
Keesokkan paginya, Marwah yang bangun pagi seperti biasanya terlihat, ia bersemangat untuk memulai harinya dengan fokus mengerjakan beberapa dessert premium untuk kebutuhan toko rotinya. Marwah merasa harus memperbaiki jadwalnya yang beberapa hari lalu terlalu fokus pada kegiatan hotel Sunrise.
Sekitar jam 8 pagi, Lily dan beberapa karyawan toko pun mulai berdatangan, sehingga Marwah terbantu ketika akan menyelesaikan membuat dessert premiumnya dengan jumlah yang banyak.
Ketika ia sedang mengisi fla coklat pada dessert boxnya, terdengar suara telfon dari handphone milik ya. Lalu ia melihat sekilas dan ternyata telfon dari kak Safa.
" hallo kak,"
" Marwah, kamu di toko kan??," nada tanya Safa cemas.
" iyya, kenapa kak??," tanya Marwah yang bingung dengan nada tanya kak Safa.
" huuuffft, syukur deh," sahut Safa lega.
Marwah terhenti dan sedikit berpikir.
" kak? , kenapa??," tanya Marwah lagi.
" nanti kakak jelasin, oke, 10 menit lagi kakak sampai di toko kamu, " jelasnya terburu-buru dan seketika komunikasi itu pun terputus sehingga meninggalkan wajah bingung Marwah.
Salwa yang melihat ekspresi wajah Marwah pun jadi penasaran.
" siapa mbak?," tanya Salwa.
" ah, kak Safa," sahutnya cepat lalu kembali meletakkan handphone nya di sisi meja dapur dan kemudian ia kembali fokus mengisi fla coklat di box dessertnya.
🍃🍃🍃
Disisi lain, dikediaman Aritama, terlihat Erwin yang segar baru selesai mandi keluar dari kamar nya menuju meja makan keluarga. Dan terlihat nyonya Aritama dan bik atun sedang berdiskusi serius.
" pagi mah," sapa Erwin dengan mencium kepala ibunda nya dengan sayang.
Nyonya Aritama sedikit terkejut. Namun ia pun membalas dengan senyum hangat pada putra sulungnya. Lalu reflek bangun dengan perlahan untuk membantu putranya sarapan.
" udah mah, Erwin bisa ambil sendiri kok," ujar Erwin yang melihat pada ibunya yang masih agak susah untuk berjalan karena retak kakinya waktu itu belum benar-benar sembuh.
Nyonya Aritama tersenyum simpul ketika putra sulungnya dengan cepat membantu dirinya mengambil alih menaruh makanan pada piring putranya.
Ia duduk di sisi kanan putranya dengan terus memperhatikan kegiatan putranya yang kembali duduk di kursinya dengan piring yang berisi nasi dan sup kepiting kesukaan putranya.
Tak lama, Edwin juga turun dan menyapa keduanya di meja makan. Terlihat Edwin sedikit terburu-buru.
" kamu mau kemana??," tanya Erwin pada adiknya yang langsung meneyerut cangkir teh miliknya yang khas dengan aroman mint kuat.
" hari ini ada janji dengan WO tari," jelasnya singkat.
Erwin terkaget.
" kamu nikahnya dua bulan lagi kan?," tanya Erwin ragu.
Edwin sedikit heran mendengar ucapan kakaknya.
" enggak lah, bulan depan," sahut Edwin seraya mengambil roti panggang di piring besar.
Erwin terlihat kaget.
" apa?? bulan depan??,"
Nyonya Aritama pun sedikit bingung melihat pada putra sulungnya lupa akan acara adiknya.
" masa kamu lupa sih win?," timpal nyonya Aritama.
Erwin meraih gelas air putihnya dengan segera meminumnya, seolah ia mengingat keras dengan jadwal-jadwal yang ia susun.
" nanti Erwin liat lagi jadwal," sahut Erwin dengan kembali melanjutkan makannya.
Nyonya Aritama hanya mengangguk pelan.
" oia, semalam kamu kok telat kali pulang?," tanya nyonya Aritama pada Erwin yang seketika kelabakan.
" ah, biasalah mah," sahut Erwin seadannya. Karena seharusnya tadi malam ia pulang ke apartemen namun setelah mengantar Marwah pulang ia merasa tak sanggup lagi untuk membawa kendaraan dengan kepala sakit sehingga memilih untuk segera mengubah tujuannya kembali kerumah keluarganya.
" oh, hmm kalau gitu kamu bisa kan temenin mama ke dokter," tanya nyonya Aritama pada Erwin.
" dokter??, mama sakit??," sahut Erwin cepat.
" ah enggak, cuma mama mau cek kaki mama aja," jelas nyonya Aritama dengan memperlihat gips kakinya yang terlihat baik-baik saja.
" kalau mama liat, kaki mama udah mendingan, pengen cepet-cepet dibuka gipsnya," sambungnya lagi.
Erwin sedikit menggeleng kepala mendengar ucapan mamanya.
" mah, dokter bilang 3 bulan baru bisa dibuka, jadi sabar aja," ucap Erwin pelan dengan kembali melanjutkan makannya.
" ikh kamu ini, usaha aja siapa tau bener tebakan mama, dan gipsnya bisa dibuka," celetuk nyonya Aritama kesal mendengar ucapan Erwin yang enteng.
" kalau kamu gak bisa, masih ada Edwin kok yang bisa antar mamah," sambung kesal nyonya Aritama.
Edwin menoleh dengan kaget.
" mah, maaf kalau hari ini Edwin gak bisa, kan hari ini urus untuk acara bareng WO Tari," jelasnya.
Nyonya Aritama terdiam.
" ya udah, kalau kalian pada gak bisa anter mamah, mamah bisa pergi sendiri kok," ucap nyonya Aritama kesal lalu bangun perlahan menuju dapur.
Erwin dan Edwin pun saling pandang dengan wajah sama-sama tertawa kecil. Hal yang sering terjadi bila nyonya Aritama kurang perhatian dari anak-anaknya, yaitu mudah ngambek.
" mas kenapa gak bisa anter mama??,"
" mas hari ini ada janji," jawab Erwin santai dengan mengambil handphone nya dari saku celanannya.
Terlihat Edwin pun tak bisa bertanya lagi karena kakak tertuanya ini seorang pembisnis sukses, jadi wajar saja jika di hari libur pun tetap sibuk. Lalu ia pun kembali mengigit rotinya kembali.
Erwin pun terlihat sibuk dengan layar handphone nya tampa menghiraukan adiknya Edwin yang tak lama pamit untuk pergi.
Setelah selesai sarapan, Erwin berjalan santai menuju garasi mobilnya. Dan terlihat mobil nya bersih mengkilat karena telah di servies oleh pengurus rumah.
" mau pergi tuan??,"
" iya pak, makasih yaa, mobil saya jadi bersih banget," ucap Erwin senang dengan mengambil kunci dari tangan pengurus rumah.
" sama-sama tuan,"
" oia, nanti tolong antari mama ke rumah sakit cek kakinya," pinta Erwin dengan santai menaiki mobilnya.
" iyya tuan, baik.., hati-hati dijalan tuan," ucapnya sopan dengan perlahan mundur menjauh dari mobil Erwin yang perlahan mundur teratur keluar dari garasi mobil keluarga Aritama.
Pelan roda mobil Erwin pun melaju menuju arah kota yang terlihat tak terlalu padat. Disepanjang jalan ia mencoba menghubungi nomor handphone Marwah, tapi si pemilik tak jau menjawab telfon dari Erwin.
" Marwah," ucapnya dengan sedikit geram. Lalu kaki Erwin pun sedikit menambah kecepatan mobil nya agar melesat cepat menuju arah toko dr. Dessert tempat dimana kekasihnya ini berada.
🍃🍃🍃
Namun ketika Erwin tiba di toko dr. Dessert, ia terlihat sangat terkejut ketika mendapatkan Marwah tengah menggendong baby Mecca yang terlihat bahagia digendongan mommy Marwah.
" mas, ada apa kemari??," tanya Marwah dengan mengubah posisi gendong Mecca agar melihat kedepan.
" jadi, kamu gak angkat telfon mas karena bayi ini??," tanya Erwin tak percaya.
" memangnya mas telfon yaa?," Marwah balik tanya pada Erwin yang terlihat habisan kata.
Terlihat Erwin sedikit kecewa dan duduk di sofa mini cafe dr. Dessert dengan hati dongkol. Bagaiman tidak, ia telah berencana ingin menghabiskan waktu liburnya bersama Marwah. Tapi apa dikata, kini Marwah malah harus menjaga bayi Mecca anak kak Safa.
Marwah terlihat merasa bersalah pada Erwin dan ikut duduk di sisi pria itu dengan masih mengendong Mecca yang memberikan senyum bayinya pada Erwin.
" maaf ya mas, kak Safa tadi buru-buru sama mas Danil keluar kota, dan gak mungkin kalau bawa mecca yang masih kecil," jelas Marwah pelan.
Terlihat wajah Erwin sedikit ngambek dengan memainkan jemari kecil Mecca yang mengenggam jari Erwin.
Marwah tersenyum kecil melihat pria tampan ini ngambek yang mengemaskan. Dan seketika ia memiliki ide jahil, Marwah pun mencoba membuat Mecca berdiri dengan memegangan tubuh Mecca agar seimbang.
" maafin Mecca yaaa, "Papi Erwin", ucap Marwah mencoba dengan suara imut seolah suara Mecca, lalu tangan kecil di buat bergerak untuk memegang punda Erwin seolah bayi kecil ini memohon. Dan seketika wajah Mecca yang polos pun ikut tertawa melihat pada Erwin.
Sehingga Erwin pun luluh melihat wajah baby Mecca, dan seketika ia pun jadi ingin mencoba mengendong bayi Mecca yang montok.
Marwah terkaget ketika Erwin mencoba meriah Mecca dari tangannya.
" mas bisa gendong??,"
" sedikit, " jawab Erwin yang mencoba mengendong Mecca yang sedikit berat.
__ADS_1
" berat juga yaa," ucap Erwin ketika membawa tubuh bayi itu di pangkuanya.
Marwah tersenyum kecil, lalu mencoba membenarkan bando Mecca yang hampir melorot.
" 7 kg mas, " jawab Marwah yang senang.
" Hah?? 7 kg?? kok kamu gendongnya santai aja tadi," ucap Erwin dengan melihat pada Marwah.
Marwah tertawa kecil.
" Marwah udah biasa," jawab Marwah seraya melihat pada jam tangannya dan sedikit terkaget ketika melihat jam telah pukul 11 siang.
" ya ampun," ucap Marwah gundah
" kamu kenapa?," tanya Erwin yang reflek melihat pada Marwah yang seketika susah.
" ah, ini mecca harus dibawa kedokter," jawab Marwah seraya bangun dari duduknya.
" kedokter?? mecca sakit??,"
" oh enggak, tapi jadwal imunisasi mas, dan kak Safa udah buat janji sama dokternya Mecca,"
" mas tunggu sebentar yaa, Marwah mau ambil tas dulu di atas, dan titip Mecca sebentar yaa," ucapnya seraya berbalil badan dan berlalu pergi meninggalkan wajah bengong Erwin yang kemudian melihat pada wajah Mecca.
" jadi jadwal pacaran om diganti sama jadwal imuniasai kamu yaa," ucap Erwin seraya mencium pipi tembem Mecca yang dibalas senyum manis baby Mecca dan tercium wangi bayi dari baby Mecca yang membuat Erwin mencium bayi itu lagi dengan sayang.
Terlihat beberapa karyawan wanita toko dr. Dessert diam-diam menfoto moment itu dengan kagum melihat pada ketampanan Erwin yang terlihat cocok jadi hot daddy.
🍃🍃🍃
Dan pada akhirnya Erwin pun mengantar Marwah membawa Mecca untuk imunisasi. Terlihat baby Mecca tertidur lelap dipangkuan Marwah dengan nyaman.
Hingga tak lama mobil Erwin pun sampai pada rumah sakit Pertamedika. Marwah turun perlahan dengan mengendong baby Mecca yang masih tertidur.
Marwah terlihat agak kesulitan membawa tas bayi dan mengendong Mecca. Sehingga Erwin pun berinisiatif membantu Marwah untuk membawa tas bayi milik Mecca yang sedikit berat.
Marwah tersenyum kecil melihat Erwin yang ternyata bisa seperhatian itu pada dirinya. Keduanya berjalan bersamaan menuju lantai 3 yang merupakan lantai khusus ibu hamil dan anak-anak.
Ketika tiba dilantai yang di tuju, beberapa perawat menyapa pada Marwah dengan sapaan dr. Safa.
Marwah hanya bisa tersenyum kecil. Ternyata masih banyak perawat yang tak menyadari bahwa dirinya adalah kembaran dr. Safa. Erwin yang melihatnya dengan bingung pad Marwah yang santai membalas sapaan para perawat.
" mereka kenal kamu?,"
" enggak, mereka mikir Marwah itu kak Safa, karena kak Safa dokter anak dirumah sakit ini," jelas Marwah santai dengan berjalan menuju tempat prakter dr. Bowo spesialis anak sup. Alergi. Dan ia melihat ada beberapa bangku kosong dengan beberapa orang pasien yang sama-sama menunggu giliran.
" lalu kenapa Mecca ditangani oleh dokter anak lain? jika kak Safa sendiri dokter anak?" tanya Erwin penasaran.
Marwah tertawa kecil sehingga hampir membangunkan baby Mecca.
" walau dirinya dokter, tapi kalau sudah berurusan dengan anggota keluarga sendiri, apa lagi anak sendiri banyak gak teganya, dan Mecca punya riwayat alergi sama dengan mamanya kak Safa," jelas Marwah santai.
Erwin pun akhrinya sedikit paham.
Ia berjalan pelan mengikuti langkah Marwah. Dan kemudian memilih tempat duduk yang sedikit pojok, seraya menunggu Marwah yang terlihat menuju meja perawat. Lalu tak lama ia kembali menuju tempat duduk Erwin yang terlihat menunggu dirinya.
" ternyata kita dapat urutan ke 3," ucap Marwah seraya duduk perlahan disisi tempat duduk Erwin.
" no 3, syukurlah," sahut Erwin lega, setidak waktunya tak terbuang sia-sia di rumah sakit ini demi baby Mecca.
Berselang beberapa saat pasien pertama pun selesai diperiksa, dan sambung dengan pasien kedua. Dan terlihat baby Mecca bangun dari tidur dengan sedikit rewel. Marwah memiliki insting mungkin baby Mecca haus.
" mas, bisa gendong Mecca sebentar, Marwah mau buat susu Mecca dulu," ujarnya seraya mencoba menyerahkan baby Mecca dengan sedikit penolakan dari sibayi.
Erwin sedikit kaku dan panik mencoba menenangkan baby Mecca yang rewel. Tak lama Marwah membuka tad ransel bayi milik Mecca dan mengambil botol susu telah tersedia susu disana, namun sayang ya ia tak melihat tremos air hangat disana.
" mas, Marwah kesana sebentar yaa, kak safa lupa masuki termos air hangat," ujar Marwah seraya memberikan sesuatu di mulut Mecca yang ternyata kompeng.
" pakai ini dulu sayang, sebentar yaa mommy ambil air hangat dulu untuk kamu," ucap Marwah yang kemudian berlalu pergi meninggalkan baby Mecca dan wajah panik Erwin.
Erwin yang terlihat kaku dan mencoba bangun untuk bisa menenangkan Mecca yang haus. Namun perlahan mecca sedikit tenang dengan kompemg di mulutnya.
Dan tak lama terdengar nama Mecca dipanggil oleh perawat.
" Lunara Mecca," panggil perawat wanita itu dengan jelas.
Erwin terkaget, dan reflek menghampiri perawat itu dengan membawa baby Mecca yang sedikit tenang.
" selamat siang pak, mari masuk," sambut sang dokter dengan ramah.
Erwin masuk dan duduk dengan bingung dihadapan sang dokter.
" hallo Mecca, apa kabar hari ini??," sapa sang dokter dengan meraih kartu pasien milik Mecca.
" Baik dokter," sahut Erwin reflek.
" baik, kita periksa dulu yaa sebelum di imunisasi lanjutan," ucap dokter, lalu ia terlihat memberi kode pada sang perawat untuk mengukur dan memeriksa baby Mecca.
Erwin terlihat bengong dan hanya mengikuti intruksi dokter dengan bingung.
Dan ia hanya melihat saja ketika baby Mecca diperiksa di mini kasur di sisi meja dokter dan terlihat timbangan bayi dan dokter memeriksa tubuh baby Mecca dengan seksama seraya berinterkasi dengan bayi Mecca yang sedikit risih.
" bagaimana pup Mecca selama ini???," tanya dokter pada Erwin.
Erwin terkaget.
" pup??," jawab Erwin dengan wajah bingung.
" iyya pup putri anda pak, apa masih bermasalah??,"
Erwin bengong.
" sa..saya gak tau dokter," jawab Erwin sedikit kelabakan dan mulai khawatir karena Marwah masih belum kembali.
Dokter melihat dengan heran pada Erwin yang bingung.
" oke baik, " ujar dokter yang telah selesai memeriksa tubuh baby Mecca yang cukup baik.
" dilihat fisik Mecca sehat dan semua tumbuh kembangnya diangka normal, baik kalau begitu kita lanjut saja," ujar dokter tersebut..
" tolong suster siapkan vaksi untuk Mecca," ucap dokter seraya memberikan kartu pasien pada perawat yang terlihat paham lalu berjalan menuju ruangan sebelah.
Erwin terlihat cemas pada baby Mecca yang masih terbaring di mini kasur pasien disebelah meja kerja dokter yang terlihat mencoba berinterkasi dengan baby Mecca yang sangat baik merespon.
Tak lama, perawat itu pun kembali dengan kotak stenliss yang dibawanya kehadapan dokter yang terlihat siap mengerjakan tugasnya. Jari-jemari dokter pria tersebut terlihat tengah bersiap untuk memegang sebuah jarum suntik kecil dengan ampul obat yang ia masukkan perlahan untuk mengisi obat didalam spet suntik.
Erwin melihat dengan sedikit tegang, kedua matanya terpaku ketika sang dokter mencoba suntik itu yang ternyata berfungsi dengan baik.
Sang perawat dengan sigap tengah mencoba memegang paha baby Mecca yang sedikit meronta.
" oke, siap dokter" ujar sang perawat.
Erwin bergeming.
" TUNGGU dulu," ucap Erwin panik dengan cepat.
Sehingga sang dokter pun terhenti dan reflek menoleh pada Erwin yang terlihat cemas.
" tu.., tunggu dulu dokter, apa?? apa tidak ada cara lain selain suntik??," tanya Erwin ragu.
" oh, tidak ada pak, suntik adalah cara satu-satunya agar vaksi masuk sempurna di tubuh," jawab dokter santai, lalu kemudian ia mencoba kembali fokus melihat pada paha baby Mecca.
Erwin terlihat gusar dan mencoba menelan salivanya ketika tangan sang dokter mencoba meraih paha baby Mecca.
" TUNGGU dokter" ujar Erwin lagi dengan bangun dan mencoba berdiri disisi perawat yang memegang baby Mecca.
" apa suntik itu aman??, apa pihak WHO setuju dengan vaksi itu?," tanya Erwin serius.
Dokter dan sang perawat terlihat kaget mendengar pertanyaan Erwin yang meragukan. Lalu sang dokter telihat sedikit tertawa kecil.
" tenang pak, ini aman kok, seluruh dunia memakai vaksi ini," jawab dokter tersenyum.
" tapi, tapi apa dokter tega menyakiti bayi kecil ini dengan suntik itu, suntik sekecil itu pun bisa menyakitkan bagi Mecca," sela Erwin dengan mencoba meraih baby Mecca.
Sang suster terlihat bengong tak percaya dengan tingkah ayah baby Mecca yang meragukan dr. Bowo yang sudah ahli dibidangnya.
Lalu tak lama terdengar suara ketukan dari luar.
" Mecca?," panggil Marwah yang terlihat masuk dengan botol susu kedalam ruangan dokter yang terlihat sedikit tegang.
Dan seketika wajah Erwin pun lega.
" kamu kemana aja sih?? Mecca mau di suntik nie?" rutu Erwin kesal melihat Marwah yang terlalu lama.
__ADS_1
Marwah masuk dengan cepat seraya meraih baby Mecca yang sedikit gelisah.
" iyya maaf mas," sahut Marwah pelan.
" syukurlah mamanya Mecca sudah datang," sahut dr. Bowo dengan lega.
Marwah terlihat bingung mendengarkan ucapan sang dokter.
" kenapa dokter?? apa Mecca ada masalah??," tanya Marwah serius.
" ah, bukan, tapi sepertinya papa Mecca terlalu menyayangi putirnya sehingga tidak tega ketika Mecca akan disuntik, jadi sebaiknya papa Mecca keluar dulu yaa, biar mama dan Mecca saja didalam," jelas sang perawat dengan senyum sopan.
Erwin mengangguk pelan setuju dengan sarab sang perwat.
" ah, baiklah..," sahutnya dengan pelan namu seketika tersadar.
" eh, tadi suster bilang apa?? siapa papa Mecca?," tanya Erwin bingung.
Suster pun kaget dan reflek menunjuk pada diri Erwin.
" anda papa Mecca kan??," tanya Suster.
Erwin terkaget.
" saya bukan papanya Mecca," sahut Erwin cepat sehingga membuat kaget dokter dan juga perawat tersebut.
Namun dengan cepat Marwah meraih lengan Erwin.
" bukan papa, tapi papi Mecca," sambung Marwah dengan mencoba tertawa garing.
" mas keluar dulu ya , biar Mecca sama mommy," ujar Marwah dengan cepat agar Erwin menyudahi ketegangan dalam ruang dokter itu.
🍃🍃🍃
Selang beberapa saat, terlihat Marwah keluar dengan mengendong Mecca yang menangis tersedu-sedu. Erwin pun reflek menghampiri Marwah dengan wajah cemas melihat pada baby Mecca yang menangis.
" gimana tadi??," tanya Erwin cemas.
" ya biasa mas, pasti nangis, namanya juga di suntik," sahut Marwah dengan mencoba menenangkan baby Mecca yang menangis.
" us..uss.., sayang, sayang anak mommy," ucap Marwah berusaha menenangkan baby Mecca.
" mas, tolong susu Mecca tadi donk, pasti gerah banget dia," ujar Marwah khawatri.
Erwin pun kaget.
" susu apa??," tanya Erwin bingung.
" ya ampun mas, susu Mecca tadi yang Marwah kasih sama mas sebelum mas keluar dari ruang dokter tadi, aduh cepetan," ujar Marwah panik.
" oh.." sahut Erwin dengan cepat mengingat botol susu Mecca yang masih hangat ia taruh didalam ransel bayi. Lalu ia buru-buru membuka tas ransel bayi dan seketika menemukan botol susu yang dimaksud yang kemudian langsung ia berikan pada Marwah.
Marwah pun menyambut dengan cepat botol susu tersebut dan segera memberikan pada baby Mecca. Dan benar saja, seketika rewel Mecca reda, terlihat bayi itu benar-benar haus, ia meminumnya dengan antusias.
Dan seketika Erwin dan Marwah menghela nafas panjang mereka bersamaan. Sehingga keduanya reflek melihat satu sama lain dengan lucu.
Erwin sukses tertawa kecil melihat tingkah nya yang kelabakan mengurus bayi.
" huuufft, ternyata ngurus bayi gak mudah yaa,"
Marwah reflek mengangguk tanda setuju.
" dan malam ini Marwah harus tidur sama Mecca," sahut ya pelan.
" mas kita duduk dulu yaa, " ucap Marwah yang merasa tangannya pegal mengendong Mecca.
Erwin mengangguk pelan, menyetujui saran Marwah.
Hingga akhirnya keduanya duduk di kursi tadi. Erwin melihat Marwah sedikit kesusahan.
" kamu kenapa??,"
" pegel mas," jawab Marwah pelan.
Mendengar hal itu Erwin mencoba menarik tas ransel bayi itu agar berada di atas pangkuannya sehingga sedikit lebih tinggi.
" coba siku kamu diatas sini," ucap Erwin dengan memberi arahan pada Marwah.
Marwah pun mengikuti arahan Erwin, ia menaruh siku kanannya diatas tas ransel sebagai sandaran sikunya. Dan benar, hal itu sedikit meringankan pegal lengan Marwah yang mengendong baby Mecca dengan posisi tidur.
Dan lagi-lagi Marwah dan Erwin menghela nafas panjang bersamaan. Namun hal itu sukses membuat mereka tertawa kecil melihat tingkah konyol mereka yang tiba-tiba jadi ortu dadakan untuk Mecca.
🍃🍃🍃
Setelah susu Mecca habis, keduanya pun berjalan meninggalkan lantai 3 itu untuk turun lantai dasar rumah sakit.
Namun ketika ditengah lobby rumah sakit langkah Marwah terhenti.
" mas," panggil Marwah.
" hmm," jawab Erwin seraya memperhatikan Marwah.
" bisa tolong gendong Mecca gak??, Marwah mau ke toilet sebentar," ucap Marwah menatap Erwin.
" oh, oke," sahut Erwin dengan bersiap menerima kain alas gendong Mecca yang ia ambil dari pundak Marwah dan ia pun mencoba menaruhnya di pundak nya.
Lalu ia bersiap menyambut baby Mecca yang sedikit anteng.
" Mecca sama om Erwin dulu yaa," ucap Marwah ketika memberikan Mecca pada Erwin. Lalu ia membantu Erwin menaruh tas ransel bayi kebawah..
" om?? papi donk," ujar Erwin dengan mencoba membenarkan posisi gendongan Mecca agar kepalanya bersandar pada pundaknya.
Marwah yang mendengar hal itu pun sedikit tersenyum lucu.
" cieee, papi.., " ujar Marwah dengan tertawa kecil lalu ia pun membalik kan badan seraya berjalan meninggalkan Erwin dan Mecca.
Ketika tinggal berdua Erwin yang mencoba mengusap-ngusap punggung Mecca dengan sayang, dan sesekali ia mencium Mecca yang harum wangi bayi.
" Lunara Mecca," panggilnya manja. Lalu Erwin mencoba berjalan-jalan kecil mengitari lobby rumah seraya mengusap punggung Mecca yang terlihat anteng di gendongannya.
" Mecca," panggil Erwin lagi dengan gemas memeluk Mecca.
Namun tak lama, ia mendengar namanya di panggil.
" Erwin !!," suara wanita paruh baya yang sangat familiar ditelingan Erwin , sehingga Erwin reflek berbalik badan.
" Mama??," ucapnya terkaget bukan kepalang.
Dan wajah nyonya Aritama pun tak kalah kagetnya melihat putranya sedang mengendong bayi perempuan yang mengemaskan.
" i..ini..," ucap nyonya Aritama terbatah ia tak bisa menjelaskan perasaannya saat ini antara kaget dan senang.
" mah, mama jangan salah paham dulu," sela Erwin seraya mendekat pada ibundanya yang terlihat syok berat.
" jangan salah paham gimana??, kamu tega-teganya gak bawa pulang cucu dan menantu mama yaa" sahut nyonya Aritama geram dan reflek memukul punggung putranya yang masih mengelak dari kenyataan.
Erwin syok mendengar perkataan ibundanya yang salah paham berat.
" cucu?? menantu??," sahut Erwin kaget.
Dan tak lama Mecca pun sontak menangis karena tangan nyonya Aritama tak sengaja mengena pada paha bekas suntik Mecca tadi yang masih sakit.
" ya ampun maah, Mecca jadi kaget kan?," ujar Erwin kelabakan menghadapi Mecca yang tiba-tiba menangis.
" aduuh sayang, maafin nenek yaa, cup..cup..," sahut nyonya Aritama yang reflek ikut mencoba menenangkan cucu barunya tersebut.
Namun tak lama, suara memanggil Mecca pun terdengar dari belakang punggung Erwin.
" ooh, sini..sini sayang anak mommy," ucap Marwah dengan berlari kecil mendekat pada Erwin.
mendengar ucapan itu, Nyonya Aritama yang sedari tadi berada di hadapan Erwin pun reflek mencari asal suara wanita muda yang datang dari arah belakang Erwin, dan seketika ia terpaku mendapat wajah cantik seorang wanita muda yang ternyata ibu dari bayi yang digendong putranya.
Erwin pun reflek berbalik dan menatap cemas pada wajah Marwah.
Marwah yang masih mencemaskan Mecca tak begitu paham arti raut wajah cemas Erwin.
" kenapa nangis anak mommy?? memang Mecca diapaian sama papi Erwin??," ucapnya spontan dengan mengambil Mecca dari tangan Erwin.
" jadi, kamu istri anak saya?," tebak nyonya Aritama dengan mengangetkan Marwah yang terpaku mendengar ucapan wanita paruh baya yang berdiri diantara dirinya dan Erwin.
__ADS_1