
Tepat dipukul 3 sore, Marwah yang terlihat tengah membereskan meja kerjanya pun terkaget dengan panggilan Sekertaris Chandra.
" Marwah??," panggil sekertaris chandra.
" YA," jawab Marwah terkaget, sehingga Sekertaris Chandra ikut terkaget dengan reaski Marwah.
" Kamu ??, kenapa sekaget itu," tanya Sekertaris Chandra bingung.
" ah, maaf mas, " ujar Marwah yang kaku.
" apa ada masalah??," tanya Sekertaris Chandra dengan melihat serius Marwah.
" mas chandra ada perlu apa tadi panggil Marwah??," tanya Marwah seolah mengalihkan permbicaraan.
" Oh, ini nomor media massa yang sering bekerja sama dengan kita, kamu bisa hubungi mereka kapan pun," jelas Sekertaris Chandra dengan memberikan dua kartu nama pada Marwah.
" Ah, makasih mas infonya," ucap Marwah datar. Dan seketika ia melihat pada Erwin yang tengah sibuk berbicara dengan telfon. Namun ia memilih untuk berjalan menuju pintu lift, dan tak sengaja berpas-pasan dengan Suci. Suci mencoba bertegur sapa dengan Marwah yang lewat menuju dalam lift, namun Marwah mengabaikan sapaan Suci dengan acuh.
" Waah, apa dia terlalu terkejut dengan kejadian tadi??," ujar Suci dengan wajah santai.
" Hhmm, bagus laah, semoga itu cukup jadi pelajaran," celetuk Suci dan ia pun kembali ke meja kerjanya dengan hati lega.
🍃🍃🍃
Di tokonya Marwah kembali dengan kehidupannya sebagai pembuat roti. Ia pun mulai fokus membuat kue-kue kering yang ia buat bersama beberapa pegawai toko.
Salwa dan Lily pun ikut ambil bagian dalam proses pembuatan kue kering tersebut. Suasana asyik itu pun tercipta. Marwah larut dalam dunianya, ia benar-benar merasa kembali pada kehidupannya sendiri. Hingga ia mengabaikan handphone nya yang sedari bergetar.
Hingga sore Marwah dan beberapa pegawau toko berhasil mengerjakan 15 toples kue kering dengan dua cookies berbeda.
Oat chocochips
Dan bangkit keju.
Sesaat Marwah merasa bahagia ketika menyusun kue-kue kering itu di rak kuenya. Ada rasa bahagia yang selama ini begitu ia rindukan.
" Mbak, kok tumben buat kue kering sebanyak ini??," tanya Lily yang ikut membantu Marwah menyusun toples kue kering itu.
" iyya donk, mbak liat rak kue kering udah banyak kosong, makanya mbak buat, " ujarnya Marwah santai seraya memoto toples kue kering itu dan ia mempostingnya diakun dr. Dessert.
Terlihat wajah berbinar-binar Marwah yang bahagia ketika postingannya itu mendapat respon dari beberapa pelanggan yang menunggu kue kering itu ready kembali.
" Tuh liat, ada beberapa pelanggan yang udah rindu sama rasa kue kering ini, " ujar Marwah dengan menunjukkan layar handphone nya pada Lily.
Namun, tiba-tiba handphone Marwah terlihat berganti layar dengan masuknya telfon dari Erwin. Sehingga Marwah sedikit kaget.
Dengan sedikit menghela nafas panjangnya ia pun mengangkat telfon tersebut dengan memberi kode pada Lily untuk melanjutkan menyusun toples kue kering itu.
" hallo?"
" akhirnya kamu mengangkat telfon dariku, kamu kemana saja??," terdengar suara Erwin seolah lega mendapat jawaban dari Marwah.
" Maaf, " balas Marwah datar.
" kamu kenapa??, apa sesuatu terjadi?," tanya Erwin.
" Ah, enggak," jawab Marwah yang kemudian menuju rumah atasnya dengan sedikit lelah lalu berjalan pada sofa didepan tvnya.
Namun terdengar dari telfon Erwin suara sekertaris Chandra yang meminta izin pulang. Marwah mendengarkan percakapan singkat Erwin dan Sekertaris Chandra yang mengatakan semua jadwal rapat pria ini yang terdengar padat untuk beberapa hari kedepan. Dan berselang beberapa menit percakapan itu pun hilang.
" ternyata jadwal mas benar-benar padat yaa?" ujar Marwah dengan melihat sekilas pada jendela atasnya.
" kenapa?, apa kamu mau mas ubah jadwalnya, agar kita bisa pergi kencan??," tanya Erwin serius.
__ADS_1
Seketika terdengan tawa kecil Marwah.
" Gak ah, " ujarnya dengan sengaja.
" kenapa??, bukan kah setiap pasangan harus punya waktu kencan??," tanya Erwin serius.
" Gak ah, soalnya gak asyik jalan sama mas " celetuk Marwah dengan tertawa kecil membayangkan ekspresi Erwin jika mendengar penolakan dari dirinya.
" Waah , kamu benar-benar yaa??, baru kali ini mas dibilang gak asyik," ujarnya tak percaya.
lalu terbayang oleh Marwah ketika jalan bersama Erwin sewaktu di mini mall itu. Ia malah jadi pusat perhatian karena berjalan dengan Erwin yang memperlakukannya bak putri raja. Tampa sadar ia tersenyum lucu mengingatnya.
Namun tiba-tiba.
" Marwah, mas angkat telfon rekanan mas dulu yaa," ujar Erwin serius.
" oh oke, " balas Marwah datar.
" aku mencintaimu, Marwah," ujar Erwin.
Deg, jantung Marwah pun berdebar mendengar ucapan cinta dari Erwin. Namun entah mengapa bibirnya kaku untuk membalas ucapan itu.
Dan tak lama, komunikasi itu pun terputus. Lalu Marwah pun menghela nafas panjangnya seolah ada hal yang memberatkan hatinya.
Seketika ancaman Suci tadi terbayang dengan jelas dibenaknya. Hingga ia pun bangun dari sofa seraya berjalan turun kembali kebawah toko, untuk menghilangkan kekhawatirannya sendiri akan ancaman Suci.
🍃🍃🍃
Malam harinya dijam 9, setelah aktifitas toko yang mulai menyusun sisa-sisa roti yang belum terjual tinggal beberapa keranjang lagi.
Beberapa pegawai toko pun sudah ada yang izin pulang lebih awal. Salwa dan Lily pun ikut pulang lebih awal karena Marwah merasa keduanya pasti lelah dan belum beristirahat dengan benar.
" Lily pulang dulu yaa mbak," ujar Lily yang membuka celemek dr. Dessert dan mengambil tasnya pada brangkas pegawai yang disediakan toko dr. Dessert untuk menaruh tas para pegawai pada saat bekerja.
" Hhmm, makasih ya Lily, hati-hati dijalanyaa," ucap Marwah dengan ikut berjalan bersama Lily menuju pintu toko untuk keluar.
" mbak, bahan untuk buat red velvetnya udah Salwa taruh dimeja semua yaa, tinggal telur aja yang masih di raknya," jelas Salwa santai.
" oh, makasihnyaa Salwa," ucap Marwah.
" mbak??, kenapa gak besok aja buat cake red velvetnya?? kan Lily masih mau belajar lagi gimana step by stepnya," ujar Lily serius.
" mumpung ada waktu, makanya mbak kerja untuk buat cake premiumnya, lagian malam ini cuma buat dua cake red velvet aja, besok pagi kita buat avocado dessert kalau kamu mau," ujar Marwah.
" Waah mau banget mbak, Salwa belum dapat tuh resep yang avocado dessertnya, " sela Salwa senang.
" Oke deh, kalau gitu besok yaa kita buat avocado dessert 30 box," ujar Marwah jadi semangat.
" ya udah mbak, kami pulang dulu ya," ucap Lily dengan berjalan menuju parkiran motor nya yang berbarengan dengan Salwa. Dan tak berselang lama keduanya pun berjalan hingga tak terlihat lagi oleh pandangan Marwah.
Marwah pun termenung dengan berdiri luar toko dengan memandang jalan dan perlahan rintik hujan turun seolah menjadikan suasana malam itu sedikit dingin dengan aroma aspal yang basah mulai basah.
" Hujan," ujarnya dengan tangan menegadah ke langit seolah menunggu rintik hujan itu benar-benar turun. Lalu sesaat ia menghela nafas panjangnya.
" Hhuufft, kenapa rasa khawatir ini gak mau hilang yaa??," gumamnya dengan nada cemas. Dan tiba-tiba terbayang wajah Erwin dengan senyum hangat dipenak Marwah.
" aku mencintaimu, Marwah" Erwin.
Kata-kata itu seolah terniang di kepala Marwah. Dan seketika ia tersenyum mengingatnya. Lalu ketika Marwah akan masuk kedalam tokonya, tiba-tiba terlihat sebuah mobil mewah yang masuk dalam parkiran depan toko berhenti dengan sorot lampu mobil yang terang mengarah pada Marwah yang terlihat silau pada cahaya lampu itu.
Tak lama, perlahan si pemilik mobil itu pun turun dan berjalan ke hadapan Marwah. Marwah pun terlihat terpaku.
" Mas Erwin," bisiknya dengan melihat pada Erwin yang berjalan dengan senyum hangat pada dirinya.
Kini pria itu berhenti tepat dihadapannya yang terpaku.
" apa kamu memang menunggu ke datanganku ??," tanya Erwin dengan menatap wajah Marwah.
__ADS_1
Namun tampa sempat Marwah menjawab, Erwin dengan cepat meraih tubuh Marwah dan memeluknya dengan hangat.
" Aku merindukan mu," ujarnya Erwin dengan manja, lalu mencium rambut Marwah yang wangi lavender. Sesaat Marwah yang sedikit terkaget, namun perlahan tangannya membalas pelukan hangat Erwin dengan hangat. Dan ia pun menghirup aroma tubuh Erwin yang seketika menangkan gelisahnya.
" apa mas capek??".
" hhhmm," gumam Erwin dengan memeluk erat tubuh Marwah.
" ini semua gara-gara sekertaris Cha," ujar nya ngambek.
Dan sesaat Marwah tersenyum lucu, pria ini benar-benar seperti anak kecil yang manja.
" mau Marwah buatkan coklat hangat???," tanya Marwah dan keduannya mereraikan pelukan.
Dan sesaat Erwin melihat pada jam tangannya.
" apa masih bisa memesannya dijam segini??," tanya Erwin dengan memandang wajah Marwah dengan senyum.
Marwah tersenyum lalu mengangguk pelan, dan ia pun meraih jemari Erwin lalu menarik pria manja itu untuk masuk kedalam.
" Mas tunggu disini yaa, " ujarnya pada Erwin dengan menuntun pria ini untuk duduk disofa cafe.
Erwin mengikuti arahan Marwah, ia duduk di sofa besar dengan menghadapi pada mini bar cafe.
" tunggu sebentar ya," ujar Marwah lagi, lalu ia pun berlalu menuju mini bar cafe untuk membuat coklat hangat.
" Marwah??," panggil Erwin.
" ya," .
" bagaimana mana kamu bisa menyusun konsep seperti tadi??," tanya Erwin yang memandang Marwah dari jauh.
" kenapa??, apa terlalu simpel??," tanya Marwah yang serius memanaskan air hangat. Lalu ia mengeluarkan cangkir bulat warna merah dan beberapa sendok kecil diatas meja.
" enggak, itu ide terbaik yang pernak mas dengar," ujar Erwin puas.
Marwah pun seketika tersenyum, ternyata pekerjaannya benar-benar membuahkan hasil. Lalu perlahan ia mulai meracik coklat hangat dengan menambahkan sedikit susu full crem, agar manisnya pas. Dan selang beberapa menit Marwah pun telah selesai menyelesaikan secangkir coklat hangatnya. Lalu berlahan ia membawa cangkir coklat itu dengan nampan menuju tempat duduk Erwin.
Namun diluar dugaan, Marwah terkaget ketika melihat Erwin tengah tertidur dengan tangan kanan memegang handphone nya. Marwah tersenyum, lalu ia meletakkan nampan itu dihadapan meja Erwin.
" sepertiya mas benar-benar lelah ya??," gumam Marwah dengan perlahan mencoba mengambil handphone dari tangan Erwin yang terlihat hampir terjatuh, lalu meletakkannya diatas meja.
Tampa sadar ia memandang dalam wajah Erwin yang tenang. Namun seketika Marwah hendak berjalan menginggalkan Erwin. Tapi tiba-tiba kedua mata Erwin terbuka, dan meraih lengan Marwah yang terkaget lalu terhenti dengan wajah ya melihat kembali pada Erwin.
" Lihat mas??".
Marwah terdiam dan memandang wajah Erwin dengan kaget.
" bisakah kamu cintai mas," pinta Erwin dengan menjatuhkan Marwah diatas pangkuannya. Dan Marwah seolah terpaku mendengar permintaan Erwin.
" mas," ucap Marwah ragu dengan memandang dua bola mata Erwin yang serius.
" mas merasa seperti tak ada dihati kamu, dan seolah kamu akan pergi meninggalkan mas," .
Perlahan tangan Marwah menyentuh dada Erwin dengan lembut.
" Marwah disini," ucapnya pelan.
Dan seketika Erwin menghelan nafas panjangnya.
" jangan pernah berpikir untuk meninggalkan mas, percaya pada mas, mas benar-benar mencintai kamu," ujar Erwin dengan berat.
Marwah terteguh, seolah kata-kata Erwin benar-benar menenangkan hatinya dan ia pun tersenyum, lalu ia mengangkat tangannya mencoba menyentuh wajah Erwin. Dan dengan cepat ia menjatuhkan ciuman kilat dibibir Erwin.
" Marwah juga mencintai mas," ucapnya pelan.
Mendengarkan hal itu, Erwin dengan instingnya mencium kembali bibir Marwah yang ranum. Marwah pun tak menolak akan ciuman hangat itu. Keduanya pun saling berpangutan hangat dengan saliva mereka pun saling bercampur.
__ADS_1
Namun, jauh dilubuk hati Marwah kini ia merasa yakin, bahwa kekhawatirannya tadi benar-benar tak beralasan. Mungkin ancaman Suci benar, tapi pada kenyataanya Erwin membuatnya percaya bahwa pria ini tak akan meninggalkan dirinya.