkatnya ini yang memang jauh lebih dewasa dan matang untuk usia pria. Namun beberapa kali penolak halus untuk menjadikan Erwin menantunya pun tegas ditolak oleh Erwin. Erwin hanya akan menganggap Suci seperti saudari angkatnya dan tidak akan melewati batas-batas itu.
" Bagaimana pada saat rapat Zinus??," tanya paman Yono.
" Sedikit banyak diluar perkiraan, Toni dari Forten juga ikut dengan cara ilegal," jelas Erwin singkat.
" Paman sempat mencari info setelah kamu mengabari hal itu, dia bermain dengan pihak luar dan mengambil resiko besar jika benar dugaan bahwa sahamnya adalah fiktif," sambung paman Yono.
Erwin hanya diam tak bergeming.
" keluarga Prasetya benar-benar tak berubah, bahkan kini jejaknya diikuti oleh Toni Prasetya," ujar paman Yono dengan bernelangsa jauh mengingat perseteruan dua keluarga yang sedarah ini.
__ADS_1
" Dan mereka akan terus mencari cara untuk menghancurkan keluarga Aritama," sahut Erwin dengan santai dan meneguk kembali kopi pahit yang hanya ia minum jika bersama paman Yono.