Come A Closer Love

Come A Closer Love
81


__ADS_3

Waktu pun berjalan berselang dari kejadian waktu itu, kini Suci tak pernah lagi muncul di kantor Aritama. Sehingga Marwah merasa bersalah dan sedikit kewalahan dalam mempersiapkan kegiatan Interview karyawan baru untuk Hotel Sunrise.


Kesibukannya itu benar-benar menyita waktu dan pikirannya, sehingga ia hanya punya kesempatan berbicara dengan Erwin pada pagi hari dan sore hari ketika Erwin menjemput dan mengantar Marwah.


Dan hari ini, pagi yang di tunggu itu pun datang, dimana kegiatan Interview untuk penerimaan karyawan baru pun berlangsung.


Terihat sekertaris Chandra dan beberapa staff lain membantu Marwah dalam kegiatan tersebut. Hingga siang hari para peserta interview terlihat antusias mengikuti interview itu.


Kini Erwin yang duduk disebelah kanan Marwah terlihat menikmati proses interview tersebut.


Tiba-tiba secarik kertas tersodorkan di sisi samping Marwah, yang sedikit membuat Marwah bergeming dan meliriknya dengan bingung lalu melihat Erwin sekilas. Pelan ia menarik kertas itu dan menyelipkannya dibawah beberapa kertas.


" sabtu minggu ini kamu apa ada acara??," Erwin.


Marwah membaca dengan sedikit berpikir dan menoleh pada Erwin yang terlihat serius melihat peserta interview. Lalu ia kembali melihat pada kertas tersebut dan mulai menulis dibawah tulisan Erwin.


" enggak ada," balas Marwah singkat lalu ia mengeser kertas itu kembali pada Erwin.


Erwin bergeming dan membaca dengan cepat. Dan terlihat ia tersenyum senang lalu menoleh kembali pada Marwah.


Marwah yang menyadari tatapan Erwin pun sedikit bingung dan seolah berbicara isyarat dengan hanya mengerakkan bibirnya dengan sedikit menutup wajah.


" kenapa??," gerak bibir Marwah yang bertanya pada Erwin dengan heran.


Erwin menggelengkan kepalanya sekilas membalas pertanyaan Marwah yang penasaran. Marwah yang tak mendapat jawaban pun akhirnya kembali fokus pada kegiatan Interview tersebut.


Hingga sore harinya dari 400 pelamar kerja, mereka menyaring hingga 158 yang tersisa, lalu kemudian kembali harus mengikuti tahap berikutnya ya itu test kesehatan yang kemudian berlanjut dengan test keahlian yang menjadi nilai akhir sebelum dinyatakan lulus diterima sebagai karyawan hotel Sunrise.


Terlihat Erwin tengah berbicara bersama Frank dan Daniel. Marwah yang duduk dengan santai memeriksa beberapa biodata pelamar kerjanya yag berhasil lolos ditahap awal. Dan seketika sekertaris Chandra mendekat dengan memberikan beberapa lembar kertas lain yang telah rapi kepada Marwah.


" makasih mas," ujar Marwah seraya meraih kertas pemberian sekertaris Chandra.


Sekertaris Chandra hanya membalas dengan anggukan.


" akhirnya hari ini beres, setelah ini akan Marwah kirim Email untuk jadwal berikutnya ya mas Chandra,"


" memang sudah siap??," tanya Sekertaris Chandra.


" iyya, " sahut Marwah cepat.


" bagus lah, ternyata kamu orang yang benar-bener terencana,"


Marwah hanya tersenyum simpul lalu ia sedikit terhenti.


" hmm, mas Chandra, apa masih belum ada kabar dari suci??," tanya Marwah ragu.


" belum," sahut sekertaris Chandra cepat.


" oh," sahut Marwah lesu.


Sekertaris Chandra yang telah selesai beres-beres pu sedikit terhenti melihat pada Marwah.


" kenapa???,"


" ah, Marwah kepikiran Suci, dan jadi merasa bersalah sama anak itu," sahut Marwah sedikit menyesal.


Sekretaris Chandra sedikit berpikir lalu meraih tas ranselnya.


" santai aja, Suci mungkin perlu waktu untuk menenangkan dirinya," jawab sekertaris Chandra yang membuat Marwah bingung.


" menenangkan diri??," sahut Marwah bingung.


Sekertaris Chandra terlihat tak menjawab balik pertanya penasaran Marwah dan ia terlihat siap untuk jalan pulang.


" oke, kalau begitu sampai ketemu senin lagi, Marwah," ujar Sekertaris Chandra


" ah, iyya baik mas Chandra," sahut Marwah yang terlihat sudah mengemas tas nya.

__ADS_1


Dan tak lama sekertaris Chandra pun keluar dari aula tersebut di ikuti beberapa staff yang mengikuti sekertaris Chandra bersamaan.


Selisih kepergian Sekertaris Chandra, terlihat Erwin kembali masuk kedalam aula tersebut yang berjalan santai menuju Marwah.


" apa semua sudah siap??," tanya Erwin yang mengangetkan Marwah.


" eh, mas.., maaf yaa jadi tunggui Marwah yang lama," sahut Marwah yang melihat sekilas pada Erwin.


" enggak, mas masih punya banyak waktu buat kamu," balas Erwin tersenyum.


Marwah tersenyum kecil mendengar ucapan gombal Erwin dan memperhatikan Erwin sekilas kembali, lalu dengan yakin meraih tasnya dan tas kecil yang ia jinjing.


" ayuk mas," ujar Marwah yang berjalan pada sisi Erwin yang terlihat santai duduk di sisi meja depan yang ada di depan Marwah.


" kamu lapar gak??," tanya Erwin.


" hhmm, sedikit, " sahut Marwah setengah berpikir.


Erwin pun mengangguk berpikir.


" kenapa?,"


Erwin tak menjawab tapi tangannya perlahan meriah lengan Marwah dan menarik wanita itu pelan untuk melangkah lebih dekat kehadapannya dan ia pun merapikan rambut panjang Marwah yang tergerai indah di bahunya. Marwah terlihat bingung.


" mas," panggil Marwah pelan.


Dan terdengar hembusan nafas Erwin seolah menghela lelahnya.


" kenapa?? apa seleksi karyawan tadi kurang bagus yaa??," tebak Marwah.


Erwin menggelengkan kepalanya pelan.


" enggak," sahut Erwin tersenyum.


" jadi??,"


" mas," panggil Marwah risih.


" hhmmm,"


" kenapa disini!!," ujar Marwah sedikit meronta.


" nanti kalau security datang gimana??," bisik Marwah pada Erwin yang tak peduli.


" sebentar saja, mas butuh energi," sahut Erwin dengan menghirup wangi tubuh Marwah yang nyaman.


Marwah tersenyum kecil, kadang pria ini terlihat dewasa dan matang di usianya namun terkadang sewaktu-waktu bisa berubah menjadi baby besar yang butuh banyak perhatian.


Lalu Marwah pun mengalah sehingga meletakkan tas jinjing kecilnya dimeja, dan tangannya mengusap punggung Erwin dengan sayang.


" boleh Marwah tanya sesuatu??," tanya Marwah pelan.


" apa??," sahut Erwin dengan memperdalam pelukkannya.


" mas ini berapa bersaudara??? dan mas anak keberapa??," tanya Marwah simpel.


Terdengar suara tawa kecil Erwin.


" tumben kamu tanya hal begini," sahut Erwin yang kemudian mererai pelukannya dari Marwah.


" ah, terkadang urutan anak keberapa itu mempengaruhi sifat seseorang, hmmm, kalau Marwah tebak, mas pasti anak cowok paling kecil dan paling di anak emaskan ya dirumah," jelas Marwah menebak.


Seketika Erwin tertawa terbahak-bahak, dan terlihat wajah Marwah sedikit kaget.


" kenapa mas?? bener yaa?? mas anak paling kecil dikeluarga??,"


Erwin mencoba menahan tawanya dengan melihat pada wajah penasaran Marwah.

__ADS_1


" apa itu penting??,"


Marwah diam seolah berpikir.


" mas itu anak pertama, dan yang paling keras mendapat didikan,"


Marwah terkaget mendengar penjelasan Erwin yang berbanding terbalik dengan tebakkannya.


" wah, masa sih??," tanya Marwah tak percaya.


" ya terserah, lagian kamu metode dari mana nilai kepribadian orang dari nomor urut anak keberapa??,"


Marwah sedikit berpikir dan menjauh dari rangkula pelukan Erwin.


" dari info google," jawabnya santai.


Erwin tertawa kecil.


" mbah google kok dipercaya sih???," sahut Erwin yang kemudian bangun dari sandarannya dimeja dengan meraih jemari tangan Marwah. Lalu menarik wanita itu untuk ikut melangkah bersama keluar dari aula yang sepi itu.


" lain kali, kalau kamu mau tau ilmu psikologi tanya sama mas aja, nanti mas kasih tau kamu gimana cara menilai kepribadian orang dengan sekali lihat," ujar Erwin santai berjalan bergandeng tangan dengan Marwah dan melewati beberapa karyawan yang melihat dengan wajah terkaget.


Dan seketika kedua insan tersebut menjadi sorotan tajam dari mata yang melihat pada mereka.


Marwah terlihat berlari-lari kecil mengimbangi langkah Erwin.


" mas," panggil Erwin yang terlihat tak peduli dengan tatapan orang disekitar lobby kantor Aritama.


" hhmm," jawab Erwin yang tiba-tiba berhenti ketika berada diluar gedung lalu memalingkan wajah melihat pada Marwah yang terlihat ngos-ngosan.


" kamu kenapa??,"


" mas jalan cepet banget sih, " celetuk Marwah.


" ah maaf, mas terlalu semangat jalan sama kamu," sahut Erwin setengah mengombal.


Seketika Marwah jadi senyum sendiri mendengar ucapan Erwin yang mengelitik perasaannya.


" tapi kenapa kita di sini??, mobil mas kan di bawah," tanya Marwah bingung melihat Erwin santai berdiri di depan kantor dan seolah sedang menunggu sesuatu.


" iyya, tapi untuk kali ini mas mau jalan masa kamu lebih lama," jawab Erwin yang tiba-tiba tersenyum ketika melihat sebuah mobil taksi berhenti di hadapan mereka.


Dan dengan segera ia membukakan pintu untuk Marwah yang terlihat bingung namun menurut saja dengan ke inginan Erwin yang mengikuti masuk kedalam taksi.


Keduanya pun disambut ramah oleh supir taksi yang sudah agak tua. Ia menyapa dengan sopan.


" pak, tolong ke daerah Xxx yaa," ujar Erwin pada supir taksi.


" tapi agak macet, apa gak papa pak??," tanya si supir.


" gak papa pak, kita gak terlalu buru-buru," sahut Erwin santai melepaskan jas nya.


Marwah mendengar dengan bingung.


" kita ke daerah Xxx untuk apa?," tanya Marwah penasaran.


Erwin tak menjawab, ia hanya membalas dengan senyum pada Marwah yang terlihat keningnya berkerut . Lalu pelan, ia merebahkan kepalanua dipundak Marwah dengan nyaman.


Marwah terkaget.


" sebentar, mas mau istirahat sebentar," ucap Erwin dengan nyaman bersandar dan kedua tangannya terlipat di dada meniggalkan Marwah yang terlihat bingung.


Dan sekilas Marwah menoleh untuk menyakinkan bahwa Erwin benar-benar tertidur.


Lalu ia pun menghela nafas panjangnya seraya tersenyum dan mengambil handphone nya. Ia pun dengan sengaja mengambil moment Erwin tertidur dengan sedikit menfoto wajah Erwin dan menuliska caption di laman Instagram nya.


" pangeran tidur ku" tulis Marwah dengan menambah emoji hati disana dan berhasil mengirim foto tersebut di laman Instagram nya.

__ADS_1


__ADS_2