Come A Closer Love

Come A Closer Love
40


__ADS_3

" Waah, ini pasti Gila !!" ujar Marwah sendiri, kini ia berada di tangga darurat yang tersembunyi.


Ia masih tak percaya bahwa Direktur Erwin seorang yang suka ikut campur urusan orang lain. Lalu ia berjongkok dan memeluk lututnya yang hampir lemas mendengar perkataan Erwin, bahwa mas Dimas menelponnya dan berkata menyesal.


Entah harus senang atau sedih mendengarkannya, yang pasti perasaan Marwah kini campur aduk.


" ayo lah Marwah, kamu pasti bisa" ucapnya pada diri sendiri yang masih merasa lemas seluruhnya.


Disisi lain, di meja kerjanya Erwin terpaku ketika ditinggalkan Marwah dengan wajah yang sedih.


" Ah, apa aku keterlaluan ya?? " ucap Erwin bimbang dengan kejadian tadi yang ternyata diluar ekspektasi nya.


" ck, bikin kepikiran saja !!" tukas Erwin yang kemudian mmenutup laptop nya seraya meraih jas nya dan berjalan meninggalkan ruangannya.


" Sekertaris Chandra, saya pergi.," ujar Erwin cepat dan meninggalkan wajah bingung sekertaris Chandra yang mengingat hari ini jadwal atasannya kosong, kecuali sore ada janji dengan pengacara Johan.


Dan terlihat Erwin berjalan menuju lift, namun tak sengaja Suci melihat kepergian Erwin dan penasaran.


Tak berselang lama, Suci pun tak sengaja melihat Marwah yang baru kembali kemeja kerja dengan sedikit lesu. Dengan ia pun berinisiatif mendekat pada Marwah.


" Marwah, ada hal yang bisa saya bantu??" tanya Suci basa basi.


" Hhmm, ada.., sebentar yaa, " ujarnya seraya memberikan flashdisk silver itu ke hadapan Suci.


" tolong susun jadwal saya, dan tolong kepersonalia tanyakan syarat kerja kontrak dan keperluan untuk menerima pegawai, serta persiapkan untuk kontrak kerja dengan pihak ketiga, " jelas Marwah cepat.


Suci terbengong mendengar penjelasan Marwah yang berat menurutnya. " menyusun jadwal?? benar-benar gak tau diri nie cewek!!" rutu batin Suci yang kesal mendapat tugas bejibun.


" Maaf, apa kamu paham Suci??" tanya Marwah seolah ragu karena melihat ekspresi wajah Suci yang bingung.


Sekertaris Chandra pun melihat dengan serius, dan sedikit khawatir karena ia tau Suci tak pernah diperintah seperti itu sebelumnya.


" Ah, itu..hhmm, " Suci agak susah berkata.


" Jika kamu perlu bantuan kabari saya segera, saya akan bantu kamu.., " ujar Marwah yang berpikir apa dia keterlaluan memerintah Suci.


" Saya butuh 2 hari lagi, apa bisa?" tanya Marwah pada Suci.


" Ah, baiklah..," jawab Suci berat seraya meraih flashdisk tersebut dari tangan Marwah.


" sialan nie cewek!!, anak baru tapi gayanya songong banget sih, awas aja nanti aku pasti bilang ke mas Erwin, kalo dia semena-mena," rutu batinnya yang kemudian berbalik badan menuju meja kerjanya.


Sesaat Marwah seperti kepikiran akan tanggapan Suci yang ragu. Lalu menoleh pada Sekertaris Chandra yang ikut melihat kejadian tadi.


" Mas.., Suci ini siapa" tanya Marwah seraya melihat Sekertaris Chandra.


" emm, dia sepupu jauh Direktur, " jawab Sekertaris Chandra yang kemudian meraih kertas kosong dan menaruhnya di printer.


" Sepupu??" ujar Marwah terkejut, lalu ia seperti menyesal menyusuri Suci dengan pekerjaan itu.


" Tenang aja, disini profesional kok, hubungan keluarga gak berlaku disini, " ujar Sekertaris Chandra meyakinkan Marwah dan tersenyum.


Marwah pun ikut tersenyum ragu, lalu kembali membenarkan duduknya seraya meraih handphone kecil yang jadul. Dan seketika Sekertaris Chandra tertawa lucu.


" Dizaman gini canggih, kamu masih betah dengan handphone jadul gitu??" celetuk Sekertaris Chandra dengan menahan tawa kecil.


Marwah hanya bisa terpaku, dan ikut menertawakan diri sendiri.


" ya mau gimana lagi, Iphone ku sudah dibuang, " gumamnya dalam hati.


" Jadi, nomor telfon kamu berapa?? Marwah??, Sintya (adik Sekertaris Chandra teman SMA Marwah) tanyain terus sama mas nie" ujar Sekertaris Chandra pada Marwah.


" Ah, baiklah, tapi lusa yaa, karena ini masih nomor toko dr. Dessert dan ini jauh lebih banyak nomor pelanggan dari pada pribadi" jelas Marwah, dan mendapat respon paham dari Sekertaris Chandra walau sebenarnya bingung.


Dan tak berselang lama keduanya pun kembali sibuk dengan kerjaan masing-masing. Hingga pukul 12 siang terlihat sekertaris Chandra pamit pada Marwah untuk keluar makan siang. Dan Marwah tetap memilih di mejanya dan memakan roti dari dr. Dessert sebagian penganjal perutnya untuk siang ini.


Waktu terus berjalan, dan ketika jam 1 lewat para karyawan telah kembali dari istirahat siangnya. Dan tepat disetengah 3 Marwah pun menyerah dengan penat nya, dan meminta izin pada sekertaris Chandra untuk bisa pulang lebih awal.


Namun pada saat yang bersamaan Suci menghampiri Marwah yang tengah bersiap-siap untuk pulang.


" Loh, Marwah kamu mau kemana??"tanya Suci dengan kertas ditangannya.


" Ah, iyya saya mau pulang dulu yaa, besok kita bahas lagi..,maaf yaa Suci" ucapnya pamit dan bangun seraya meninggalkan Suci dan sekertaris Chandra.


Suci melihat dengan heran.

__ADS_1


" mas Chandra, dia kok bisa pulang cepat?? peraturannya kan.. "


ucapan Suci langsung dijawab santai oleh Sekertaris Chandra dengan tersenyum.


" ah, dia spesial..," jawab Sekertaris Chandra, lalu kembali fokus pada hasil printer.


Kedua mata Suci melebar tak percaya.


" Spesial!!" lirihnya seraya kembali melihat kearah Marwah yang kini hilang dalam lift.


🍃🍃🍃


Disisi lain, Marwah berjalan keluar lift yang kini berada di lantai dua kantor Aritama, dan berjalan menuju parkiran mobilnya. Dan tak berselang lama ia pun membuka kunci otomatis pintu mobilnya seraya masuk kedalam mobil.


Dan sesaat ia menghela nafas panjangnya. Dan tak sengaja ia melihat pada gantungan yang tergantung foto dirinya dan mas Dimas, lalu meraih gantungan foto tersebut dan melihatnya dengan hati sedih. Dan membalikkan foto tersebut yang terdapat tulisan


" Promis " , dan tak lama air mata Marwah jatuh. Lalu ia tersadar dan menengadah kan kepalanya.


" Huuuffft, padahal mulai terbiasa, kenapa jadi sedih lagi!! " ujarnya yang tiba-tiba mengingat perkataan Erwin.


" Bukan kah tempat seorang mantan itu tong sampah!!" Erwin.


" Benar !! kamu memang sampah mas !!" gerutu Marwah lalu membuka pintu mobilnya dan berjalan kearah tong sampah, dan dengan cepat ia membuang foto tersebut kedalam tong sampah.


Dan seketika perasaan sesak itu pun lega.


" hah, kenapa gak dari kemarin-kemarin yaa ngebuangnya!!" ucap Marwah seraya kembali kearah pintu mobilnya lalu naik berlahan, dan kemudian ia menghidupkan mesin mobil berlahan roda mobil sedan itu pun berjalan meninggalkan perkarangan kantor Aritama Group.


Berselang perjalanan sore itu terlihat mendung yang seakan-akan menurunkan hujan lebat, dan mobil Marwah kembali melewati Hotel baru yang ia tangani. Dan dengan tanoa tujuan ia pun mencoba memasuki hotel tersebut yang ternyata disambut oleh seorang bapak security yang mencoba menghalangi Marwah untuk masuk.


" Sore mbak, maaf hotelnya belum rampung jadi tidak menerima tamu" ujarnya si bapak ramah.


Marwah sedikit terkaget, karena ia pun tak belum memiliki ID Card perusahaan, lalu ia pun sedikit memutar otak untuk bisa masuk kedalam hotel tersebut.


" Ah yaa, saya karyawan Aritama Group, tadi pak Erwin menyuruh saya kemari, " ujarnya berbohong.


Namun diluar dugaan.


" oh, pak Erwin, baik mbak silahakan masuk" ujar bapak security yang jadi tambah ramah. Dan itu menjadi kan Marwah sedikit bersalah.


" Maaf yaa pak , bohong kecil " lirih batin Marwah yang kemudian memarkirkan mobilnya di sudut gedung.


Namun tiba-tiba terdengar suara tetesan hujan yang membuat Marwah terkaget, yang kemudian rintik hujan itu pun menjadi lebat seketika.


" Yaaah, hujan!!" tuturnya dengan melihat jendela mobil nya. Dengan memperhitungkan jarak langkah menuju gedung, Marwah berpikir untuk menutup kepalanya dengan tas.


" baiklah, hitungan ketiga, satu, dua tiga, " gumamnya dalam hati seraya mengambil ancang-ancang untuk turun.


Klak, bunyi pintu mobil terbuka dan Marwah pun disambut dengan hujan lebat, dan dalam hitungan ketiga ia pun turun dengan menutup kepalanya dan segera berlari kecil menuju gedung hotel.


Dengan berlari kecil, Marwah berusaha untuk melihat dibawah hujan yang lebat dan terlihat jarak menuju gedung tak jauh hanya beberapa langkah lagi. Namun tak sengaja tasnya menjatuhkan beberapa alat dari dalam tasnya, sehingga membuatnya terhenti, dan dengan wajah kesal ia pun berusaha memungut beberapa barang kecil yang jatuh dari dalam tasnya. Dan hujan pun sukses membuatnya basah. Namun entah dari mana, tiba-tiba ia merasa tubuhnya tak tertimpa hujan, dan reflek menengadah keatas, dan terlihat payung besar silver melindunginya. Hingga membuat Marwah refleks bangun dan terkaget, ternyata orang yang memberikan payung padanya adalah Erwin yang melihatnya dengan senyum.


" Direktur !!" lirihnya pelan.


" ayo, jalan " perintah Erwin, dan Marwah pun mengikuti perintah dengan canggung dan berjalan berdampingan dengan Erwin menuju gedung hotel.


Marwah melihat sekilas pada sisi Erwin yang memberikan payung padanya.


" Kapan dia datang?? kenapa dia ada disini??" gumamnya dalam hati, hingga langkah mereka pun sampai pada teras gedung, dan berlahan Erwin menurunkan payungnya dan melipat.


Marwah pun refleks membersihkan bajunya dan rambutnya dari air hujan yang ternyata telah meresap sempurna ke baju dan rambutnya yang terlihat Marwah setengah basah. Erwin memperhatikan Marwah yanh terlihat basah, dan terlihat baju kemejanya jadi tipis dan seolah memperlihatkan bayang-bayang pakaian dalam Marwah.


Erwin terlihat menertawakan Marwah yang sedikit kesal dengan bajunya yang basah, dan ia pun refleks membuka jas nya dan berlahan menyematkannya dibahu Marwah.


" Pakailah, itu akan membuat mu hangat" ujar Erwin ketika menyematkan jas nya ke tubuh Marwah yang kecil. Marwah pun seolah terkesiap menerima jas Erwin yang membuat ya kaget.


" Ah, terima kasih, Direktur..," ujarnya canggung.


" lalu, ada apa kamu datang kemari??" tanya Erwin pada Marwah.


" Marwah, hanya mau melihat-lihat hotel ini..," ujarnya dengan suara yang masih merasa dingin dengan suasana luar hotel yang terlihat hujan lebat masih enggan reda.


Erwin mengangguk pelan.


" ayo masuk, kamu bisa melihatnya.., mungkin beberapa pekerja finishing masing ada, " ujar Erwin yang meninggat ini sudah sore, pasti pekerja sedang bersiap-siap pulang dan mereka pun berjalan masuk kedalam gedung, lalu Marwah pun mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


Dengan berlahan, suasana hangat itu pun menerpa diri Marwah, ia melihat sekeliling hotel yang luas. Marwah melihat desain lobby hotel yang moderen dengan langit-langit yang tinggi dan terdapat lampu kristal seolah bening-bening itu mengapung indah dilangit-langit hotel.


" aku merenovasi semua setiap sudut hotel, hingga tak nampak lagi bahwa ini hotel lama yang direnovasi, " jelas Erwin pada Marwah.


Marwah melihat pada Erwin dan mendengarkan penjelasan Erwin.


" Apa kamu mau melihat-lihat lebih dalam lagi??" tanya Erwin.


Marwah mengangguk pelan, dan mengikuti langkah Erwin yang membawanya menuju ruangan yang mungkin ia sebut restoran hotel. Dan Erwin memberi penjelasan pada ruangan itu, lagi Marwah hanya diam dan mendengarkan penjelasan Erwin. Ia memang terkagum dengan desain hotel yang moderen.


Hingga Erwin dengan santai memberi penjelasan tiap sudut denah bawah hotel pada Marwah, hingga mereka sampai pada kolam renang hotel yang terdapat dua swimming poll, satu bagian berada didalam ruangan besar, sedangkan yang satu lagi berada di lantai 2 hotel yang terlihat indah dengan perkarang taman indah.


Dan entar beberapa lama keduanya terus berputar-putar mengelilingi lantai dasar Hotel dengan beberapa ruang fasilitas yang moderen. Hujan terus turun dengan lebatnya, hingga terdengar gemuruh, dan tiba-tiba suara petir mengeleggar hingga memekakkan telinga, sehingga refleks Marwah terkejut dan menjerit hingga ia terduduk menutup kedua kupingnya.


" Aaa..," jerit Marwah ketakutan dengan kedua tangan dikedua telinganya dan kedua matanya terpejam. Dan seketika lampu-lampu disana mati, hingga ruangan itu gelap seketika.


Erwin melihat dengan khawatir dan refleks mengeluarkan handphone nya dan menyalakan lampu pada handphone nya. Dan segera mengarahkan lampu pada wanita yang kini meringkuk ketakutan, Erwin turun untuk melihat wajah Marwah.


" Kamu gak papa??" tanya Erwin cemas seraya menyentuh pundak Marwah.


" Aku.., aku benci petir !!" ucap Marwah dengan suara takut dan masih menutup kupingnya.


Dengan tak berpikir panjang, Erwin meraih jemari Marwah yang berada di telinga kanannya, dan menariknya untuk memaksa Marwah berdiri.


Deg, jantung berdetak ketika ia merasakan hemari hangat Erwin.


" Kita harus keluar, karena sebentar lagi pintu akan dikunci, " ujar Erwin.


Dan Marwah hanya mengangguk paham, dan pasrah ketika Erwin menarik tangannya untuk mengikuti cahaya lampu dari handphone Erwin. Suasana benar-benar gelap, hingga akhirnya mereka sampai pada ruang lobby yang terlihat jendela-jendela besar dibeberapa dinding. Dan terlihat ternyata suasana diluar sana telah malam hari.


Ketika mereka sampai pada pintu kaca hotel, terlihat Erwin tak bisa membukanya.


" Apa ini??" ucap Erwin kesal, dan ia mengoyangkan pedal pintu yang tak bisa ia tolak atau ia dorong.


Marwah melihat dengan bingung.


" Kenapa??" tanya Marwah pelan.


" Sepertinya pintu ini telah dikunci.," ujar Erwin tenang.


Marwah terkaget.


" Apa??" ujar Marwah jadi ikut panik, dan memilih untuk mencoba pedal pintu itu, dan benar pintu itu tak bisa didorong.


" Jadi kita terkunci disini!!" ucap Marwah dengan wajah panik.


" Tenang kita coba 2 pintu besar lainnya, ayo" ujar Erwin dan lagi, Erwin meraih jemari Marwah untuk mengikuti langkahnya. Marwah pun pasrah, ia tak tau denah Hotel baru ini, sehingga ia memilih mengikuti langkah Erwin membawanya membelah gelapnya gedung tersebut.


Dan setelah berjalan mengelilingi Hotel dengan mengandalkan lampu handphone Erwin, akhirnya mereka mendapatkan hasil yang nihil, dua pintu besar itu juga terkunci. Dan kenyataannya kini mereka terkurung di hotel besar itu berdua.


" Bagaimana ini!!" ujar Marwah menunduk dengan wajah panik.


" Ya mau gimana lagi, harus tunggu besok pagi..," jawab Erwin santai.


" APA ??" jawab Marwah dengan kedua mata melebar. Dan pas ketika saat itu handphone Erwin pun padam, karena batre handphone habis.


Dan refleks Marwah meraih lengan Erwin, hingga Erwin pun reflek melihat pada sisi lengannya kini dalam pelukan tangan Marwah yang terlihat cemas.


" Apa yang kamu lakukan??" tanya Erwin heran.


" Aku takut !!" jjawab Marwah cepat dengan memeluk erat lengan Erwin.


Terlihat Erwin tersenyum lucu melihat pada Marwah.


" handphone kamu masih ada batre?? idupkan lampunya, biar kita bisa jalan ketengah lagi, " tanya Erwin.


" Ah, ada, sebentar" ujar Marwah cepat, dan dengan cepat merogoh isi tasnya dan ia mendapatkan handphone jadul nya tersebut dan langsung menghidupkan lampu.


Dan seketika Marwah terkejut, ketika mendapat wajah Erwin berada dekat dihadapan wajahnya.


" I.., ini" ujar Marwah canggung.


Erwin meraih handphone jadul itu, dengan mengarahkan cahaya kedepan. Lalu ia menoleh pada Marwah dan meraih jemari Marwah yang terasa dingin. Marwah terkaget dan jantungnya pun ikut terasa hangat dengan jemari Erwin yang menggenggam jemarinya.


" ayo, kita jalan ke tengah " ajak Erwin pada Marwah, dan Marwah merespon dengan anggukan.

__ADS_1


__ADS_2