
Setelah berjalan dalam gelap, keduanya pun berada diruangan tengah lobby hotel yang terlihat dengan remang-remang dengan cahaya lampu dari penerang jalan, dan di sudut kanan dekat tangga, terdapat beberapa sofa yang masih belum terbuka oleh plastik. Erwin berjalan dan menarik plastik tersebut hingga terlepas dari sofa tersebut.
" duduklah, kita akan disini saja sampai pagi" ujar Erwin pada Marwah yang terlihat wajahnya diremang-remang cahaya yang masuk dari penerang jalan.
Marwah menurut dengan memcoba duduk, namun ketika ia duduk, refleks bangun dan merasa segan.
Hingga Erwin melihat dengan heran.
" Kenapa?? apa tidak nyaman??" tanya Erwin seraya mencoba duduk dengan santai pada sofa yang terlihat bisa muat 3 atau 4 orang duduk.
" Ah, baju saya sedikit basah, jika saya duduk pasti akan meninggalkan noda lembab disana, sedankan ini masih baru " jelas Marwah yang melihat kearah Erwin yang terduduk.
" Duduklah, aku masih bisa memesan yang lain jika ini tak bisa dipakai lagi" ujarnya santai dengan merebahkan punggunya pada sandaran sofa.
" Yakin?" tanya Marwah meyakinkan lagi ucapan Erwin.
" Ya kalau gak mau, silahkan berdiri sampai pagi, aku juga tak memaksa," tukas Erwin santai.
Mendengarkan hal itu, refleks Marwah duduk dengan terpaksa. Dan terlihat Erwin tersenyum lucu. Lalu seketika Marwah menarik nafas panjangnya seolah lelah dan refleks membuka sepatu heelsnya seraya melihat kearah depan kaca yang terlihat sepertinya hujan sedikit demi sedikit mulai reda.
" Huuuffft, masih ada 10 jam lagi sampai pagi, " keluh Marwah berat dan memeluk dirinya yang merasakan tubuhnya dingin padahal sudah tertutup jas Erwin yang besar.
Berlahan, Marwah menoleh pada sisi sampingnya dan terlihat Erwin meyandarkan kepalanya pada sandaran sofa dan menutup matanya dengan lengan kiri.
" Apa dia tidur yaa??" bisik batin Marwah, dan melihat sekeliling dengan rasa takut. Dan refleks mengidik seram, lalu mencoba meraih handphone jadul nya yang berada di jemari kiri Erwin. Dan hal itu sukses membuat Erwin bergerak dan menahan tarikan handphone jadul itu dari Marwah. Marwah pun refleks melihat pada Erwin yang kini melihat dirinya dengan dahi berkenyit.
" Apa yang kamu lakukan??" tanya Erwin.
" Direktur tidur, saya kan jadi takut sendiri, jadi mau ngambil lampu handphone biar gak tergeletak begitu aja jika anda tertidur, " jelas Marwah.
Namun Erwin malah menghela nafas panjangnya dan menlonggarkan dasinya dan membuka kancing leher lalu kemudian beralih pada kedua lengannya dan menggulung lengan panjang itu hingga terlihat santai, dan refleks Marwah seolah mawas diri.
" Anda mau apa??" tanya Marwah takut dengan menyila tangannya dikedua dadanya. Dan Erwin menoleh pada perubahan sikap Marwah yang tiba-tiba waspada pada dirinya dan melihat dengan wajah curiga.
Lalu dengan gemasnya menjitak kepala Marwah, hingga wanita itu refleks menyeringai sakit di kepalanya.
" Aaauu, kenapa dijitak sih!!!, sakit tau " ujar Marwah kesal dan mengusap kepalanya yang kena jitak oleh Erwin.
Dan hal itu sukses membuat Erwin tertawa kecil, melihat ekspresi kesakitan Marwah.
" Apa yang kamu pikirkan, heh?? kamu pasti mikir aku akan berbuat hal yang macam-macam yaa??" tanya Erwin dengan tertawa kecil.
Marwah melihat dengan kesal pada atasannya yang menjitak kepalanya dan menertawakan diriku. Namun, tiba-tiba suara perut Erwin berbunyi.
Krrrruuk..,krrruuk.
Dan refleks tangan Erwin memegang perutnya dengan wajah malu, Marwah pun melihat dengan kaget.
" ah, maaf..," ucap Erwin malu.
" Anda pasti lapar?? sebentar, mungkin masih ada sisa satu disini !!" ucapnya seraya membuka jas Erwin, dan menurunkan selmpang tasnya dari baru dan membuka retsleting tas dan mencoba meraih benda yang ia cari. Dan tak lama, benda yang ia cari pun dapat, lalu ia mengeluarkan sebuah plastik dengan wajah senang.
" Ini, ini pasti bisa mengganjal perut anda, Direktur " ujar Marwah dengan wajah senang dan memberikannya berhadapan Erwin yang melihat dengan kaget pada plastik roti yabg berada ditangan Marwah.
__ADS_1
" Tidak, terima kasih" ujar Erwin menolak. Namun tiba-tiba perutnya berbunyi lagi untuk kedua kalinya.
Krrruuuk..,krrruuk.
Dan gak itu membuat wajah Marwah menahan tawa.
" Makan laah, perut anda sudah meronta " ucapnya yakin pada Erwin.
Dengan wajah tak enak, akhirnya Erwin meraih plastik roti dari tangan Marwah, dan terlihat wajah Marwah tersenyum. Lalu Marwah membenarkan posisi duduknya untuk bisa bersandar dan menaikkan kedua kaki ya yang terasa dingin.
Erwin membuka plastik roti tersebut, dan ingin segera memakannya. Namun tiba-tiba ia turunkan ketika menoleh pada Marwah yang terlihat melihat kearah depan kaca. Lalu tanpa ia pikir panjang, ia membelah roti itu menjadi dua dengan imbang.
" Ini, " ucapnya dengan memberkannya pada Marwah. Refleks Marwah menoleh dengan kaget pada pemberian Erwin.
" Kamu juga makan, kita masih harus bertahan sampai besok pagi " ujar Erwin pada Marwah. Dan Marwah tersenyum hangat melihatnya, dan berlahan ia pun mengambil roti dari tangan Erwin.
" Terima kasih, Direktur " ujarnya senang. Dan keduanya makan dengan hening. Erwin melihat pada lampu handphone Marwah yang terlihat mulai agak redup, dan ia berpikir pasti sebentar lagi akan padam, lalu seolah tersadar dan melihat kearah Marwah dengan rasa tak enak mengingat handphone milik wanita ini masih ia tahan pada dirinya di apartemen.
" Maaf.., " ujar Erwin pada Marwah.
Marwah menoleh dengan bingung.
" kenapa??"
" Sebenarnya handphone mu tidak benar-benar aku buang, handphone kamu masih ada di apartemen ku" ujarnya dengan rasa bersalah.
Namun diluar dugaan, Marwah tersenyum.
" Gak papa kok, setelah dipikir-pikir ada baiknya memang handphone itu dibuang, karena terlalu banyak kenangan indah yang membuat hati ku sakit," ujar Marwah seraya melahap roti nya lagi seolah menahan diri untuk tegar.
" Terkadang orang yang patah hati itu memang harus disadarkan dengan paksa, agar bisa lebih cepat sadar menerima kenyataan bahwa semua sudah berakhir " ujar Marwah lagi dengan santai.
Erwin hanya diam, dan mencoba melahap roti itu dan ia merasakan isi roti coklat itu dengan nikmat.
" Entah aku yang bodoh entah karena memang jalannya sudah seperti itu, rasanya dikhianati itu benar-benar kejam, padahal apa salahnya jika mereka jujur saja, memang aku pasti marah, kecewa dan ingin menjitak kepalanya " ujar Marwah semangat.
Dan hal itu membuat Erwin menoleh dengan sinis pada Marwah seolah menyinggung dirinya yang menjitak kepala Marwah tadi.
" Eh, enggak ding.., maksudnya tampar atau tonjok gitu kali yaa lebih afdol" ralat ucapan Marwah dengan tersenyum simpul lalu melahap kembali roti nya yang tertinggal beberapa gigitan lagi.
" Tapi dari semua-semua itu ada hal yang bisa aku syukuri kok, selain bisa tau kebusukan mereka sebelum benar-benar menikah, dan sekarang bisa benar-benar sibuk dengan kerjaan ini gara-gara " Sisil"..," ucap Marwah yang terhenti, dan ia merasa terceplos.
" Ooppss.., sorry !!" ujarnya yang menyebut nama sibiang dari penghianatan ini.
Erwin melihat dengan wajah kaget.
" Anda pasti kaget, " ujar Marwah santai.
" Jadi Sisil dari perusahaan Sss yang merebut pacar mu??" tanya Erwin yang seketika menjadi penasaran.
" Hhm, padahal Sisil teman terbaik yang saya punya, tapi nyatanya dia menikam saya dari belakang" ujar Marwah yang kini menghabiskan roti nya.
" Malam itu, saya sedang menunggu lamaran pacar saya, namun bukan lamaran yang saya dapat malah kekecewaan dan perpisahan yang saya terima, " ujarny menelangsa jauh dan kemudian ia melihat kearah Erwin yang menghabiskan roti terakhirnya.
__ADS_1
" Anda, pasti ingat, malam ketika saya mencium kilat anda!!" ujar Marwah santai. Namun hal itu membuat Erwin terkejut, dan membuat Erwin tersedak hingga pria itu terbatuk-batuk.
Uhuk..,uhuk. Batuk Erwin yang membuat Marwah panik dan memegang punggung Erwin mencoba melegakan batuk nya.
" Anda kenapa??" ujarnya panik. Erwin bersusah payah meredakan batuknya. Hingga seketika Marwah sadar, ia masih punya sisa air di botol air mineral miliknya yang tidak habis ia minum tadi siang. Dan dengan segera ia meraih tasnya dan menemukan botol sedang air mineral dan memberikannya pada Erwin segera. Dan refleks dengan cepat Erwin membuka penutup botol dan meminumnya segera, dan seketika batuknya pun mereda. Dan Marwah pun terlihat lega.
" Syukurlah batuk anda reda, " ujarnya dengan rasa lega dan masih mengelus punggung Erwin. Dan Erwin seketika terpaku, ia merasa ada hal aneh di jantungnya.
" Ehem, terima kasih., " ucapnya dengan canggung dan mengembalikan botol air mineral yang ternyata masih punya setengah sisa air, dan dengan santai Marwah meraihnya dan langsung meminumnya untuk melegakan kerongkongannya dari roti yang baru ia lahap.
Kini Erwin memandang wajah Marwah dengan dalam, ia melihat wanita ini benar-benar mencoba tegar dari penghianatan teman dan pacarnya.
" Jadi apa alasan kamu mencium kilat pada malam itu??" tanya Erwin serius.
Marwah sedikit kaget dengan pertanyaan Erwin.
" Ah..,hhmm, itu karena saya mau tau, gimana rasanya berciuman dengan orang yang tidak kita cintai?? bagaimana rasanya berkhianat?? jadi saya melakukannya secara spontan, " jelas Marwah dengan alasan terbaik.
Erwin melihat dengan tidak senang pada Marwah. Dan seketika Marwah jadi mengidik takut karena sadar mungkin telah salah ucap.
" Tapi, sejujurnya, saya memang hanya berniat memberikan cup cake flower aja kok, karena sayang kalau saya buang, karena cake itu sudah payah saya buat denga sepenuh hati, dari pada terbuang kan bagus saya kasih ke anda" ucapnya seolah mencari alasan lain. Dan seketika Marwah menahan menguap pada mulutnya yang benar-benar mengantuk.
" Kamu ngantuk??" tanya Erwin yang melihat wajah Marwah yang lelah.
Marwah mengangguk pelan.
" Saya biasa tidur cepat, agar bisa bangun cepat untuk membuat roti-roti di toko " jelasnya dengan memeluk dirinya sendiri yang merasakan tubuhnya dingin. Erwin melihat dengan serius pada diri Marwah.
" Kemarilah" pinta Erwin dengan merentangkan tangannya kepada Marwah.
Dan hal itu membuat kedua mata Marwah melebar.
" Maksud anda apa???" ujarnya yang kembali mengidik takut.
" Ssstt.., jika berdekatan maka kamu akan hangat, memangnya kamu pikir apa??" ujar Erwin kesal.
Marwah tak bergeming ia masih mencoba memeluk dirinya sendiri. Namun dengan wajah kesal, Erwin malah menarik lengan Marwah dan menarik Marwah agar berada di pelukannya.
Deg..Deg..
Jantung Marwah berdebar hangat, ia melihat dengan terpaku pada wajah Erwin yang kini meraih jas nya dan membukanya agar bisa menyelimuti tubuh Marwah yang dirasa Erwin benar-benar kedinginan karena baju kemejanya setengah lembab karena kena hujan tadi.
Marwah terpaku berada dipelukan Erwin. Ia merasakan tubuhnya menjadi hangat berada di dekat Erwin.
" tidurlah, dengan begini kamu enggak akan kedinginan, " ujar Erwin yang kemudian melihat pada Marwah yang kini berada diperlukannya yang terlihat cantik dengan rambut yang tergerai membingkai wajah Marwah.
Erwin terpesona akan wajah teduh Marwah, dan ia jadi menelan salivanya dengan berat, dan merasakan hasrat kelaki-lakiannya pun berdesir. Namun cepat-cepat ia menoleh ke hal lain melawan arah pikiran laki-kakinya. Dan Marwah dengan mencoba nyaman dengan mengubah posisi pelukannya.
" Terima kasih, Direktur.., Erwin !!" ucap Marwah terbatah.., dan tak berselang lama ia pun tertidur lelap dipelukan atasannya yang nyaman.
Setelah ditinggal tidur oleh Marwah, Erwin hanya tersenyum kecil. Ia menertawakan dirinya sendiri, bagaimana tidak, ia padahal malas berurusan dengan wanita, tapi entah mengapa Marwah bisa membuat hatinya hangat dan tenang.
Dengan menghela nafas panjangnya, Erwin melihat pada wajah tenang Marwah yang tidur nyaman, dan tak sengaja ia mencium wangi harus rambut Marwah yang terhirup ke indra penciuman.
__ADS_1
Namun hal itu membuat Erwin tenang, dan mencoba mencium kembali aroma shampoo Marwah, lalu tersenyum sendiri. Dan secara nalurinya, ia menjatuhkan ciuman hangat di kepala Marwah dengan sayang. Lalu berlahan tertidur bersama dengan memegang jemari Marwah yang berada di dadanya.