
Malam itu di toko dr. Dessert, Marwah berdiam diri didalam kamar atasnya. Ia bahkan tak menganti pakaian sedari tadi. Ia masih tak percaya dengan perkataan Dimas yang telah mengakhiri hubungan mereka begitu saja.
Dan seketika ia teringat akan Sisil, ia ingin bertanya langsung dengan sahabatnya ini. Bagaimana bisa tebakan sisil bisa sangat benar atas rahasia Dimas. Namun berkali-kali ia menelfon tak ada jawaban dari sebrang telfonnya. Lalu ia menghela nafas panjangnya , dan mencoba berpikir kini sudah pukul 2 pagi wajar Sisil tak mengangkat telfonnya. Temannya kini telah tertidur lelap.
🍃🍃🍃
Pagi harinya Marwah terlihat lesu, setelah mandi dan berganti pakaian ia mulai turun untuk kedapur roti. Ia mencoba menghilangkan masalahnya dengan membuat roti. Namun sialnya tak satu pun bahan yang ia lakukan dengan benar, sehingga tak satu roti pun yang jadi untuk dijual.
Lily/"mbak Marwah??"..
Marwah/"ah, ya??" ujarnya terkaget.
Lily/"mbak kenapa?? kok lesu banget??"
Marwah/"ah, gak kok biasa aja" ujarnya seraya mengelap tangannya dengan tisu, lalu ia berjalan keluar menuju tengah toko. Namun lagi-lagi Lily menghampiri.
Lily/"mbak!! kemarin ada yang datang kesini, cariin mbak"
__ADS_1
Marwah/"siapa??"..
Lily/"kurang tau mbak, tapi dari ID-nya sih kayak dari kantor mbak Sisil."
Marwah/"hah?? ada apa yaa??" ujarnya bingung. Lalu ia merasa itu tak penting dan berjalan menuju mini cafenya. Dan menyibukkan dirinya dengan kegiatan tokonya yang semakin siang semakin ramai pengunjung.
Namun sore harinya tiba-tiba kak Safa menelfon dirinya.
Marwah/" hallo kak?" jawabnya santai seraya menulis beberapa orderan untuk tanggal 14 feb.
Kak Safa/"Marwah?? kamu sama Dimas baik-baik aja kan??" tanyanya cemas.
Marwah/"ah, hhhmm kenapa??" ujarnya ragu menjawab untuk jujur.
Kak Safa/"ia mengundurkan diri!!"
Marwah/"Apa??" ujarnya yang kaget seraya meletakkan pulpen
__ADS_1
Kak Safa/"iyya kakak juga baru tau dari perawat, dr. Dimas mengundurkan diri, kabarnya ia akan pindah!! apa kamu gak tau??" ujarnya lagi yang tak percaya bahwa adiknya sendiri tidak tau.
Marwah/"kak, nanti Marwah telfon lagi yaa, nanti Marwah cerita semua!!" ucapnya terburu-buru untuk mengakhiri telfon itu.
Kak Safa/"Marwah!!" panggilnya marah.
"kamu kenapa??" ucapnya cemas pada Marwah yang terdengar panik.
Marwah/"ya, ya kak! Marwah baik-baik saja, sudah yaa??" ujarnya dan dengan segera memutuskan komunikasi itu. Lalu ia berjalan setengah berlari menuju rumah atasnya. Dan dengan terburu-buru ia meraih cardigan juga tasnya.
Kemudian ia turun dengan buru-buru keluar tokonya begitu saja. Ia mengendarai sedan civic mewahnya lalu melaju menuju keapartemen mas Dimas.
Pikiran marwah benar-benar kacau, entah apa yang membuatnya begitu cemas akan mas Dimas. Seharusnya itu suatu hal yang tak pantas jika Marwah mencemaskan Dimas, karena hubungan mereka telah berakhir.
Namun setiba diapartemen Dimas, Marwah harus kecewa. Wajahnya tak percaya melihat ruangan rumah apartemen Dimas kini kosong, dan seketika air matanya jatuh. Betapa ia benar-benar kehilangan Dimas.
Marwah/"kenapa mas?? kenapa kamu menghilang??" ujarnya dengan menangis tersedu-sedu.
__ADS_1
"apa itu cara kamu untuk pergi dari sisiku??" dan lagi Marwah larut dalam sedihnya.
Dan tiba-tiba telfon dari mama Wulan pun mengusik dirinya. Namun tak berani ia angkat, ia benar-benar tak siap untuk berbicara saat ini. Hingga ia membiarkan telfon itu berdering tanpa mengangkatnya.