
Sore itu dengan suasana rintik-rintik hujan, nyonya Aritama datang ke toko dr. Dessert. Marwah terpaku dan terlihat kaget ketika senyum hangat nyonya Aritama pada dirinya.
" apa kabar Marwah?," sapa nyonya Aritama hangat.
" mama??," sahut Marwah berbisik seraya menaruh box dessert yang baru saja selesai ia buat. Lalu berjalan mendekat pada wanita paruh baya tersebut.
" apa kah kamu punya punya waktu??," tanya nyonya Aritama menatap wajah Marwah.
Deg.., Marwah terpaku.
" ya, bagaimana jika dirumah atas saja," tawar Marwah.
Nyonya Aritama mengangguk pelan, dan ia mengikut
Marwah yang memberi jalan pada nyonya Aritama untuk menuju rumah atasnya. Dan mereka pun melewati dapur roti yang tengah dibereskan oleh dua karyawan toko.
Hingga akhirnya Marwah membuka pintu rumah sederhananya dan mempersilahkan nyonya Aritama untuk masuk. Wanita itu menikmati sekeliling yang terlihat sederhana dan nyaman.
" silahkan duduk mah, maaf jika terlihat tidak nyaman," ucap Marwah yang sedikit canggung.
" rumah yang nyaman, " sahut nyonya Aritama.
" mama mau minum apa??, mau secangkir coklat hangat atau pure jus?,"
" jangan repot, mama hanya ingin berbicara dengan kamu" sahut nyonya Aritama seraya duduk di sofa tv dengan nyaman.
Marwah sedikit tak enak. Namun perlahan ia mengikuti keinginan Nyonya Aritama untuk duduk di sofa sederhana itu.
Nyonya Aritama terlihat menyimpan kesedihan dari balik senyumnya.
" Marwah, " ucapnya berat.
" maaf jika mama datang membuat kamu sedikit terkejut, tapi sebagai seorang ibu mama hanya ingin melihat wajah bahagia putra mama,"
" kamu tau?? Erwin benar-benar mencintai kamu, kamu adalah kebahagiannya, tapi....," ucap nyonya Aritama tertahan dengan suara bergetar yang dapat Marwah rasakan.
" bisa kah mama meminta sesuatu??, " tanya nyonya Aritama dengan menatap kedua bola mata Marwah seraya memegang jemari Marwah.
" bisa kah kamu mengiklaskan Erwin??," ucap nyonya Aritama dengan menitik kan air matanya.
Jleb..,hati Marwah tersakiti.
" apa??," sahut Marwah dengan suara parau yang nyaris hilang.
Dengan menelan salivannya nyonya Aritama memegang jemari Marwah.
" Erwin ingin pergi menyembuhkan sakitnya, namun ia tak ingin kamu tau," ucap nyonya Aritama berat.
" ia terus berpikir keras agar kamu tak terluka lagi karena dirinya, ia terus bersedih jika kamu melihatnya sakit dan menangis untuknya," jelas nyonya Aritama dengan iringan airmata di pipi.
" ia bahkan tak sanggup membayangkan jika ia gagal dimeja oprasi dan meninggalkan kamu sendiri yang pasti akan terguncang, ia terus berpikir hal-hal terburuk, karena ia tau kamu pasti akan sangat terluka jika itu terjadi,"
Marwah kehilangan kata-katanya. Akhirnya ia tau mengapa Erwin menolak lamarannya.
Seketika air mata Marwah jatuh di pipinya, ia tertunduk pilu di hadapan nyonya Aritama.
" Erwin memang selalu memikirkan semuanya sendiri, ia tumbuh dengan berbagai beban di pundaknya," ucap nyonya Aritama.
" karena itu, bisa kah kamu memberi kebahagiaan pada putra mama untuk saat-saat ini, ciptakan kebahagian untuk Erwin, dan tunjukkan jika kamu mendukung setiap keputusannya..., " ucap nyonya Aritama berat.
" hanya itu, yang mama minta," sambung nya dengan wajah sedihnya.
Permintaan yang membuat dunia Marwah hancur.
" ba..bagaimana Marwah akan ikhlas?, mah??," sahutnya bergetar.
Marwah terlihat syok hingga tubuhnya pun ikut terguncang. Dan perlahan nyonya Aritama memeluk tubuh Marwah dengan penuh sayang, ia tau pasti hati Marwah sangat hancur mendengar hal ini.
" maafkan mama sayang, sungguh mama minta maaf, "
" mama ikut bersedih untuk kalian,"
Dan akhirnya tangis Marwah pecah di pelukan hangat nyonya Aritama. Mendengar hal itu hati nyonya Aritama pun bersedih. Di dalam benaknya ia membayangkan ucapan Erwin beberapa waktu yang lalu.
" mama tau?? Marwah tak akan kuat jika sesuatu terjadi pada Erwin, dia terlalu cengeng dan susah untuk berhenti jika menangis, Erwin gak mau Marwah terpuruk itu akan sangat menyedihkan bagi Erwin," suara Erwin bernelangsa.
" Kamu benar nak, gadis ini benar-benar rapuh," gumam batin nyonya Aritama dengan memeluk Marwah yang masih terus menangis seraya memberikan usapan sayang di punggung wanita yang sangat di cintai oleh putranya ini.
Butuh waktu yang agak lama, hingga tangis Marwah reda. Dan dengan hangat nyonya Aritama memeluk tubuh Marwah yang kini mengantar dirinya didepan toko dr. Dessert yang terlihat basah karena hujan yang sempat menguyur sore itu
" Terima kasih sayang, mama berterima kasih untuk kebaikan hati kamu dan ketulusan hati kamu," ucap nyonya Aritama dengan penuh arti membelai wajah sembab Marwah.
" Ya mah, terima kasih karena menyayangi Marwah,"
" Mama pergi dulu, terima kasih untuk cake nya, pasti mama akan merindukan cake buatan kamu," pamit nyonya Aritama berat.
Marwah membalas dengan tersenyum pilu, lalu ikut mengantar hingga nyonya Aritama yang hendak naik kedalam mobil sedannya. Namun dengan cepat nyonya Aritama menarik tangan Marwah sehingga Marwah terkaget. Terlihat nyonya melepaskan gelang dari tangannya lalu memakaikannya kepada Marwah yang kaget.
" mah, " ucap Marwah kaget.
" Ini hadiah dari mama yang diberikan oleh Erwin, namun sekarang ini adalah milik kamu, karena kamu adalah wanita yang Erwin cintai," ucapnya seraya mengusap jemari Marwah dengan sayang.
" Jaga kesehatan kamu, semoga kita bisa bertemu di waktu yang bahagia nantinya, " ucap nyonya Aritama berharap dan ia pun masuk kedalam mobil sedannya.
Marwah hanya bisa berdiri mengiringi kepergian mobil sedan itu dengan wajah sedih. Lama ia termenung memandang hilangnya mobil itu dari pandangannya.
Dengan menghela nafas panjangnya, ia memegang gelang itu.
🍃🍃🍃
Malam harinya, sepeninggalan nyonya Aritama, Marwah yang menyibukkan diri dengan membuat cake-cake mewah. Entah mengapa kali ini ia ingin mewujudkan permintaan nyonya Aritama, walau hal itu berat dan nyaris melukai hatinya.
Hati dan pikiran tengah mencoba berdamai dengan kenyataan yang harus ia terima. Hingga Marwah tak menyadari kehadiran mama Wulan dan kak Safa yang melihat Marwah yang terlihat berbeda.
" Marwah??," panggil mama Wulan dengan wajah cemas melihat wajah sedikit sembab.
Marwah terpaku dengan tangannya terhenti mengoleskan fla pada cake boxnya. Di ikuti kak safa yang ikut kaget melihat wajah sembab Marwah.
" kamu kenapa??, apa sesuatu terjadi?," tanya kak Safa seraya mendekat pada Marwah yang diam membisu.
Pelan ia meletakkan alat cakenya, dan berberjalan cepat seraya memeluk kak Safa ya tengah menggendong Mecca.
" kak, " ucapnya dengan suara parau.
Mama Wulan mendekat, dan tangannya membelai sayang punggung Marwah.
" kamu kenapa sayang??, ayo certia??,"
Marwah menutup matanya sesaat dan dengan berat ia pun berbicara.
" mas Erwin akan pergi dan Marwah.., Marwah akan melepaskannya," ucap berat dengan diiringi air mata sedihnya.
" apa??," kak Safa terkaget.
Begitu pun dengan wajah mama Wulan yang tak percaya. Lama waktu berlalu.
Dan kini, setelah Marwah lebih tenang mama Wulan dan kak Safa terlihat bersimpatik dengan masalah yang Marwah hadapi.
" apa kamu yakin??," tanya mama Wulan melihat pada putrinya Marwah.
Marwah menggelengkan kepalanya pelan. Lalu ia menarik nafasnya.
" walau melepaskan butuh banyak keberanian dari pada mempertahankan, tapi Marwah akan coba mengikuti keinginan mas Erwin, dan Marwah hanya ingin mas Erwin punya ingatan yang bahagia tentang Marwah," ucapnya berat.
Mama Wulan mengusap punggung Marwah seraya ikut sedih melihat Marwah.
" kakak percaya, kamu pasti bisa" sela kak Safa seraya memberika semangat pada adik kembarnya.
" untuk sementara waktu, mama akan menghandel dr. Dessert," sambung mama Wulan.
Tanpa sengaja air mata Marwah pun jatuh kembali.
" makasih ya mah, kak..,"Pelan Marwah pun akhirnya menangis kembali untuk kesekian kalinya. Ia tak bisa membohongi jika hatinya bersedih.
Hal itu membuat kak Safa dan mama Wulan kian risau. Hingga mereka pun tak henti-hentinya memberikan semangat pada Marwah.
Hingga malam harinyanya, mama Wulan tak pulang ia pun menemani Marwah tidur di toko dr. Dessert. Walau kenyataan Marwah tak benar-benar bisa tidur.
Dan pagi harinya, keduanya bangun di waktu 4 pagi. Seraya memulai hari dengan membuat cake kembali. Mama Wulan yang memiliki ke ahlian cake boxnya pun bersama dengan Marwah terlihat tenggelam dalam dunia mereka.
Tepat di pukul 7 pagi, Marwah meminta izin pada mama Wulan untuk pergi.
" mah, Marwah pergi dulu yaa,"
" ya sayang, yang tegar yaa," ucap mama Wulan.
Marwah hanya tersenyum simpul seraya ia meninggalkan toko dr. Dessertnya.
🍃🍃🍃
Beberapa saat berlalu setelah 35 menit Marwah melajukan mobil nya menuju apartement Erwin.
Hingga kini mobil Marwah pun tiba di basement apartemen Erwin.
Setelah turun dari mobilnya ia mencoba menghirup udara sebanyak mungkin, Marwah mencoba menenangkan hatinya. Dengan membawa cake dr. Dessert ia melangkah berjalan pasti menuju lift.
Setiba nya di lantai apartemen Erwin Marwah berjalan pelan hingga kini langkahnya terhenti didepan pintu apartemen Erwin.
Marwah melihat pada sisi tombol bel di pintu apartemen itu, ia berpikir sejenak. Namum akhirnya ia menekan tombol bel itu. Satu kali tombol itu berbunyi satu kali pula degup jantung Marwah berdebar, namun tak mendapat jawaban dari dalam sana.
Dengan harap cemas Marwah mencoba menekan tombol bel kedua dengan agak sedikit lama. Dan jantungnya berdegup dengan harap-harap cemas
Hingga bunyi pintu akhirnya terbuka.
Klak..,
Dan kedua mata Marwah terpaku melihat Erwin yang terlihat sedikit pucat seolah menahan sakit. Hati Marwah goyang, ia ragu akan keputusannya.
" Marwah," suara Erwin meyadarkan Marwah.
" mas??," sahut Marwah cemas seraya mendekat pada Erwin yang seperti bertumpu pada daun pintu tersebut.
" apa mas sakit?? dimana?, apa ada obat?? atau kita kedokter??," ucap Marwah yang spontan khawatir dengan menatap cemas pada Erwin.
Jemari Erwin menahan tangan Marwah yang memegangan wajahnya.
" Marwah??," ucap Erwin menyadarkan Marwah.
" mas baik-baik saja, hanya sedikit pusing saja," ujar Erwin seraya mencoba meyakinkan dengan tersenyum hangat pada Marwah.
Walau tak yakin, tapi Marwah tak berkeras. Perlahan ia pun mencoba mengontrol cemasnya.
Sesaat keduanya hening.
" ayo, masuklah," ucap Erwin pada Marwah.
Marwah masuk kedalam apartemen Erwin yang mulai sedikit terang seiring mentari pagi menyinari dari jendela ruangan itu.
Erwin berjalan menuju dapurnya dan ia mengambil sebuah kotak dari dalam lemari gantungnya dan ia mengeluarkan obat dan setelah ia mencoba mengambil gelas seraya mengisi air mineral dari dispenser lalu dengan cepat ia meminum obat itu .
Marwah hanya bisa memperhatikan Erwin dengan hati berkecambuk. Hingga dengan instingnya, ia memeluk tubuh Erwin dari belakang. Erwin terkaget.
" Marwah??,"
Marwah terdiam sesaat, lalu dengan menelan salivanya ia membuka suara.
" maaf, Marwah tak ingin ada kesalah pahama diantara kita, karena kesalah pahaman ini akan membuat jarak diantara kita, dan hal itu menbuat Marwah takut, mas akan membenci Marwah," ucapnya pelan.
Erwin terpaku mendengar ucapan Marwah.
" Marwah gak ingin mas merasa tak nyaman, karena keinginan Marwah untuk bisa menjadi wanita yang bisa membuat mas nyaman," sambungnya dengan menaham gemuruh hatinya.
" Marwah?," ucap Erwin dengan pelan melepaskan tangan Marwah dari pinggangnya seraya berbalik menatap wajah Marwah yang terlihat bola mata wanita yang ia cintai ini berkaca-kaca.
Marwah menatap dalam pada Erwin.
" sekarang.., kita harus membayar waktu kebersamaan kita yang terbuang dan kita ganti dengan hal yang indah, hingga mas akan mengingat bahwa yang mas lalui adalah kebahagian bersama Marwah.., " ucapnya tulus.
Erwin terpaku, ia tak percaya dengan ucapan Marwah .
" karena...," ucapnya terhenti seolah sesak didadanya tak terbendung lagi.
" karena hanya itu yang bisa Marwah berikan untuk mas," ucap Marwah dengan air mata yang jatuh di hadapan Erwin.
Ucapan Marwah membuat insting Erwin yang seketika meraih tubuh Marwah kedalam pelukannya.
Hingga akhirnya tangis Marwah pecah.
" Marwah benar-benar mencintai mas, " ucap Marwah terisak . Hingga ia pun memeluk penuh sayang pada wanita yang sangat ia cintai ini dan mencoba menguatkan nya dengan menjatuhkan ciuman sayang di kepala Marwah.
Erwin tau ini menyakitkan, namun ini yang terbaik.
🍃🍃🍃
Pengakuan Marwah cukup menguras perasaan keduanya Hingga setelah puas menangis, kini Marwah yang baru saja mencuci wajah dan terlihat sembab pun berjalan menuju meja makan.
Terlihat Erwin tengah mempersiapkan piring di atas meja tersebut dan juga telah tersedia cangkir yang telah berisi teh hangat.
Marwah yang kembali dengan sedikit canggung. Mengingat tadi ia menangis cukup lama dan menbuat baju Erwin basah oleh air matanya.
" Sudah baikkan??,"
" hmmm," gumam Marwah seraya duduk di kursi meja makan.
Erwin tersenyum simpul, lalu ia meraih cangkir teh hangat dan memberikannya dihadapan Marwah. Marwah menyambut dengan segera teh tersebut.
" minum lah, ini akan menenangkan," ucap Erwin pada Marwah.
" makasih mas," sahut Marwah pelan dan ia pun mencoba menyerut teh tersebut dengan pelan. Dan terlihat ia terkagum dengan rasa teh yang memiliki rasa buah yang telah diawetkan.
" waah, tehnya kok bisa seseger ini mas??," kagum Marwah dengan kedua bola matanya melebar, lalu kembali menyerut teh tersebut.
Erwin tertawa kecil melihat ekspresi Marwah.
" itu teh dari Malaysia, kata Johan teh itu bisa membuat perasaan jadi lebih tenang," jelasnya.
" pak Johan??," seru Marwah kaget.
" iyya, dia adalah pencinta teh, tapi entah mengapa ia hanya meminum teh pahit dan tak pernah mencoba teh lain," sambungnya seraya Erwin mencoba teh tersebut. Dan ia pun ikut terkagum dengan rasa teh tersebut.
Marwah sedikit terdiam, ia sedikit mengingat perkataan Johan tentang tindakan dirinya yang dinilai lebay dan egois ketika akan menyelamatkan Erwin.
Mengingatkan hal itu, Marwah senyum kecil seraya bernelangsa.
" kenapa?," tanya Erwin yang menyadari ekspresi wajah Marwah.
" ah, jika mengingat pak Johan, Marwah merasa ia sedikit aneh," ucap Marwah dengan menyerut kembali tehnya.
" iyaa, dia meman aneh, tapi dia sahabat yang baik," ucap Erwin mengenang.
Marwah menyetujui ucapan Erwin dengan mengangguk pelan.
" tapi??, itu apa???," tanya Erwin yang mengagetkan Marwah.
Marwah melihat tunjuk Erwin yang mengarah pada plastik dr. Dessert. Lalu ia tersenyum usil dan menarik plastik tersebut dan membuka nya dihadapan Erwin.
__ADS_1
" ini adalah cake, buatan mama dan Marwah," ucapnya dan memperlihatkan cake buatannya pada Erwin yang menunggu.
" carrot cake," sebut Marwah dengan menarik sebuah pisau plastik dari sisi kotak dan mencoba memotongnya. Lalu Marwah mengambil potongan cake tersebut seraya memberikan dihadapan mulut Erwin yang sedikit kaget.
" ayo mas dimakan," seru Marwah bersemangat, dan terlihat Erwin ragu.
" walau carrot, tapi rasa cakenya benar- benar lezat," ucap Marwah menyakinkan Erwin, dan perlahan mulut Erwin pun terbuka sedikit.
Nyam..,
Pelan Erwin mencoba mengunyah cake tersebut yanng memiliki rasa istimewa. Ia pun di buat kagum dengan rasa cake tersebut.
" hmm, ini enak, manisnya pas, dan...dan gak ada rasa wortelnya lagi," ucap Erwin menilai.
Marwah tersenyum kecil. Lalu Erwin meriah tangan Marwah kembali dan menuntunnya untuk menyuapi kembali cake tersebut kedalam mulutnya dengan satu suapan besar.
Dan hal itu sukses menbuat Marwah tertawa melihat mulut Erwin jadi sedikit belepotan crem cake..
" pelan-pelan donk mas makannya?" ucap Marwah seraya meraih tisu lalu ia pun menyeka sudut bibir Erwin yang tengah menguyah.
Namun dengan cepat tangan Erwin menarik kursi Marwah agar mendekat sehingga jarak keduanya pun terlihat lebih dekat.
Marwah sedikit terkaget.
" kalau mau bersihin yaa harus dilihat dekat donk," celetuk Erwin dengan tersenyum usil.
" ck, mata Marwah masih jelas kok, ini..ini, ini juga," ucapnya seraya menyeka sudut bibir Erwin dengan sengaja.
Erwin memandang wajah Marwah dengan dalam.
" ternyata matamu benar-benar indah," ucap Erwin pelan.
Marwah bergeming dan menatap Erwin. Lalu tangan Erwin membelai lembut wajah Marwah dengan mengikuti garis wajah Marwah yang lembut.
" hidung mu, bahkan sudut bibir mu, benar-benar indah,"
Marwah tersenyum, perlahan ia sedikit bergerak mendekat dan menjatuh kecupan di bibir Erwin sekilas.
Cup..,
Erwin bergeming.
" maka, jangan pernah lupakan Marwah," pinta Marwah lembut dengan jemarinya menyentuh wajah Erwin.
Erwin tersenyum, lalu perlahan ia pun meraih wajah Marwah dan seketika ia menjatuhkan ciuman pada bibir Marwah. Marwah yang terkesiap, membalas pangutan hangat bibit Erwin dengan jemarinya turun pada dada Erwin.
Ciuman yang cukup manis untuk memulai hari-hari mereka kembali.
💗💗💗
Waktu pun berjalan, Erwin dan Marwah mulai sering menghabiskan waktu bersama. Keduanya membuat waktu mereka diisi dengan kebahagian.
Walau dirasa semu, tapi Marwah berusaha kuat dihadapan Erwin. Ia mencurahkan seluruh cintanya pada Erwin.
Sesekali mereka pun ikut mengecek Sunrise hotel dengan saling bertukar pendapat, bahkan Marwah pun membagi ilmu perhotelan nya pada Erwin.
Terlihat Erwin menikmati kebersamaan mereka berdua. Ia bahkan mengabadikan moment dirinya dan Marwah.
Ia sering mengambil foto Marwah dengan berbagai ekspresi. Dan Erwin begitu menikmati hal itu. Walau waktunya tak akan lama, tapi ia merasa kebahagiannya benar-benar hampir sempurna.
" setiap moment adalah kamu, disaat aku mencintai dan disaat aku terluka. Dan bahkan moment perpisahan, kau adalah seluruh isi dunia bagi ku," Erwin.
" walau telah berusaha tegar, tapi aku tak bisa menahan rasa cinta ini. Dan seberapa besar rasa kecewaku nanti, aku tak akan berhenti mencintaimu" Marwah.
" kau harus tau, jika aku tak di sisi mu lagi, aku akan tetap mencintai mu" Erwin.
" pertemu dengan mu begitu singkat, tapi penantian ku begitu lama," Erwin.
" Cinta bukan hanya memberi, tapi cinta itu soal memberi dan menerima, dan seluruh cinta ini hanya untuk mu " Marwah.
" jika aku tau waktu bersama kita akan sesingkat ini, aku pasti akan selalu mengatakan bahwa aku benar-benar mencintai mu Marwah," Erwin.
" aku akan memilih malam, meski gelap. Aku memilih luka, meski sakit. Dan aku akan tetap memilih kamu, meski rindu," Marwah.
" melihat mu tersenyum dan tertawa, itu sudah cukup bagi ku, " Erwin.
" Wanita yang memberikan cinta yang aku inginkan adalah kamu, Wanita yang aku rindukan setiap harinya adalah kamu. Bukan karena kamu yang membutuhkan aku, tapi karena rasa cinta ku pada mu, sehingga aku yang membutuhkan dirimu," Erwin.
Dan kini terlihat Erwin duduk dimeja kerjanya dikamar dengan memandang foto-foto Marwah dan dirinya selama beberapa hari ini pada layar laptopnya. Ia menandang dengan wajah sendunya.
Ada rasa sesak dihatinya ketika melihat sebuah amplop tiket pesawat di sisi laptopnya.
Perlahan ia merasakan rasa sakit dikepalanya lagi yang kian sering muncul. Ia pun berusaha mencari obat penahan rasa sakit yang berada di laci sisi tempat tidurnya. Dan segera meminumnya.
Butuh beberapa menit agar reaksi obat bekerja dengan baik mengurangi rasa sakit yang kian menyiksa. Dan sesaat ia merasakan tangan kirinya sedikit kaku. Erwin bersusah payah menahan kejang jemari tangannya yang kaku.
Hingga terdengar suara deringan telfon yang mengusik Erwin, ia berusaha mengapai handphone nya yang berada di meja kerjanya dan terkaget melihat nama Marwah tertera disana.
Dengan berusaha menguatkan diri dari rasa sakit, ia pun mengangkat telfon dari Marwah.
" hallo??"
" mas??," sahut Marwah riang.
" apa mas sudah makan???," ..
Butuh waktu untuk Erwin menjawab.
Hingga Marwah merasa curiga.
" mas???,"
" apa mas baik-baik saja??,"
mendengarkan hal itu, Erwin pun berbicara.
" kenapa suara mas berbeda??," tanya Marwah cemas,.
" ah, itu tadi batuk karena tersedak waktu minum, jadi agak sedikit serak," jawab Erwin bohong dengan manahan tangannya yang kaku.
" benarkah??"
" hmm yaa, ada apa? menelfon??," .
" ah, benar, hampir aja lupa, besok kita nonton gimana??, sepertinya ada film baru yang seru,"
Erwin terdiam sesaat mencoba menahan sakit.
" mas??,"
" hmmm," sahut Erwin bergumam.
" gimana??, mau gak??," tanya Marwah kembali.
" maaf sayang, mas gak bisa..," ucap Erwin tertahan.
" kenapa??,"
" besok mas kumpul bersama Johan dan Chandra,"
" ooh, oke, next time yaa," ucap Marwah paham.
" ya," sahut Erwin.
" kamu sedang apa???,"
" Marwah??, Marwah baru cuci muka dan mau pakai crem malam," jelas Marwah.
" oya? coba kirim foto kamu sekarang ?," pinta Erwin.
" hah??,"
" mas mau liat wajah kamu tanpa make up," ucap Erwin seraya merasa kaku tangannya berkurang.
" sekarang???" Marwah kaget.
" hmm,"
" ikh, gak usah, tar mas gak bisa tidur liat wajah Marwah tanpa make up," celetuknya sengaja.
Erwin tertawa kecil.
" itu lebih bagus jadi mas akan memandang foto kamu terus," balasnya.
Sesaat hening keduanya.
" Marwah??,"
" hmm," guman Marwah menyahut.
" kita pertemu besok malam, ya??," ucap Erwin seraya melihat tiket pesawat diatas mejanya.
" ya," sahut Marwah setuju.
" mas mencintai kamu..., dan terima kasih," ucap Erwin dengan dalam.
Disisi lain, Marwah menangis dalam diam mendengar ucapan Erwin yang menyayat hatinya.
" malam sayang, mimpi yang indah," ucap Erwin hendak mengakhiri komunikasi itu.
" ya," jawab Marwah sedikit tertahan. Dan komunikasi itu pun terputus dengan Marwah menahan gemuruh hatinya. Ia mencoba untuk menghilangkan sedihnya dengan mencoba tersenyum di depan kaca, dan ia mencoba mengambil foto dari kamera handphone. Lalu mengirim kan foto dirinya pada Erwin.
" love you," Marwah, dan capture itu pun ia kirim kan pada Erwin.
🍃🍃🍃
Esok paginya, Erwin yang bangun lebih awal pun bersiap-siap dengan mengunakan pakaian kasual ia merasa telah siap untuk mempersiapkan segalanya sebelum pergi.
Dan tempat yang ia kunjungi pertama adalah penjara. Tempat kini Toni di tahan.
Walau ragu, ia ingin bertemu dengan Toni terakhir kalinya.
Kini berada di kantor kepolisian tempat Toni ditahan dan masih menjalani proses persidangan guna menentukan nasib akhir Toni. Erwin yang menunggu diruang tunggu pun sesekali melihat pada jam tangannya dengan gelisah.
Hingga suara derap langkah sepatu terdengar sehingga ia pun menoleh dengan wajah datar melihat kedatangan Toni yang kini terlihat berbeda.
" kenapa kemari??? kau ingin menertawakan aku??," ucap Toni ketus.
" tidak," sahut Erwin datar.
" lalu?? untuk apa??,"
Erwin terdiam sesaat dengan wajah tak berekspresinya.
" aku hanya datang meminta maaf, untuk terakhir kalinya," ucap Erwin dalam.
Toni diam melihat Erwin.
" walau kau tak terima , tapi aku harus mengatakan ini..,"
Terlihat Toni menertawakan Erwin dengan meremehakan Erwin.
" maaf??? maaf dan maaf yang akan selalu kau ucapkan, dasar lemah !!," pancing Toni.
" dan maaf mu tak akan pernah aku terima,"
Erwin tersenyum tipis, ia sudah bisa membayangkan ucapan sinis Toni.
" aku ikut prihatin dengan dirimu, dan seharusnya kata-kata itu adalah milik mu, karena aku tau rasa penyesalan mu yang besar itu," balas Erwin menatap tajam Toni.
" orang yang sangat menyesal adalah KAMU, Toni, orang yang tersakiti juga dirimu sendiri Toni, karena semua terjadi karena ulah mu sendiri, kau hanya mengunci dirimu dengan melemparkan semua salah mu pada ku," ujar Erwin yang menusuk diri Toni.
Toni terhenyak, ia seolah tertampar dengan ucapan Erwin.
" sekarang renungkan semua kesalahanmu, benci mu dan dendam mu yang tak beralasan!!," ucap Erwin dengan nada amarah yang ia tahan.
Toni terpancing emosi, sehingga dengan cepat ia meraih kerah baju Erwin yang siap dengan aksi Toni.
" KAU !!!," BERANI-BERANINYA MENASEHATI AKU!!," ucap Toni emosi.
" seharusnya kau MATIIIIIII," hardik Toni yang mengema diseluruh ruangan itu.
Lalu dengan sigap para polisi jaga menarik Toni agar mererai aksinya yang ingin mememukul Erwin.
Erwin menarik nafas panjang, seraya merapikan bajunya yang kusut. Lalu ia tersenyum sinis.
" sepertinya doamu akan terwujud," ucap Erwin.
" apa??," sahut Toni bingung.
" aku akan pergi, dan tak akan pernah bertemu dengan mu lagi, sepupu ku" ucapnya seraya berjalan meninggalkan wajah kaget Toni, namun ia seolah gila, ia tertawa terbahak-bahakn mendengar ucapan Erwin yang akan mati.
" ITU DOA KU DAN DOA KEDUA ORANG TUAKU, KAU YANG MEMBUAT KELUARGA KU HANCUR, KAU PANTAS MATI ERWIN...KAU PANTAS MATI !!!," pekik Toni mengirinya kepergian Erwin yang berwajah sedih.
Perlahan Toni yang tertawa lepas seketika berubah sedih, dan ia pun roboh seketika. Ada rasa penyesalan yang tak bisa ia ucap. Dan air matanya pun jatuh tanpa ia sadari.
" kenapa?? kenapa kau begitu dibanggakan !!!," ucap Toni lirih seraya diseret oleh para petugas polisi untuk masuk kembali kedalam sel tahanan.
Seiring kenangan canda tawa kebersamaan dirinya dan Erwin pernah terkenang kembali, betapa keduanya adalah rekan sejati. Dan pada akhirnya ia terisak sedih.
🍃🍃🍃
__ADS_1
Dan setelah pertemunya dengan Toni, kini Erwin duduk santai di kantor pengacara Johan dengan telah disuguhkan teh hangat, oleh pegawai pengacara itu.
Ini pertama kalinya ia yang menunggu pengacara itu kembali dari sidangnya. Dan ia pertama kalinya ia menikmati teh hangat yang sering di suguhkan oleh pengacara itu di waktu mereka sibuk.
Ia tersenyum kecil ketika mengingat awal mula pertemanan mereka ketika berada dalam 1 dormitory sebagai mahasiswa baru dari Indonesia.
Sifat yang keras dan perfeksionis juga memiliki hobby yang sama membuat mereka cocok satu sama lain sebagai anak rantau.
Meski jurusan keduanya berbeda, tapi hal itu menjadi hal yang menyenangkan bagi keduanya karena dapat berbagi ilmu dengan gratis.
Johan yang berada di dunia hukum, sedangkan Erwin bergelut didunia bisnis dan internasional membuat mereka terikat satu sama lain dalam berbagai hal.
Erwin mengenang semua perjalanan mudanya yang penuh pengalaman bersama Johan. Dan kini Johan berada di posisi cemerlang.
Dan terdengar suara khas Johan yang tengah berbicara dari handphone semakin jelas terdengar seiring dengan muncul nya pria tinggi itu masuk kedalam ruang kantornya. Ia berjalan melewati Erwin dengan wajah lelah seraya duduk di kursi kerjanya.
Erwin tersenyum kecil.
" kau bisa lelah juga,"
" aku bukan robot," ujar Johan seraya melepaskan dasi dari kerah bajunya lalu membuka jasnya dengan cepat.
Erwin tertawa kecil.
" aaahh,, hari-hari ku begitu tentram nyaman dan tanpa beban," celetuknya mengejek Johan.
" tapi kau pengangguran" balas Johan dengan bangun dari kursinya dan duduk bersama Erwin di sofa ruangannya.
" pengangguran kaya," timpal Erwin tak mau kalah. Dan berakhir dengan lirikan keduanya yang tertawa lucu dengan tingkah mereka yang tak berubah.
" kau sehat??," tanya Johan dengan santai berselonjor di sofanya.
" hhmm, tidak terlalu baik," sahut Erwin dengan mengambil cangkir teh miliknya dan meminumnya perlahan.
Johan bergeming lalu menatap serius pada Erwin.
" apa kau tidak kedokter??," tanya Johan serius.
" yaaaa, itu pasti, hanya...," ucap Erwin terhenti ia sedikit menarik nafas panjang.
" mungkin hidup ku akan berakhir di meja operasi atau aku cacat seumur hidup," jelasnya pelan.
Johan terkaget lalu ia bangun untuk duduk dengan serius melihat pada sahabatnya ini.
" benarkah??,"
" hmmm, dua dokter telah mengatakan hal yang sama," ujarnya datar.
" Ya Tuhan," lirih Johan terkaget.
Namun seketika Erwin tersenyum kecil.
" jangan melihat ku sepeti besok aku akan mati, lagi pun kau masih punya satu cara untuk meringankan bebanku," ucap Erwin seraya tak beberapa lama Sekertaris Chandra masuk bersama Dodi bersamaan.
Johan melihat kedua sekertaris itu masuk dengan saling tertawa kecil dengan obrolan yang seru. Dan terdiam seketika ketika menyadari jika keduanya dintatap tajam oleh bos mereka yang berdarah dingin.
" untuk apa mantan sekertaris mu datang kemari??," tanya Johan tajam.
Erwin tersenyum simpul.
" ramah lah sedikit, dia calon wakil dirut baru," ucap Erwin pernuh misteri pada sekertaris Chandra yang bingung dengan ucapan Erwin.
" calon wakil dirut???," balas Johan.
🍃🍃🍃
Setelah urusannya bersama Johan selesai, akhirnya Erwin pulang ke apartemennya dengan sedikit lelah.
Hari ini benar-benar melelahkan baginya.
Setiba di apartemennya ia membersihkan diri agar hilang semua rasa penatnya lalu menyiapkan sesuatu pada saat Marwah datang nanti malam.
Tepat di jam 7 malam, bel apartement Erwin pun berbunyi. Dengan santai Erwin berjalan membuka pintu itu. Dan terlihat Marwah berdiri dengan senyum mengembang diwajahnya.
" selamat datang nyonya," sambut Erwin, lalu dengan cepat membuka pintu apartemennya melebar, hingga Marwah tertawa kecil melihat tingkah Erwin bak pelayan hotel.
Marwah ikut tertawa kecil seraya masuk dengan membawa seusatu di tangannya.
" ikh, apa sih mas," celetuk Marwah.
Erwin hanya tersenyum kecil lalu menutup pintu itu seraya mengikuti langkah Marwah dari belakang.
" gimana hari ini mas???" tanya Marwah yang dengan santai menuju meja makan ruang dapur seraya meletakkan bawaannya.
" apa??," sahut Erwin bingung.
Marwah melihat dengan wajah hangat pada Erwin.
" apa mas sehat???," tanya Marwah.
Erwin tersenyum seraya melangkah mendekat pada Marwah lalu ia memeluk tubuh Marwah dengan rindu.
" hmm, baiik, mas sehat," jawabnya dengan suara pelan dan ia menikmati harum aroma tubuh Marwah.
Marwah tersenyum simpul lalu membalas pelukan Erwin dan menghirup wangi tubuh maskulin Erwin yang menenangkan jiwanya.
" mas terlihat segar?? baru siap mandi yaa??,"
" hmm," gumamnya.
Marwah tersenyum dalam pelukan Erwin.
" mas udah makan apa belum?,"
Erwin mendengus sedikit kesal.
" tidak bisakah kamu pending bertanya??, mas masih perlu energi dari kamu," ucap Erwin dengan memperdalam pelukannya pada tubuh Marwah.
Marwah tersenyum kecil.
" baik lah sayang Marwah akan diam beberapa menit," balasnya dengan menikmati pelukan Erwin.
Sesaat suasana hening. Erwin masih memeluk tubuh Marwah dengan penuh rindu. Lalu ia teringat sesuatu.
" ternyata, kontrak kerja kamu sudah berakhir di Sunrise hotel," ucap Erwin.
Marwah mendengar dengan kaget.
" benarkah??," sahut Marwah yang hampir tak mengingat soal kontrak kerjanya untuk Sunrise hotel.
" hmm, dan tugas kamu selesai," ucap Erwin pelan.
Marwah terpaku, ucapan Erwin seolah memiliki arti mendalam.
" kamu memang hebat," puji Erwin.
Namun Marwah hanya terdiam dalam pelukan Erwin. Pikirannya bernelangsa jauh. Betapa ia dulu ingin cepat-cepat selesai dari kontrak kerjanya dengan Erwin Aritama. Namun kini, kenyataannya setelah kontrak itu selesai ia merasa sedih.
" waktu benar-benar berlalu dengan cepat," ujar Erwin.
Marwah mendengar dengan mempererat pelukkannya pada Erwin.
" terima kasih, Marwah," ucap Erwin mendalam.
Hingga Marwah bergeming dan mencoba mererai pelukannya.
" mengapa berterima kasih?? Marwah bahkan tak melakukan apa pun untuk mas," ujar Marwah dengan menegadah melihat wajah Erwin.
Erwin tak menjawab namun tersenyum hangat pada Marwah, seraya tangannya membelai lembut pundak Marwah.
" mau mas buat spaghetti??, hari ini mas akan masak untuk kamu," ujarnya dengan menarik lengan Marwah untuk duduk di kursi meja makan dekat dapur.
Marwah sedikit kaget dan bingung.
" mas mau masak?," tanya Marwah tak yakin.
Erwin mengangguk seraya berjalan menuju kulkas dan mengeluarkan beberapa bahan untuk membuat spaghetti lalu membawanya untuk di letakkan di dapur.
" spaghetti ini spesial buat kamu," ucap Erwin dengan wajah bahagia.
Marwah hanya duduk dan memperhatikan Erwin yang bersemangat membuat spaghetti. Sorot mata Marwah tak lepas dari gerak gerik Erwin yang terlihat piawai dalam mengunakan alat dapur dan menikmanti membuat spaghetti.
" Marwah tidak tau sejak kapan mas ada di hati Marwah, dan Marwah salah satu orang yang ingin akhir hidup mas menjadi akhir yang bahagia," gumam batin Marwah.
Erwin terlihat fokus dalam proses pembuatan, hingga akhirnya spaghetti itu selesai dan kini piring itu terhidang dihadapan Marwah yang melihat dengan terpaku.
" selesai, " ucap Erwin dengan ikut duduk di sisi samping Marwah.
Lalu Erwin melihat pada ekspresi wajah terpaku Marwah.
" jangan hanya dilihat, ayo, kamu harus coba masakan mas kali ini," seraya menyerahkan sendoi dan garpu di jemari Marwah.
Marwah bergeming lalu ia pun tersadar dan perlahan mencoba mencicipi makanan itu.
Ia mulai mengunyah dan mencoba menikamati rasa spaghetti tersebut yang terasa nikmat di lidah Marwah.
" waaah, spaghetti nya enak loh mas, enak dan gak terlalu pedas, Marwah suka," ucapnya dengan wajah kagum.
Erwin tersenyum puas melihat Marwah yang menyukai masakannya. Namun seketika ekspresi wajahnya sedikit sedih.
" bagi resepnya donk mas, lain waktu Marwah mau coba buat," ucap Marwah dengan melihat pada wajah Erwin yang kini tengah mencicipi spaghetti miliknya.
Erwin hanya mengangguk pelan. Lalu ia pun dengan reflek menyeka saus pasta yang tertinggal di sudut bibir Marwah yang tersenyum.
Setelah selesai makan, keduannya kompak membersihkan peralatan dapur dan piring bekas makan mereka.
Lalu setelah beres keduanya duduk di sofa kenangan mereka dengan menonton siaran ulang motoGP.
Marwah duduk bersandar pada lengan Erwin yang terlihat serius menonton walau pun siaran ulangan. Marwah teringat akan perjumpaan pertama mereka.
Pembahasan pertama mereka adalah motoGP, hingga Marwah pun tersenyum simpul mengingatnya.
" mas??,"
" hmm, bagaimana jika kita pergi menonton langsung motoGP pada musim berikutnya??" pinta Marwah.
Erwin terpaku akan permintaan Marwah. Ia diam dengan hanya menatap datar layar tvnya yang memperlihatkan kemenangan Rossi disana.
" hhmm.., gimana??," tanya Marwah kembali pada Erwin yang diam.
" maaf," jawab Erwin datar.
Marwah terpaku.
" mas akan melakukan perjalanan penting," ucap Erwin ragu.
Marwah bergeming dan perlahan melihat pada wajah Erwin yang sendu.
" apakah ini waktunya?," gumam batin Marwah pilu.
" gak papa," sahut Marwah dengan mengagetkan Erwin yang tak menyangka akan jawaban Marwah.
Lalu Marwah kembali bersandar pada pundak Erwin dengan mencoba kuat.
" motoGP akan ada setiap musim, kita.., bisa pergi dimusim yang lain, Marwah akan tunggu sampai mas bisa pergi bersama Marwah," ujar Marwah yang tersirat makna lain dari arti ucapannya.
Erwin terdiam mendengar harapan Marwah yang dalam. Perlahan Erwin meraih jemari Marwah dan mengenggam jemari itu dengan kuat.
" maaf Marwah," gumam batin Erwin yang bersedih.
" mas,"
" hmm??,"..
" apa yang mas suka dari Marwah??," tanya Marwah dengan wajah sendu menatap layar tv.
Erwin merenung sejenak seraya berpaling melihat pada Marwah yang menatap layar tv.
" hati mu dan jiwa mu," jawab Erwin.
Marwah tersenyum getir.
" karena kamu yang pertama dan yang terakhir," ucap Erwin pelan.
Marwah tersenyum dengan menitikkan air mata pilu mendengar ucapan Erwin. Erwin terpaku ketika merasakan titik air mata Marwah yang jatuh.
" huuffft, " hela nafas Marwah.
" aneh???, Marwah rasa tiba-tiba mengantuk," ucap Marwah yang merasakan matanya berat.
" tidurlah," sahut Erwin dengan membelai kepala Marwah dengan wajah sedih.
Marwah pun sedikit membenarkan kepalanya yang berpindah dengan memeluk tubuh Erwin.
" hmm.., pelukkan ini benar-benar nyaman," ucap Marwah pelan dengan terpejam.
Erwin tersenyum simpul dengan menjatuhkan ciuman dalam pada kepala Marwah yang berada di dadanya.
" tidurlah, mas akan memeluk mu," balas Erwin dengan sayang.
hening sesaat.
" mas,"
" hmmm??,"
" jantung mas berdetak kencang," ucap Marwah.
" itu detak jantung untuk mu," sahut Erwin.
Perlahan tangan Marwah memeluk tubuh Erwin erat.
" Marwah mencintai mas, Erwin Arimata, Terima kasih," ucap Marwah dengan menitikkan air mata perpisahan. Dan perlahan ia pun tertidur dengan tangan nya pun ikut terrerai dari tubuh Erwin.
Dalam diamnya Erwin pun akhinya menjatuhkan airmatanya mendengar ucapan terakhir dari Marwah.
" Marwah??," panggil Erwin dengan suara bergetar. Dan tak terdengar suara jawaban dari wanita yang ia cintai ini.
Perlahan isak tangisnya pun terdengar dengan menyayat hatinya. Erwin dengan sengaja memasukkan obat tidur di minuman Marwah, agar ia bisa memeluk Marwah untuk terakhir kalinya.
" selamat tinggal, cinta pertama dan terakhir ku, aku memcintaimu, dan maafkan untuk semua keegoisan ku," gumam batin Erwin seraya meraih wajah Marwah yang tertidur lalu menjatuhkan ciuman terakhir dibibir ranum Marwah.
💗💗💗💗
Hallo apa kabar semua sahabat mas Erwin dan mbak Marwah??? semoga sehat kapan dan dimana pun kalian berada yaa.. Aaaamiiin.
Di sini saya mengucapkan banyak terima kasih kepada semua sahabat. Karena ini telah masuk part ke 99 menuju part 100 dan ku ter haruuuu 😭😭😭.
Karena tak pernah menyangka akan menulis sepanjang ini. Terima kasih sahabat. Berkat antusias dan dukungan kalian saya bisa menulis sejauh ini.
Kumawoyo yorobune 😍😍😍🥰🥰
Dan Maafkan jika pada part-part sebelum ini penuh derai air mata haru, hingga menghabiskan tisu para sahabat. Bianheyo 😅😅😅
Tapi mari doakan semoga ada hikmah setelah tisu habis terbilah baper berjamaah 🤣🤣🤣.
Akhir kata mohon dukungan teman-teman di setiap partnya baik like, koment dan bintang agar saya bersemangat untuk menulis.
__ADS_1
Dan diatas segala-galanya terima kasih untuk dukungan teman-teman setia. Sampai ketemu lagi di part berikutnya .., jangan bosan-bosan menunggu yaa. 😅😅😅
Love you mas Erwin dan Marwah 💗💗