
Marwah dan Erwin kini berada pada sebuah cafe "Break time Coffie". Keduanya duduk di dekat jendela dengan menyuguhkan pemandangan jalan yang telah banyak berubah. Terlihat beberapa pohon besar yang mungkin dulu menjadi saksi bisu kejadian saat itu, pun masih berdiri tegak seolah merindangkan jalan itu agar tak gersang.
Dihadapan keduanya terdapat dua cangkir kopi hangat yang seolah menghangatkan indra perasa mereka.
Erwin terlihat bernelangsa jauh mengingat pada saat kejadian itu.
" gimana?? apa mas suka disini??," tanya Marwah membuyarkan lamunannya.
Erwin hanya mengangguk seraya meraih cangkir kopinya.
Marwah tersenyum simpul lalu perlahan ikut melihat pada jalan itu dengan dalam.
" setelah kejadian itu, Marwah gak pernah kesini bahkan Marwah pindah tempat les piano," ujar Marwah bernelangsa.
" papa sempat khawatir kalau Marwah akan trauma," jelasnya.
Erwin berpaling melihat pada Marwah.
" Tapi setelah pulang dari Prancis entah kenapa Marwah rindu tempat ini tanpa alasan, jadi terkadang hanya lewat untuk sekedar melihat tempat ini," tuturnya.
" apa mas gak pernah lewat tempat sini??," tanya Marwah.
Erwin bergeming dan reflek menggelengkan kepalanya.
" mas gak pernah lewat daerah sini, karena gak ada keperluan," ujar Erwin santai.
Marwah terhenyak lalu melihat sinis pada Erwin.
" dasar cowok, memangnya harus ada keperluan dulu baru lewat," ujar Marwah sebel seraya meriah tas nya.
Erwin tersenyum kecil.
" mas terlalu sibuk menata Aritama group, terkadang 1 hari 24 jam itu masih kurang," jelasnya.
" dasar cinta kerja," celetuknya seraya mengeluarkan toples kecil cookies dan sebuah kotak berisi cake lalu ia sodorkan pada Erwin.
" mungkin pas saat-saat itu mas sedang sibuk-sibuknya, tapi Marwah malah santai disini menikmati cookies ini sendiri dengan bertanya " kak Mummy itu, apa kabarnya yaa?," ujar Marwah seraya melihat pada Erwin yang memandang wajahnya dalam.
" dan Marwah selalu penasaran, apa mungkin bisa bertemu lagi?? disini?,"
Perlahan Erwin meraih jemari Marwah.
" maaf..," ujarnya seperti menyesal.
" padahal ada jalan termudah untuk cepat bisa bertemu dengan kamu lagi, " seraya membelai lembut jemari Marwah yang kini tersemat cincin pemberiannya.
Namun seketika Marwah tertawa kecil, sehingga Erwin pun melihat pada Marwah dengan heran.
" kenapa??,"
" ah, enggak.., kalau dipikir-pikir andai kata kita ketemu disini juga mungkin Marwah gak serta merta bakal kenal mas juga, secara waktu itu mas pasti galak banget, sombong lagi," celetuknya seraya membuka toples cookies itu dan mengambil satu cookeis havana tersebut lalu menyuapinya pada mulut Erwin.
Erwin terpaku pada Marwah.
" Tunggu, jangan-jangan kamu masih sakit hati karena pernah mas pecat waktu itu??,"
Marwah tertawa kecil mendengar ucapan Erwin yang sukses menebak.
" benar!!, mas kejam banget trus galak lagi, kayaknya kalau ketemu disini sosok kak Mummy gak bakal terbayang juga sama Marwah, " jelasnya seraya meraih satu cookies havana itu dan memakannya dengan melihat pada Erwin.
Erwin tak terpikir bahwa Marwah akan berkata seperti. Dan ia pun membenarkan helai rambut Marwah dengan lembut.
" mas begitu, sebagai jaga-jaga dari banyaknya wanita yang ingin dekat dengan mas," jelasnya santai.
Marwah terpaku seolah berpikir sesaat. Lalu seketika raut wajahnya berubah.
" boleh Marwah tanya sesuatu??,"
Erwin mengangguk cepat.
" kenapa Suci seperti itu?? dia.., bahkan dia menyangkal kalau mas dan dia adalah sepupu??," tanya Marwah serius.
Erwin terdiam sesaat, lalu ia pun menghela nafas panjangnya.
" mas dan Suci memang bukan sepupu,"
__ADS_1
Marwah terhenti ketika akan meraih lagi cookies havana tersebut.
" karena papanya adalah teman papa mas, namun karena kedekatan keduanya mereka berubah menjadi saudara angkat.., dan..," Erwin terhenti seolah tengah berpikir sebelum berbicara.
Marwah seolah menunggu.
" Dan setelah keluarga Aritama hancur, papa Suci lah yang berjasa membesarkan mas hingga mas bisa seperti sekarang," jelas Erwin berat.
Marwah kembali mengingat perkataan Suci ketika pertama kali mendapat ancaman, ketika ia masih belum begitu dekat dengan Erwin.d
" maaf.., jika Suci telah banyak membuat kamu terganggu," ujar Erwin ragu.
" entah sejak kapan Suci berubah menjadi seperti itu, awalnya mas tak peduli, tapi setelah kejadian waktu itu mas mulai waspada dengan Suci yang ternyata tak main-main,"
Marwah seolah penasaran.
" kejadian waktu itu???," tanya Marwah.
" tiga tahun yang lalu, setelah Suci selesai kuliah dia mas ijinkan magang dan akhirnya menjadikan Suci asisten dan tangan kanan mas pada saat itu,"
" tapi ternyata dia berubah menjadi pengendali seluruh karyawan wanita, bahkan terdapat peraturan tersembuyi sehingga banyak karyawan wanita sedikit demi sedikit dipecat tanpa sepengetahuan mas dan semua terjadi dengan diam-diam, hingga kejadian fatal akibat kecemburuannya yang tak bisa dimaafkan," jelas Erwin.
" Erika, asisten sekertaris Chandra harus kehilangan bayinya karena ulah Suci yang cemburu ketika mas menolong Erika,"
Marwah sedikit terkaget.
" berita itu sempat hangat di media massa, sehingga mencoreng nama perusahaan Aritama sebagai perusahaan yang tak layak untuk karyawan wanita," jelasnya seraya meraih cangkir kopi dan meyerutnya perlahan.
" terus..,"
" ya, perusahaan bertanggung jawab dengan insiden tersebut dan mas harus menanggung perbuatan Suci ," jawabnya santai.
" benar-benar gak percaya," ujar Marwah yang syok mendengar cerita Erwin.
" Setelah terjadi hal itu, mas menyuruh Suci untuk meninggalakan perusahaan Aritama dan bersekolah S2nya di Jogja, awalnya ia menolak, tapi paman berkeras ia harus meninggalakan perusahaan Aritama karena perbuatannya," jelas Erwin seraya menatap balik kedua bola mata Marwah yang serius.
Marwah diam seribu bahasa, tak dapat dibayangkan bagaimana Suci bisa melakukan hal tersebut.
" Sebenarnya Suci wanita yang baik, ia hanya butuh banyak perhatian dan kasih sayang, karena ia anak tunggal yang dibesarkan oleh seorang pria dingin seperti paman," Erwin seolah mengambarkan sisi Suci yang tak banyak orang tau.
" ketika mas bertemu dengan Suci pertama kali, hhmm.. usianya mungkin sama dengan kamu waktu itu, dia adalah seorang anak kecil yang pemurung, bahkan ia anak kecil yang tak bisa tersenyum selayak usianya," ujar Erwin mengingat.
" ternyata dia benar-benar perlu dikasihani," ujar Marwah seolah dapat merasakkan jika ia berada di posisi Suci.
Erwin sedikit heran dengan ucapan Marwah.
" kenapa kamu berpikir begitu???,"
" Hmmm, entah lah, rasanya Marwah jadi tau perasaan Suci sekarang," tuturnya sedikit sedih.
" mas gak percaya kamu bisa ngomong begini setelah diancam oleh Suci," ujar Erwin
" yaa memang sih Suci keterlaluan, tapi karena tau history nya begitu, jadi yaa wajar jika Suci jadi seorang yang protek ketika yang membuatnya nyaman harus hilang," jelas Marwah dengan menyerut kopinya yang mulai dingin.
Erwin terdecak terpercaya dengan pemikiran Marwah.
" jadi kamu ijin nie jika mas dibagi??," tanya Erwin sengaja.
Dan seketika Marwah tersedak mendengar ucapan Erwin.
" uhuk..uhuk..," Marwah terbatuk-batuk karena syok mendengar ucapan Erwin.
"GAK BOLEH," tukas Marwah marah seraya masih terbatuk-batuk dan hal itu sukses menbuat Erwin tertawa terbahak-bahak. Marwah terheran melihat Erwin tertawa lepas.
Karena kesal ia pun memberikan cubitan mematikan di pinggang pria yang menertawakan dirinya. Dan sontak tawa Erwin berubah erangan kesakitan.
" aaaau.., " erang Erwin dengan kaget.
" sakit sayang," ujar Erwin tak percaya Marwah tega mencubitnya sesakit ini.
" siapa suruh ngomong gitu," celetuk Marwah kesal dengan meminta air mineral pada pelayan cafe tersebut.
Erwin tertawa kecil melihat Marwah yang cemburu dengan pertanyaan nya tadi. Lalu dengan cepat ia meraih jemari Marwah dan membuat wanita itu pun bergeming melihat pada dirinya dengan dua alis berkedut.
" sejujurnya mas takut jika Suci menjahati kamu,"
Marwah terpaku.
" dia bisa saja mencelakai kamu tanpa sepengetahuan mas," ujarnya seraya mengusap lembut jemari Marwah seraya mengingat ketika mobil Suci hampir mencelakakan Marwah beberapa waktu yang lalu.
__ADS_1
" mas jangan khawatir," ucap Marwah menenangkan Erwin.
" Marwah gak gampang ditindas," tukasnya percaya diri.
Erwin menatap wajah Marwah yang seolah menangkan hatinya.
" apa disini tidak ada ruang tersembunyi??," tanya Erwin pada Marwah.
Marwah bingung.
" ruang tersembunyi??, untuk apa?,"
" rasanya mas ingin bercumbu dengan kamu sekarang," goda Erwin menatap Marwah.
Sontak Marwah terkaget dan sedikit salah tingkah mendengar ucapan Erwin yang membuatnya malu.
" iikh, mas ini.." elaknya dengan melepaskan tangannya dari Erwin.
Erwin sedikit tersenyum kecil melihat wajah Marwah yang bersemu merah karena ucapannya.
" kenapa?? kamu gak mau?," goda Erwin lagi.
Marwah tak menjawab tapi dari gelisah yang mengigit bibir bawahnya terbaca seolah wanita ini juga menginginkan hal yang sama dengan dirinya.
Lalu ia pun meraih jemari Marwah lagi sehingga Marwah terpaku.
" maaf karena, kita masih harus seperti ini, sampai masalah mas selesai..," ucap Erwin sedikit menyesal.
" gak papa, " sahut Marwah menenangkan Erwin.
" mas janji setelah ini mas akan balas dendam,"
" balas dendam??," ujar Marwah bingung dengan ucapan Erwin.
Seketika Erwin tersenyum usil pada Marwah yang berwajah bingung lalu ia membelai wajah Marwah dengan sayang.
" iyya mas bakal balas dendam sama kamu, "
" maksudnya apa sih mas??," tanya Marwah yabg tambah bingung dengan ucapan Erwin.
Lalu pelan ia bangun seraya sedikit menunduk dan mendekat pada sisi telinga Marwah.
" mas mau balas dendam bercumbu dengan kamu siang malam," bisik Erwin yang sukses membuat kedua mata Marwah melebar tak percaya dan tangan nya reflek menutup mulut yang terlihat syok mendengar ucapan Erwin yang mesum.
" ikh.. mas ini!!," ucap Marwah panik dengan ingin mencubit Erwin, namun tangannya dengan cepat ditahan oleh Erwin yang sukses tertawa lepas.
" jika kamu cubit mas, maka cubitan ini akan mas hitung dan akan mas balas dua kali lipat nanti.., diranjang," bisik Erwin yang lagi-lagi sukses mengoda dan membuat Marwah syok berat.
Marwah dengan cepat melepaskan tangan dari tangan Erwin dan dia pun memeluk dirinya sendiri dengan berinding seolah tak dapat membayangkan.
" bagaimana bisa mas berpikir begitu??," celetuk Marwah berinding geli.
" kenapa?? mas kan pria normal, " jawabnya santai seraya melihat pada jam tangannya yang ternyata sudah jam 6 sore.
Marwah melihat tajam pada Erwin sehingga Erwin relfek membalas tatapan Marwah.
" karena bagi mas, kamu adalah wanita yang mas ingin, memiliki kamu adalah pencapaian tertinggi yang mas banggakan, " ucap Erwin menatap kedua bola mata Marwah.
Marwah terdiam seribu kata ada rasa bahagia disana yang ia rasa ketika ucapan Erwin membuatnya menjadi wanita yang benar-benar dicintai.
" love you," bisik Marwah.
Erwin terpaku menatap Marwah lalu dengan cepat ia menjatuhkan ciuman sayang di kening Marwah.
" love you too" balas Erwin
" ehemm..," terdengar suara gumam seorang pria yang berdiri mematung di belakang keduannya.
Sehingga Erwin dan Marwah reflek menoleh.
" hhmm..,maaf mbak mas saya merusak momentnya, tapi ini makanannya dari tadi mau saya antar udah hampir dingin karena nugguin mbak dan mas udahan ," ujarnya dengan memperlihatkan nampan yang berisi dua piring makaroni pesanan mereka.
Erwin dan Marwah pun saling melihat dengan tiba-tiba tertawa lepas. Dan membuat si pelayan bingung.
" ya ampun mas, kita berdua udah kelaparan loh, kenapa baru di antar sekarang?," celetuka Marwah yang menbantu mengangkat piring macaroni itu dari nampan si pelayan.
" ah iyya mbak maaf, dari tadi kami melihat mbak dan mas kayak lagi serius jadi segan untuk mengganggu," jelas si pelayan.
__ADS_1