
Setelah pelukan hangat itu, terlihat kini Erwin berada di dapur roti Marwah. Dan tengah memperhatikan wajah serius Marwah yang fokus pada adonan mixernya yang telah jadi dan tengah menuangkan semua adonan itu pada loyang.
" Ternyata dunia mu benar-benar berbeda jika berada didapur," ucap Erwin menatap Marwah.
" Kenapa?? apa aneh?, " tanya Marwah dengan masih tetap fokus pada loyangnya yang siap untuk dimasukkan kedalam oven yang telah mencapai panas.
" Lebih cantik," ujar Erwin spontan.
Terlihat Marwah terpaku pada Erwin yang melihatnya dengan dalam. Dan seketika Marwah jadi salah tingkah.
Setelah memasukkan loyang cake itu kedalam oven. Terlihat Marwah mengambil sesuatu dari sisi dapur, dan ia pun berjalan menuju Erwin.
" Coba Direktur berdiri, " pinta Marwah.
Dan Erwin pun reflek bangun dari kursinya. Lalu dengan cepat tangan Marwah meraih dasi Erwin dan mencoba mererainya agar terlepas.
Erwin melihat dengan bingung.
" kamu mau ngapain??," tanya Erwin dengan menghalangi jemari Marwah untuk lebih lanjut membuka dasinya.
" buka aja," ujar Marwah mengoda.
Erwin terkejut.
" jan..,jangan !!" jawab Erwin terserang panik dengan menahan tangan Marwah.
" Udah buka aja," ujar Marwah lagi dengan mencoba membuka jas kerja Erwin.
" Marwah ??" ucap Erwin yang tengah panik menahan godaan Marwah.
" Apa??," tanya Marwah dengan menahan tawa melihat kepanikan wajah Erwin yang baru kali ini ia lihat.
" Kamu sadar apa yang kamu lakukan??," tanya Erwin yang perlahan mundur dari jemahan tangan Marwah yang masih berusaha membuka jas kerjanya.
__ADS_1
" Iyya," jawab Marwah yakin dengan menahan tawanya.
" Kenapa??, Direktur gak mau mencoba??," goda Marwah lagi dengan semakin mendekat pada Erwin yang terpojok.
" Ah, itu.., ki..kita..,TUNGGU Marwah!!" ucap Erwin dengan mencoba bernafas, dan tak sanggup lagi menghindar dari Marwah.
Seketika Marwah tertawa lepas. Hingga Erwin melihat dengan bingung pada Marwah yang menertawakan dirinya.
" Apa yang Direktur pikirkan??" ujarnya dengan menahan tawa melihat Erwin terpojok. Dan dengan santai Marwah memasangkan celemek dapur dipinggang Erwin.
" Direktur mau mencoba membuat hiasan cake??, jadi tolong dibuka dulu jas dan dasinya biar gak kotor," ujar Marwah yang telah selesai mengikat tali celemek dapur dipinggang Erwin.
" Ternyata Direktur cocok juga pakai ini, ayo cuci tangan dulu, baru setelah itu buat hiasan cake nya, " ujar Marwah dengan masih menahan tawa, ia berjalan mundur dan berbalik badan meninggalkan Erwin yang berhasil dikerjain.
Erwin terlihat kesal karena berhasil dikerjain Marwah.
" Sial !!," rutu Erwin kesal. Dan dengan cepat Erwin berjalan dan menarik lengan Marwah.
" Direktur??" .
Tanpa banyak bicara, Erwin meraih tubuh Marwah dan mengangkatnya keatas meja dapur yang terdapat peralatan cake disana.
Marwah terkaget.
" Direktur?? kenapa??" tanya Marwah bingung ketika berada diatas meja dan terlihat ia jadi sejajar dengan wajah Erwin yang melihat dirinya dengan dalam.
" Bukan kamu mau mengajarkan aku membuat hiasan cake??," tanya Erwin dengan membuka jas dan dasinya lalu meletakkan asal disisi Marwah.
" Ya, " jawab Marwah ragu dan bingung dengan nada bicara Erwin yang berbeda.
" Maka, aku dulu yang akan mengajarkan mu hal lain," ujar Erwin dengan meraih wajah Marwah dan sedetik kemudian, bibir Erwin pun jatuh pada bibir Marwah yang ranum. Marwah terkaget dengan reflek mengenggam jemarinya menerima ciuman Erwin yang dalam.
Ciuman hangat dan dalam itu terus Erwin berikan pada Marwah. Saliva keduanya pun bertemu dengan hasrat keduanya. Perlahan tangan Erwin menuntun tangan Marwah untuk memeluk tubuhnya sehingga keduanya menjadi lebih dekat.
__ADS_1
Marwah terus merasakan pangutan hangat dari bibir Erwin yang membuatnya sedikti kesusahan menarik nafas.
Bahkan jantung Marwah berdekat kencang, tak pernah ia merasakan ciuman sedalam ini. Bahkan hasratnya pun ikut berdesir.
Ting.., terdengar suara oven berbunyi, yang menyadarkan Erwin dan Marwah yang terlihat dengan nafas masih memburu mererai ciuman mereka.
Erwin mencoba menahan dirinya dengan meraih tubuh Marwah kedalam pelukkannya.
" Aku benar-benar jatuh cinta padamu, Marwah ," ujar Erwin dengan mencium pundak Marwah.
Marwah hanya terdiam dengan mencoba mengatur nafasnya.
" Bisakah kamu menunggu hingga hotel dibuka??, lalu aku akan menikahimu segera," ujar Erwin dengan mererai pelukkannya dan menatap wajah cantik Marwah.
Marwah tak bisa berkata, lebih tepatnya ia masih tak bisa percaya dengan dirinya sendiri.
Dan dengan instingnya Erwin menjatuhkan ciuman sayang dikening Marwah, kemudian memandang wajah Marwah dengan lekat-lekat.
" Sekarang ajarkan aku membuat hiasan cake," ujar Erwin pada Marwah yang terlihat masih terpaku.
" Ah, iyya," jawab Marwah yang seolah kembali sadar setelah dan mencoba turun dari atas meja. Namun dengan sigap Erwin meraih pinggang ramping Marwah dan menuruntkan wanita itu dengan gampangnya.
Marwah yang terlihat malu pun perpalahan ia berjalan menuju oven lalu mengeluarkan cake yang telah matang dengan aroma lezat yang mengoda.
🍃🍃🍃
Setelah Erwin pulang dari tokonya, didalam kamarnya Marwah termenung duduk di atas ranjang dengan jantung terus berdebar. Ia masih belum bisa menghilangkan bayangan ciuman berhasrat tadi bersama Erwin.
Dan kembali kata-kata Erwin terniang di kepalanya.
" Bisakah kamu menunggu??, lalu aku akan menikahimu segera," Erwin
" Apa bisa aku percaya??" ucap Marwah yang kemudian merebahkan tubuhnya dikasur dengan lelah.
__ADS_1