
Hampir satu minggu berlalu, rutinitas Marwah tetap seperti biasa menjalani dua perannya yang sangat padat. Dibeberapa kesempatan Suci pun ikut turun membantu Marwah walau dengan setengah hati.
" kamu sengaja yaa??, kenapa kamu kasih tugas yang buat aku harus bolak balik naik lantai lift," ujar Suci kesal.
Terlihat sekertaris Chandra kaget melihat Suci kesal pada Marwah yang malah tersenyum dengan omelan Suci yang terbebani dengan tugasnya yang kian bertambah.
" yang suruh kamu bolak balik baik lift siapa??, kamu kan bisa gunakan fasilitas telfon kantor yang ada dimeja kamu untuk hubungi bagian personalia dan promosi , terus minta setiap file dikirim ke email kamu kan??," jelas Marwah simpel dan santai.
Suci pun terhenyak, dia terkaget dengan penjelasan Marwah yang sesimpel itu malah tak terpikir olehnya.
Seketika Suci kepalang malu, ia benar-benar terlihat tak profesional dalam mengemban tugas yang semudah itu.
Dan tiba-tiba terdengan tawa kecil dari sekertaris Chandra yang menertawakan Suci, sehingga Suci pun kesal dan menatap tajam pada Sekertaris Chandra.
" gak usah ketawa deh mas Chandra!!, bikin sebel aja," ujar Suci dengan ngedumel dan bibirnya jadi ikutan mayun karena malu. Lalu ia pun mengambil dokumen diatas meja Marwah dengan kesal seraya berlalu menuju meja kerjanya.
" Sial!!, sok pinter kamu Marwah, awas aja tunggu waktunya pasti aku balas," ujar Suci benar-bener dongkol.
Lalu ia meraih handphone dan kembali mencoba menghubungi Erwin yang hampir 1 minggu ini tak masuk kantor. Namun untuk kesekian kalinya telfon itu tak diangkat.
" ssst.., mas Erwin kemana sih???," ujarnya dengan penasaran. Lalu tiba-tiba ia ingat sesuatu lalu kembali menelfon seraya menduga-duga pasti orang ini tau mas Erwin kemana. Dan ia pun menjatuhkan targetnya pada Nyonya Aritama orang yang pasti tau gerak gerik anaknya ini. Seperti dugaan tante Indah pasti mengangkat telfonnya dengan senang.
" Hallo Suci,"
" Hallo tante, apa kabar??," jawab Suci senang.
" Tante baik, kamu kok gak main lagi kerumah sih?, apa sibuk yaa??," tanya tante Intan .
" Ah, iyya tante maaf yaa, belakangan memang sedikit sibuk, karena harus kejar waktu untuk pembukaan hotel mas Erwin" jelasnya.
" ooh iyya ya," sahut tante Intan.
" Tante, mas Erwin ada dirumah gak??," tanya Suci cepat.
" Erwin?, gak ada??? bukannya dia lagi di Surabaya?," jawan tante Intan yakin.
" Surabaya??," jawab Suci bingung.
" Iyya, kenapa Suci??," tanya Intan bingung melihat nada jawab Suci kaget.
" Ah, enggak papa tante, cuma karena ada urusan kantor jadi perlu mas Erwin," alasan Suci.
" Oh, kan kamu bisa telfon ke handphone nya Erwin??" jelas tante Intan.
" ah, iyya tante makasih yaa infonya, maaf ini Suci tutup dulu yaa telfonnya," ujar Suci buru-buru dengan tak mendengarkan ucapan tante Intan lagi.
Dan terlihat Suci terbengong.
" Mas Erwin di Surabaya?? ssst.., jangan-jangan pasti kerumah deh, ketemu sama Papi," ujarnya yang seketika berbinar-binar.
🍃🍃🍃
Namun disisi lain, sekertaris Chandra sedikit bertanya-tanya dengan kekesalan Suci yang terlalu berlebihan pada Marwah tadi.
__ADS_1
Dan Marwah yang merasa diperhatikan pum sedikit risih.
" kenapa mas Chandra??," tanya Marwah dengan melihat kesamping yang terlihat Sekertaris Chandra seperti sedang berpikir.
" Hhmm, kamu apa ada terjadi sesuatu dengan Suci??," tanya Sekertaris Chandra dengan sedikit penasaran.
Marwah sedikit kaget.
" enggak kok, kenapa??".
" Ssst, tadi sepertinya Suci benar-benar kesal sama kamu Marwah".
Marwah hanya tersenyum kecil.
" wajar sih, yaa mungkin dia gak terbiasa kerja dibawah tekanan, " terang Marwah dengan meraih mouse komputernya untuk membuka email masuk.
" Dia memang manja dan sedikit egois," sahut Sekertaris Chandra cepat.
Marwah sedikit menoleh pada Sekertaria Chandra dengan bingung.
" kok mas bisa tau Suci itu manja???".
Sekertaris Chandra sedikit kaget dengan pertanyaan Marwah.
" ah, itu..," jawab Sekertaris Chandra sedikit ragu dan sedikit salah tingkah.
" jangan-jangan, mas??, suka Suci ya???," tebak Marwah dengan mimik wajah tersenyum jahil.
Sekertaris Chandra pura-pura mengambil tabnya dan mulai serius menatap layar tab seolah mengabaikan pertanyaan Marwah.
Sekertaris Chandra terkaget. Namun ia memilih tak mengubris ucapan Marwah agar terhindar dari kecurigaan Marwah yang hampir mendekati benar.
🍃🍃🍃
Hari itu Marwah pulang jam 4 sore, setelah membereskan beberapa hal dengan perusahaan yang merekrut pegawai untuk hotel.
Jadwal interview pun telah ditetapkan sekitar minggu depan, dihari kamis dan akan dilanksanakan diaula kantor Aritama.
Setiba di toko dr. Dessert Marwah terkaget dengan adanya sebuah kotak hitam di dalam rumah atasnya. Perlahan setelah menaruh tasnya, ia mencoba membuka kotak hitam itu dengan penasaran.Dan betapa terkejutnya ketika melihat sekotak mawar merah yang baru mekar terrangkai cantik.
Dan tak sengaja ia menemukan sepucuk surat kecil di dalamnya. Perlahan ia meraih dan membula surat tersebut.
" hai, Cantik..!!, aku kangen kamu," Erwin.
Sekilas Marwah jadi tersenyum, ia tak menyangka bahwa sipengirim adalah mas Erwin. Memang benar, sudah dua hari ini pria itu tidak menelfon dirinya. Dan pria ini malah mengirim sekotak bunga mawar merah yang meluluhkan hati Marwah.
Lalu tampa pikir panjang, ia pun meraih tasnya dan mengeluarkan handphone nya dan membuka layar pesan yang ia tuju untuk Erwin.
Namun baru ia ingin mengetik, tiba-tiba sebuah telfon dengan nomor asing masuk. Dan dengan ragu Marwah mengangkatnya.
" Hallo?,".
__ADS_1
" Marwah," terdengar suara pria yang tak asing dengan nada kesedihan.
" mas Dimas??," bisik Marwah.
" maaf jika mas telfon kamu , mungkin kamu sibuk," ujar mas Dimas dengan ragu. Dan terlihat Marwah malas untuk meladenin.
" tolong unt..,"
" bisakah kamu kerumah sakit, sekarang??," pinta mas Dimas dengan cepat dan suara frustasinya.
" Sisil.., Sisil baru saja kehilangan bayinya dan dia kritis..," ujar mas Dimas dengan frustasi dan sesekali terdengar isakan dari pria itu.
Marwah terhenti, ia terlihat syok mendengar ucapan mas Dimas.
" dimana??," tanya Marwah dingin.
Setelah mendengar alamat rumah sakitnya, tampa pikir panjang Marwah pun bangun dengan bersegera turun dari rumah atasnya.
Terlihat beberapa terkaget melihat Marwah yabg terburu-buru turun dengan wajah pucat.
" mbak Marwah kenapa yaa??," tanya salah satu pegawai pada Lily.
" gak tau, baru juga pulang kan tadi," jawab Lily yang sama penasarannya.
🍃🍃🍃
Setibanya Marwah di salah satu rumah sakit swasta, terlihat Marwah terburu-buru menuju pusat informasi rumah sakit dan menanyakan pasien bernama Sisilia Atmaja yang ternyata kini dirawat diruangan ICU.
Dengan langkah cepat Marwah mencari ruang ICU tersebut , dan langkahnya terhenti ketika melihat sosok pria yang kini tertunduk lesu dengan wajah cemasnya.
Perlahan Marwah mendekat pada Dimas yang bergeming ketika melihat sosok Marwah kini berada dihadapannya.
" Marwah," ujar Dimas parau.
" akhirnya kamu datang, mas..,"
" Cukup.., jangan salah mengartikan, karena aku datang hanya sebagai rasa kemanusiaan bukan untuk memperbaiki apa yang telah rusak, " ujar Marwah dingin.
Dimas terdiam, rasa senangnya tadi seketika sirna.
" maaf, Sisil ada didalam bersama kakaknya," jelas Dimas.
Pelahan Marwah masuk kedalam ruang ICU yang ternyata terdapat dua bad dengan dipisah oleh tirai dan terdapat dua perawat berjaga disana.
Dengan ragu Marwah masuk kedalam dan merasakan bau obat dan dingingnya ruangan ICU tersebut.
Langkahnya pun terhenti pada bad yang terlihat Sisil kini terbaring lemah dengan alat bantu di tubuhnya. Marwah terpaku dengan mencoba menelan salivanya yang ia rasa pahit.
" Marwah," panggil seorang wanita muda yang matanya terlihat sembab.
" Kak Syarla," balas Marwah ragu. Dengan tampa ragu wanita muda itu berjalan lalu memeluk tubuh Marwah dan ia menumpahkan tangisannya dipelukan Marwah.
" Sisil.., sisil harus kehilangan bayi dan rahimnya..," ujar kak Syarla dengan tangisnya.
__ADS_1
Marwah terdiam, tubuhnya mematung mendengar ucapan kakak kandung Sisil.