
Didalam ruang kantor manajer hotel, Erwin dengan kepala menegadah bersandar pada sofa ruangan itu dengan mata terpejam .Terlihat wajah cemas Marwah terlihat jelas disana, Marwah bingung harus berlaku apa dengan Erwin yang terlihat menahan sakitnya dengan diam.
" mas," panggil Marwah pelan dengan memegang lengan Erwin.
" kita kerumah sakit ya??," bujuk Marwah cemas.
" mas baik-baik aja," sahut Erwin dengan mengenggam tangan Marwah.
" gak bisa, Marwah lihat mas gak sehat, ya?? kita kerumah sakit sekarang," ucap Marwah gusar seraya hendak bangun dari sofa.
Namun tangannya ditahan oleh Erwin yang bergeming dengan membuka matanya perlahan.
" gak perlu, " ucapnya terhenti seraya meremas tangan Marwah dengan wajah pilu.
Dengan menelan salivanya ia tertunduk dengan wajah sedih dan memandang tangannya yang memegang tangan Marwah dengan sedih.
" maaf," ucapnya dengan suara penyesalan nya.
Marwah terpaku mendengar ucapan berat Erwin yang terluka. Ia bingung. Ia tak bisa mengartika dengan ucapan dalam Erwin yang memiliki ucapan penyesalan yang menyakitkan.
" kenapa mas ??,"
Erwin tetap diam.
" maaf untuk semuanya," ucap Erwin dengan berusaha mengontrol ngemuruh hatinya yang lelah.
Pelan ia melepaskan tangan Marwah lalu dengan siku bertumpu pada lututnya ia menunduk menutup wajahnya dengan penuh sesal dan seketika terdengar isakan berat Erwin yang berat. Seolah batas bertahannya roboh.
Deg..., jantung Marwah seolah berhenti ketika melihat betapa pria dihadapannya ini berada di titik terlemahnya.
Dengan instingnya Marwah memeluk tubuh Erwin dari samping.
Tak ada kata yang bisa mengibur jika seorang pria telah menumpahkan air matanya. Dengan penuh sayang ia mengusap punggung pria yang terlihat menanggung semua deritanya sendiri.
🍃🍃🍃
Beberapa saat waktu berlalu, kini keduanya berada di sebuah toko bakso pinggiran dengan suasana yang ramai. Nama Bakso Idaman.
Erwin menatap serius pada semangkuk bakso yang terlihat over size di mangkuk nya.
Marwah tersenyum kecil. Lalu dengan mangambil saus cabai rawit giling ia pun mencoba menaruh saus tersebut dimangkuk Erwin. Dan ketika hendak menaruh di sendok ke tiga. Tangan Erwin dengan cepat menghentikan kegiatan Marwah dengan wajah curiga.
" kamu mau buat mas sakit perut yaa??," tanya Erwin ketus.
Marwah seketika tertawa kecil melihat ekspresi wajah Erwin yang curiga pada dirinya.
" ah, enggak kok," ucapnya tersenyum seraya meraih kecap manis dan menaruhnya sedikit kecap manis pada mangkuk bakso Erwin.
" sudah, coba mas makan deh, ini pasti enak," ujarnya dengan wajah berbinar pada Erwin yang terlihat tak percaya.
Marwah tertawa kecil.
" ikh gitu banget sih?? tenang Marwah gak mungkin mencelakakan sayang ku, hmmm, coba mas makan, dan rasakan sensai yaaang ukh, pasti nagih" ucapnya sedikit mencontoh iklan di TV.
Erwin menatap dengan tak yakin, seraya mencoba mengambil sendok dan garpu dimangkuk tersebut. Dengan sedikit mengaduk, akhirnya ia mencoba mencicip kuah bakso yang terlihat dengan warna mengoda.
Dan seketika rasa kuah bakso yang kuat menjalar kedalam rongga mulut Erwin dengan sensai pedas yang kuat. Kedua matanya melebar bulat, dan wajahnya terlihat terkejut dengan sensasi pedas yang membakar saluran tenggorokannya. Hingga dengan buru-buru iya meraih botol air mineral dengan disambut tawa Marwah yang melihat wajah panik Erwin.
" Ini pedas sayang," ucapnya kesal pada Marwah.
Terdengar suara tawa Marwah yang membuat Erwin tak terpercaya jika wanita ini memang sengaja membuatnya kepedasan.
Pelan Marwah pun meraih sendok dimangkuk Erwin dan mencoba mencicip kuah bakso itu. Dan ia pun merasakan pedasnya yang masih standar indra pengecapnya.
" hhmmm, ini enak," ucap Marwah dengan wajah berbinar.
Erwin melihat tak percaya jika Marwah bisa makan makanan sepedas itu.
Lalu dengan pelan Marwah menukar mangkuk baksonya dengan milik Erwin. Dan Erwin hanya melihat dengan masih meminum air mineral yang belum bisa meredakan rasa pedasnya.
" kata mama, obat sakit kepala yang terbaik itu makan bakso dengan level terpedas," ucapnya dengan kembali menyerut kuah bakso milik Erwin.
Erwin hanya melihat wajah Marwah yang santai makan bakso pedasnya. Dan sesaat ia hanya terpaku memandang wajah Marwah lalu wajah kesedihan nya pun kembali terlihat.
Dan Marwah pun menyudahi memakan bakso pedas itu dengan tak bernafsu dan bersandar pada kursinya dengan menatap sekeliling yang ramai.
" apa perusahaan masih belum mendapat solusi lain?," tanya Marwah ragu.
Erwin menggelengkan kepalanya dengan berat.
Marwah hanya mengangguk dan tangannya memengang tangan Erwin seolah memberi kekuatan.
" ijinkan Marwah membantu, hmmm," ucapnya dengan melihat pada Erwin yang tertunduk lurus melihat kosong pada tangannya yang digenggam Marwah.
Erwin bergeming, ia hanya membalas memegang tangan Marwah. Dan ia memandang dengan sedih seraya menggelengkan kepalanya pelan.
" gak usah, " jawabnya pelan.
" kenapa?,"
Erwin hela nafas panjangnya dengan berat seraya berpikir.
" ini bukan masalah yang mudah," jawabnya
" mas, Marwah kan belum coba," sela Marwah lembut pada Erwin seolah menyakinkan.
Erwin akhirnya memandang wajah Marwah yang terlihat khawatir dengan senyum dipaksakan.
" gak papa, biarkan saja ini terjadi, " ucapnya pasrah.
Marwah menatap dengan wajah cemasnya disana.
__ADS_1
" kenapa??,"
" bagi mas, yang terpenting adalah kamu masih berada disini bersama mas, itu lebih dari cukup," ucap Erwin dengan senyum yang tak bisa diartikan.
Marwah terpaku, ada rasa tak bisa ia jelaskan. Logikanya terlalu berpikir keras. Dan seketika ingatannya akan ucapan nyonya Aritama terniang disana, bahwa seluruh dunia Erwin adalah perusahaan Aritama dan Sunrise hotel.
" mas," ucap Marwah sedih.
" gak papa, biar kan mereka menikmati jatuhnya mas, " ucapnya dengan yakin seraya menggenggam jemari Marwah dengan masuk kesela-sela jemarinya.
Marwah terpaku.
" Marwah," panggil Erwin pelan.
" ya,"
" itu apa?," tanya Erwin yang baru memperhatikan kotak hang sedari tadi bawa oleh Marwah.
" ah?," seru Marwah yang juga baru mengingat bawaannya, lalu menarik kotak tersebut ke hadapan Erwin dengan menggeser mangkuk bakso mereka berdua.
" ini, cake spartak, mas mau coba??," tawarnya.
Dan ketika kotak itu terbuka, kedua mata Erwin terkagum.
" maaf," ucap Marwah pada Erwin yang masih menatap cake premium tersebut.
" kenapa??," sahut Erwin bingung menatap Marwah.
" maaf karena Marwah kemarin meragukan kekhawatiran mas, dan soal penjaga itu," ucapnya pelan.
Erwin mengangguk pelan seraya tersenyum kecil. Lalu dengan pelan tangannya memegang kepala Marwah dengan sayang. Marwah menoleh dengan terpaku.
" mungkin yang lain boleh hilang, tapi satu hal yang akan mas jaga sampai nanti, kamu.., " ucapnya menatap Marwah dengan lekat-lekat.
" mas," lirih Marwah yang terharu mendengar ucapan Erwin yang mendalam.
Erwin hanya membalas sekilas, lalu ia tergoda untuk mencolek coklat cake spartak yang terlihat mengoda dan menjilatnya dengan wajah berbinar.
Dan Marwah pun tersenyum simpul melihat kejahilan Erwin yang seperti anak kecil.
" ya ampun mas, dipotong aja, ada pisau cake disisi samping" ucap Marwah seraya mencoba menunjukkan posisi pisau pada Erwin.
Namun Erwin menapik tangan Marwah dengan terburu.
Plak..tangan Marwah sedikit dipukul. Sehingga Marwah terkaget.
" kenapa??,"
" ini milik mas, jadi terserah mas mau makan dengan cara mas," ucapnya dengan usil.
Marwah terpelongo mendengar ucapan Erwin. Namun ia sedikit mengembangkan senyum senang karena Erwin sedikit melupakan masalah ya.
🍃🍃🍃
Lalu ketika ucapan Erwin yang keras pada Suci pun membuat Marwah ikut berpikir keras. Apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa Erwin begitu mencemaskan dirinya dari pada perusahaan Aritama.
Ditengah-tengah lamunannya, terdengar suara notif pesan masuk di handphone Marwah. Sehingga reflek Marwah meraih handphone untuk meoihat notif tersebut.
Dan seketika senyum nya mengembang senang mendapat pesan dari Erwin.
" ini jauh lebih bisa menenangkan pikiran dari pada makanan pedas syetan tadi," 😅😅😅 dengan emoji mengiringi pesan tersebut. Dengan terkirim foto cake spartak yang tinggal setengahnya.
Marwah menghela nafas lega dan tersenyum senang, ia senang karena cake sederhana itu bisa menghibur Erwin.
Namun hingga larut malam itu Marwah tak bisa tidur. Jenuh berpikir akhirnya Marwah menyerah seraya mencoba menfokuskan pikirnya dengan membuat puding premium. Entah mengapa ia ingin memakan sesuatu yang bisa mendinginkan dan menyejukkan pikiran dan hatinya.
Hingga menjelang pagi ia pun menutup dapur rotinya dengan sebuah cake premium Bruun chees dengan toping yang mengoda. Sehingga ia mengingat untuk membawa cake tersebut agar Erwin bisa mencicipinya nanti.
🍃🍃🍃
Namun pagi itu menjadi pagi yang mengejutkan untuk Marwah. Tanpa disangka sosok Suci datang ketokonya dengan membawa hal yang membuat dunianya terbalik 180°.
" Suci," seru Marwah dengan kaget melihat wanita berkelas itu datang ditengah-tengah tokonya dijam 8 pagi.
" ternyata kau memiliki dua pekerjaan?" ucapnya dengan senyum tak berekspresi.
" bagaimana mana kamu tau toko ini?" tanya Marwah dengan mendekat pada Suci yang membawa sebuah amplop ditangannya.
" Toni," sebut Suci dengan cepat.
Marwah terperanjah.
" kamu kenal dia?," tanya Marwah ragu.
Suci mengangguk pelan lalu matanya mencoba fokus pada Marwah yang terkaget.
" bisa kita berbicara serius," tanya Suci serius.
Marwah terkaget, namun akhirnya ia mengiyakan ajakan Suci dengan melihat sekitarnya yang perlahan para karyawan tokonya datang satu persatu.
" bagaimana jika di rumah," ucap Marwah dengan membuat Suci bingung.
Namun tanpa berbicara lagi Marwah mengisyaratkan kalan yang harus Suci ikut menuju rumah atasnya dengan melewati dapur rotinya yang terlihat Salwa dan Lily tengah membuat adona roti untuk dijual.
Setiba dirumah atas, Suci terteguh melihat sekeliling yang tanpa sederhana namun terlihat nyaman.
__ADS_1
Dan ia tersenyum tak percaya, seorang anak pemilik rumah sakit bisa hidup sesederhana itu.
" duduk lah, " ajak Marwah pada Suci.
" mungkin aku tau kenapa mas Erwin memilih mencintai mu??,"
Marwah bergeming dengan melihat pada wajah Suci yang datar.
Namun sesaat ia menghela nafas panjangnya dengan duduk seraya menaruh amplop besar yang sedari tadi ia bawa.
" aku datang ingin menawarkan satu kesepakatan agar kau bisa menyelamatkan mas Erwin dari kejatuhan perusahaan nya" ucap Suci dingin.
" kesepakatan apa??, jelas-jelas masalah itu terjadi karena ulah mu Suci," sela Marwah marah.
Suci tertawa kecil mendengar ucapan Marwah. Sehingga Marwah terlihat kesal dengan tingkah Suci.
" kau menyalahkan aku??? tidak kah kau berpikir kesehatan mas Erwin menurun karena sok kepahlawananmu waktu itu, " balas Suci yang tersulut emosi.
Marwah terkaget heran, ia tak paham akan ucapan Suci.
" apa maksud mu???, kesehatan mas Erwin kenapa?," tanya Marwah penasaran.
Dengan kesal Suci mengambil amplop besar itu dan mencampakkannya dengan kesal di pangkuan Marwah yang kaget.
" ini apa??,"
" lebih baik kau lihat sendiri," sela Suci kesal.
Sedikit ragu Marwah mengambil amplop tersebut dan membukanya, lalu perlahan menarik isi lembaran kertas didalam amplop tersebut.
Marwah mencoba membaca lembaran kertas yang memiliki cop rumah sakit besar dari Surabaya. Dan sorot matanya tajam membaca tulisan tangan seorang dokter yang menganalisa Erwin.
" Perdarahan Subarachnoidn??" ucap Marwah bingung.
" beku darah di otak," sahut Suci cepat.
" APA???," sahut Marwah terperanjah.
" beku darah??,"
" apa kamu ingat??? kejadian waktu itu mas Erwin melindungi kamu ketika Toni ingin memukul kamu, namun mas Erwin menghalagi dan akhirnyan ia yang menerima pukulan itu dikepala nya," jelas Suci tajam
Marwah sedikit bingung, tak ada sedikit pun bayangan akan gambaran dari penjelasan Suci.
" kapan?,"
" kau lupa?? dengan anak laki-laki yang kau panggil
" kak Mummy "??," sela Suci kesal.
Marwah terperanjah kaget, bagaimana Suci tau akan history nya dengan mas Erwin.
" kau kaget?," tebak Suci yang membaca ekspresi tak percaya Marwah pada dirinya.
" aku tau, karena aku lah yang menjadi bayang-bayang gadis kecil bagi mas Erwin, ia selalu membanding-bandingkan aku dengan gadis kecil dalam kenangannya,"
" dan aku.., aku yang menjadi boneka pengganti dirimu untuk nya, apa kau puas?? dan sekarang kau datang untuk merebut mas Erwin dari ku, dengan segala yang telah aku lakuan?," ucap Suci dengan gemuruh di hatinya.
Marwah terdiam seribu bahasa, ia ucapan Suci sungguh membuatnya terhenyak. Seluruh tubuhnya lemah seketika.
Marwah kehilangan kata dengan mendengar fakta yang Suci ucapkan.
" bagaimana mungkin?," ucap Marwah bergetar.
" kau pikir aku berbohong?? tidakkah kau ingat mas Erwin sering sakit kepala?? itu gejala awal, jika terus diberi beban besar kemungkinan mas Erwin akan menerima serangan stroke seketika," ucap Suci emosi.
Luluh lantak sudah perasaan Marwah, seakan dunianya hancur mendengar kenyataan didepan matanya. Bagaimana pria yang ia cintai tengah berjuang dalam hidupnya.
Kedua bola mata Marwah membaca kembali dengan mata berkaca-kaca, seakan ia tak bisa percaya. Namun kenyataannya analisa dokter tercatat jelas persisi seperti yang Suci katakan.
" jika kau ingin menyelamatkan mas Erwin, maka aku beri satu kesepakatan," tawar Suci ketus.
Marwah melihat pada Suci dengan wajah kebingungan dan hancur.
" tinggalkan mas Erwin, " ucap Suci dingin.
Marwah terpaku, hatinya sakit bagai tertusuk sebilah pisau tajam. Dan ia reflek menggelengkan kepalannya menolak permintaan Suci.
" itu tidak mungkin," ucap Marwah berat dengan air mata jatuh dipipi.
Suci terlihat kesal mendengar penolakan Marwah yang bersikeras dengan pendiriannya.
" kau menolak???," ucap Suci emosi.
" jika kau bertahan maka aku pun tak akan bermurah hati untuk mu," ucap Suci dingin menantang pendirian Marwah.
" kau jahat Suci," ucap Marwah tak percaya kerasnya hati Suci.
" aku jahat?? lalu kau apa??? iblis sok berhati malaikat??," balas Suci tajam
" kau biang dari semua kesakitan mas Erwin, kau yang membuatnya jadi berada di posisi sekarang?? dan kau juga yang mambuatnya menerima sakit kepala itu hingga membahayakan nyawanya," cerca Suci emosi.
Marwah terisak mendengar cercaan Suci yang menohok hatinya.
" CUKUP !!," pekik Marwah frustasi dengan ngemuruh hatinya.
Suci tertawa licik mendengar suara frustasi Marwah.
" andai kau tak pernah muncul lagi, mungkin semua ini tak akan pernah menimpa mas Erwin, " ucap Suci tajam dengan bangun seraya hendak pergi.
Namun ia terhenti dengan memberikan kartu namanya.
" ini, jika kau berubah pikiran," ucap Suci seraya berjalan meninggalkan Marwah yang masih mencoba mengontrol hatinya yang hancur dengan terdengar isakan menyayat hati dari bibirnya yang tak bisa berkata-kata lagi.
__ADS_1