
Erwin yang masih menahan pelukan rindu Marwah pun seketika bergeming.
" Marwah??".
" Hhmm..,"
" Marwah Sandres..," panggil Erwin lagi.
" ssst.., sepertinya dada mas bergetar karena menerima pelukan mu., bisakah kamu melonggarkan sedikit pelukan nya, " ujarnya pelan.
Marwah bergerak dengan hanya membenarkan kepalanya saja.
" jangan mulai deh mas, untuk saat ini Marwah gak mau dengar gombalan atau candaan, ya mas," ujar Marwah dengan masih memeluk erat Erwin.
Erwin tersenyum, namun ia juga tidak tahan.
" untuk kali ini, sebentar saja.., sebentar yaa..," pinta Erwin seraya mererai pelukan Marwah dengan paksa.
Dan terlihat Marwah melihat dengan serius pada Erwin yang tiba-tiba membuka jaket kulitnya dan meraih handphone nya dari dalam saku jaket.
" oh, ternyata handphone mas yang bergetar," ujarnya dengan memperlihatkan layar handphone nya pada Marwah seraya tersenyum usil.
Marwah yang tadinya sedih, seketika tersenyum lucu.
" ck.., dasar," rutu Marwah.
" Kamu tersenyum??," kata Erwin senang dan seketika menarik Marwah kembali dalam pelukannya.
" jangan menangis lagi, mas gak suka liat kamu nangis.., ngerti!!!" .
" kan nangis gak bisa dikontrol mas," protes Marwah.
" dasar anak kecil..," celetuk Erwin.
Dan seketika ia mendapat cubitan Marwah dipinggangnya.
" aaahh..aa.., sakit sayang..," erang Erwin dengan menarik diri dan menatap Marwah yang sedikit cemberut.
" jadi apa kita mau pelukan disini sampai kantor Aritama tutup??," tanya Erwin.
__ADS_1
Dan seketika Marwah terkaget, dan reflek melepaskan pelukkannya dari Erwin.
Erwin tertawa kecil melihat wajah panik Marwah yang baru tersadar.
" ah, maaf mas..," ujarnya dengan memandang sekeliling, dan terlihat ada beberapa karyawan yang lewat.
" Kamu mau pulang??," tanya Erwin.
" Hhmm," jawab Marwah singkat dan kemudian baru teringat untuk kembali memeriksa tas mencari kunci mobilnya yang tak ia temukan.
" Kenapa??" tanya Erwin pada Marwah yang trrlihat bingung.
" aneh, kunci mobil gak ada ditas mas..," kata Marwah dengan wajah bingung.
" yakin??," tanya Erwin.
" iya," jawab Marwah yakin dan kembali memerikas tasnya.
Namun tiba-tiba sebuah mobil sedan mewah berjalan dengan sengaja kencang. Erwin melihat dengan mata melebar.
" MARWAAH !!" pekik Erwin panik dan reflek meraih tubuh Marwah dengan kasar agar terhindar dari mobil sedan tersebut yang seolah sengaja ingin mencelakakan Marwah. Sehingga Marwah tersentak kaget dengan menjatuhkan tasnya.
Wuuuussss.., mobil sedan mewah itu lewat dengan kencang. Erwin reflek melihat cepat pada belakang mobil tersebut dan terkaget dengan nomor plat tersebut.
" Suci!!," lirihnya yang tak percaya. Lalu melihat dengan cepat pada Marwah yang masih kaget.
" Marwah??? kamu gak papa??" tanya Erwin khawatir.
Marwah hanya mengangguk pelan dan melihat dengan heran pada mobil sedan mewah itu.
Terdengar hembusan nafas lega Erwin melihat Marwah baik-baik saja.
Marwah pun melihat pada tas dan isi tasnya yang sedikit keluar dari tasnya karena terjatuh tadi. Lalu ia pun memunggut isi tas tersebut dan kembali memeriksa isi tasnya dan memang sepertinya kunci mobil tak ada didalam tas.
" Sudah lah, kamu mas antar aja yaa, " tawar Erwin dengan meraih jemari Marwah dan tersadar bahwa suhu tubuh Marwah hangat, lalu reflek menyentuh pipi Marwah.
" Kamu sakit??," tanya Erwin khawatir.
" ah, mungkin karena kelelahan..," elak Marwah dengan meraih tangan Erwin yang menyentuh pipinya.
__ADS_1
Tampa berbicara lagi, Erwin menarik tangan Marwah untuk mengikuti dirinya. Marwah sedikit kaget.
" tapi mas, kunci mobil Marwah masih belum ketemu,"
" mas akan telfon sekertaris Cha, biar dia yang cari, pasti tinggal di meja kamu," jelas Erwin.
Namu tiba-tiba langkaj kaki Marwah terhenti dan melihat serius pada Erwin yang bingung melihat wajah Marwah. Dan seketika sadar.
" ah, maksud biar sekertaris cha suruh cleaning service yang cari kunci mobil kamu".
Seketika Marwah mengangguk membenarkan ucapan Erwin.
Dan reflek Erwin menghela nafas panjangnya dan kemudian berjalan bersama Marwah menuju mobilnya.
" kenapa aku memilih wanita yang ribet ini??," ucapnya pelan.
" Mas bilang apa??," tanya Marwah.
" ah, gak ada, ayo..," jawab Erwin santai, dan ia tersenyum simpul pada Marwah yang curiga.
Dan seketika ia teringat kembali akan mobil Suci yang melintas kencang tadi.
🍃🍃🍃
Disisi lain, terlihat wajah kesal dan marah Suci yang membawa mobil sedannya dengan cepat.
" beraninya kamu Marwah???," ujar Suci geram.
Terlintas kembali bayangan Marwah yang memeluk Erwin. Dan kekesalan Suci pun bertambah ketika mengingat wajah Erwin yang terlihat tersenyum bahagia menerima pelukan Marwah.
" kenapa mas?? kenapa mas gak pernah tersenyum seperti itu pada Suci !!!" pekik ya kesal, dan seketika meminggirkan mobilnya pada badan jalan.
Dan mobil itu terhenti dengan Suci yang masih tak bisa menerima kenyataan bahwa Erwin telah memilih Marwah.
" mas pasti hanya main-main, yaa pasti !!" ujarnya mencoba menenangkan diri.
" mas Erwin hanya milik Suci," ucapnya lagi dengan meraih handphone nya. Dan ia hendak menelfon seseorang yang iya yakin akan membantunya.
Namun, tampa sadar air matanya jatuh. Dan akhirnya tangisnya pecah, terlalu sakit yang ia terima dengan kenyataan ini.
__ADS_1