
Kini disebuah rumah sakit swasta Marwah terduduk terpaku melihat Erwin yang terbaring dengan beberapa perban dan plaster di wajahnya. Hal itu seolah mengulang kembali masalalu yang menjadi kenangan keduanya sewaktu kecil.
Ia memegang jemari Erwin dengan tatapan sedih.
" maaf," lirihnya pilu. Namun terdengar suara deringan telfon dari dalam tasnya. Sehingga Marwah dengan cepat mengambil handphone tersebut dan bangun seraya keluar dari kamar pasien tempat Erwin terbaring.
Marwah mengangkat telfon itu dengan cepat, karena nama yang terlihat nama mama Wulan.
" hallo mah??,"
" Marwah?? kamu dimana?? sudah jam 11 malam sayang," tanya mama Wulan dengan nada cemas yang terdengar jelas.
Marwah baru tersadar. Dan ia pun terlihat risau.
" maaf mah, maafin Marwah telat kabarin mama, Marwah lagi dirumah sakit...,"
" Apa?? apa sesuatu terjadi?? kamu kenapa nak????" sela mama Wulan dengan tanyanyang bertubi-tubi.
" ah, enggak mah enggak, Marwah baik-baik saja, cuma ada temen Marwah tadi ketemu dan harus dibawa kerumah sakit," ucapnya berbohong.
" benarkah??," tanya mama Wulan tak yakin.
" ya," jawab Marwah cepat.
" kamu yakin??? mama jemput yaa??,"
" ah, Jangan mah," ucapnya cepat.
" mama cemas," seru mama Wulan dengan nada kekhawatirannya.
" Marwah baik-baik saja, percaya nanti pagi Marwah akan pulang, janji," ucapnya mencoba menyakinkan mama Wulan yang khawatir.
Hening.
" baiklah sayang, besok pagi kamu pulang yaa, mama cemas,"
" ya mah,"
" hati-hati ya nak," ucap mama Wulan tetap khawatir.
" ya, maaf ya mah, love you,"
Dan komunikasi itu pun terputus dengan hela nafas Marwah yang panjang seolah lepas sudah batas warasnya.
" kamu mau kopi??," ucap sekertaris Chandra pada Marwah yang melihat wanita itu terlihat lusuh dengan pakaian yang terlihat ada noda bekas darah Erwin disana.
" Hhmm ," gumam Marwah pelan seraya hendak duduk di kursi koridor rumah sakit yang terlihat Johan tengan menatap lurus pada layar handphone nya.
" aku kopi pahit," sela Johan dengan tak memandang sekertaris Chandra yang pergi berlalu meninggalkan kedua nya.
Sesaat suasana itu hening. Marwah termenung dengan pikirannya sendiri. Sedangkan pengacara Johan akhirnya menutup layar handphone nya dan sedikit berselonjorkan punggung dan kakinya dengan santai.
Hening.
Hening.
Hening.
" Bagaimana mas Erwin bisa berada disana??," tanya Marwah datar.
" apa yang sebenarnya terjadi?? kamu pasti lebih tau detailnyan mengapa mas Erwin bisa terluka seperti itu??," cecar Marwah pada Johan yang terlihat santai.
" dia datang dengan mengubah rencana, dia bahkan nyaris hampir membunuh Toni," ucap Johan
" apa??," seru Marwah tak percaya. Lalu ia seolah tersadar.
" pasti karena aku," lirihnya dengan nada datar tak percaya.
" apa pun itu, dia mengacaukan semua rencana dan hampir membuat masalah baru," ucapnya Johan kesal.
" dan kalian berdua adalah orang bodoh dan egois," cecar Johan dengan mata tajamnya pada Marwah.
Marwah terperangah dan ia bergeming lalu bangun dengan wajah kesal.
" jangan pernah menilai kami!!" hardik Marwah membalas.
" ini bukan keputusan yang mudah, " ucapnya kesal pada ucapan tajam Johan.
" lalu apa?? kau hanya berpikir pendek dan meninggal masalah baru??, terlalu munafik," cela Johan dengan wajah sinisnya pada Marwah.
" apa kau ingin di puji???, itu bukan tindakan mulia !!," seru Johan merendahkan Marwah.
Marwah tertohok mendengar tuduhan Johan, ia kesal dan marah.
" selama aku bisa menyelamatkan seseorang yang akan percaya pada ku tanpa syarat, maka aku akan membuat keputusan yang sama, tidak masalah jika orang menilai aku rendahan atau bodoh, " ucap Marwah dengan nada emosionalnya yang terlihat disana.
Dan karena terlalu kesal, ia masuk kembali kedalam ruang rawat Erwin dengan meninggalkan Johan yang terpaku akan ucapan Marwah yang mengusik pikirannya.
__ADS_1
🍃🍃🍃
Tak berselang lama, sekertaris Chandra masuk kedalam kamar rawat dengan membawa kopi pahit dan cemilan untuk Marwah yang terlihat tak bergeming di sisi Erwin yang masih belum sadar.
" makan dulu Marwah," ucapnya dengan meletakkan dua plastik makanan di atas meja depan sofa ruangan itu. Lalu ia duduk dengan sedikit lelahnya bersandar pada sofa yang empuk sekelas ruang inap mewah.
" makasih mas Chandra, maaf jadi ngerepotin," ucap Marwah pelan.
Sekertaris Chandra sekilas memperhatikan ekspresi wajah Marwah yang datar. Ekspresi yang tak bisa dijelaskan.
" kamu seperti nya sudah tau???" tebak Sekertaris Chandra ambigu.
Marwah bergeming, dia diam, namun entah tau yang mana ia hanya asal mengangguk kan kepala sebagai isyarat jawaban sekertaris Chandra.
" ini adalah kali ke 2 , Erwin pingsan tak sadar," ucap Sekertaris Chandra.
Deg.., jantung Marwah seolah terhenti mendengar ucapan sekertaris Chandra yang mengangetkan dirinya. Sontak membuat Marwah berbalik menatap Sekertaria Chandra dengan wajah risau.
" maksud nya?? ke 2??," tanya Marwah ragu.
" sebelum ini Erwin pernah jatuh pingsan ketika disurabaya, waktu itu ia tengah berdebat sengit dengan paman dan Suci,"
" apa??"
" ya, ketika Erwin menayakan mengapa perusahaan Atmadja dengan tiba-tiba menarik saham secara mendadak, ternyata perusahaaan Atmadja menganti ketua Direksi dengan mengangkat Suci yang menjadi pewaris tunggal Atmadja Group," jelas sekertaris Chandra dengan menatap meja .
Marwah mendengar dengan terpaku.
" ketika Erwin membujuk paman untuk memberi tenggang waktu guna mencari investor lain, Suci menyanggah dengan membuat perjanjian tak terduga," ucapnya dengan berat.
" Suci mengatakan tidak akan seperser pun uang Atmadja masuk dalam Aritama Group tanpa perjanjian,"
" perjanjian???," lirih Marwah pelan.
" Suci meminta Erwin menikahi dirinya sebagai syarat nya,"
Marwah terperangah tak percaya, sungguh Suci benar-benar luar biasa gila. Ia tak menyangka begitu besar cinta dan obsesi Suci pada Erwin.
" Bagaimana bisa??," ucapnya Marwah tak percaya.
Sekertaris Chandra tersenyum getir mendengar ucapan tak terduga Marwah.
" mas pun tak habis pikir, bagaimana bisa Suci punya pemikiran begitu??, padahal dia adalah wanita yang baik," ucap Sekertaris Chandra sedikit sedih dengan menghela nafas panjangnya disana, seolah sesak dadanya menghinggapi.
" lalu??," tanya Marwah masih menunggu kelanjutan cerita sekertaris Chandra.
Marwah terhenyak, ia pun menunduk dengan rasa menyesal, betapa ia menjadi tidak peka akan kesehatan Erwin.
" Dokter rumah sakit di Surabaya mengatakan bahwa beku darah Erwin terjadi karena trauma masa lalu, mungikn ia pernah terbentur kuat," jelas sekertaris Chandra dengan mengambil handphone di saku celananya dan membuka file di sana lalu mencoba membacanya.
" mas gak ngerti istilah kedokteran, tapi dari analisa dokter Erwin akan kehilangan ingatan tau stroke dadakan atau kemungkinan terburuk ia tak bisa berjalan sempurna jika terlambat menangani beku darah otaknya,"
Marwah terhenyak, ia seolah terlempar kedalam juram yang dalam. Hingga hatinya pun sakit bagai tersayat sebilah pisau tajam.
" apa?? ia akan cacat???," ucap Marwah lirih dengan bibir bergetar menerima kenyataan.
Sekretaris Chandra tak menjawab, tapi anggukan pasti membuat hati Marwah luluh lantak seketika.
Pelan tapi pasti air mata Marwah pun jatuh. Ia hanya bisa menatap wajah Erwin dengan hati terluka.
🍃🍃🍃
Hingga larut malam, sepeninggalan Sekertaris Chandra yang memilih menunggu diluar ruang rawat itu. Marwah terus menatap wajah Erwin dengan sendu.
Berbagai pikiran silih berganti menghampiri benak Marwah. Sesekali mengenggam jemari Erwin yang terlihat ada jarum infus menacap disana.
Bayang-bayang kebersamaan mereka pun terulang kembali dibenak Marwah, hingga ucapan Nyonya Aritama yang mengena di hati Marwah terdalam.
" jaga cinta kalian," kenang Marwah dalam ingatannya. Seolah itu kunci penguat.
Hingga pagi menjelang Marwah yang terus berpikir akhirnya membulatkan tekat. Dengan menunggu jam pagi, Marwah perlahan keluar meninggalkan ruangan itu lalu menekan nomor telfon mama Wulan dengan hati yakin.
Gundah ia menunggu jawaban dari nada tunggu telfon mama Wulan. Hingga akhirnya suara seorang wanita yang hangat menyapa dengan khawatir terdengar disana.
" hallo Marwah???,"
" ya mah,"
" kamu mau pulang??, mama jemput yaa," ..
" mah," sela Marwah memotong ucapan mama Wulan seketika.
" ada apa?," tanya mama Wulan.
" maaf mah, boleh kan Marwah gak ngurusin toko roti lagi??," ucapnya pelan.
" Apa??," sahut mama wulan kaget.
__ADS_1
" ada apa??, kamu kenapa? apa terjadi sesuatu??" cecar pertanya mama wulan bertubi-tubi pada Marwah yang diam.
" enggak mah, bukan Marwah tapi mas Erwin," ucapnya Marwah yakin.
" kenapa? apa terjadi sesuatu??,"
" Marwah mau merawat mas Erwin," ucapnya bergetar seiring dengan air matanya mengalir dengan isak tertahan.
Dan terdengar hela nafas panjang mama Wulan seolah lepas kekhawatirannya.
" jangan bahas disini, pulang lah, kita akan bicara bersama," ucap mama Wulan bijaksana.
" ya mah, maaf," lirih Marwah dengan memutuskan kominikasinya dengan mama Wulan.
Dengan menarik nafas panjang, Marwah mencoba mengontrol gemuruh hatinya. Kali ini ia harus siap berada disisi mas Erwin untuk tak terlihat sedih hingga Erwin sadar.
Dan Marwah pun kembali masuk kedalam ruangan itu dengan terkejut. Melihat Erwin yang kini terduduk dengan seraya bangun dari tempat tidur pasiennya.
" mas," sambut Marwah senang melihat Erwin sadar kembali.
" mengapa kamu berhenti??," tanya Erwin dingin menatap Marwah dengan tangannya mencabut infus jarum dengan paksa.
Marwah terhenyak, dan menyadari mungkin Erwin sempat mendengarkan pembicaraan dirinya tadi dengan mama Wulan.
" Entah lah, sedikit jenuh,"
" jangan berhenti !!," sela Erwin sedikit marah.
" enggak, itu akan menyia-yiakan waktu," sahut Marwah bersikeras.
" MARWAH !!," bentak Erwin pada Marwah yang terpaku.
" mas gak akan mengijinkan kamu meninggalkan dunia mu, jalani hidup mu?" pinta Erwin marah.
" jangan sia-siakan impian mu," sambungnya tertahan.
" apa karena Marwah??, apa semua karena Marwah, ah..,enggak bahkan mas nyaris hampir membunuh Toni, dan karena hal itu mas terluka," ucapnya Marwah tajam.
Erwin bergeming.
" Marwah," seru Erwin merendahkan nada suaranya.
" Jahat !!," ucap Marwah bergetar dengan air mata berderai.
" apa mas pikir dengan begitu Marwah akan tersentuh?," tanya Marwah marah
" ENGGAK!!,"ucapnya kesal.
" bahkan Marwah gak akan berterima kasih untuk mas, Marwah akan membenci mas jika mas membunuh dan rela masuk penjara," ucapnya frustasi dengan derai air mata mengiringi.
Erwin pun tersulut amarah mendengar ucapan Marwah yang emosional.
" lalu kau?? apa kau pikir perbuatan mu tak sama dengan yang telah aku buat??," ucap Erwin meradang.
" apa kau pikir aku akan berterima kasih??, kau ingin menukar semua dengan perjanjian gila itu??," tanya Erwin dengan nada tingginya.
Marwah terisak.
" ini semua karena Marwah," sahut lirih.
" semua kekacauan ini karena Marwah, maka dari itu Marwah ingin menyelamatkan mas," ucapnya sedih.
" Enggak," sela Erwin dengan menatap wajah Marwah.
" mas," ucapnya pelan.
" Marwah sudah berpikir, mas adalah orang yang bisa Marwah berikan semuanya, mas haru merasakan bahagia," ucap Marwah bergetar.
Erwin terpaku mendengar ucapan Marwah yang dalam.
" selama ini mas belum menjalani hal-hal yang bahagia, mas terus dihantui rasa bersalah, jadi karena itu, Marwah ingin berikan semua yang Marwah punya untuk mas,"
" mas harus jalani hidup bahagia dan sehat," ucap Marwah terisak menangis sedih.
Dan Erwin bergeming melihat tangisan tulus Marwah untuk dirinya. Dengan instingnya ia pun berjalan beberapa langkah hingga meraih tubuh Marwah dan memeluknya dengan erat.
Marwah menyambutnya dengan tangisan pilu.
" mas tau?? betapa Marwah takut melihat mas jatuh dengan berdarah, Marwah takut mas mati dalam pelukan Marwah, seperti mimpi itu," ucapnya dengan terisak.
" jangan pergi !!,"
" jangan mati,"
" jangan pernah lupakan Marwah," ucapannya dengan tangis pecah dipelukan Erwin yang ikut menangis dalam diam.
Suara tangisan Marwah pun terdengar oleh nyonya Aritama yang ikut menangis dari balik pintu ruangan itu. Hatinya bersedih mendengar ucapan Marwah menyayat hati.
__ADS_1
Hingga ia hanya bisa berdiri diluar ruangan. Ia tak akan bisa menenangkan keduanya yang benar-benar tengah di uji cintanya.