Come A Closer Love

Come A Closer Love
45


__ADS_3

Siang itu, ketika seluruh karyawan termasuk sekertaris Chandra pergi untuk makan siang. Marwah malah terlihat masih stay dimeja kerjanya dengan sebuah kotak dr. Dessert disana. Ia dengan serius mengerjakan pekerjaan yang besok akan dibawa dihadapan Erwin.


Dan Erwin pun, terlihat masih dengan kertas-kertas yang belum selesai ia periksa, ia masih sibuk menelfon seseorang dengan serius dari handphone nya. Hingga ia bangun dari kursinya dengan berjalan menuju gantungan jas nya yang berada disisi kanan dan meraih jas seraya berjalan keluar ruangan nya.


Ketika ia melangkah keluar ruangan , Erwin terkaget mendapatkan Marwah yang masih terduduk didepan layar komputer nya. Lalu ia berjalan mendekati meja Marwah yang terlihat tengah mengigit sandwich dimulutnya.


" kenapa kamu masih disini???" ujar Erwin yang mengangetkan Marwah dan reflek bangun melihat pada Erwin yang berada didepan mejanya.


" Ah, Direktur, " ucap Marwah yang kaget.


" kamu gak makan siang??"


" Hhmm, enggak, sudah ada ini, " jawab Marwah dengan memperlihatkan sandwich ditangannya.


Erwin memperhatikan Marwah, namun tanpa berpikir panjang ia mendekat pada meja Marwah lalu meraih tangan Marwah yang tengah memegang sandwich dan menariknya mengarahkan ke kemulut Erwin. Marwah mematung.


" Direktur!!" ucap Marwah yang syok akan tingkah Erwin yang spontan.


Erwin pun berhasil mengigit separuh sandwich itu dan mulutnya mengunyah dengan menganggukkan kepalanya dan merasa bahwa sandwich itu sangat enak.


" Ini enak, terima kasih !!" ujar Erwin santai lalu meninggalkan Marwah yang masih berdiri bengong seraya memandang aneh pada sikap Erwin pada dirinya.


" huft, apa Direktur sakit ??, bagaimana bisa dia berbuat begini!!" ujar Marwah bertanya-tanya, lalu tanpa sadar menghabiskan sandwich bekas gigitan Erwin, dan tiba-tiba ia tersadar.


" apa yang terjadi pada dirimu Marwah !!" rutu nya dengan masih tak percaya.


Dan Marwah pun kembali larut membuat pekerjaannya dengan serius. Hingga tepat jam setengah 3 ia pun bersiap-siap untuk pulang lebih awal.


🍃🍃🍃


Ketika Marwah pulang ke tokonya, terlihat mama Wulan masih berada disana dengan ramah menyambut pelanggan. Marwah tersenyum senang ketika melihat sosok mama Wulan yang masih berada di toko, dan dengan reflek memeluk tubuh wanita yang kini semakin tua.


" kamu udah pulang??? gimana dikantor??" sambut mama Wulan dengan penuh hangat.


" Hhmm, lancar " jawab Marwah singkat.


Mama Wulan hanya mengusap kepala anaknya.


" ya udah, kamu mandi dulu yaa, sebentar lagi kak Safa datang sama Mecca ".


" kak Safa??? Mecca??" Marwah terlihat senang, lalu melonggarkan pelukannya.


" kalau gitu, Marwah ke atas dulu ya mah, " ujarnya seraya berjalan cepat dan menyapa beberapa karyawannya lalu naik kerumah atasnya.


Dan ia pun bersegera membersihkan dirinya, dan berpakaian santai agar nanti bisa menggendong Mecca dengan leluasa.


Lalu tak lama, ia pun turun kebawah tokonya, dengan menghampiri dapur roti, yang terlihat dua karyawan tengah menimbang bahan untuk membuat kue. Dan dengan santai Marwah pun ikut bergabung membuat roti tersebut. Hingga tak terasa mereka pun asyik dengan obrolan riang.


Dan ketika roti itu akan dimasukkan kedalam oven, kak Safa pun datang dengan membawa Mecca dalam gendongan.


Terlihat mama Wulan menyambut cucunya yang semakin hari semakin sehat dan menggemaskan. Tak ayal Mecca pun jadi rebutan para karyawan wanita yang gemas akan lucunya Mecca yang terlihat dalam pertumbuhan yang baik.


" Mah, Marwah mana??" tanya Safa pada mama Wulan.


" ada, didapur roti, kayaknya udah siap gulen rotinya, mas Daniel mu mana??" tanya mama Wulan dengan menggendong Mecca.


" Ah, mas Daniel mungkin malam baru kemari mah, ".


" oh, ya udah kamu taruh tas Mecca dulu diatas yaa" ujar mama Wulan mengingatkan Safa yang terlihat berat membawa tas bayi milik Mecca.


Safa tersenyum, dan kemudian ia berlalu menuju rumah atas Marwah dan tak sengaja bertemu dengan Marwah yang tengah menghitung-hitung jumlah roti.


" eh kak??, kapan sampai?? Mecca mana??" tanya Marwah spontan.


" ada tuh sama mama didepan, gue taruk tas Mecca dulu ya " ujarnya yang meninggalkan Marwah yang kembali menghitung rotinya.


Da tak berselang lama, Safa turun dengan santai menggulung rambut panjangnya keatas ala cepol.


" gimana??" tanya Safa pada Marwah yang tau cerita tadi pagi dari WA mama, yang jadi ikut terseret karena tak memberi tau keadaan Marwah yang sebenarnya pada kedua orang tua mereka.


" ya, gak usah gue cerita deh papa marahnya gimana, " ujar nya dengan membuka approve miliknya dan meletakknya di meja dapur.


Safa mengusap punggung adiknya dengan sayang.


" tapi kamu baik-baik aja kan??" ..


Marwah mengangguk pelan dengan menyenderkan pinggangnya pada tepi meja sebagau penopang tubuhnya.


" ah, Marwah sempat kaget liat papa marah, tapi yaa benar sih Marwah salah " ujarnya yang tak bisa membayangkan kembali marahnya papa Evan yang hampir tak pernah marah sedari dulu.


Safa dengan sayang memeluk Marwah seperti memberi semangat.


" semoga kedepan kamu lebih baik lagi" ujar Safa.


" makasih ya kak, selalu ada " balas Marwah. Dan tak berselang lama terdengar suara oven berbunyi bahwa roti telah matang.


Ting..

__ADS_1


Dan refleks Marwah mererai pelukannya kak Safa, dan melihat oven ukuran besar, dan tersenyum dengan puas karena roti-rotinya matang dengan sempurna.


" Kakak bantu yaa, " ujar Safa yang ikut membantu membuka pintu oven besar tersebut, dan mengeluarkan loyang roti dengan hati-hati.


🍃🍃🍃


Disisi lain, terlihat Erwin kini berada diruang kerjanya dengan terpaku melihat pada meja kerja Marwah yang kosong. Lalu tak berselang lama ia menghela nafasnya seolah menyadari dirinya sendiri karena terus melamun.


" huuuffft, apa yang aku pikirkan??" ucapnya dengan kembali meraih pulpen untuk memberi tanda tangannya. Namun tak berselang lama, terdengar ketukan pintu dari ruangannya yang ternyata sekertaris Chandra yang kemudian masuk dan berjalan menuju meja kerja Erwin.


" pak, sudah sore, saya pamit pulang, " ujar Sekertaris Chandra dengan telah siap.


Erwin hanya melihat pada Sekertaris Chandra sekilas dan mengangguk memberi ijin pada Sekertaris Chandra untuk segera pulang.


" kalau begitu saya pulang, " ujar Sekertaris Chandra yang kemudian berbalik badan dan berjalan.


Namun, tiba-tiba Erwin tersadar.


" Sekertaris Cha !!" panggil nya yang membuat langkah sekertaris Chandra pun terhenti seketika.


" ya ".


Erwin terlihat berpikir dengan ragu.


" Hhmm, kamu tau alamat toko Marwah??" tanya Erwin.


Sekertaris Chandra terkaget mendengar pertanyaan bosnya ini.


" ya, didaerah Xxx Bloc E pertokoan " jawab Sekertaris Chandra cepat.


Erwin mengangguk dengan berpikir.


" kenapa??"


" Ah, bukan, aku hanya ingin membahas hal penting, " elak Erwin yang menjawab ragu.


" oh, kenapa tidak telfon saja " ujar Sekertaris Chandra santai tanpa mencurigai Erwin.


Erwin seolah menolak didikte oleh sekertaris Chandra.


" bukankah kamu mau pulang?? udah sana pulang !!" ujar Erwin yang kesal dengan ucapan menggurui Sekertaris Chandra.


Sekertaris Chandra terkaget ketika di usir bosnya dengan aneh.


" Ah, iyya, ijin pulang pak !!" ucapnya Sekertaris Chandra yang reflek kembali berjalan meninggalkan Erwin diruangannya.


Dan ketika berada di parkiran kantornya, dengan membuka pintu mobilnya. Lalu membawa mobil mewah itu pelan ke tujuan dr. Dessert.


🍃🍃🍃


Ketika tiba di depan toko dr. Dessert, Erwin terlihat memperhatikan aktifitas toko itu yang terlihat lenggang. Dan dengan menghela nafas panjangnya, akhirnya turun untuk masuk ke dalam toko yang terlihat rak-rak roti tersusun rapi disana.


Ketika membuka pedal pintu toko, tercium aroma roti yang menggoda indra penciuman Erwin. Sesaat ia terteguh melihat suasana toko yang nyaman. Dan ia pun masuk berlahan dengan melihat sekeliling mencari sosok yang ia cari, Marwah.


Dan seketika kedua matanya jatuh pada sosok yang ia cari, yang kini tengah menyusun roti di rak kiri dengan gulungan rambut sehingga memperlihatkan tengkuk indah wanita itu. Sesaat Erwin tersenyum senang karena menemukan sosok yang ia cari. Berlahan langkahnya menuju wanita itu yang dengan serius menghitung rotinya.


Terdengar suara hitungan wanita itu dengan serius.


" 33, 34, 35..," hitung nya dengan berbisik. Dan Erwin dengan santai menjatuhkan rangkulan tangannya pada pundak wanita yang terlihat setengah menunduk pada rak roti.


" hari ini, roti apa yang paling enak??" ujarnya seraya tersenyum usil dan memandang wajah wanita yang terlihat melihatnya dengan wajah terkaget dan kesal.


" anda??? anda siapa??" tanya wanita itu dengan bingung dengan sikap Erwin yang merangkulnya dengan tidak sopan.


Erwin memandang dengan bingung pada wanita yang memiliki suara berbeda dengan yang ia kenal.


" Direktur!!" panggil suara wanita yang Erwin kenal dan reflek menoleh pada sisi kanannya. Dan betapa terkejutnya Erwin, ketika kedua mata Erwin melihat sosok Marwah ada dua. Yang berada didekatnya melihat dengan wajah bingung, sedangkan yang satu melihatnya dengan kaget.


" Sayang ??" panggil seorang pria yang memanggil dengan syok melihat istrinya tengah dirangkul seorang pria asing.


" mas Daniel??" ucap Safa dengan melepaskan rangkulan tangan Erwin, dan berjalan menyambut suaminya dengan memeluk erat.


Terlihat Marwah mendekat pada Erwin yang terpaku.


" Direktur?? anda..??" tanya Marwah ragu pada Erwin yang masih tak percaya melihat Marwah ada dua.


" kamu?? Marwah?? " ujar Erwin yang terlihat masih syok dan kemudian melihat pada sosok lain Marwah yang memeluk seorang pria.


" Ah, anda pasti tidak tau.., itu kembaran saya, kak Safa dan itu suaminya" jelas Marwah santai.


" kembar?? Safa?? Safa Marwah???" ucap Erwin mengulang.


Marwah mengangguk pelan meyakinkan Erwin bahwa apa yang dilihat pria ini benar, bahwa ia kembar.


Dan terlihat Safa dan mas Daniel mendekat pada Marwah dan Erwin.


Dan Erwin dengan canggung meminta maaf ketidak sopannya pada Safa dan suaminya.

__ADS_1


" maafkan saya, saya benar-benar minta maaf atas ketidak sopanan tadi " ujar Erwin kaku.


" yaa, kenalin saya Safa, kakak Marwah dan ini suami saya Daniel " ujar Safa ramah.


Mas Daniel masih melihat dengan tak senang pada Erwin.


" jadi anda Direktur Erwin, Erwin Aritama" tebak Safa yang mengingat cerita Marwah.


Erwin mengangguk pelan.Dan tak berselang lama suara tangisan Mecca mengalihkan perhatian mereka. Dan terlihat mama Wulan mengendong berusaha menenangkan Mecca yang terlihat haus.


" oh, sayang, sayang, ini mama..," ujar Safa menghampiri anaknya dan mencoba mengambilnya dari gendongan neneknya. Dan berlalu menuju rumah atas Marwah bersama suaminya mas Daniel.


Dan seketika Erwin menghela nafas panjangnya seolah lega.


" kenapa??" tanya Marwah heran.


" Ah, bukan apa-apa " ucap Erwin yang sebenarnya tertekan dengan tatapan tak ramah iparnya Marwah yang masih marah atas sikapnya tadi.


Dan tak lama, mama Wulan datang mendekat pada Marwah dan Erwin dengan ramah.


" sayang?? siapa??" tanya mama Wulan ramah.


" Ah, ini atasan Marwah mah, Direktur Erwin, Erwin Aritama, " jelas Marwah pada mama Wulan, yang melihat dengan wajah tersenyum mengembang. Lalu menerima salaman dari Erwin dengan senang.


" Jadi kamu atasan Marwah??, karena sudah disini ayo kita makan malam sama-sama, " ajak mama Wulan ramah.


Erwin terpaku akan ajakan mama Wulan yang sepertinya benar-benar menyambutnya dengan senang hati.


" Mah??, Direktur sibuk mah, " ucap Marwah seolah menolak Erwin untuk makan bersama keluarganya.


" Ah enggak kok, " jawab Erwin cepat.


" saya gak sibuk tante, " timpal Erwin yang tak menolak ajakan mama Wulan.


Kedua mata Marwah melebar melihat pada Erwin dan seketika berbicara dengan bahasa isyarat pada Erwin untuk menolak saja dan segera pergi. Dan hal itu terlihat oleh mama Wulan yang seolah melihat sesuatu diantara keduanya.


" kenapa??" tanya mama Wulan yang mengangetkan keduanya.


" Ah, bukan mah, ada hal yang direktur mau bahas sama Marwah ".


" gak ada, " jawab Erwin santai.


Dan seketika Marwah melihat dengan kesal pada Erwin, yang tidak melihat situasi.


" kalau begitu, ayo Marwah ajak nak Erwin kerumah atas" ujar mama Wulan yang kemudian berjalan menuju rumah atas.


Dan refleks Erwin hendak melangkah, namun langkahnya dihadang oleh Marwah dengan wajah kesal.


" ya mah, " ujarnya menatap Erwin tajam.


Setelah dirasa mama Wulan menjauh, Marwah menghela nafasnya. Dan mulai melihat serius pada atasannya dengan kesal.


" kenapa Direktur kemari??"


" aku?? ah, ya mau beli roti, " jawab Erwin cepat.


" iya kenapa sekarang siiih??".


" lah, itu hak pelanggan donk mau datang kapan aja !!" .


" terus, kenapa gak nolak waktu mama ajak sih?".


" loh kenapa??" jawab Erwin enteng.


" kenapa??" tanya ulang Marwah pada pertanyaan Erwin yang tak melihat sikon.


" ini tuh makan malam keluarga, keluarga !! dan pasti ada papa, " jelas Marwah geram


" terus!!"


Rasanya tensi darah Marwah naik seketika.


" Marwaaah.," panggil mama Wulan yang mengingatkannya untuk naik


Dan ia pun terkaget. Lalu mencoba mengendalikan diri dari naik pitamnya akan atasannya.


" iyya mah, sebentar !!" jawab Marwah .


" Direktur, nanti kalau ngomong hati-hati yaa, jangan jawab dipertanyaan papa, jawab sekedar aja, ngerti??" pinta Marwah serius.


Erwin mengangguk dengan memberi jempol pada Marwah.


" percayakan pada ku !!".


Dan Marwah seketika terhenyak dengan percaya dirinya Erwin, yang tak berubah pendirian. Lalu pria itu melangkah melewati Marwah yang melihatnya dengan tercengang.


" ish , kalau bukan karena hutang budi, udah mau gue jitak aja ini orang !!" rutunya kesal, dan kemudian berjalan dibelakang Erwin melewati dapur roti, yang terlihat Erwin melihat dengan kagum pada tatanan desain dapur moderen. Dan tercium aroma roti yang kuat.

__ADS_1


__ADS_2