Come A Closer Love

Come A Closer Love
71


__ADS_3

Di dalam mobil mewah Erwin terlihat Marwah tengah berbicara serius dengan seseorang.


" tolong yaa Lily.., makasih banyak sebelumnya, maaf ya karena mbak jadi terus repotin kamu," ucap Marwah menyesal dan setelah itu telfon itu pun terputus begitu saja dengan Marwah menghela nafas panjangnya seolah bebannya masih berat.


" kenapa?? apa terjadi sesuatu di toko kamu??," tanya Erwin perhatian.


" ah, hari ini agak berantakan, jadwal buka tidak bisa cepat karena rak roti kosong dan baru akan dibuat oleh Lily dan Salwa," jelasnya dengan membalas beberapa chat masuk.


Erwin terlihat merasa bersalah karena semalam menahan gadis ini untuk bersama dengan dirinnya.


" maaf yaa..,"


Marwah terkaget lalu ia hanya tersenyum kecil, lalu kembali melihat pada handphone nya. Dan seketika ia tersadar.


" ya ampun, mas.., udah tanya belum sama mas Chandra?? kunci mobil Marwah ketemu gak??," tanya Marwah serius.


Erwin sedikit ragu.


" Hm, mas juga lupa tanya sama sekertaris Chandra".


" ooh, ck.., kemana yaa?? kok bisa gak ada di tas sih???," ucap Marwah mencoba mengingat-ingat kembali kapan terakhir kali melihat kunci mobilnya. Dan ia melihat nanar pada jalan raya dengan melirik jam tangan, sontak ia terkaget.


" stop mas.., stop," ucap Marwah panik sehingga Erwin pun ikut kelabakan dan ia pun jadi sedikit kesusahan untuk meminggirkan mobilnya ketepi jalan.


Ketika mobil telah ditepi, Erwin melihat dengan wajah bingung pada Marwah.


" kamu kenapa sih??,"


" ah, maaf mas .., Marwah turun disini aja," ujar nya dengan bersiap-siap turun seraya hendak meraih pedal pintu. Erwin yang bingung pun sontak menahan lengan Marwah dengan cepat.


Lalu dengan wajah bingungnya ia melihat pada Marwah.


" kamu??, jelasin dulu, kenapa tiba-tiba turun disini?? kita kan mau kekantor?," ujar Erwin heran.


Marwah tersadar dengan nada bicara Erwin yang bingung.


" ah, maaf mas, tapi pagi ini Marwah ada janji sama mas Rico dan setelah itu Marwah harus ketemu sama Dinda," jelas Marwah cepat. Namun seketika aura wajah Erwin pun berubah murka.


" Rico??? siapa??," tanya Erwin dingin.


Marwah terhenyak mendengar nada bicara Erwin yang sinis.


" mas Rico, dia itu kan wakil manajemen yang bekerja sama dengan kita untuk penerimaan karyawan hotel mas, masa mas lupa??" tanya Marwah heran.


" terus??,"


" ya Marwah ada janji ketemu sama mas Rico juga pak Darna dan tim lain, karena kamis depan kita sudah mulai interview dan seleksi penerimaan calon karyawan hotel," jelas Marwah lagi.


Tapi raut wajah Erwin tetap terlihat tak senang.


" mas, kita kan udah bicarain ini di minggu lalu dalam rapat terakhir kan, dan mas udah setuju??," ujar Marwah lagi.


Erwin tak menjawab, ia malah hendak kembali membawa jalan mobil itu untuk berjalan. Marwah bengong dengan sikap Erwin yang berubah cepat.


" kemana?," tanya Erwin dingin.


" apa??," jawab Marwah kembali.


" dimana kamu janjian ketemu dengan si mas Rico itu?," jawab Erwin kesal.


Namun seketika Marwah malah jadi tertawa kecil.


" tunggu, mas cemburu yaaa??" tanya Marwah dengan usil menarik pengan baju Erwin yang sedang memegang stiur mobil.


" iya nih, cemburu yaa?," goda Marwah lagi dengan mencoba mengelitik sisi samping pinggan Erwin yang masih tak bergeming.


Wajah seriusnya terus menatap lurus jalan raya yang padat.


Tapi justru Marwah malah tertawa kecil melihat sisi kekanak-kanakan Erwin yang bisa dengan cepat ngambek. Lalu seketika Marwah memiliki ide konyol, dan ia mengeluarkan handphone miliknya dan menyalakan kamera video.


Dan mulai lah ia bersiap-siap hendak berceloteh dengan lagak youtuber dengan mengarahkan kamera depan handphone pada dirinya.


" hay semua.,pagi ini harusnya jadi pagi yang menyenangkan buat Marwah karena APA??, karena hari ini bisa berangkat bareng sama seseorang yang spesial Tapiii.., keliatannya doi lagi ngambek.., mari kita liat sosok yang lagi ngambek ini permirsa..," ujarnya sembari mengarahkan handphone pada wajah Erwin yang terlihat terusik dan kedua alisnya pun ikut berkedut.


" uukh, gimana??? keliatan donk yaa wajah ngambek manjanya," goda Marwah dengan sengaja menyentuh pipi Erwin yang terlihat cemberut.


" ehem, gimana pak Erwin, perasaan anda pagi ini??," tanya Marwah dengan manja menyadarkan kepalanya pada bahu Erwin dan keduanya pun terrekam dalam video.


" sebel," jawab Erwin sengaja kesal seraya melirik-lirik pada video rekaman Marwah yang terus merekam.


" sebel?? kenapa??," tanya Marwah balik.


" ya sebel laah, pagi-pagi buta ceweknya punya temu janji dengan cowok lain," jawab Erwin lagi dengan nada kesal.


Dan hal itu berhasil membuat Marwah tertawa terkekeh. Lalu ia pun mengarahkan kamera handphone nya pada Erwin yang sedang berhenti karena lampu merah.


" oke, kita terima ngambeknya pak Erwin, nah untuk meredakan ngambeknya nie, kira-kira apa ya solusinya???," tanya Marwah dengan sengaja memandang wajah Erwin yang serius melihat pada tingkah lakukanya yang masih betah merekam kegiatan mereka.


" ada saran pak??," tanya Marwah seraya tersenyum usil.


Erwin terlihat gemes pada tingkah Marwah yang seolah tak ambil pusing dengan kesalnya.


Lalu Erwin pun sedikit mengubah posisi duduknya dengan memperhatikan mobil depan yang belum bergerak karena padat dan macet lampu merah.


Marwah memperhatikan gerak gerik Erwin dari layar handphone nya yang terus merekam.


" ayo donk, apa solusinya pak Erwin?" tanya Marwah dengan tertawa usil.


" memang kamu mau turutin permintaan mas kalau mas sebutin?," tanya Erwin serius.


Marwah santai mengangguk cepat tampa pikir panjang, seraya melihat pada Erwin yang terus memperhatikan dirinya.


" memang apa sih pak Erwin??," goda Marwah dengan usil dan kali ini dengan mencoba sedikit menjauhkan kamera handphone nya sehingga berjarak dan keduanya terlihat kini dalam satu video tersebut.

__ADS_1


" coba kamu kesini?," ujar Erwin dengan menarik lengan Marwah, Marwah mengikuti dengan bingung.


" jangan bilang mau menjitak ya mas!!," ujar Marwah yang reflek memegang kepala atasnya dan berusaha tangan satu lagi memegang handphone nya yang masih terus merekam.


Pelan Erwin mendekat pada Marwah dengan tersenyum usil.


" mana mungkin,," ujarnya pelan berbisik dan seketika.


Cup, ciuman Erwin pun jatuh pada bibir Marwah, dan seketika Marwah terkaget dan reflek hendak menjauh, tapi sayang usahanya gagal karena tangan Erwin jauh lebih cepat merangkul tubuh Marwah dan pria itu dengan cepat menjatuhkan kembali ciumannya lagi dibibir Marwah yang pink merona.


Tangan kiri Marwah seolah lemas dengan memegang handphone nya yang masih merekam kegiatan mereka, namun sebelum handphone itu jatuh tangan kanan Erwin menahan tangan kiri Marwah.


Dan pangutan dalam pun Erwin berikan pada bibir Marwah dengan hangat. Pelan bibir keduanya pun terrerai dengan senyum nakal Erwin yang terlihat jelas bahwa ia menang.


" itu solusinya.." ucap Erwin dengan mengembalikan handphone Marwah.


Marwah terperangah, lalu ia memukul manja pundak Erwin.


Plak..,


" ikh, mas ini..," ujarnya salah tingkah dengan mencoba memegang bibirnya.


" lah, kan tadi kamu tanya solusi ya, ya mas kasih tau donk," jawab Erwin santai seraya mulai mengerakkan jalan laju mobilnya yang kini jalan raya mulai sedikit bergerak dari kemacetan.


" ish..," geram Marwah dan tiba-tiba terdengar suara telfon masuk pada handphone nya lalu reflek ia mengangkat.


" hallo??." jawab Marwah dengan cepat dan mengubah nada bicaranya menjadi formal.


" ah, iyya mas.., Marwah masih kejebak macet, tapi 15 menit lagi sampai, maaf ya mas Rico," ujar Marwah merasa bersalah.


Dan lagi Erwin menghela nafas panjangnya. Lalu terlihat Marwah menutup telfonnya.


" tuh kan mas, Marwah jadi telat nie, mereka udah mau mulai," ujar Marwah gelisah.


Erwin terhenyak ketika merasa disalahkan oleh Marwah.


" oke, biar mas antar kamu langsung,"


" gak usah.." ujar Marwah dengan cepat.


" ya udah kalau gak mau kamu, mas bawa terus kamu kekantor, dan rapat kamu batal," ancam Erwin.


Marwah terbengong melihat tingkah Erwin, lalu menurunkan nada bicaranya dengan sengaja menyindir.


" oke.., oke tolong antarkan Marwah ya pak Erwin, nyonya ini sudah sangat-sangat telat," pinta Marwah serius.


Namun malah disambut tawa Erwin.


" siap nyonya ku," jawab Erwin dengan tersenyum


" Ya Ampun, apa aku salah kasih bumbu spagetti tadi yaa?" rutunya dalam hati.


Dan tak berselang lama, mobil mewah Erwin pun tiba pada kantor yang terdapat 3 lantai disana. Marwah buru-buru berbenah dan reflek mengambil lipstik didalam tasnya lalu memakaikannya pada bibir. Namun tiba-tiba tangan Erwin reflek menahan tangan Marwah yang memegang lipstik.


" ya mau rapiin lipstiknya mas, kan tadi..," ujar Marwah terhenti.


" gak usah, udah cukup itu,"


" tapi pucat banget ini mas,"


Lalu Erwin terlihat kesal dan menghela nafas panjangnya.


" kamu mau rapat atau mau goda si Rico itu?," tanya Erwin kesal.


Marwah melihat pada Erwin dengan tak percaya.


" ya ampun, masih lanjut nie cemburunya??" gumam batin Marwah terhenyak.


Pelan akhirnya ia menutup kembali lipstiknya. Dan memasukkannya kembali dalam tas.


" gimana??, jadi Marwah begini aja, gak papa jelek?" tanya Marwah dengan nada malas.


Erwin mengangguk pelan, lalu seketika mengeluarkan sesuatu dari balik saku jasnya, dan terlihat sebuah jepitan mutiara lalu ia sematkan pada sisi rambut Marwah yang terdiam terpaku.


Tangan Erwin sedikit merapikan rambut Marwah yang tergerai dan ia pun tersenyum puas.


" cantik," ujarnya seraya mengusap wajah Marwah.



Marwah hanya bisa menghela nafas panjangnya melihat tingkah Erwin yang membuatnya kehabisan kata-kata.


" ya udah, kalau gitu Marwah turun ya..," ujarnya seraya hendak turun dari mobil Erwin.


" hmmm, hati-hati dan mas tunggu kamu dikantor," sahut Erwin merelakan wanitanya turun.


🍃🍃🍃


Disisi lain, pagi itu terdengar berita hangat tentang Direktur Aritama telah memiliki kekasih yang berasal dari karyawan Aritama sendiri.


Banyak karyawati tak percaya, bahkan menebak-nebak siapa gerangan gadis yanf beruntung mendapatkan cinta sang Direktur.


Suci yang sedari kemaring tak mood datang ke kantor dengan wajah kesalnya berjalan menuju lift kantor.


" serius??," tanya salah satu karyawan wantia ya g tengah berbicara serius dengan rekannya didalam lift.


Dan temannya hanya membalas dengan anggukan saja.


" lo tau gak??, Direktur benar-benar keliatan seneng banget meluk cewek itu, aduh aku gak bisa bayangin gimana enaknya dipeluk Direktur yaa," ujarnya dengan berbinar-binar


" waah, beruntung banget cewek itu?? bisa dapat cinta Direktur.., sst.., tapi siapa sih cewek ini??? dari departemen mana?," tanya teman karyawan itu.


Suci yang mendengar gosip-gosip itu pun meradang. Dan ia terlihat benar-benar kesal.

__ADS_1


" heh.., pagi-pagi udah gosip aja!!," sambung Suci dengan nada marah.


" ikh apa sih??," ujar karyawan wanita itu tersinggung.


" APA??," balas Suci membalas tatapan sinis karyawan wanita itu bersama temannya.


" ikh, gila nie orang," sambung teman karyawan wanita itu.


" heh, siapa yang gila?? gue ingetin yaa jaga tuh mulut, Direktur itu udah punya calon, dan cewek murahan itu hanya simpanan Direktur aja.., jadi mikir dulu kalau mau buat berita, jangan nyebar-nyebar aja," celetuk Suci marah.


Ketiga karyawan wantia itu terkaget.


" simpanan??" jawab karyawan wanita tak percaya.


" makanya apa-apa itu di saring dulu," ujar Suci kesal.


Ting, bunyi lift pada lantai yang dituju ketiga karyawan wanita itu pun sampai. Dan reflek ketiganya pun turun dengan wajah penuh tanda tanya setelah mendengar ucapan Suci.


" ikh, bikin kesel aja pagi-pagi," ujar Suci marah.


🍃🍃🍃


Siang itu, Marwah akhrinya menyelesaikan rapatnya dengan hasil yang memuaskan. Jika tidak ada kendala maka semua rencana yang telah mereka susun untuk persiapa seleksi dan interview calon karyawan baru untuk hotel Sunrise.


Marwah keluar dari kantor rekanannya itu dengan tengah berbicara dengan telfonnya seraya hendak melihat jalan keluar untuk mencari taksi. Namun seketika ia terpaku melihat pada sebuah mobil yang terparkir di depan kantor rekanannya.


" oke, Dinda.., sebentar lagi gue ketempat lo ya" ujar Marwah dengan mencoba mengingat nomor plat mobil tersebut.


" benar !!," gumam tak percaya ketika tak salah mengingat bahwa itu plat mobil Erwin. Lalu ia pun berjalan menuju tempat mobil itu terparkir.


Seketika kaca mobil itu pun terbuka dan telihat Erwin tersenyum pada dirinya.


" bagaimana?? apa rapatnya sudah siap??," tanya Erwin.


Marwah terperangah, ternyata Erwin disini menunggu dirinya.


" kok mas ?? gak kekantor??," tanya Marwah.


" naik dulu.." ujar Erwin.


Marwah pun tersadar, dan reflek mengikuti perintah Erwin untuk naik kedalam mobilnya.


Setelah naik, Marwah masih dengan wajah penuh tanda tanyanya pada Erwin yang melihat dengan santai seraya pelan mulai melajukan mobilnya meninggalkan parkiran kantor rekanan.


" sekarang kamu mau kemana lagi??," tanya Erwin santai.


" kenapa mas gak kekantor??," jawab Marwah yang kembali bertanya pada Erwin.


Erwin menghela nafas panjangnya.


" kamu ini ya, ini tuh bentuk perhatian mas sama kamu, kok gak senang sih??"


Marwah terkaget.


" ah, bukan gitu, tapi kan kerjaan mas banyak, rapat dan segalahal yang harus mas urus, kalau tunggui Marwah kan jadi sia-sia waktunya," jelas Marwah.


Erwin tersenyum simpul mendengar ucapan Marwah.


" beres!!, rapat beres dan semua hal udah beres kok, kamu tenang aja,"


Marwah melihat dengan tak percaya.


" gimana bisa??,"


" ya bisa laah, kan semua bisa dikerjain lewat handphone?, rapat juga beres lewat video call," jelas Erwin santai.


" ckckck," decak Marwah


" kenapa??" tanhmya Erwin heran.


" benar-benar bos yang semena-mena," celetuknya.


Erwin tertawa kecil mendengar celetukan Marwah.


" ya setelah ini kita balik kantor bareng, baru nanti mas beresin," ujar ya meyakinkan Marwah.


" jadi sekarang nyonya ku mau kemana?,"


Marwah pun jadi geli sendiri mendengar panggil nyonya ku.


" butik Dinda Gandis jalan Xxx," jawab Marwah


Dan tak berselang lama, mobil mewah Erwin pun meluncur pada alamat hang dituju. Hingga mereka pun tak lama sampai pada tujuan butik Dinda Gandis.


Namun disana Marwah tak bisa berlama-lama, setelah mencoba beberapa gaun, Dinda harus meninggalkan Marwah karena ia di panggil oleh pekerjaan tambahannya sebagai supir pengacara Johan B. Bastian.


Dan karena hal itu Marwah pun ikut meninggalkan butik Dinda tampa sempat mengobrol satu sama lain. Marwah pun kembali dengan wajah lelahnya.


Erwin melihat dengan bingung pada Marwah.


" kenapa?? apa sudah siap?,"


Marwah menangguk pelan.


" sekarang kamu mau kemana lagi??,"


Marwah reflek menggelengkan kepalanya.


" Marwah lapar," jawabnya pelan.


Erwin tersenyum senang.


" oke, kalau gitu kita makan, setelah itu kita balik kekantor," jelas Erwin.

__ADS_1


__ADS_2