
Pagi harinya, Marwah bangun cepat seperti biasanya. Ia menyiapkan roti-roti yang baru matang dari oven. Marwah pun membuat sedikit bekal cemilan yang akan ia bawa untuk nanti pada saat pemotretan.
Sayup-sayup terdengar suara deringan telfon, Marwah bergeming ia pun mencoba meraih handphone nya itu dan sedikit terkaget, karena si penelfon tak lain adalah Erwin.
" Hallo, mas??," sahut Marwah seraya mengambil dessert box yang akan ia bawa nanti.
" kamu lagi apa??," tanya Erwin dengan suara berat.
Marwah terhenti ketika mendengar suara berat Erwin dan mengabaikan pertanyaan Erwin.
" mas sakit?," tanya Marwah khawatir.
" ehem, enggak..," jawab Erwin cepat.
" bener??," tanya Marwah lagi.
" Hhmm," sahut Erwin dengan bergumam.
" oia, ada apa mas telfon??," tanya Marwah kembali fokus.
" ah, maaf mas sepertinya gak bisa jemput kamu," jelas Erwin ragu.
Marwah menghela nafas panjangnnya seraya tersenyum kecil.
" gak papa kok mas, Marwah bisa pergi sendiri," jawab Marwah santai.
" maaf yaa," ujar Erwin tak enak.
" gak papa mas, mas sibuk ya??," tanya Marwah kembali menduga mungkin Erwin ada urusan dan tak bisa ontime untuk pemotretan.
" enggak, cuma.., hmm, ada hal penting sendikit yang harus diurus," jelasnya lagi.
" oh, oke.., tapi mas benar gak sakit kan??," tanya Marwah lagi karena mendengar nada bicara Erwin yang berat.
" Hhmm, mas baik-baik aja," mencoba meyakinkan Marwah.
" syukurlah, kalau begitu kita ketemu disana yaa, dan Marwah ada bawa sesuatu untuk mas," ucapnya seraya melihat pada tangannya yang memegang toples mini yang berisi cookies.
" apa?," tanya Erwin penasaran.
" nanti, mas pasti suka," jawab Marwah tersenyum kecil.
" Hhmm, baiklah sayang ku, love you," ujar Erwin dan kemudia komunikasi itu terputus.
Marwah terpaku, ia seolah masih merasa mimpi bisa mendengar ucapan romantis itu dari seorang Erwin Aritama. Dan ia pun tersenyum dengan membayangkan wajah Erwin yang pasti akan sangat senang melihat cookies buatannya.
Seketika ia tersadar melihat pada jam dinding, yang sudah menunjukkam pukul 8 pagi, ia pun terperangah. Lalu buru-buru membereskan paperbag dr. Dessert yang akan ia bawa dan kemudian ia menuju lantai atas rumahanya dengan meninggalkan wajah Lily yang bengong melihat Marwah tak menyapa dirinya.
Dan ia melihat dua paperbag besar telah berjejer disana, Lily pun mengintip sekilas isi paper bag tersebut. Hingga ia pun menggeleng kepala, ia benar-benar tak habis pikir bagaimana Marwah begitu mencintai dunia perbakingan sehingga makanan enak itu tercipta dengan mengundang selera siapa pun melihatnya. Lalu sorot matanya pun melihat 3 loyang besar telah selesai roti hangat yang benar-benar tercium aroma harum butter.
" huuuffft.., sepertinya roti-roti ini dikerjakan sendiri oleh mbak Marwah, syukurlah," ucap Lily lega. Dan tak lama ia pun disapa oleh beberapa karyawan wanita yang silih berganti menyapa.
" tolong ini ya.. disusun pada rak-rak yang semestinya," ujar Lily menyuruh dua karyawan wanita yang baru tiba.
Berselang 1 jam, akhirnya Marwah turun dari rumah atasnya dengan berbaju santai.
Beberapa karyawan menoleh dan menyapa Marwah yang sudah lama tak mereka jumpai. Marwah pun dengan ramah balas menyapa seraya bersenda gurau. Hingga Lily dan Salwa pun ikut berkumpul pada Marwah yang terlihat hendak pergi.
" mbak Marwah mau kemana?," tanya Salwa.
" ah iya mbak mau pergi ketempat pemotretan?" jawab Marwah santai dengan melihat kembali paperbag dr. Dessert yang akan ia bawa.
" pemotretan?," jawab Lily dan Salwa berbarengan dengan sedikit kaget.
Marwah tersenyum simpul.
" iyya, pemotretan sama mbak Dinda yang desainer itu" jawab Marwah santai.
" ooh," jawab Lily dan Salwa yang kembali bersamaan.
" nah, karena kalian udah tanya, jadi tolong kamu Salwa antarin mbak yaa," pinta Marwah.
" loh?," sahutnya kaget.
" mobil mbak dikantor, tolong yaa," pintanya pada Salwa.
" oke mbak," jawab Salwa semangat lalu berjalan menuju meja kasir dan mengambil kunci mobil operasional dr. Dessert.
🍃🍃🍃
Dan akhirnya Marwah tiba di sebuah rumah lama yang disulap sebagai sebuah studio foto. Marwah masuk dengan ragu seraya membawa dua paper bag dr. Dessert. Ia sedikit merasa aneh dengan rumah tersebut yang terlihat sepi.
Karena ragu Marwah akhirnya mencoba untuk menelfon Dinda. Namun belum sempat ia membuka layar telfon tiba-tiba ia dikagetkan dengan tangan seseorang melingkar pada pinggangnya. Sontak Marwah kaget dan reflek menoleh dengan cepat pada si pemilik tangan yang tak sopan. Namun seketika ia kaget, ternyata si pemilik tangan adalah Dinda.
" ikh elo ya, bikin kaget aja," ujar Marwah kesal..
Dinda tertawa cekikikan melihat ekspresi wajah Marwah yang berkerut.
" maaf nyonya," ujar Dinda sengaja.
Marwah terheran mendengar Dinda memanggil dirinya dengan nyonya.
" ikh? apa sih, nyonya apa lagi," celetukanya heran.
Dinda hanya tertawa kecil seraya melihat kedua tangan Marwah membawa sesuatu yang berat.
" apa ini??," tanya Dinda penasaran.
" ah, cemilan" jawab Marwah senang.
" waah, cemilan dr. Dessert???, aku mau," sahut Dinda girang.
" Dasar kamu," ujar Marwah.
Lalu terdengar seorang pria memanggil nama Dinda dari dalam.
" mbak Dinda yaa?, masuk aja mbak," panggil pria itu tampa terlihat pria yang memanggil Dinda.
" iyya mas Reno," jawab Dinda cepat lalu melihat pada Marwah.
" lo masuk terus yaa, disana ada tim rias, gue ambil gaunnya dulu dimobil," jelas Dinda.
Marwah reflek mengangguk paham. Dan keduanya pun berpisah dengan arah berbeda. Marwah berjalan pelan masuk kedalam rumah yang terlihat sedikit remang-remang dan mencoba mencari seseorang untuk diminta petunjuk selanjutnya.
" Hallo mbak?," sapa seorang wanita muda sopan yang mengagetkan Marwah.
" ah, ya..," jawab Marwah cepat.
" apa mbak modelnya mbak Dinda??," tebak wanita muda tersebut.
Marwah relfek mengangguk cepat seraya tersenyum.
" ah begitu rupanya, oke sebentar yaa mbak," lalu wantia itu berjalan sedikit agak kedalam dan memanggil seseorang.
" gamal, mal?? modelnya udah dateng ini," ujar wanita muda tersebut.
Dan tak lama terlihat pria gembul dan sedikit pendek datang dengan gaya khasnya.
" iyya mbak ayu??," tanya Gamal dengan nada suara manja.
" ini modelnya mbak Dinda," jelas wanita muda itu dengan menarik lengan Marwah kehadapan Gamal.
Gamal pun melihat dengan teliti wajah Marwah seraya memutari tubuh Marwah.
" gimana?? cocok gak natural face??," tanya wantia muda itu.
Gamal mengangguk pelan, lalu tangannya memegang dagu Marwah dan membuatnya menoleh ke kanan dan kekiri secara bergantian.
" cakep dan anggun," jelas Gamal.
Dan seketika wanita muda itu menepuk pundak Gamal dengan senang.
" tolong ya mas Gamal, makeupin yang cantik untuk bidadari kita hari ini," ujar wanita muda itu girang, lalu ia memberi kode pada Marwah untuk mengikuti Gamal.
Marwah yang bingung hanya manut saja dan mengikuti langkah Gamal yang gemuali.
" namanya siapa yaa mbak??," tanya Gamal.
" ah, nama saya Marwah..," jawab Marwah.
" waah bagus banget namannya, kalau ada saudara perempuan bisa tuh Safa-Marwah," celetukanya santai dengan memasuki sebuah room luas dan terlihat beberapa meja rias dan sofa.
Marwah mendengar dengan senyum kulum.
" kenapa tertawa mbak Marwah? benerkan kata gamal, kalau mbak punya saudari perempuan pasti namanya udah Safa," ujar ya santai seraya memberi kode pada Marwah untuk duduk di kursi rias.
" iyya, kembaran saya namanya Safa," jawab Marwah tertawa kecil.
Gamal terkaget.
" serius mbak?, jadi mbak kembar?,"
Marwah mmenangguk membenarkan pertanyaan pria gemulai itu yang sedang mempersiapkan peralatan tempur make upnya yanf hampir dua koper itu. Wajah kagum Marwah terlihat disana.
"oke kita mulai, maaf yaa mbak Marwah, saya ikat dulu rambutnya" ujar Gamal sopan meminta izin.
" iya," jawab Marwah mencoba rileks.
Tak lama tiba-tiba, Dinda masuk dengan membawa dua kotak sedang, sehingga reflek Marwah dan Gamal menoleh pada Dinda.
" mas Gamal ini gaun untuk sesi pemotretan pertama ya," jelas Dinda pada pria gembul itu.
" oh oke, nanti Puput yang akan pakaikan pada mbak Marwah,"
" Dandan yang cantik yaa," ujar Dinda pada Marwah.
Marwah tersenyum simpul, lalu tiba-tiba ia teringst sesuatu.
" Dinda, Hhmm.., sepetinya mas Erwin akan sedikit telat datangnya, ka..,"
" oh, ya aku tau.." jawab Dinda cepat memotong ucapan Marwah.
Marwah merasa aneh.
" kamu tau? mas Erwin bakal telat datang??," tanya Marwah bingung.
Dinda mengangguk seraya memberi tanda oke pada Marwah, bahwa itu tak jadi masalah.
" untuk kalian gue kerahin semua ide brilian gue, totalitas gue di pertaruhkan disini," ujar Dinda panjang lebar, namun wajah Marwah bingung mendengarnya.
" ikh apa sih, berlebihan banget lo, gue tau lo ngarep banget untuk menang lomba ini, tapi enggak gitu juga kali," celetuka Marwah melucu.
" oh.., no..no.., bebsku, ini beda, yang lomba enggak gue pikirin matian-matian begini,"ujar Dinda lagak ya menaruh tangan dipinggang.
Marwah terheran.
" jadi, ini pemotretan apa??," tanya Marwah bingung. Namun wajah ya tiba-tiba di raih oleh tangan gamal.
" oke, mbak Marwah jangan banyak gerak yaa, biar cepet," ujar gamal sedikit serius, dan Marwah pu n reflek mematung dan mematuhi ucapan pria gemulai itu, lalu tak lama tangan pria gemulai itu mulai memberikan sentuhan make up.
Dinda tersenyum simpul.
" kamu tenang aja, semua gue urus, lo dan tuan Erwin cukup senyum yang bahagia di hadapan kameran, oke??, " ujar Dinda dan hal itu mendapat respon dari Marwah yang hanya bisa melirik sahabatnya itu.
__ADS_1
" gue tinggal dulu yaa, yang cantik ya mas Gamal," pinta Dinda.
" sip," jawab Gamal cepat dan ia kembali fokus pada wajah Marwah.
Marwah hanya bisa bertanya-tanya apa maksud dari ucapan Dinda tadi.
🍃🍃🍃
Selang 1 jam setengah berlalu, Marwah yang menahan semprotan spray wajah pun terlihat sudab siap dengan telah mengenakan dress putih dengan belahan dada tersama oleh bahan tile.
" oke, selesai..puput tolong bawain sepatu yang putih dikotak atas banget yaa," ujar Gamal pada asisten ya. Dan wanita pendek itu pun berlari kecil mencoba meraih kotak yang berada di susunan teratas kotak-kotak sepatu yang lain.
Marwah melihat dan mencoba membantu.
" biar Marwah ambil, " ucapnya seraya mencoba mengambil kotak tersebut dan ia pun berhasil mengambil kotak tersebut dengan cepat lalu membukanya.
" terima kasih mbak," balas puput.
" waah bangus banget sepatunya, " decak kagum Marwah.
" ada yang lebih bagus lagi loh mbak," ujarnya seraya memberi sedikit sentuhan blush di pipi Marwah agar merona.
" oke selesai, bawa mbak Marwah ke studio foto yaa put," perintah Gamal.
Puput pun mengangguk paham.
Sekilas Marwah melihat dirinya kembali pada kaca full size yang menampilkan dirinya telah bergaun cantik dengan riasan natural face.
" ini Marwah??," tanya Marwah sendiri sehingga puput melihat.
" iyya, mbak Marwah cantik banget," puji puput sehingga Marwah pun sedikit tersipu malu mendengar pujian itu.
" ayo mbak, kita keruang studio mereka sudah menunggu ," jelasnya yang menyadarkan Marwah.
" ah, iya," sahut Marwah yang ikut keluar bersama puput.
Dan ketika mereka tiba diruang studio, seorang pria malah mengarahkan mereka keluar ruangan menuju outdoor yang tak jauh dari ruangan itu.
Marwah sempat berpikir sejenak, rumah yang unik, kecil tapi memiliki ruangan dan halaman yang tak terduga.
Sayup-sayup terdengar obrolan yang suaranya seperti tak asing ditelinga Marwah. Pelan namun pasti langkah Marwah pun kini berada di halaman belakang rumah yang terlihat memiliki lorong. Sesaat langkah Marwah terhenti ketika melihat sosok yang tersenyum hangat pada dirinya. Erwin telah berdiri dengan beberapa orang disana dan telihat santai.
Seolah-olah angin segar menerpa diri Marwah ketika melihat senyuman Erwin yang menawan. Dan terdengar musik mangalun ost Boy Over Flower seolah moment terpesona itu cocok pada timing nya.
Dan wanita muda yang Marwah jumpai tadi pun mendekat pada Marwah yang diikuti oleh Dinda.
" wow, luar biasa, " puji Dinda.
Marwah tersadar dan sedikit tersipu malu.
" mbak pasangan yang cocok dengan mas itu, ayo mbak,"
Tapi langkah mereka terhenti ketika Erwin mendekat pada mereka dengan mengulurkan tangannya pada Marwah. Seketika Dinda dan wanita muda itu terpaku menatap pada tangan Erwin.
" ayo, sayang.." ucap Erwin pelan.
Pelan dan ragu Marwah menyambut tangan Marwah.
" uwaaah,," terdengar suara pria gemulai yang baper.
" kapan akuh begitu," ujarnya seolah menangis.
Erwin dan Marwah tersenyum lucu. Erwin menatap wajah Marwah.
" kau benar-benar cantik," puji Erwin.
" kapan mas sampai?, kok Marwah gak tau?," tanya Marwah berbisik.
" apa itu penting?," balas Erwin yang ikut berbisik.
Marwah hanya mendelikkan mata melihat Erwin yang main rahasiaan.
" ayo.., gimana?? mbak sama mas udah siap?? biar kita bisa mulai pemotretan praweddnya sekarang?," ujar wanita muda itu yang ternyata dialah fotografer nya.
Marwah mendengar dengan kaget.
" pra.., prawedd??," ucap Marwah bingung dan hendak menjelaskan. Namun dengan cepat tangan Erwin meraih jemari Marwah dan ia menoleh dengan terkaget.
" biarkan saja," ujar Erwin lembut dengan meraih jemari Marwah dan menjatuhkan ciuman singkat disana.
Marwah terpaku, dan ia tak berkutik menerima perlakukan Erwin yang meluluhkan hatinya.
" oke kalau gitu kita mulai.., jangan kaku ya mbak, anggap aja kita gak ada, senatural mungkin" ujar fotografer ayu tersebut.
Marwah dan Erwin pun jadi tertawa kecil mendengar intruksi mbak fotografer itu, hingga akhirnya Marwah dengan malu-malu berusaha melakukan pemotretan itu senatural mungkin. Pelan ia bersama Erwin pun hanyut dalam moment pemotretan itu.
Namun ditengah-tengah pemotretan sebuah mobil merah masuk dengan berjalan mundur sehingga Marwah bingung.
" apa ini?," tanya Marwah.
" kamu pasti menyukai nya, sekarang tutup mata mu," pinta Erwin pada Marwah, Marwah bingung namun ia menurut saja.
Dan ketika mobil tersebut berada dekat dengan mereka, pelan Erwin membuka bagasi mobil.
" sekarang bukalah mata mu," pinta Erwin.
Pelan Marwah membuka kedua tangan yang menutup wajahnya dan seketika ia terperangah melihat bagasi mobil itu dipenuhi oleh bunga yang indah.
" ya Tuhaaaan," ucap Marwah terkejut dengan kedua mata melebar melihat bunga-bunga memenuhi bagasi mobil.
" kejutan untuk kamu," ujar Erwin.
Spontan Marwah memberi dua jempolnya untuk Erwin dengan wajah bahagia.
Erwin tersenyum puas melihat Marwah tersenyum senang.
Dinda tersenyum melihat kedua pasangan romantis itu.
" romantisnya," ucap Dinda baper.
" gue kapan yaa begitu," ujar Dinda lagi seraya meraih tangan Gamal yang sama bapernya.
" Siip banget, kita ambil moment ini ya, kalian luar biasa," puji mbak fotografer tak habis-habisnya kagum pada dua insan ini.
Dan pose-pose Marwah dan Erwin pun tercipta secara natural pada jepretan foto mbak fotografer. Terlihat keduanya benar-benar menikmati moment itu dengan bahagia.
Dan lagu pengiring moment itu pun cukup mewakili memont keduanya, yang dibawakan oleh Andmesh Kamaleng- Jangan Rubah Takdir ku.
Di setiap doaku
Di setiap air mataku
Selalu ada kamu
Di setiap kataku
Kusampaikan cinta ini
Cinta kita
'Ku tak akan mundur
'Ku tak akan goyah
Meyakinkan kamu
Mencintaiku
Tuhan, kucinta dia
Kuingin bersamanya
Kuingin habiskan nafas ini
Berdua dengannya
Jangan rubah takdirku
Satukanlah hatiku dengan hatinya
Bersama sampai akhir
" makasih yaa mas, Marwah sukaaaa banget," ucap Marwah ketika Erwin menariknya dalam pelukan.
" tapi kenapa mas lakukan ini semua?," tanya Marwah dengan mererai pelukan dari Erwin.
Erwin tersenyum simpul lalu menyentuh rambut Marwah agar terlihat rapi kembali.
" mas hanya ingin memanjakan kamu," ujar Erwin mematap bola mata Marwah yang berbinar.
Dan waktu pun berjalan tampa terasa, Marwah pun beberapa kali menganti gaun dan riasan make upnya mengikuti permintaan fotografer sembari disela-sela menikmati cemilan yang dibawa oleh Marwah. Suasana yang nyaman dan kekompakan para kru fotografer membuat atmosfir kebahagiaan kian terasa. Marwah pun sedikit dibuat bertanya-tanya mengapa semua dibuat seolah-olah khusus untuk dirinya, padahal seingat dirinya ini hanya untuk foto kontes Dinda.
Terlihat dari sorot mata Erwin begitu jatuh cinta pada Marwah, seolah matanya berbicara ingin terus bersama wanita yang ia cintai ini.
" Dinda?? teman mu ini benar-benar luar biasa," puji mbak fotografer.
Dinda tersenyum.
" iyya Dinda rasa juga gitu mbak, belum pernah lihat cowok secinta itu sama ceweknya, " ujarnya dengan memandang sahabatnya Marwah dan kekasihnya Erwin.
" jam berapa kejutannya?," tanya mbak fotografer.
" ah, malam ini, setelah Marwah menganti gaun itu dengan dress putih," jelas Dinda pada teman kerjanya ini.
" oke, pasti akan jadi foto terbaik untuk moment spesial mereka," ujarnya seraya mengambil pose berikutnya yang terlihat Marwah lebih intim.
Propose
Proses pemotretan itu benar-benar menyita waktu, terlihat Erwin duduk disofa dengan santai menunggu Marwah yang tengah berganti pakaian diruang ganti bersama beberapa asisten Gamal. Dinda mendekat pada Erwin.
" Direktur" sapa Dinda sungkan.
Erwin menoleh dengan menbenarkan duduknya.
__ADS_1
" ya"
" ah, maaf sebelumnya jika persiapannya sedikit kurang" ujar Dinda ragu.
" tidak, semua bagus, jauh lebih bagus dari harapan saya, terima kasih mbak Dinda sudah menyanggupi permintaan yang dadakan ini," " sahut Erwin cepat.
Dinda turut senang mendengar Erwin puas dengan kerjanya yang bisa dibilang persiapannya semua serba dadakan.
" ah, saya yang harus berterima kasih banyak karena Direktur mempercayakan semua persiapan ini dengan saya teman Marwah," ucapnya senang.
" tapi Marwah masih belum tau kan??," tanya Erwin kembali.
Dinda reflek menggeleng cepat.
" belum.. belum, teman-teman disini juga kompak tutup mulut dari tadi," jelasnya yakin.
" Syukurlah, " jawab Erwin.
Dan waktu yang di tunggu pun tiba, malam harinya.
" oke ini momentnya," ujar Gamal yang baru menyelesaikan menata rambut Marwah agar terlihat simpel.
" moment?," ujar Marwah dengan melihat pada gamal.
" ayo mbak, semua sudah menunggu di luar," ucap Puput dengan tersenyum malu-malu.
" ah, iya.., tapi sepatunya mana?," tanya Marwah karena sedari tadi ia tak memakian sepatu lagi.
" oh itu ada diluar mbak, mbak bisa ambil disana," jelas puput.
" oh, oke..," jawab Marwah ragu seraya berjalan keluar kamar ganti meninggalkan Gamal dan puput yang sedari tadi tersenyum.
Namun Marwah terkaget ketika melihat lorong itu sedikit gelap, dan hanya ada penerang dari lampu cerry yang diletakkan sepanjang lorong.
" kok gelap begini?, hhmm, dimana sepatunya," gumam Marwah sendiri dengan mencoba mengikuti lampu cerry yang dibuat seolah-olah mengarah kesuatu tempat. Langkah Marwah pun terhenti, ia terpaku melihat pada sebuah meja yang terang benderang dengan sebuah hiasan kaca disana.
Pelan Marwah mendekat pada meja tersebut yang menarik perhatiannya. Dan Marwah terpaku ketika melihat sebuah toples kaca dengan berisi sepasang sepatu cantik disana.
Tapi, yang membuat Marwah terpaku adalah tulisan pada toples besar itu yang membuat hatinya berdebar.
" Will you Merry me?,"
Terbingkai senyum diwajah Marwah. Lalu ia meraih sepucuk surat disana dan membacanya.
" Pernikahan bukan hanya perlu untuk dua orang yang baik, tapi untuk dua orang yang merasa nyaman satu sama lain.
Sama seperti sepasang sepatu baru, kamu baru bisa merasa nyaman setelah kamu memakainya.
Dan bagi ku, dunia ternyaman itu adalah kamu, Marwah"
" Will you Merry me??," Erwin Arimata, kak Mummy.
Seketika rasa haru menghinggapi Marwah, pelan ia pun meraih penutup toples itu dan mengambil sepasang sepatu indah itu lalu ia gunakan dikedua kakinya. Dan tak lama lampu cerry hidup di sisi lorong lain, seolah itu adalah jalan yang harus Marwah lewati. Marwah terdecak lucu.
" waah, masih panjang ternyata," celetuknya lucu, seraya berjalan mengikuti lampu cerry itu yang ternyata menuju pada sebuah studio. Langkah Marwah terhenti ketika melihat Erwin berada di tengah-tengah ruangan itu dengan senyum hangatnya menyambut kehadiran Marwah.
Pelan Marwah berjalan dengan sengaja menarik gaunnya, seolah memperlihatkan pada Erwin bahwa ia menerika pinangan pria ini. Erwin menatap langkah kaki Marwah dengan tersenyum, hingga langkah Marwah berhenti dihadapannya.
Sesaat Marwah dan Erwin memandang dalam satu sama lain. Terdengar sayup-sayup sebuah lagu mengalun indah Badai Romantis-Melamarmu.
Di ujung cerita ini
Di ujung kegelisahanmu
Kupandang tajam bola matamu
Cantik, dengarkanlah aku
Aku tak setampan Don Juan
Tak ada yang lebih dari cintaku
Tapi saat ini 'ku tak ragu
'Ku sungguh memintamu
" mas.., " sapa Marwah dengan hati berdebar.
Erwin bergeming dengan mengeluarkan sesuatu dari balik jas hitamnya, dan Marwah terpaku ketika melihat tangan Erwin mengeluarkan sebuah kotak dan membukanya. Marwah terpaku ketika melihat sebuah cincin indah yang kemudian diambil oleh tangan Erwin seraya menatap wajah Marwah, pelan ia meraih jemari tangan Marwah dengan senyum terbingkai.
" kamu tau??, satu-satunya hal yang sengaja aku lakukan adalah menyukaimu, menyayangimu dan mencintai mu," ujar Erwin serius seraya menyematkan cincin indah itu di jari manis Marwah.
Terlihat wajah haru bahagai Marwah yang tak bisa berkata-kata menerima cinta Erwin, ia benar-benar bahagia dengan segala ungkapan Erwin pada dirinya.
Jadilah pasangan hidupku
Jadilah ibu dari anak-anakku
Membuka mata dan tertidur di sampingku
Aku tak main-main
Seperti lelaki yang lain
Satu yang kutahu
Kuingin melamarmu
" terima kasih mas, sungguh terima kasih untuk segalanya," ucap Marwah haru seraya memeluk tubuh Erwin dengan bahagia.
" berjanjilah, temani aku selamanya," pinta Erwin dengan nada beratnya.
Namun suasana romantis keduanya pun terusik ketika mendengar suara bayi menangis. Marwah reflek menoleh dan mencari asal suara bayi yang tak asing ditelingannya, dan akhirnya wajah kak Safa juga Mecca kini berada ditengah ruangan.
Marwah terkaget dan reflek mererai pelukannya pada Erwin.
" kak Safa??," ucap Marwah terkajut.
Safa tersenyum haru lalu berlari kecil dan mencoba memeluk adik kembarannya itu.
" selamat, selamat.., penantianmu terbayar dengan indah," ujar Safa haru.
Marwah pun memeluk kakaknya itu dengan sama harunya.
" bagaimana bisa kakak kesini?? apa kalian sengaja bekerja sama untuk ngerjain Marwah?," tanya Marwah dengan mererai pelukannya dari Safa dan melihat secara bergantian pada Safa dan Erwin.
Dan seketika ruangan itu pun ramai dengan bergabungnya para kru yang berdatangan memberi selamat pada Marwah dan Erwin bergantian. Gamal dan puput yang ternyata menangis haru melihat moment tadi tak henti-hentinya mengucapkam selamat.
Lalu Dinda mendekat pada Marwah dengan wajah haru bahagia.
" selamat teman, lo tau?? gue seneng banget lo akhirnya bahagia," ucap Dinda seraya memeluk sahabatnya itu dengan wajah bahagia.
" Terima kasih banyak mbak Dinda," ujar Erwin.
Sehingga kedua wanita itu mererai pelukannya, dan Dinda mengangguk pelan.
" sama-sama Direktur, terima kasih karena anda sudah membuat teman saya bahagia, " ucap Dinda sungkan.
Marwah terpaku, dan seketika ia memukul sisi lengan Dinda dengan sengaja, sehingga reflek Dinda mengerang sakit.
Plak..,
" aaau..," erang Dinda meringis sakit.
" jadi ini udah direncanai??," tanya Marwah kesal.
" terus pemotretan kompetisi lo, gimana??,"
Dinda menggeleng cepat.
" gue gak ikut, semua karena gue dapat job khusus ini dari Direktur Aritama," jelas Dinda.
" Apa??" Marwah tak percaya.
" jadi dari awal ini dipersiapankan sebagai prewedd lo dan Direktur," jelas Dinda santai.
Marwah benar-benar syok mendengar penjelasan Dinda, ia pun jadi melirik sinis pada Erwin yang sukses tertawa lepas melihat ekspresi Marwah.
Kak Safa pun ikut tertawa lepas.
" mama papa pasti senang denger hal ini,"
" pasti Safa," sahut Dinda cepat.
" kalian, kalian benar-benar ..," ucap Marwah yang kehilangan kata-kata karena terlalu bahagia karena masih dikelilingi orang-orang baik, sehingga membuat dirinya ingin menangis.
Kak Safa melihat pada adik kembaranya itu dengan tersenyum simpul, ia pun reflek memberikan Mecca pada Dinda, lalu ia meraih tubuh Marwah memeluk dengan sayang dan siap menerima tangisan kembarannya itu .
" Kakak tau, kamu pasti benar-benar bahagia," bisik Safa yang membuat Marwah akhirnya menangis kecil dipelukan kakaknya. Erwin memandang hal itu dengan dalam, dan tangannya reflek menyentuh kepala Marwah seolah menenangkan wanitanya.
Namun tak lama suara mbak fotografer mengalihakan suasana haru itu.
" ayo mbak Marwah dan mas Erwin, kita foto sekali lagi yaa untuk mengabdikan moment ini lebih sempurna,"
Come a closer love \= datanglah cinta lebih dekat
💞💞💞
Salam semua..
Gimana??? siapa disini yang dibuat baper sama mas Erwin.
# Saya.. 🤣🤣😅
Teruntuk semua sahabat, terima kasih banyak atas kesetiaan kalian yang luar biasa menunggu up partnya yang sering telat. Bianeyo yorobune..
Dukung selalu cerita ini dengan kalian tinggalkan jejak cinta pada koment, like dan bintang yaa sayang-sayang. Jika kalian mau bermurah hati, mau sudi kirana memberikan poin agar rangkingnya naik dan stabil..
Oke sampai ketemu di part berikutnya..
Love you..
Intermezo.
" mas, boleh tanya gak??" tanya Marwah dengan memperhatikan jari manisnya yang kini tersemat cincin pemberian Erwin.
" Apa?," sahut Erwin.
" kok cincinnya kecil sih?? maunya yang gede donk!!," celetuka Marwah manja.
" ya Salaaaaam," mas Erwin tepok jidat.
Marwah cemberut.
" oke sayang, segera setelah sah yaa," jawab mas Erwin dengan tertawa lepas bersama dengan Marwah yang ikut tertawa bahagia.
__ADS_1
🤣🤣🤣🤣🤣
Selamat menjalankan ibadah puasa yorobune 😘😘