Come A Closer Love

Come A Closer Love
44


__ADS_3

Marwah membawa mobilnya dengan cepat, karena tersisa 20 menit lagi tepat di jam 10. Dan ia pun sampai di kantor Aritama tepat di jam 10. Marwah pun turun dengan sedikit terburu-buru menuju lift kantor yang terlihat akan tertutup untuk naik.


" tunggu..,tunggu.,!!" sanggah Marwah dengan sedikit berjalan cepat.


Dengan cepat pintu lift itu pun terbuka kembali, dan Marwah pun terkaget ketika melihat sosok Erwin yang ternyata berada didalam lift tersebut. Dan seketika Marwah terlihat canggung ketika akan melangkah masuk kedalam lift tersebut. Ketika kakinya melangkah memasuki pintu lift, tiba-tiba ia langkahnya terhenti.


Erwin melihat dengan heran mengapa Marwah berhenti masuk di tengah pintu lift.


Marwah mencoba melangkahkan kakinya dengan kuat, namun tak bisa melangkah.


Erwin mencoba melihat dengan penasaran.


" kenapa??"


Marwah hanya tersenyum kaku, lalu Erwin melihat dengan teliti kebawah kaki Marwah yang ternyata tumit hak tingginya masuk diantara celah pintu lift.


" Hhmm, " gumam Marwah yang terus berusaha dengan kekuatan kakinya yang mencoba menarik sepatu tingginya yang nyangkut , hingga tanpa ia sadar, kakinya pun lepas dari sepatu tingginya tersebut hingga tubuhnya limbung dan reflek Erwin meriah tubuh Marwah kedalam pelukannya.


Kedua mata Marwah melebar ketika merasakan tubuhnya berada dalam pelukan Erwin. Dan terlihat Erwin pun sedikit terkaget dengan dirinya sendiri yang dengan cepat meraih tubuh Marwah yang akan jatuh.


Dan tak lama terlihat pintu lift tak bisa tertutup karena masih terdapat sepatu Marwah yang nyangkut disana, tiba-tiba terlihat sekertaris Chandra yang berjalan menuju lift dan reflek menarik sepatu yang tersangkut. Hingga akhirnya Sekertaris Chandra tercengang melihat atasannya Erwin dan Marwah saling berpelukan.


Hingga Erwin segera memyampingkan tubuh Marwah berlahan dengan canggung.


" pa..pagi sekertaris Cha!!" ucap Erwin tergagap.


" pagi, mas Chandra " sapa Marwah dengan kaku.


" Ah, siang direktur, Marwah, " balas sekertaris Chandra telak yang yakin bahwa ini telah masuk jam 11 siang dan dengan tenang masuk kedalam lift tersebut dengan atmosfir yang tak bisa dijelaskan.


Terlihat wajah Marwah yang tak karuan, ia mengigit bawahnya dengan menyesal. Ia bahkan tak berani menoleh pada sisi sampingnya karena Erwin berdiri dengan tenang.


" Aah, aku bisa gila kalau begini !!" rutu batin Marwah yang seolah lift itu terlalu lama naik keatas.


Dan ting.., suara lift itu sampai pada tujuannya pun terdengar. Dan berlahan pintu lift terbuka pelan. Dan ketiganya turun dengan sama-sama berjalan menuju meja kerjanya.


Terlihat beberapa karyawan wanita saling melihat pada diri Marwah yang baru datang berbarengan dengan Direktur Erwin. Sayup-sayup terdengar bisik-bisik yang tak digubris oleh Marwah yang cuek.


Hingga akhirnya Marwah sampai pada meja kerjanya, dan Erwin pun masuk kedalam ruangannya.


" Huuuffft, " napas lega Marwah yang duduk dengan seraya menghidupkan layar komputer. Namun tak sengaja Marwah beradu pandang dengan Erwin yang berada diruangannya yang terlihat tengah melihat pada dirinya. Marwah pun buru-buru mengalihkan pandangannya kearah samping dan ia bertemu dengan mas Chandra yang tengah memperhatikan dirinya dengan curiga.


" iiiss, kamu kenapa sama Direktur??" tanya sekertaris Chandra yang tiba-tiba berubah profesi sebagai polisi.


Marwah terkaget dengan pertanyaan Sekertaris Chandra.


" Ah, gak ada kok mas, gak kenapa-napa!! " elak Marwah dengan mengambil harddisk nya yang akan ia pasangkan pada PC komputer.


" gak mungkin !!, pasti kalian ada sesuatu " ujar Sekertaris Chandra dengan yakin.

__ADS_1


" sesuatu apa??" tanya Suci yang tiba-tiba kini berada di hadapan Marwah dengan beberapa kertas ditangannya.


" Ah, bukan, Hhmm, ada apa Suci??" sela Marwah seolah mengalihkan pertanyaan Suci.


" ini, baru sebagian yang udah aku buat, " ujar Suci dengan memberikan pada Marwah kertas-kertas tersebut.


Marwah meneliti dengan seksama, beberapa kali ia mengeyitkan dahinya. Walau hasil dari hasil yang telah Suci buat kurang memuaskan, namun ia menutupinya.


" Hhmm, sebagai koreksi.., " ujar Marwah yang kemudian mencoret beberapa bagian kertas, dan menjelaskan pada Suci secara detail yang ia maksud pada Suci. Suci terlihat mencoba memahami maksud Marwah yang diluar jangkauannya.


" oke, itu dulu, kalau kamu gak tau, bisa kasih tau aku, kita perbaiki lagi, " ujar Marwah.


" oh, oke.., " jawab Suci berat, lalu ketika akan balik ke meja kerjanya ia malah berjalan masuk kedalam ruangan Erwin yang terlihat tengah membaca kertas-kertas diatas mejanya.


" mas Erwin, " sapa Suci yang membuat Erwin sedikit menoleh.


" kok tumben datang terlambat sih ??" tanya Suci dengan berjalan menuju meja kerja Erwin.


" kenapa kamu kesini?? sana kerja!!" ujar Erwin yang sedikit malas diganggu oleh Suci.


" aih, kejam banget sih pak bos?? lagi bete yaa???" tanya Suci yang masih mencoba mencari celah pada Erwin.


" ya udah nanti sore Suci pulang bareng mas ya, sekalian jengguk tante ," ujar Suci.


Erwin memdengar dengan enggan, dan ia berpikir untuk pulan ke apartemennya jika Suci main kerumah keluarganya.


" mas sibuk, kamu bisa langsung kerumah " ujar Erwin tegas.


Erwin melihat dengan menggelengkan kepalanya melihat tingkah Suci yang tak banyak berubah. Dan tanpa sadar ia melihat aktifitas Marwah yang tengah menerima telfon dari handphone hasilnya. Sesaat Erwin terteguh, dan ia meraih gagang telfon dan tak berselang lama telfon dari meja Marwah pun berbunyi, sehingga Marwah terkaget, dan reflek mengangkat telfon diatas mejanya.


" ha..," ucap Marwah terputus ketika mendengar suara Erwin.


" kemarilah ..," ucap Erwin dengan melihat pada aktifitas Marwah yang terlihat wanita itu melihat kearah Erwin dengan wajah kaget. Lalu Erwin meletakkan kembali telfon itu ke tempatnya.


Marwah terlihat bingung.


" ada apa sih??" bisiknya dengan berlaham bangun dan berjalan masuk kedalam ruangan Erwin. Marwah masuk dengan ragu dan kini ia berada di hadapan meja kerja Erwin.


" Direktur, ada apa??" tanya Marwah ragu.


Erwin menatap Marwah dengan lekat-lekat.


" kamu, bener gak perlu handphone kamu lagi??" tanya Erwin.


Marwah terkaget.


" kenapa bahas ini??" gumam batin Marwah yang kaget.


" ya, handphone itu gak dibutuhkan lagi, silahkan jika Direktur ingin membuangnya ," ujar Marwah yakin.

__ADS_1


Erwin menghela nafas panjangnya, lalu meraih gagang telponnya kembali dan menekan 1 nomor. Dan tak berselang lama telfon itu pun tersambung pada tujuannya.


" Sekertaris Cha, bawakan kemari yang aku pesan tadi " ucap Erwin cepat dan kemudian ia menutup telfon itu segera.


Dan tak lama, sekertaris Chandra pun masuk dengan membawa dua paper bag sedang dan menaruhnya di atas meja Erwin.


" oke, makasih..," ujar Erwin dengan memberi kode pada Sekertaris Chandra untuk segera keluar.


Dan tanpa banyak bertanya Sekertaris Chandra pun keluar. Hingga Marwah terlihat bingung.


Erwin bangun dan membuka paper bag tersebut dan mengambilnya satu, lalu ia buka dengan cepat dihadapan Marwah.


Yang ternyata sebuah handphone jenis keluaran terbaru. Marwah melihat dengan bingung. Lalu tak berselang lama Erwin pun mengeluarkan satu kotak yang berisi handphone dengan merek yang sama. Dan Erwin dengan cepat mengotak- ngatik kedua handphone tersebut, dan akhirnya ia memberikan 1 kepada Marwah yang hanya melihat dengan datar.


" ini untuk mu, " ucap Erwin dengan menatap wajah Marwah.


Marwah tak bergeming.


" kenapa??? bukan kah kamu butuh handphone pengganti??" timpal Erwin lagi.


" maaf, tapi aku bisa membelinya sendiri, " jawab Marwah tegas.


" aku tidak mengijinkannya!!" balas Erwin cepat dengan meraih tangan Marwah dan memberikan handphone tersebut di tangan Marwah yang terlihat menolak.


Dan dengan cepat, Erwin mengambil handphone yang satunya lagi lalu mengetik sesuatu dan seketika handphone yang berada ditangan Marwah pun berdering.


Marwah terkaget, dan reflek melihat nama yang tertera disana " Direktur No. 1 Erwin Aritama" .


Marwah terhenyak, dan menatap dengan tak percaya nama yang tertera di layar handphone yang berdering.


" ayo angkat !!" perintah Erwin memaksa Marwah yang masih terpaku pada layar handphone. Dan dengan berat Marwah mengikuti instruksi Erwin, lalu menjawab telfon tersebut dengan membawa handphone itu ke sisi telinga kanannya.


" ingat !! untuk selalu mengangkat telfon dari ku," ucap Erwin dengan menatap wajah Marwah yang terpaku melihat pada dirinya yang tersenyum karena berhasil mengerjai Marwah.


Terlihat wajah syok Marwah mendengar perkataan Erwin. Dan setelah itu Erwin memasukkan kotak perlengkapan handphone milik Marwah kedalam paper bag nya, lalu menyerahkannya pada Marwah.


" Direktur, ini.., ter, " ucap Marwah yang enggan menerima pemberian Erwin.


" jika kamu menolak, itu tandanya kamu mengajak perang dengan atasanmu !!" ujar Erwin memaksa.


Marwah tercengang mendengar ucapan Erwin, yang membuatnya akhirnya tak punya pilihan lain.


" oke, kembali kemeja mu, dan aku ingin besok persentasi pertama mu !!" ujar Erwin kembali tegas.


Marwah hanya menghela nafas panjang.


" ya " jawab Marwah yang kemudian keluar dari ruangan Erwin dengan berat.


Dan ketika Marwah melewati meja Sekertaris Chandra, ia pun mendapt tatapan penuh curiga dari sekertaris Erwin ini yang terlihat tersenyum pada Marwah.

__ADS_1


" bener kan??, kamu pasti ada apa-apanya sama Direktur !!" ucap Sekertaris Chandra yakin.


" Ah, enggak kok mas, " ucap Marwah dengan wajah tak berekspresi.


__ADS_2