
Dalam perjalanan terlihat Erwin dengan serius menyetir. Sesekali Erwin melihat pada Marwah yang terlihat tak begitu sehat. Lalu ia pun mempercepat laju mobilnya dan tak lama, mobil mewah Erwin memasuki area parkir sebuah gedung apartemen mewah.
Marwah melihat dengan tak asing.
" kenapa kesini?," tanya Marwah.
Erwin tak menjawab, hingga mobilnya pun berhenti dengan pas di parkirannya.
" kamu harus istirahat," ujar Erwin lalu turun dari mobilnya meninggalkan bingung pada Marwah.
Lalu tak lama Erwin membantu Marwah membukakkan pintu mobil untuk turun.
" ayo turun," ujar Erwin dengan mengulurkan tangannya pada Marwah yang terlihat ragu.
" mas, Marwah..,"
" mau jalan atau mas gendong??" tanya Erwin serius pada Marwah yang terlihat cerewet.
Marwah mengidik kaget.
" ja.., jalan..," jawab Marwah seketika.
Seketika Erwin tersenyum mendengar pilihan Marwah. Dan Marwah pun turun dengan cepat, lalu keduanya pun berjalan memasuki gedung apartemen Erwin .
Hingga langkah mereka pun berhenti pada pintu apartemen Erwin. Setelah menekan tombol kunci masuk, pintu itu pun terbuka. Marwah masuk dengan perlahan, dan seolah seperti mengingat kembali kejadian beberapa waktu yang lalu ketika ia memaksakan diri untuk membalas budi pada Erwin yang telah menolong dirinya dan bagaimana semua terikat dengan kontrak kerja.
Perlahan langkahnya terhenti, dan terkaget melihat Sofa yang berada diruangan TV tersebut.
" itu??," ujar Marwah yang mengingat sofa yang mirip milik sofa hotel Sunrise, tempat dimana ia dan Erwin pertama kali menjadi dekat satu sama lain, bahkan tidur bersama.
" kamu ingat ??," tanya Erwin dengan berjalan ke dapur dan mengambil air putih dan sebuah kotak putih dari lemari dapurnya, lalu berjalan kembali pada Marwah dengan meletakkan dua benda tadi di atas meja sofa TV.
" mas, kenapa sofa itu disini??, apa?? apa sofa itu jadi kotor karena baju basah Marwah waktu itu??," tanya Marwah yang mengingat bahwa sofa itu harusnya bersih.
Erwin tersenyum lalu membuka jaket kulitnya dan menaruhnya asal pada sofa lain.
" enggak, mas sengaja membawanya pulang,"
Marwah melihat pada Erwin dengan wajah penuh tanda tanya. Namun Erwin malah meraih bahu Marwah dan menuntun wanita itu untuk duduk disofa tersebut dengan dirinya.
" ini kenangan kita, jadi mas gak mau berbagi dengan orang lain," ujarnya dengan memandang wajah Marwah.
Marwah terpaku.
" karena disaat itu hati mas yakin, bahwa wanita yang mas cari itu adalah kamu, Marwah..," ujarnya serius.
Deg, jantung Marwah berdebar hangat. Ia pun seolah dapat merasakan keseriusan perkataan Erwin.
Namun tiba-tiba Erwin bangun dari sofa untuk mengambil air putih dan membuka kotak putih lalu kembali pada Marwah dengan menyerahkan dua hal tersebut pada Marwah yang masih terpaku.
" minum ini, dan istirahatlah..".
" mas..,"
" istirahatlah disini, kamu benar-benar terlihat pucat," ujar Erwin khawatir.
Seolah terhipnotis dengan sorot mata khawatir Erwin, perlahan Marwah pun mengambil dua obat dari tangan Erwin dan meraih air putih itu dengan segera meminumnya.
Setelah Marwah meminum obat tersebut, Erwin berjalan kedalam salah satu kamar dan kembali dengan membawa bantal dan selimut untuk Marwah.
" Tidurlah," ujar Erwin dengan menyuruh Marwah rebahan. Dan Marwah benar-benar menurut saja perkata Erwin, karena ia merasa tak bisa membantah perkataan Erwin dengan dirinya yang benar-benar lelah. Erwin tersenyum dan bangun seraya menyelimuti tubuh Marwah.
Erwin menjatuhkan ciuman di kepala Marwah lalu membelainya dengan sayang.
" tidurlah," ujar Erwin lembut, lalu perlahan kedua mata Marwah pun terpejam.
" Makasih ya mas," ucap Marwah pelan dan tertidur.
Erwin memandang dalam wajah Marwah yang tertidur. Dan seketika ia mengingat kembali kejadian tadi yang nyaris mencelakakan Marwah.
" Suci??," gumam batinnya dengan kesal.
🍃🍃🍃
__ADS_1
Diaula besar itu, terlihat gadis kecil berambut panjang dengan serius menekan tuts piano dengan lirik lagu selamat ulang tahun. Dan terlihat anak laki-laki tanggung itu mendengar untuk kesekian kalinya dengan menahan bosannya.
" sudah 10 kali, apa gak ada lagu lain??," keluh anak laki-laki itu dengan menghela nafas panjangnya.
Marwah tersenyum kecil.
" bosan tau, bagus juga dikamar tidur ," celetuk anak laki-laki bete.
" ikkh, kak Mummy, jahat banget sih," ujar Marwah kecil jadi cemberut.
" habis lagunya itu terus dari tadi," jawabnya kesal.
Marwah cemberut. Dan anak laki-laki tanggung yang tadinya cuek jadi sedikit bergeming ketika melihat sorot mata sedih gadis kecil itu.
" kamu kenapa??".
" besok ulang tahun Marwah dan kak Safa, tapi semua kayak gak inget," jelas Marwah sedih.
" oh jadi besok kamu ulang tahun??".
" iyya, biasanya 1 minggu sebelum ulang tahun udah keliatan bakal dirayain sama mama papa, tapi kali ini beda, papa sibuk sama mama yang mau punya adik bayi, kak Safa juga malah mau aja ikut pergi sama mommy," jelasnya yang murung.
Anak laki-laki itu terlihat bingung dengan ucapan Marwah.
" kamu ini anak siapa sih?? mama?? mommy??, memangnya kamu punya berapa orang tua ??" tanya anak laki-laki itu bingung.
" ikh, ya dua lah," jawab Marwah polos.
" terus mama?? mommy siapa??,"
" mommy itu ibu kandung Marwah, tapi mama itu mama baru Marwah yang gak lama lagi mau kasih adik bayi buat kita," jelasnya polos.
" oooooohh, jadi kamu punya mama tiri??," seketika ngeh ucapan anak kecil itu.
" ya wajar laah," sambungnya enteng.
Marwah kecil bingung dan tak paham.
" males ah, Marwah gak suka sama mommy" ujarnya polos.
Anak laki-laki itu pun terkaget dengan ucapan Marwah yang tak menyukai ibu kandungnya.
" kecil-kecil hidup kamu ribet juga yaa," ujarnya tak habis pikir.
Marwah cemberut dan tak paham.
" padahal besok Marwah mau kasih liat sama mama papa kalau Marwah udah bisa main piano kayak kak Safa, tapi mama malah jatuh sakit dan harus terus-terusan dirumah sakit terus gak dibolehin banyak gerak sama papa, karena mama dan adek bayi gak benar-benar sehat," ujarnya dengan menjatuhkan air mata.
Anak laki-laki itu terteguh, lalu tangannya reflek membelai dengan sayang kepala Marwah yang tertunduk sedih.
" kamu jangan sedih gitu, orang tua kamu gak mungkin lupa, yakin mereka pasti inget ulang tahun kamu, cuma yaa karena kondisi mama tiri kamu lagi sakit aja," ujarnya memenangkan.
Marwah kecil tetap diam dan air mata sedihnya tetap mengalir dengan terus jatuh di pipinya. Anak laki-laki itu pu menghela nafas lalu tanganya reflek menghapus air mata Marwah.
" udah ah, jangan nangis, jelek tau..," celetuknya dengan mimik mengejek.
Mendengar hal itu Marwah kecil pun kesal dan dengan cepat tangan kecilnya mencubit paha anak laki-laki itu mengerang kesakitan.
" aaa..,aaa.., aampun, ampun..," pekiknya kesakitan seraya mengosok bekas cubitan tangan Marwah.
" ckck..,kecil-kecil sadis juga ya kamu," celetuknya heran.
" siapa suruh bilang Marwah jelek," balas Marwah cemberut dengan menghampus air matanya dan bangun dari tempat bangku piano itu.
" besok.., kamu mau kado apa??" tanya anak laki-laki itu yang mengagetkan Marwah kecil.
dan berbalik melihat pada anak laki-laki tanggung itu dengan serius.
" apa aja..," jawab Marwah kecil dengan serius.
" bener nie?? apa aja??," tanya anak laki-laki itu menyakinkan Marwah kecil.
Marwah kecil mengangguk pelan dan terlihat senyum senangnya disana.
__ADS_1
" janji??," ucap Marwah dengan mengulurkan jari kelingkingnya untuk membuat janji dengan anak laki-laki tanggung ini.
Anak laki-laki itu melihat dengan wajah acuh tak acuh.
" dasar anak kecil, apa-apa kudu janji kelingking?" celetuknya malas.
" ya sapa tau kak mummy ingkar,"
" gak bakalan..," sahut anak laki-laki itu dengan mencubit sekilas pipi Marwah.
Namun yang dicubit malah diam saja, lalu Marwah melepaskan jam tangan kecilnya lalu seketika meraih lengan anak laki-laki itu dan memasangkan jam tangan miliknya disana.
" ngapain kamu??," tanya anak laki-laki itu bingung.
" ini biar kakak inget kalau besok ada janji dengan Marwah, dijam ini, Marwah tunggu kak Mummy disini, besok..," ucapnya seraya selesai memasangkan jam tangan purpelnya disana.
Anak laki-laki itu pun terlihat menertawakan dirinya sendiri yang bisa-bisanya mau direpotkan oleh permintaan anak kecil ini.
Dan Marwah kecil pun ikut tertawa lucu melihat jam miliknya dipakai oleh kak Mummy.
Anak laki-laki itu pun terpaku melihat tawa Marwah kecil, lalu reflek membelai kepala Marwah dengan sayang.
" Dasar anak kecil, ngerepotin aja..," celetuknya sayang.
Perlahan, Marwah membuka matanya.
" dasar tukang bohong," ucapnya yang seketika tersadar melihat sekeliling dengan beda. Dan reflek bangun dengan terkejut mendapatkan dirinya kini berada diatas kasur besar. Sontak ia duduk dan memegang badannya dan ternyata masih berpakaian lengkap. Seketika ia merasa lega dengan menghela nafas panjangnya.
" bikin jantungan aja, " ucapnya dengan memegang dada lalu kemudian ia pun membuka selimut tebal itu dan turun dari tempat tidur.
Lalu berjalan dengan melihat sekitar kamar dan terlihat dari jendela sudah gelap. Dan ia pun terkaget, lalu reflek melihat pada jam tangannya, seketika ia pun terkejut.
" udah jam 8 malam ternyata," ucapnya. Namun ketika akan melangkah untuk menuju daun pintu kamar, tak sengaja Marwah melihat meja kerja Erwin yang tertata rapi dengan laptop dan lampu kerja menyala disana.
" benar-benar cinta kerja," celetuknya. Tapi ada satu hal yang membuat Marwah tertarik, disebelah laptop Erwin terlihat kotak bekal yang tak asing dimata Marwah. Perlahan ia coba mendekat pada meja kerja Erwin dan Marwah pun terpaku seraya mengambil kotak bekal purpel dengan inisial M disana.
Tiba-tiba, terdengar pintu kamar terbuka pelan. Erwin masuk perlahan dan melihat ternyata Marwah telah bangun.
" kamu udah bangun," ucapnya dengan menghidupkan sakelar lampu disisi dinding pintu. Tapi Erwin terkejut ketika melihat Marwah berdiri dengan memegang kotak bekal purpel itu di tangannya.
" bagaimana kotak ini bisa disini??" tanya Marwah.
Perlahan Erwin berjalan mendekat pada Marwah yang kini melihat tajam pada dirinya. Dan ia meraih kotak bekal itu dari tangan Marwah.
" Hhmm.., kamu ingat??, pernah menolong seorang anak laki-laki yang sekarat dihajar oleh preman dan diselamatkan oleh gadis kecil yang berhasil memanggil orang sekitar." ucap Erwin dengan membuka kotak bekal tersebut.
Marwah terpaku, kenangan dirinya kecil dulu pun terbayang kembali.
Perlahan Erwin mengembalikan kotak bekal yang terbuka itu pada Marwah. Dan terlihat jam tangan kesayangan miliknya dulu juga beberapa jepitan rambut dengan warna senada disana.
" dan anak laki-laki itu adalah aku, kak Mummy," ujar nya dengan memandang wajah Marwah yang terlihat terkejut.
Marwah bergeming, seolah sulit menerima kenyataan yang ia dengar dari Erwin.
" jangan bercanda !!," ujar Marwah ragu.
Erwin meraih tangan Marwah dan menariknya hingga menyentuh kepala belakang Erwin, dan membuat tangan Marwah untuk meraba bekas jahitan dikepala belankangnya. Dan Marwah terhenyak ketika merasa tangannya menyentuh bekas jahitan itu.
" kalau bukan karena kamu, mungkin kak Mummy itu sudah lama mati dan tak akan bisa berdiri dihadapan kamu sekarang," ucap Erwin serius menatap wajah Marwah yang kini sejajar dengan dirinya yang sedikit turun agar tangan Marwah dapat mengapai kepalanya.
Marwah reflek menarik tangannya dan seketika air mata Marwah jatuh.
" maaf, waktu itu kak Mummy gak tepati janji diulang tahun kamu, "ujar Erwin menyesal.
Marwah terlihat sulit menerima.
" Walau terlambat, tapi kali ini kak Mummy akan penuhi semua janjinya dulu sama kamu sekarang," ujar Erwin dengan mencoba meraih Marwah kedalam pelukkannya.
Marwah diam seribu bahasa , ada rasa yang sulit ia gambarkan. Betapa orang yang ingin ia jumpai dulu, kini kembali dengan mengejutkan dirinya. Dan ia benar-benar kehilangan kata-kata bahwa anak laki-laki itu adalah Erwin Aritama.
" jahat.., !!" lirih Marwah menangis.
" Maaf.., waktu itu hal besar terjadi dikeluarga, dan tak ada waktu untuk memberi tau kamu yang masih kecil itu," ujar Erwin tersenyum senang, karena gadis kecil ini kini sudah jadi miliknya.
__ADS_1