
Malam itu, terlihat diruang tunggu kak Syarla duduk dengan wajah lesunya dan disampingnya terlihat Marwah yang sama termenung menatap kosong.
" Mungkin ini adalah dosa yang harus Sisil tanggung, bapak malah gak merasa sedih mendengar Sisil sakit, rasanya itu batas akhir dari Sisil menanggung perbuatan kotornya," ujar kak Syarla penuh sesal.
Marwah hanya diam saja, walau ia sangat membenci Sisil tapi tak pernah terbesit dipikirannya hal buruk terjadi pada mantan sahabatnya ini.
" Kakak dengar kamu sekarang bekerja di perusahaan Aritama yaa Marwah??," tanya kak Syarla hingga Marwah sedikit bergeming dari lamunnya.
" ah, iyya kak," jawab Marwah singkat.
" Maaf ya Marwah, jika Sisil membuat kamu sakit hati," ujar kak Syarla sedih.
Marwah tak menjawab, tapi hanya senyum simpul yang bisa ia berikan.
Tak lama berselang, terlihat Dimas kembali dengan membawakan sesuatu di tangannya. Dan perlahan ia pun kini berada tepat diantara kedua wanita yang terlihat lesu.
" ini kak ada kopi, " ujar Dimas seraya memberikan gelas kopi kecil pada kak Syarla.
" dan ini untuk kamu, coklat hangat," Dimas memberi dengan ragu pada Marwah yang tak bergeming.
Tiba-tiba terdengar suara handphone milik kak Syarla berdering, sehingga wanita itu pun reflek memberikan kopi itu kembali pada Dimas lalu ia merogoh isi tasnya dengan terburu-buru. Ia pun meraih handphone tersebut dan bangun seraya berlalu menjauh dari Dimas dan Marwah.
Seketika keduanya hening, hanya terdengar suara pintu masuk dan keluar perawat yang masih hilir mudik sesekali. Dimas duduk dengan lelahnya berselang kursi disebelah Marwah dan meletakkan bawaannya tadi pada kursi kosong itu.
Sesaat Dimas menghela nafas panjangnya dengan sedih lalu menatap Marwah yang menatap lurus depan jendela rumah sakit yang terlihat lampu-lampu malam.
" Terima kasih karena kamu masih mau peduli akan Sisil" .
Marwah tak bergeming ia seakan larut dalam pikirannya sendiri.
" Setelah bertemu denganmu beberapa waktu yang lalu, Sisil jatuh sakit, dia bahkan tak selera untuk makan dan kondisinya kehamilannya pun menurun, Sisil terus menyalakan dirinya karena telah menyakiti hatimu Marwah, hingga tadi siang karena kondisinya yang lemah ia pun jatuh dikamar mandi dengan perutnya terbentur closet hingga tadi..., bayi dan rahimnya pecah..," kalimat Dimas terhenti, ada rasa sesak dihati yang ia tahan.
Seolah jeda, Dimas menarik nafasnya seakan menenangkan dirinya sendiri.
" Jika kamu ingin marah, maka marah lah pada ku, Marwah,!!" ujar Dimas seolah frustasi.
" orang yang harus kamu benci adalah aku, bukan Sisil, kesalahan ini terjadi karena aku.., aku yang tak bisa menahan diri, tampa berpikir panjang melanggar batas antara aku dan Sisil hingga semua ini terjadi," jelas Dimas dengan menundukkan kepalannya dan mungkin itu adalah titik dimana ia merasa manusia berdosa.
Seolah ruangan itu terus mengema ucapan penyesalan Dimas.
" jika kamu ingin marah dan kesal maka aku laah yang harus menerimanya, katakan Marwah, katakan semua kemarahan mu..," ucap Dimas frustasi.
Marwah menghela nafas panjangnya.
" apa??, apa yang harus Marwah katakan??".
Sesaat ia tersenyum pahit.
__ADS_1
" Bahkan kata-kata amarah pun tak bisa mengubah apa yang telah terjadi sekarang, lalu untuk apa semua kemarahan itu??, jika kalian saja jauh lebih menyesal dengan semua yang telah kalian lakukan".
" Marwah," Dimas memandang wajah Marwah yang berubah jauh dengan hati dan bicaranya yang tajam.
" Huuufft..,"
" awalnya memang berat dan hampir membuat gila, tapi.., Marwah malah bersyukur dengan semua penghianatan ini.., bukan kah itu aneh???," ujar Marwah seolah tak berperasaan.
Dimas terlihat syok dan tak percaya akan perubahan Marwah yang berbeda.
Seraya bangun dari duduknya Marwah sedikit berbalik dan menghadapa Dimas yang ikut menegadah melihat Marwah.
" mas adalah orang dari masalalu yang buruk bagi Marwah , dan sekarang tebus semua penyesalan mas dengan merawat Sisil, selamanya jadikan ini pelajaran berharga untuk hidup kalian..," ujar Marwah tampa ekspresi menatap Dimas.
" sudah terlalu malam, Marwah harus pulang, semoga Sisil cepat sembuh," ucap Marwah yang kemudian berlalu pergi meninggalkan Dimas dengan penyesalannya.
Setelah kepergian Marwah, Dimas larut dengan pikirannya sendiri, hingga tiba-tiba seorang suster keluar dan memanggil Dimas.
" pak.., pak.., istri anda ibu Sisil sudah siuman," ujar suster itu cepat.
Dan dengan kagetnya Dimas bangun dan langsung berlari kecil mersih pintu ruang ICU. Ia pun terburu-buru menuju bad Sisil yang terlihat Sisil yang telah siuman namun terlihat lemah.
Terlihat Sisil berusaha berbicara dengan suara paraunya. Dimas pun reflek mendekat.
" Ma..mas.., Ma..,marwah..," ujar Sisil dengan susah payah
" Mar..,Marwah maafin Sisil mas..," ujar Sisil dengan berat dan kemudian Sisil pun menangis dengan berusaha mengapai lengan suaminya.
Jleb..,seolah hati Dimas seperti ditancapkan sebuah pisau tajam.
Dan seketika air matanya jatuh.
" Ya..,Marwah maafin kesalahan kita..," jawab Dimas berat lalu ia pun memeluk tubuh istrinya dan bersama menangis dalam penyesalan.
🍃🍃🍃
Disisi lain, Marwah yang kini berada didalam kamarnya pun menatap nanar pada kotak besar kosong yang berada di atas tempat tidurnya.
Perlahan ia membongkar lemari dan ia menemukan kenangan-kenangan persahabatannya dengan Sisil yang terjalin sekian lama. Satu persatu mulai ia benahi, hingga tangannya berhenti pada sebuah sepatu christian loubountin berwarna merah yang merupakan hadian ulang tahunnya dari Sisil yang berhasil Sisil beli dengan uang gaji pertamanya.
Terbingkai senyum sedih disana, seolah waktu kembali pada saat itu.
Telohat wajah sumringah Marwah yang mendapat kado sepatu convers merah dari Sisil.
" Makasih banget bebs, ini..," ujar Marwah terharu.
" ini spesial dari gaji pertama gue,"
__ADS_1
Marwah terkaget.
" serius???," tanya Marwah tak percaya.
" hmm.., " gumam Sisip serius dan bangga. Dan tiba-tiba Sisil berdiri dan ia pun dengan senangnya menyuruh Marwah melihat kebawah kakinya.
" Liat sini deh..,"
Marwah pun reflek melihat pada kaki Sisil.
" jeng..jeng.., gimana??? apa bagus???"
Marwah terkaget dengan menutup mulutnya.
" waaah, cocok banget sil dikaki lo" puji Marwah pada sisil yang terlihat memakai sepatu heels Christian Loubountin.
Dan dengan cepat Marwah memakain sepatu heels miliknya yang berwarna merah lalu berjalan menuju Sisil lalu kemudian bersama berjalan dengan berlengak lenggok bak model seraya tertawa girang memiliki sepatu kelas artis dengan harga fantastis.
Kemudian Marwah mengambil sebuah foto yang terdapat diatas baju dress putih.
MMarwahteringat bahwa baju ini dikenakan ketika acsra ulang tahun teman mereka tapi musuh abadi mereka Gladis. Keduanya kompak datang dengan baju dress kembar dan menghebohkan acara pesta Gladis dengan hampir kissing bersama.
Sesaat Marwah mengenang hal itu dengan senyum lucu. Karena setelah acara itu mereka dinobatkan sebagai pasangan serasi.
Tak sengaja sebuah foto lain pun jatuh.
Foto kenangan ketika merayakan ulang tahun Sisil disalah satu restoran. Dan Marwah baru saja pulang dari Prancis. Namun sesaat wajah Marwah murung, karena disinilah kali pertama ia mengenalkan Dimas pada Sisil dan foto ini diabadikan oleh Dimas pada saat itu.
" Sebenarnya aku yang salah, karena membawa mas Dimas berada diantara persabahatan kita, maaf," ucap Marwah yang kemudian menaruh semua lembaran foto kenangannya bersama Sisil kedalam kotak besar itu.
Setelah mengumpulkan semua kenangannya kedalam kotak, Marwah pun turun membawa kotak itu perlahan untuk di taruk ditong sampah depan tokonya.
Lalu ia kembali dengan perasaan campur aduk. Dan melirik dapur rotinya yang bersih. Tampa pikir panjang ia pun mulai mengalihkan pikirannya dengan membuat dessert yang sedikit rumit agar pikiranannya teralihkan.
Puding Strawbbery
Red velvet oreo
Marwah mengerjakannya hingga pagi hari. Dan ia pun tersenyum melihat hasil kerjannya.
__ADS_1
" Memang menyibukkan dengan hal yang begini jauh lebih efektif," gumamnya dengan memasukkan cake tersebut kedalam estalse kulkas pendingin kue.