
Sore menjelang malam, setelah puas menangis, kini Marwah dibuat bingung dengan Erwin yang membawanya ke hotel baru itu.
" Direktur, kenapa kesini??" tanya Marwah bingung.
" Hanya sebentar, turun lah, " ujar Erwin yang tersenyum pada Marwah.
Marwah merasa ragu, namun tanpa pikir panjang Marwah turun dengan membawa tasnya. Lalu mendekat pada Erwin yang telah turun dan berdiri di depan mobil.
" Direktur, sebaiknya Marwah pulang terus, terima kasih untuk..," ucapan Marwah terhenti ketika tangan Erwin meraih tangannya.
" Marwah, "
" Ya?? "
" Bukan kah tadi aku sudah meluangkan waktu ku untuk mu, dan sekarang aku meminta keluangan waktu mu untuk ku, " pinta Erwin menatap kedua bola mata Marwah yang terpaku. Lalu tanda meminta persetujuan Marwah lagi, ia menuntun Marwah untuk berjalan masuk kedalam hotel tersebut yang terlihat masih ada security kemarin yang masih berjaga.
" Sore pak Erwin, " sapa Security itu dengan tersenyum ramah pada Erwin dan Marwah yang sedikit berwajah terpaksa.
" Masuk lah, duluan, " ujar Erwin pada Marwah.
Marwah dengan ragu mengikuti perintah Erwin, dan ia pun masuk kedalam gedung hotel yang terlihat kini terang benderang. Sesaat ia tersenyum.
" Ternyata lampunya bisa seterang ini, " ucapnya yang kini benar-benar bisa melihat betapa mewah hotel ini. Lalu tanpa sengaja ia melihat pada Erwin yang tengah berbicara pada security itu dengan serius.
" Ck, kenapa harus kesini sih??, padahal mau pulang terus," gumamnya seraya menghela nafas panjangnya.
" Ah, benar-benar hari yang melelahkan, " ucap Marwah mengingat kejadian tadi, dan perlahan menepuk-nepuk wajahnya yang mungkin terlihat masih sembab.
Namun tiba-tiba, Erwin datang ke hadapan Marwah dan meraih jemari Marwah.
" Direktur??" ucap Marwah yang kaget melihat tangannya diraih Erwin.
" Ayo, ikut aku..," ujar Erwin seraya menarik tangan Marwah untuk mengikuti dirinya yang berjalan menuju lift.
Marwah mengikuti dengan bingung. Ia hanya bisa memperhatikan Erwin yang membawanya menuju dalam lift yang sepertinya telah berfungsi dengan baik. Sesaat Marwah melirik pada Erwin dengan meneliti mimik wajah Erwin yang terlihat santai melihat layar handphone nya. Namun tak beberapa lama, lift itu pun sampai pada lantai yang dituju.
Ting.., suara pintu lift terbuka. Dan Erwin pun segera keluar dari dalam lift, diikuti langkah Marwah yang mengikutinya.
Keduanya berjalan dengan lampu lorong yang terang. Hingga sampai pada ujung lorong, dan terlihat ada pintu kecil yang sepertinya bukan untuk kamar hotel. Marwah melihat dengan bingung pada Erwin yang membuka sebuah pintu, jika dilihat dengan teliti mungkin hanya orang-orang tertentu yang menyadari bahwa diujung lorong tersebut ada pintu kecil yang cat senanda dengan warna tembok.
Klik.., pintu itu pun terbuka dan terlihat didalamnya ada tangga disana. Marwah melihat dengan takjub, hotel ini memiliki banyak tempat rahasia.
" Ayo.," ajak Erwin dengan naik seraya memegang tangan Marwah.
Marwah naik berlahan.
__ADS_1
" Hati-hati, " ucap Erwin yang takut Marwah tak melihat dengan jelas pada jalannya karena cahaya lampu yang remank pada lorong tangga itu. Dan ketika berada di tangga teratas, Erwin membuka pintu terakhir itu dengan sedikit payah, namun ia berhasil membukanya.
Akhirnya Erwin dan Marwah keluar dari pintu itu dengan wajah takjub Marwah yang melihat indah view malam hari dari atas hotel.
" Waah, !!" decak kagum Marwah yang disambut suasana malam yang terlihat indah dengan ribuan lampu ibu kota yang menerangi kegelapan.
Erwin tersenyum puas.
" Gimana??"
" Ini benar-benar berbeda jika dilihat malam hari, " kagum Marwah yang merasa pemandangan Malam ini tak kalah bagus jika dibandingkan dengan view pagi hari saat matahari muncul.
" Ini terlalu indah " ucap Marwah seraya menghirup udara malam seolah ingin menikmati dinginnya malam.
Erwin melihat pada Marwah dengan lekat-lekat..
" apa kamu mau menangis lagi??"
" Ah, mana mungkin??" elak Marwah yang terkaget mendengar ucapan Erwin.
" Bagus laah, setelah ini jangan pernah menangis lagi, karena aku tidak mengijinkannya," ujar Erwin dengan melihat jauh pada pemandangan malam.
Marwah tercengang mendengar ucapan Erwin.
" iiss, sejak kapan mau nangis kudu minta ijin?? dasar !!, " rutu batin Marwah yang bete.
" Seharusnya tadi aku menampar kedua orang itu, tapi kenyataannya aku juga iri pada mereka, bagaimana bisa mereka saling mencintai dengan mengambil jalan pintas untuk bahagia dan menikah dengan menyakiti perasaan orang lain, benar-benar jahat, " tutur Marwah seraya menghela nafas panjangnya, seolah menenangkan hatinya yang masih tersakiti.
Erwin tersenyum mendengarkan ucapan Marwah.
" Berarti tidak salah jika aku berprinsip untuk menikah sekali seumur hidup, maka dari itu aku benar-benar selektif dalam memilih hingga bersabar menunggu waktu yang tepat, agar tak ada kata kecewa dikemudian harinya, " ujar Erwin bangga.
Marwah melihat dengan ekspresi tak percaya pada Erwin yang sedang berbicara serius.
" Menurut ku, cinta itu bukan dari mata turun ke hati, tapi dari hati yang membuka mata untuk melihat sebuah ketulusan..," ujarnya seolah jeda.
" Karena aku pernah mendengar dari seorang petuah tua, bahwa cinta itu bukan kata sifat, di cintai itu kata kerja, dab cinta itu bukan kata benda, tapi cinta itu kata hati, " ucap Erwin dengan menatap Marwah.
Deg..deg.., jantung Marwah berdebar.
" Kenapa aku jadi berdebar??? aneh??" rutu batin Marwah.
Jantung Marwah berdetak ketika melihat Erwin yang dengan segera membuka jasnya, dan berlahan memakaikannya pada tubuh Marwah yang terdiam mematung menerima perlakuan hangat Erwin padanya.
Erwin tersenyum melihat pada Marwah yang terpaku, wajah cantiknya yang sendu seolah membuat hati Erwin bahagia.
__ADS_1
Marwah bingung.
" Kenapa??," tanya Marwah yang ragu.
" Karena, aku jatuh cinta pada mu !!" ucap Erwin serius menatap dalam kedua bola mata Marwah yang terlihat syok dengan ungkapan Erwin.
" Di..,direktur??"
" Sekian lama aku menunggu mu, jadilah milik ku, " pinta Erwin dengan mengulurkan tangannya dihadapan Marwah.
Marwah melihat dengan ragu pada uluran tangan Erwin.
" Tapi..,"
" Jangan memikirkan hal lain, cukup kau membalas cinta ku, maka semua akan aku berikan, Jadilah milik ku, Marwah," ujar Erwin serius dan seolah waktu berhenti di antara mereka, Marwah terlihat bimbang untuk menerima tangan Erwin yang terulur dihadapannya.
" A..ak.,aku wanita yang banyak kekurangan, " ujar Marwah terbatah dengan mencoba menelan salivanya.
" apakah Direktur tetap akan mencintai ku??" tanya Marwah ragu dan melihat pada sorot mata Erwin yang menunggu.
" Aku pun tidak sempurna, karena itu aku ingin bersama mu untuk menutupi segala kekurangan itu, " ujar Erwin yang menatap serius pada Marwah.
Marwah terlihat ragu pada uluran tangan Erwin yang terus menunggu, ia benar-benar dilema dengan perasaan dan pengakuan Erwin.
Namun dengan instingnya Erwin meraih tangan Marwah dan menarik tubuh Marwah kedalam pelukannya. Dan membelai nya dengan penuh sayang. Marwah terdiam terpaku menerima pelukan hangat Erwin.
" Seperti ini, aku ingin selalu seperti ini dengan mu, " ucap Erwin dengan berbisik dan mencium lembut kepala Marwah yang harum dengan aroma shampoo yang manis.
Mendengar kan hal itu, perlahan tangan Marwah pun mulai memeluk tubuh Erwin. Dan membiarkan Erwin menghangatkan hatinya.
🍃🍃🍃
Dilain sisi, Suci seharian ini terus bertanya-tanya kenapa Erwin tak masuk kekantor bahkan Suci beberapa kali menelfon Erwin namun tak kunjung mendapat jawaban.
Ditambah lagi info dari sekertaris Chandra tak bisa memuaskan hatinya. Hingga akhirnya, setelah jam pulang kantor Suci pun mencari info lain dengan berkunjung kerumah keluarga Erwin. Dan sayangnya ia hanya bertemu dengan Nyonya Aritama dan Edwin.
Karena sudah terbiasa dengan ruman keluarga Aritama, membuat Suci dengan leluasa keluar masuk rumah itu. Hingga ia pun bisa dengan santai masuk ke dalam kamar favoritnya, kamar Erwin yang terlihat rapi dan tercium wangi maskulit si pemilik kamar yang tertinggal memenuhi ruangan kamar itu.
Tapi pandangan mata Suci kini kesal, ia terlihat meradang ketika melihat sepatu hak tinggi mewah dan sebuah kotak bekal berwarna purple yang memiliki inisial "M". Instingnya pun curiga, bahwa Erwin pasti sedang dekat dengan seorang wanita tampa ia tau.
" Siapa pun , pasti akan aku halangi, " ujar Suci yang meraih sepatu hak tinggi itu dengan wajah kesal.
" Mas Erwin harus jadi milik ku, " ucap Suci dengan membuang sepatu hak tinggi itu kedalam tong sampah.
💗💗💗
__ADS_1