Come A Closer Love

Come A Closer Love
87


__ADS_3

Butuh 1 jam untuk Marwah menyiapkan masakan spaghetti untuk Erwin yang terlihat sabar menunggu Marwah menghidangkan masakannya.


" ini spaghetti sederhana," ucap Marwah seraya menaruh piring dihadapan Erwin.


Erwin terlihat menyambut dengan tersenyum simpul.


" makasih sayang," balas Erwin dengan meraih jemari Marwah.


Marwah terhenti menatap wajah Erwin yang terlihat lelah.


" maaf yaa, Marwah cuma masak spaghetti aja,"


Erwin tersenyum simpul kembali seraya meraih sendok garpu yang berada di piring tersebut.


" ini pasti enak,"


Marwah meraih kursi di samping Erwin dan mencoba untuk duduk mendekat disisi pria ini.


Terlihat Erwin menyantap dengan antusias.


" gimana??," ..


" hmm,.. tapi..," jawab Erwin dengan menguyah pelan


" tapi apa?," tanya Marwah cepat.


" rasanya beda,"


" kenapa?? apa terlalu asin yaa?," tebak Marwah dengan wajah penasaran.


Namun Erwin tak menjawab, ia malah kembali memakan kembali spaghetti tersebut, sehingga Marwah pun jadi penasaran. Dengan cepat ia meraih tangan Erwin yang memegang sendok garpu lalu mencoba mengambil sedikit spaghetti tersebut dan memakannya perlahan.


Dan terlihat wajah Marwah sedikit sukar.


" ah, benar ini agak sedikit asin," ucapnya gusar.


" udah mas, jangan dimakan lagi," larang Marwah pada Erwin yang masih akan melanjutkan makannya.


" rasanya gak buruk kok," ucap Erwin dengan berpura-pura sedikit memejamkan mata seolah merasakan masakan itu benar-benar tidak enak.


Marwah melihat dengan geram lalu dengan cepat memukul bahu Erwin dengan sengaja.


Plak..


" ish, bilang aja kalau memang gak enak," seru Marwah yang cemberut.


Namun tiba-tiba Erwin menjatuhkan sendok garpunya, dan tertunduk kesakitan.


Marwah memandang dengan wajah tak percaya.


" lebay deh," ucapnya ketus dengan melihat pada Erwin yang masih menahan sakit.


Dan sesekali terdengar suara desiran kecil dari bibir Erwin yang menahan sakit kepala nya yang tiba-tiba kembali muncul.


" mas, jangan becanda ," ucap Marwah yang melihat serius pada Erwin dan mencoba meraih pundak pria itu yang masih tertunduk.


" mas," seru Marwah cemas.


" mas, kenapa??, apa ada yang sakit??," serunya dengan turun menunduk mencoba melihat pada wajah Erwin.


" se..sebentar," desir kesakitan Erwin dengan memegang kepalanya sesaat.


Marwah terperanjah kaget melihat Erwin kesakitan yang tak main-main.


" mas, kita kerumah sakit," seru Marwah panik dengan memegang wajah Erwin yang sedikit berkeringat.


Namun Erwin meraih jemari Marwah dan Marwah menatap dengan wajah cemas.


" mas hanya perlu istirahat," ucap Erwin pelan.


🍃🍃🍃


Selang beberapa saat, Erwin yang kini terlihat seperti biasa setelah rasa sakit kepalanya hilang. Marwah yang duduk di samping Erwin terus menatap serius pada pria yang terlihat santai memakan cookies coklat dr. Dessert.


" udaah donk liatinnya" seru Erwin dengan menutup toples mini cookies coklat tersebut.


" mas benar-benar gak papa," sambungnya lagi dengan menatap wajah cemas Marwah yang terus memperhatikan dirinya.


Terdengar hela nafas panjang Marwah.


" maaf ya," ucap Erwin dengan meriah jemari Marwah.


" apa mas sering sakit kepala seperti itu??," tanya Marwah cemas.


" hmm, belakangan lumayan sering,"


Wajah kaget Marwah kian terlihat.


" sering??,"


" ya, mungkin migrain" jawab Erwin santai.


Marwah menatap dengan wajah tak percaya.


" migrain??," sahut Marwah mencoba berpikir sejenak.


" jangan cemas, sakit kepala hal yang biasa, apa lagi kalau berurusan dengan hal kantor, sakit kepala itu sering muncul," ucap Erwin mencoba menyudahi pembahasan sakitnya.


Marwah berdecak tak percaya.


" tapi sakit kepala mas kayaknya gak biasa," ucap Marwah masih terlihat cemas.


Erwin tersenyum kecil.


" mas paling tau diri mas, asalkan istirahat sebentar dan..," ucapnya seraya merebahkan diri dipangkuan Marwah.


" dan cukup tidur di sini, pasti mas segera baikkan," ucapnya dengan meraih jemari Marwah untuk mengusap kepalanya.


Marwah menghela nafas panjangnya.


" huuffft, mas tau?? mas itu paling bandel!!," ucap Marwah pelan.


" bandel?? tapi suka kan??," ucap Erwin dengan sedikit tertawa kecil mengoda Marwah.


Marwah pun terpancing ikut tertawa kecil. Lalu jemarinya pun perlahan mengusap dengan sayang pada kepala Erwin. Sesaat Erwin merasakan nyaman dan tenang berada di pangkuan Marwah.


" mas,"


" hmm" gumam Erwin dengan matanya tertutup menikmati sentuhan lembut jemari Marwah di kepalanya.


" bagaimana dengan masalah perusahaan?," tanya Marwah ragu.


Sesaat Erwin membuka matanya dan menatap nanar pada layar TV yang tak menyala.


" entah lah," jawab Erwin berat.

__ADS_1


" Bagaimana dengan perusahaan Atmadja??" tanya Marwah kembali lebih detail.


Erwin bergeming perlahan ia pun bangun dari pangkuan Marwah.


" kamu tau??,"


" ah enggak begitu paham, tapi mas Chandra sempat bilang bahwa perusahaan paman mas menarik semua sahamnya dari Aritama," jelas Marwah


Erwin tersenyum simpul.


" hhmm, resiko berbisnis," jawabnya santai.


" apa tidak ada solusi lain??" tanya Marwah kembali.


Mendengar hal itu Erwin hanya menghela nafas panjang.


" mungkin ada, tapi mas lagi malas berpikir, " jawab Erwin dengan perlahan bangun dari duduk nya.


Marwah terlihat bingung.


" mas mau kemana??," tanya Marwah seraya ikut bangun.


" mas harus pulang, karena kamu pasti mau istirahat," ucapnya dengan memandang wajah Marwah, lalu jemarinya menyentuh wajah Marwah dengan sayang.


" besok mas jemput kamu,"


Perlahan Marwah menarik tangan Erwin dari wajahnya.


" jangan pulang," pinta Marwah berbisik.


" hmm??," Erwin tak benar-benar mendengar dengan jelas.


" bermalam disini saja," pinta Marwah kembali dengan memegang tangan Erwin.


Erwin terkaget.


" ka.., kamu serius??," ucap Erwin tak percaya seraya mencoba melihat pada wajah Marwah.


" iyya, tapi mas tidur di sofa," jawab Marwah cepat seraya tersenyum usil.


" hah??," sahut Erwin


" tega kamu," ucap Erwin dengan wajah cemberut.


Dan seketika Marwah tertawa lepas. Sehingga Erwin melihat dengan terkesima, lalu dengan instingnya ia meraih pinggang Marwah dan menarik tubuh wanita itu sehingga mendekat pada dirinya. Sehingga Marwah terkaget dan menahan tangan di dada Erwin.


" mas,"


" kamu harus bertanggung jawab jika mengundang mas tidur disini," ucapnya berbisik dan perlahan ia menjatuhkan ciuman di bibir Marwah yang ranum.


Marwah terkesiap menerima ciuman dari Erwin. Namun perlahan ia pun membalas pangutan ciuman Erwin dengan dalam, lembut jemari Marwah merangkul pada tengkuk Erwin itu seraya membelai lembut rambut pria tampan itu.


Namun sesaat Marwah merasa ada yang beda, dan perlahan ia menyudahi ciumannya dari Erwin, hingga Erwin sedikit kecewa dan binging ketika Marwah menyudahi ciuman mereka.


" mas?? mas merokok yaa?," tebak Marwah dengan nafas masih menderu di hadapan Erwin.


Dan Erwin terkaget.


" kok kamu bisa tau??,"


" gak enak, pahit," celetuk Marwah cemberut.


Seketika Erwin tertawa terbahak-bahak.


" waaah, mas harus lebih hati-hati ini nie," ujarnya dengan mencium sekilas bibir Marwah yang cemberut.


Erwin mengangguk pelan.


" maaf, terkadang mas merokok.. yaa jika pikiran lagi ruwet," jelasnya tanpa melepaskan pelukannya dari pinggang Marwah.


" ooh!!," seru Marwah mengangguk.


" tapi tetap gak boleh," ucap Marwah memperingatkan.


Dan lagi-lagi Erwin tertawa mendengar larangan Marwah.


" kok ketawa sih??, ini tuh serius mas," ujar Marwah kembali dengan Erwin yang terus tertawa.


" kamu pasti kaget, mas dapat ilmu begini juga bukan dari orang sembarangan loh," ucap Erwin mencoba serius.


" maksudnya??"


" mas tau ilmu begini itu dari papa kamu, dr. Evan," sebut Erwin memandang wajah kaget Marwah.


" HAH?," sahut Marwah kaget tak percaya.


" masa sih?? gak mungkin, seumur-umur papa gak pernah merokok," ucap Marwah yakin.


" tuh, kamu gak percaya kan?," seru Erwin kembali dengan merenggangkan pelukkannya.


" jelas lah gak percaya, memang kapan mas lihat papa merokok??," tanya Marwah.


" naah, jadi penasaran kan?," serunya seraya menarik Marwah untuk duduk kembali di sofa.


" ya penasaran laah," sahut Marwah nyolot.


Erwin tersenyum kecil. Lalu meraih jemari Marwah untuk ia pengan.


Flash Back On


Malam itu setelah hujan mereda, seorang anak laki-laki tanggung berjalan perlahan menuju rooftop rumah sakit. Ini kali ketiga ia berani naik keatas gedung rumah sakit demi untuk melihat pemandangan indah malah hari kota Jakarta.


Erwin muda pun kembali terkesima dengan indah nya pemandangan ibu kota dimalam hari. Ia tersenyum lebar dan menghidup udara lembab yang segar.


Sesaat ia bernelangsa jauh mengenang seorang wanita muda yang tergeletak jatuh bersimbah darah di hadapannya. Dan seorang anak laki-laki tanggung seusia dirinya berteriak histeris.


" andai tante Sari masih disini, mungkin dia akan marahin Toni," gumamnya dalam hati dengan sedih.


Sesaat ia menghela nafas panjangnya yang berat seolah beban penyesalannya begitu menyesakkan. Namun Erwin terusik ketika mendengar suara seorang pria tengah berbicara.


" hmm, iyya sayang, maaf yaa mama papa masih harus dirumah sakit, baik-baik sama bibik yaa," ucap pria dengan tangannya mengurut dahi dan terlihat sepuntung rokok tersemat disana.


" love you Safa, love you Marwah," dan pembicaran itu pun terputus dengan bersamaan hela nafas pria itu seakan lelah.


Erwin terpaku melihat pada sosok pria tersebut yang dengan santai menghisap kembali rokoknya.


Sadar akan diperhatikan, pria itu pun dengan santai menoleh pada Erwin. Dan tersenyum pada dirinya dengan wajah santai.


" oh, kamu rupanya," ucap dr. Evan santai seraya melonggarkan dasinya.


" dokter kok bisa ada disini??," tanya Erwin seraya mendekat.


dr. Evan hanya tersenyum sekilas seraya menarik lagi puntung rokoknya lalu membuangnya keudara.


" harusnya itu pertanyaan saya, kenapa kamu bisa ada disini??," tanya dr. Evan pada Erwin lalu ia menlambaikan tangannya untuk menyuruh Erwin duduk disampinnya.

__ADS_1


Dengan patuh Erwin mengikuti instruksi dr. Evan untuk duduk di tepi beton yang sedikit berjarak dengan pembatas pagar tepi gedung. Terlihat dr. Evan membantu Erwin untuk bisa duduk dengan kakinya yang masih memakain tongkat dan gips.


" kaki kamu sudah baikan??," tanya dr. Evan dengan memperhatikan kaki Erwin.


" hmm sudah jauh lebih baik dokter, dr. Fauzi rajin memantau," jelas Erwin.


" bagus lah, lagipula kamu masih muda, jadi pemulihan jauh lebih cepat," sahut dr. Evan dengan kembali menghisap rokoknya.


Erwin terpaku dan ia tak menapik jika kaget melihat sosok lain dari dr. Evan.


" kamu mau coba??," tawar dr. Evan.


" memang boleh??," tanya Erwin kaget.


" cobalah, karena jika saya larang pasti kamu akan cari kesempatan lain untuk mencobanya?," ucap dr. Evan dengan memberikan kotak rokok dan mancis miliknya pada Erwin.


Erwin terpaku menerima dua benda itu, baru kali ini ada seorang pria yang dengan terang-terangan menawarkan rokok pada dirinya.


Erwin terlihat ragu, namun rasa penasarannya jauh lebih besar dari rasa takutnya. Dan dengan menelan salivannya perlahan ia pun mengambil satu batang rokok dari dalam kotak lalu menariknya seraya meraih mancis.


Melihat gerakan Erwin yang terbatas, dr. Evan meraih mancis dari tangan Erwin dan membantu nya untuk membakar rokok tersebut.


Ketika rokok itu terbakar dan Erwin mencoba menghirup asapnya, spontan ia terbatuk-batuk mendapatkan rasa asap yang pahit dan susah untuk dijelaskan ketika asap itu masuk kedalam tenggorokannya.


Uhuk..uhuk..,ukhuk.., Erwin terbatuk-batuk dengan bersusah payah mencoba menahan rasa tak enak pada rongga dadanya.


dr. Evan tertawa kecil seraya menepuk-nepuk punggung Erwin.


" bagaimana?? masih mau lanjut??," ujar dr. Evan menantang Erwin.


Erwin menjawab dengan anggukan, dan sedikit demi sedikit mencoba berlatih kembali mencoba menghisap rokok. Dan kali kedua ia pun terbatuk-batuk lagi..


Uhuk..uhuk.., ukhuk..,


Hingga akhirnya di tarikan rokok yang ke empat, Erwin mulai terbiasa dengan asap rokok yang memenuhi rongga dadanya.


dr. Evan tersenyum kecil, lalu kembali ia menghisap rokoknya yang kedua dengan di temani Erwin yang masih pemula.


Sesaat keheningan dan kepulan asap rokok yang menemani mereka berdua yang larut dalam pikiran masing-masing.


Dan terdengar hela nafas panjang dr. Evan yang berat sehingga Erwin bergeming.


" berapa umur kamu??,"


" 17 tahun,"


dr. Evan mengangguk.


" hhmm masih sangat muda," sahut dr. Evan.


" lalu apa masalah kamu dengan mereka??," tanya dr. Evan.


" siapa??,"


" preman yang memukul kamu" sahut dr. Evan.


" oh, itu sepupu saya, dia membayar orang untuk membunuh saya"


" Hah?," dr. Evan terkaget.


" ternyata masalah kamu lebih berat," celetuk dr. Evan melucu mendengar ucapan Erwin yang berlebihan.


" ini serius dokter,"


" tidak akan selesai masalah dengan hanya membunuh, justru itu menambah masalah, rentetannya bakal panjang, dikejar-kejar polisi belum lagi masuk penjara dengan hukuman seumur hidup," jelas dr. Evan.


Erwin terdiam, tapi nyatanya sepupunya itu memang menginginkan dirinya mati.


" kadang kata maaf tak bisa membawa kembali hal yang telah hilang," ucap Erwin


" memang," sahut dr. Evan.


" tapi dengan membunuh bukan ujung dari penyelesaiannya" sambung dr. Evan dengan menatap serius pada Erwin.


" kamu masih terlalu muda, hidup mu masih panjang, dan kamu harus kuat, karena beban pria jauh lebih berat," nasehat dr. Evan pada Erwin.


" jika para wanita di takdirkan untuk merasak sakit ketika melahirkan, maka Tuhan berlaku adil dengan pria harus menanggung beratnya beban hidup jadi pria harus lebih kuat dua kali lipat dari wanita," jelasnya lagi.


Erwin terpaku dengan nasehat dr. Evan.


" memang tidak mudah, " sambung dr. Evan dengan nada berat.


" seperti sekarang ini, aku harus berpikir keras di antara dua nyawa yang aku sayang, di satu sisi aku adalah suami yang tak ingin kehilangan istri tercinta, di sisi lain aku adalah seorang ayah yang juga ingin memeluk bayi yang belum lahir itu" ucapnya berat seraya menghela nafas panjangnya.


" bahkan ilmu ku pun tak bisa aku gunakan saat ini," ujarnya penuh sesal.


Erwin terdiam dengan hanya jadi teman curhat dr. Evan yang tak bisa dibayangkan ternyata seorang dokter memiliki titik terlemahnya.


" apa istri anda tau??,"


" tidak, ia hamil dengan komplikasi, ditambah dengan tubuhnya yang lemah jadi ia harus bad rest total dan saat ini aku harus membuat satu keputusan yang berat,"


" apa??," tanya Erwin penasaran.


" kehilangan dua-duanya atau memilih salah satu," jawab dr. Evan berat.


Erwin terkaget dan seketika ia teringat akan wajah Marwah yang selalu bercertia akan mama Wulan. Sungguh ini ujian terberat bagi seorang pria, pikir Erwin yang mencoba mengerti sisi pria dewasa dari dr. Evan yang kesehariannya terkenal akan kebaikan dan ramahnya.


Tiba-tiba terdengar suara deringan handphone milik dr. Evan, yang membuat mereka terusik. Dan dr. Evan segera mengangkat telfon tersebut dengan antusias.


" ya sayang," jawab dr. Evan lembut.


" hmm, baiklah, mas akan segera kembali," ucapnya dengan terbingkai senyum disana seraya komunikasi itu pun terputus.


Terlihat dr. Evan mematikan putung rokoknya segera dengan menginjaknya. Lalu dengan cepat ia merogoh saku celananya dan memakan dua buah permen.


Erwin melihat dengan bingung.


" ini cara untuk menghilangkan aroma rokok dimulut," jelas dr. Evan.


" satu lagi tolong jangan beri tahu Marwah soal ini," ucap dr. Evan dengan menunjuk rokok Erwin.


" baik dokter, ini akan saya rahasiakan,"


" bagus," sahut dr. Evan mantap.


" dan aku mengajari mu ini bukan untuk kamu hisap setiap saat, tapi gunakan ini jika otak mu sudah tak bisa berpikir, karena merenung sejenak itu jauh lebih baik untuk otak pria, semoga kamu jadi pria yang tangguh juga kuat," ucap dr. Evan seraya menepuk pundak Erwin.


" ingat nasehat itu," seru dr. Evan tegas.


" baik dokter, terima kasih banyak, dan saya doakan semoga dokter membuat keputusan yang baik," ucap Erwin.


Dan dr. Evan membalas dengan memberi jempol pada Erwin seraya berjalan meninggalkan Erwin dengan rokoknya yang masih menyala.


Sepeninggalan dr. Evan, Erwin hanya duduk termenung dengan memengan mancus dan kotak rokok peninggalan dr. Evan yang tak ia hisap lagi. Karena baginya nasehat dr. Evan benar-benar mengena didirinya sebagai seorang pria. Seolah nasehat dr. Evan menguatkan jiwa dan membuka pikirannya.

__ADS_1


Kenangan itu tak akan pernah Erwin lupa sampai kapan pun hingga dirinya tumbuh dewasa.


__ADS_2