
Setiba di Sunrise hotel, keduanya pun disambut dengan segudang rapat kecil untuk persiapan pembukaan Sunrise hotel yang tinggal beberapa hari lagi.
Segala persiapan telah siap, udangan untuk para selebgram yang telah fix menjadi sumber promosi mereka juga beberapa media yang akan meliput.
Disela-sela kesibukan, terlihat Erwin berdiskusi serius dengan sekertaris Chandra untuk urusan perusahaan Aritama yang diambang bangkrut.
Marwah terlihat yang mengontol sendiri berbagai sub kegiatan pun harus berkeliling mengecek setiap ruang yang siap pakai untuk konsumen.
Tepat pukul setengah 3, Marwah yang berdiskusi kecil dengan beberapa karyawan hotel yang bertugas sebagai resepsionis pun dikejutkan dengan kedatang seseorang yang mengangetkan dirinya.
" selamat siang menjelang sore, nona Marwah," sapa pria itu dengan wajah tersenyum hangat pada Marwah.
Marwah bergeming sehingga ia pun reflek menoleh pada suara yang menyapa dirinya.
" mas Toni," sahut sopan.
" apa, aku menganggu??," tanya Toni sedikit mendekat beberapa langkah kehadapan Marwah.
" ah, enggak, hanya bagaimana anda bisa kesini??," tanya Marwah penasaran seraya menyudahi diskusinya dengan karyawan hotel yang berlalu meninggalkan Marwah dan Toni.
" hanya menebak, dan ternyata aku benar, kamu berada di hotel ini," ucap Toni seraya melihat kesekeliling hotel dengan wajah berbeda.
Marwah hanya memperhatikan sekilas ekspresi wajah Toni yang berbeda.
" ah, apa mas Toni mau bertemu dengan mas Erwin?? dia ada dikantornya" tawar Marwah.
Toni terteguh.
" aku tidak yakin di akan senang," ucap Toni seraya memandang wajah Marwah.
Marwah memandang dengan bingung.
" hotel ini terlihat berbeda," ucap Toni
Marwah seolah berpikir seraya ikut melihat kesekeliling hotel.
" ehem iyya, mas Erwin sengaja merenovasi total hotel, sehingga terkesan baru," Marwah menjelaskan.
Toni mengangguk pelan dengan sebait senyum getir disana.
" dia bahkan mau mengubur kenangan buruk itu dengan sempurna," sahut Toni dengan nada berbeda.
Lagi-lagi Marwah merasa heran dengan ucapan Toni yang tersirat makna berbeda.
" Minggu ini pembuka Sunrise hotel ke publik, mas Toni bisa datang untuk mendukung mas Erwin," ujar Marwah dengan memberikan brosur yang berada di atas meja resepsionis lalu menyerahkannya Toni.
Toni menyambut dengan cepat mengenggam tangan Marwah. Dan Marwah terkaget.
" berapa yang Erwin berikan pada mu, hingga ia berani merubah hotel ini menjadi berbeda???," nada bicara Toni dingin dengan sorot mata tajam memandang pada wajah Marwah yang tak nyaman.
" maksud mas Toni??," tanya Marwah dengan berusaha melepaskan genggaman tangannya dari tangan Toni yang mengenggamnya dengan kuat.
" jangan berpura-pura??, aku bisa memberi lebih banyak pada mu Marwah, dan kamu harus tau Erwin sedang menuju pada nasib buruknya yang tinggal menghitung hari," ucap Toni dengan senyum licik ya.
" tidak kah kamu berubah pikiran dari sekarang??," seru Toni dengan mencoba menarik tubuh Marwah sehingga Marwah tersentak hingga tubuhnya mendekat pada Toni yang siap meraih pinggangnya.
Marwah bereaksi kaget, dan kesal seraya merontak untuk melepas.
" LEPAS !!," ucap Marwah marah berada pelukan Toni.
Toni tertawa lepas, sehingga menambah kekesalan Marwah dengan berusaha meronta.
" TONI !!," suara Erwin menggelegar dalam hotel tersebut.
Sehingga mengejutkan siapa pun yang berada disana, termasuk Toni dan Marwah.
" mas Erwin," desir Marwah terpaku.
Erwin dengan wajah marahnya berjalan mendekat pada Marwah dan Toni yang sedikit melonggarkan longkar tanggannya dipinggang Marwah, sehingga dengan cemat Marwah meloloskan diri dari Toni lalu melesat berlari mendekat pada Erwin yang terlihat syok.
" mas," ucap Marwah
Erwin tak menjawab, namun ia berjalan menghampiri Toni dengan kesal.
Toni tak bergeming ia dengan santai melihat pada Erwin yang marah.
" ada apa kau datang kemari???,"
" aku??," sahut Toni santai.
" aku hanya berkunjung," ucapnya dengan wajah licik.
" sebaiknya kau pergi, sebelum batas sabar ku habis,"
Toni tertawa lepas mendengan ucapan Eriwn yang bak lelucon.
" apa kau mengusir ku ?? tapi aku di undang oleh gadis kecil itu kemari, ah bahkan pada saat pembukaan Sunrise, " ucap Toni dengan menunjuk Marwah yang terlihat gusar.
Marwah terpaku mendengar ucapan Toni yang menyebutnya " gadis kecil", dan ia menjadi bertanya-tanya.
" apa kau akan melindunginya lagi??? seperti waktu itu????" ucap Toni terang-terangan dengan wajah sinis menatap tajam pada Erwin yang berang melihat Toni.
" tutup mulut mu, dan pergi!!," usir Erwin tajam dengan tangan terkepal seolah menahan marahnya
" ooh..oh..oh, oke," jawab Toni seolah sedikit puas mempermainkan Erwin yang berhasil memancing amarahnya.
" kau tau??, " ucap Toni dengan berjalan dan meraih bahu Erwin seolah berbisik.
" aku suka melihat mu hancur, dan semua milikmu pun akan menjadi milik ku, tak terkecuali gadis kecil itu," ucapnya seraya hendak melangkah pergi.
Namun Erwin yang tersulut amarahnya, tanpa pikir panjang meraih lengan Toni dengan cepat lalu.
BUGG, satu pukulan keras ia berikan di wajah Toni sehingga Toni terhuyung menerima hantaman keras dari kepalan tinju Erwin yang sedari tadi ia tahan.
Marwah yang tak berdiri jauh pun terlihat syok dengan kedua mata melebar sehingga menutup mulutnya dengan tangan.
Lalu terlihat Erwin dengan amarahnya hendak meraih Toni untuk menghajarnya lagi. Namun dengan cepat Marwah berlari dan memeluk tubuh Erwin seraya menjerit.
" Massss!!!," ucap Marwah menahan tubuh Erwin untuk tak melanjutkan perkelahian itu.
Erwin tertahan dengan nafas menderu yang bernafsu untuk memukul kembali Toni dengan lebih kuat. Namun karena pelukan Marwah yang terlihat ketakutan, akhirnya membuat ia mencoba meredakan amarahnya.
" aku tak akan beri ampun jika kau menyentuhnya lagi, " ucap Erwin tajam dengan nada amarahnya. Marwah yang mendengar ucapan Erwin pun mengidik takut, kali pertama ia melihat wajah amarah Erwin yang berbeda dari biasa, seakan Erwin dapat membunuh seseorang detik itu juga jika tak ia tahan.
Toni yang menahan sakit pada wajah nya yang menerima pukulan keras dari Erwin sepetinya tidak memiliki rasa takut. Bahkan ia tersenyum dengan mengusap darah di sudut bibirnya yang terluka akibat pukulan Erwin.
" ini benar-benar lucu, " ucap Toni dengan tertawa sinis, dengan sekilas mengingt kejadian masalalu yang terulamg kembali seolah Dejavu.
Marwah menatap tak percaya pada tawa Toni yang masih bisa tertawa setelah menerima pukulan Erwin.
" gadis kecil, kau benar-benar tak berubah, " ucap Toni yang tertuju pada Marwah yang terlihat pucat takut.
" untuk kali ini cukup, dan aku akan membalas mu nanti, dengan berkali-kali lipat, sepupu ku Erwin Aritama," ucap Toni dengan nada dingin lalu ia pun berjalan meninggalkan Erwin dan Marwah yang masih terlihat takut.
Sesaat sepeninggalan Toni, Marwah yang masih memeluk pinggang Erwin pun sedikit bergeming ketika merakan tangan Erwin membelai lembut kepalanya.
" mau peluk sampai kapan, sayang??," ucap Erwin melembut pada Marwah yang terlihat masih syok.
Marwah yang sedari tadi kaget dan syok tiba-tiba terhuyung lemas, sehingga Erwin meraih tubuh dengan wajah cemas.
" Marwah?? kamu gak papa??," seru Erwin yang seketika melihat wajah pucat Marwah yang lemas.
Marwah reflek menggelengkan pelan dengan berusaha untuk kuat berdiri, namun lututnya terlalu lemas.
" ma..Marwah baik-baik aja," sahutnya pelan.
Namun tanpa pikir panjang, Erwin malah dengan cepat meraih tubuh Marwah dan mengendongnya.
Marwah terkaget.
" mas,,"
" kamu syok, " sahut Erwin yang tanpa peduli pandangan beberapa karyawan hotel yang melihat aksi heroik Erwin dan kini ia berjalan menuju ruang kantor manajer Sunrise hotel.
Dan tanpa sadar sepasang mata amarah pun melihat pada keduanya dengan sakit.
πππ
Marwah yang tengah meminum air mineral pun berusaha mengontrol dari nya. Ia duduk disofa ruangan itu dengan Erwin yang menatap serius oada dirinya yang terlihat cemas.
Namun tak lama, Sekertaris Chandra masuk dengan membawa makanan kedalam ruangan tersebut.
" ini makanannya," seru sekertaris Chandra dengan meletakkan dua kotak makanan di hadapan Erwin dan Marwah.
" ya ampun banyak banget," ucap Marwah terkaget.
" enggak, kamu harus makan, biar lemas kamu hilang?" ucap Erwin dengan mengambil kotak tersebut seraya membuka kannya dihadapan Marwah.
Marwah menerima dengan hati-hati dan membawa kotak itu di hadapannya dan melihat dengan wajah berat, lalu menoleh kembali pada Erwin yang masih memandang dirinya.
" ayo dimakan," ucap Erwin pada Marwah yang masih menatap terpaku pada dirinya.
" baiklah, sini," ucal Erwin tersenyum kecil, lalu meraih kembali kotak makan itu dari tangan Marwah dan ia pun mengambil sendok dengan cepat mengayukan kembali sendok yang telah berisi nasi disana dan seketika sendok itu pun berada dihadapan mulut Marwah yang masih terkatup.
Marwah memandang terpaku.
" makan lah," ucap Erwin lembut menatap Marwah.
Namun tiba-tiba.
Plak..plak..plak.., terdengar suara tepukan dari sekertaris Chandra yang mengangetkan Erwin dan Marwah.
" auuuh.., kenapa bisa ada nyamuk yaa di hotel baru begini??," ucap sekertaris Chandra seraya bangun dari dudukan nya disebelah Erwin.
" ada apa?," tanya Erwin yang kesal terkaget.
__ADS_1
" ah, aku keluar sebantar, sepertinya nyamuk itu harus dibasmi dengan obat nyamuk, kalian lanjutkan saja jika tahan" ucap Sekertaris Chandra dengan segera keluar dari ruangan manajer itu sehingga meninggal kan wajah bingung Erwin dan Marwah.
" memangnya ada nyamuk??," tanya Erwin pada Marwah.
Marwah reflek mengangkat bahunya tidak tau. Namun seketika ia tersadar ketika melihat tangan Erwin masih memegang sendok yang hendak ia suapkan pada dirinya tadi.
Dan seketika Marwah tertawa lucu sendiri, mengingat sekertaris Chandra. Ia tertawa cekikikan menahan lucu akan arti " nyamuk " sekertaris Chandra tadi.
Erwin menatap bingung pada Marwah yang seketika tertawa sendiri.
" kenapa tertawa??," tanya Erwin serius.
" ah.., itu.." ucap Marwah tak bisa menjelaskan namun melanjutkan tawanya yang membuat Erwin terheran.
" apa sih??," tanya Erwin bingung.
Marwah masih tak menjawab, ia masih mengontrol tawanya yang masih tak bisa ia tahan karena tingkah sekertaris Chandra yang sadar diri sebagai nyamuk diantara mereka berdua yang dianggap tengah tebar romantis.
" seperti nya kamu sudah baikan," ucap Erwin dengan menaruh kotak makanan tersebut, sehingga sekilas Marwah melihat pada punggung tangan Erwin yang sedikit memar karena pukulannya tadi pada Toni.
Marwah terteguh sehingga kejadian tadi terlintas kembali.
" maaf," ucap Marwah spontan.
Erwin bergeming dan melihat pada Marwah dengan wajah heran.
" karena Marwah, tangan mas jadi memar," ucap Marwah pelan seraya hendak bangun sehingga Erwin pun terkaget dan hanya melihat aktifitas Marwah hendak menuju meja kerjanya yang terlihat tas Marwah berada disana. Lalu ia kembali pada sisi Erwin dengan mengeluarkan salap pemberian Erwin waktu itu untuk dirinya.
Tanpa intruksi Marwah meraih tangan Erwin dengan perlahan membuka tutup salap lalu mencoba mengoleskan salap itu dengan tipis-tipis diatas permukaan punggung tangan Erwin yang memar.
" salap ini sangat bagus, karena terdapat aloe vera yang mendinginkan luka," ucapnya pelan dengan sesekali meniup pada tangan Erwin yang tak bergeming.
Hening seketika diantara keduanya yang larut dalam pikiran masing-masing.
Namun akhirnya terdengar hela nafas berat Erwin.
" kamu harus lebih hati-hati, " ucap Erwin.
Marwah melihat pada tatapan Erwin yang khawatir.
" dia adalah musuh mas yang selama ini mengganggu hidup mas," tersirat nada berat Erwin ketika menjelaskan.
Marwah terpaku.
" kami adalah sepupu, tapi pada akhirnya kami berubah menjadi musuh yang ingin membunuh satu sama lain," lanjut Erwin sedikit menunduk menghindar menatap wajah syok Marwah.
" bagaimana bisa?," seru Marwah desir pelan yang tak bisa percaya mendengar penjelasan Erwin.
Erwin kembali menghela nafas beratnya seraya melonggarkan dasi yang seolah mencekik lehernya. Dan ia pun seolah mengingat kembali kejadian yang membuat semua menjadi berbeda.
Flash Back On
Disore hari, terlihat dua pemuda tanggung yang datang kesebuah hotel dengan kompaknya. Erwin dan Toni yang dengan serius bermain Playstation yang sama-sama berhasrat untuk menang.
Namun dengan bersusah payah Toni mencoba mengalahkan Erwin yang terlihat ahli dalam bermain balap motor GP dengan meraih poin terbanyak. Sehingga pada menit terakhir dibabak penentuan Erwin keluar sebagai pemenang dengan selisih waktu tak jauh dengan Toni.
" Yeeeaaaah.." seru kemenangan Erwin yang berhasil menang mutlak dari Toni yang kalah untuk kesekian kalinya.
" huhuhu..,AserejΓ©, ja deje tejebe tude jebere, menang.., menang," seru Erwin bersorak dengan berjoget-joget ala Las Ketchup - Asereje amerika latin. ( kebayang ya author kelahiran berapa π π lagu ter lengdaris dijamannya sila lihat di mbak youtube gimana jogetnya plus bayangin mas Erwin yaa)
Toni terlihat kesal dengan kemenangan Erwin, karena kali ini ia harus kembali membiat tugas PR Erwin yang sama-sama satu sekolah hanya berbeda kelas.
" udah biasa aja kali," celetuk Toni kesal dengan mencampakkan stik Playstation dengan asal.
" ciee ngambek," ejek Erwin dengan sengaja.
Namun tak lama, terdengar suara pintu ruangan kantor hotel tersebut terbuka hingga mengangetkan keduanya. Sontak kedunya pun seketika kalem dan sedikit menunduk takut, ternyata papa Toni datang dengan wajah lelahnya.
" eh, kalian kesini lagi???" tegur papa Toni .
Keduanya tak bergeming, terlihat keduanya krasak krusuk saling menyikut.
" untuk apa kalian kemarin??, jangan sering-sering," ucap papa Toni dengan berjalan melewati keduanya dan duduk di meja kerjanya.
Toni tak bisa berkutik dihadapan papanya yang tegas dan keras. Sehingga Erwin mengalah dan dengan berat menelan salivanya yang seolah susah untuk diloloskan masuk ketenggorokannya.
" hmm, maaf paman, tapi kata ayah, ayah udah ijinin kita untuk les renang dikolam hotel," ucap Erwin merendah.
Dan terdengar hela nafas kesal papa Toni.
" lagi-lagi ayah kamu, ini tuh memang hotel keluarga, tapi buka bearti seenaknya, karena para karyawan pasti pada protes," ucap papa Toni menekannya bahwa ia tak senang ketika keduanya terlalu bebas bermain di hotel.
Erwin terdiam dan merasa salah langkah telah menjelaskan pada pamannya yang memang diakui begitu keras.
" sudah, kalian pulang saja, kolam hari ini sedang dibersihkan" ucap papa Toni setengah memarahi keduanya.
Karena takut, keduanya pun patuh saja sehingga keluar dari ruangan kantor tersebut dengan wajah lesu.
" ck,, papa selalu gitu," celetuk Toni jengkel.
Erwin hanya bisa melihat pada sepupunya.
" kita pulang," ucap Erwin.
" jadi bener gak renang??," tanya Toni lagi.
" ya lo tanya paman kalau berani,"
Nyali Toni ciut seketika.
" ya udah pulang," sahut Toni kesal dan keduanya pun berjalan dengan berat meninggalkan hotel.
Namun ketika melewati pintu depan hotel yang terbuka lebar, Ayah Erwin datang dengan wajah sumringah.
" loh, kalian mau kemana??,"
" mau pulang yah," jawab Erwin lesu.
" pulang? gak jadi renang?,"
Erwin menggeleng pelan.
Ayah Erwin menatap heran.
" kenapa??,"
" kata paman, kolam sedang dibersihkan,"
" oh begitu, iyya yaa.., mungkin udah jadwalnya pembersihan kolam, karena ada beberapa konsumen yang komplen," jelas ayah Erwin memberi pengertian.
Walau kecewa tapi penjelasan ayah Erwin lebih bijaksana, sehingga keduanya pun memanklumi.
" kalian yakin mau pulang??,"
" iya yah" jawab Erwin.
" hhmm, gitu yaa, soalnya sebentar lagi mama dan tante Sari (mama Toni) kesini, katanya ada demo cooking class dengan perusahaan Anchor butter,"
" apaan tuh?," sela Toni.
" itu ibu-ibu belajar masak," jelas ayah Erwin.
" nanti ada banyak cake kalian bisa coba," jelasnya lagi.
Toni dan Erwin kompak melihat satu sama lain, lalu tersenyum tak berekspresi seakan mereka bisa membaca pikiran satu sama lain yang nyari sama.
" gak mungkin kan kita nungguin mama-mama rempong itu masak??, bisa-bisa jadi kelinci percobaan," rutu Erwin dan Toni membatin.
" Enggak paman, ayah !!" jawab keduanya berbarengan. Sehingga keduanya pun terkaget begitu pun dengan ayah Erwin yang membuat pria humoris itu tertawa lepas.
" kalian ini yaa, otak dan kelakuan sama saja, ya sudah, kalau pulang hati-hati bawa motornya, " ucapnya seraya berlalu meninggalkna kedua anak muda itu yabg terlihat lega.
Lega karena telah terbebas dari ayah Erwin, keduanya pun turun kebawah lobby untuk mengambil motor mereka yang terparkir disana. Toni dan Erwin memiliki motor yang sama yaitu Suzuki Satria, hanya yang membedakan adalah warna motor.
Erwin Satria berwarna biru, sedangkan Toni berwarna Merah. Kedua pun kompak memodif motor balap itu dengan ciri khas masing-masing.
Erwin yang terlihat santai menaiki motornya seraya memakain helm pelindung yang berat. Toni pun hanya berdiri terpaku.
" kenapa?," tanya Erwin pada Toni yang hanya naik motornya tanpa menghidupkan mesin motor untuk segera pulang.
" bagaimana kalau kita balapan??," ajak Toni
Erwin mengeyitkan dahinya.
" balap?,"
" hmm, lo sering menang di PS, sekarang coba realnya?" tantang Toni percaya diri.
" kau gila??," elak Erwin tak terpancing dengan menggelengkan kepala.
" ayo laaah, apa lo takut," tantang Toni kembali.
" hey, lo mikir deh,"
" apa??,"
" lo mau disemprot sama papa lo?? gue mah ogah?" seru Erwin hendak mulai melanjukan motornya.
Namun dengan cepat tangan Toni menahan lengan Erwin.
" bilang aja lo takut," seru Toni.
__ADS_1
Jiwa muda Erwin terpancing.
" oke," sahutnya seketika.
" nah gitu donk," seru Toni senang.
" tapi, gak disini," ucap Erwin.
" jadi??,"
" di lokasi balap, daerah Xxx," ucap Erwin.
Toni sekektika bengong
" ogah, kita trel sekarang, jalan ini aja,"
Erwin terkaget mendengar omongan Toni.
" kalau kesana tunggu tahun dapan gue dapat ijinnya," celetuk Toni pada Erwin.
" gimana??," tantang Toni lagi.
Erwin terdiam seraya beroikor sejenak.
" yang menang, uang tahun dari papa gue pertaruhkan," ucap Toni.
Erwin bergeming, uang tahunan yang meraka terima tak main-main. Mereka berdua selalu dapat uang tahunan dari kedua orang tua mereka dengan nilai yang lumayan banyak untuk ukuran anak ABG.
" oke" sahut Erwin menyanggupi.
" tapi?," seru Toni lagi sehingga Erwin kembali melihat pada sepupunya dengan heran.
" lo pakek motor gue, gue pakek motor lo," ucap Toni.
" lah kenapa gitu?," ..
" biar sportif," ujar Toni.
Erwin berpikir kembali seraya melihat pada motor Toni.
" gimana??,"
" hhmm, oke lah," sahut Erwin seraya turun dari motornya dengan membuka helm.
" yuhuu, " seru Toni girang.
Namun Eriwn terlihat berjalan meminggalkan Toni yang senang.
" lo mau kemana??," tanya Toni heran.
" biasa panggilan "Alam" ," sahut Erwin seraya berjalan cepat menuju gedung hotel lagi
" woho, lo punya h "mr. Jon" udah loyo yaa sebelum bertanding," celetuk Toni dengan berteriak.
Erwin bergeming dan terkaget mendengar teriakan Toni.
" Sialan lo!!!!," balas Erwin dengan memberi tanda matanya dengan tangan pada Toni seolah Toni berada dalam radar pengelihatannya.
Toni tersenyum senang. Namun seketika ia melihat pada motornya dengan licik. Lalu ia pun meraih motornya dengan segera.
Tak beberapa lama Erwin kembali dengan wajah lega setelah buang air kecil. Dan ia melihat pada Toni yang sepetinya telah siap bertanding.
" lama amat lo?? nervous ya?,"
" biasa aja," sahut Erwin seraya memakai helm miliknya kembali.
" oke, star kita dari atas sana hingga rumah gue," ucap Toni. yang disambut dengan kenyitan dahi Erwin yang berpikir.
" kenapa rumah lo??,"
" gue panitia, jangan banyak bacot lo, ikut aja peraturan," sahut Toni dan Erwin hanya mengangguk kembali.
" gak ada peraturan lain, intinya siapa yang duluan sampai rumah gue dia memang"
" oke," seru Erwin setuju yang terlihat telah siap menaiki motor Toni dengan suara motor bising pelan kedua motor itu berjalan hingga menuju garis star yang berada di atas tempat parkiran basement.
" satu," ucap Toni
" Dua," Erwin
" tiigaaa" sahut bersamaan.
Dan seketika motor itu melesat kencang dengan suara motor yang bising, Erwin melaju pasti di ikuti Toni yang mengejar.
Namun belum sempat jauh berjalan tanpa sengaja terlihat seorang wanita muda berjalan terburu-buru dengan sepatu heelsnya dan hendak berjalan memotong kesebelah kiri.
Sialnya Erwin terkaget dengan kemunculan wanita tersebut sehingga ia mencoba rem spontan namun rem tak berfungsi.
Seketika tabrakan keduanya pun tak bisa terelakkan.
Bruk..praaaakk..motor Erwin menabrak tubuh wanita itu.
Dengan jeritan kesakitan wanita muda itu yang seketika terlempar sekitar hampir 1meter setengah dari Erwin yang juga terjatuh dengan badan terseret.
" Mamaaaaaaaaa...," teriak Toni histeris ketika melihat sosok ibunda tercinta bersimbah darah dihadapannya.
Erwin yang mengalami tabrakan pun seketika kehilangan kesadaran nya dengan sekilas melihat wajah wanita cantik itu yang kini bersimbah darah didepan matanya dengan tak bergerak lagi.
Flash Back Off.
Marwah terpaku mendengar cerita Erwin. Ia memandang wajah penyesalan Erwin. Sesaat tangan Marwah menyentuh lengan Erwin yang bersedih.
" kejadian itu tak bisa terlupa, karena itu adalah akar permasalah keluarga mas,"
" bahkan kata maaf tak bisa mengembalikan keadaan," ucapnya tertinduk sedih.
" maaf," ucap Marwah pelan.
Erwin melihat pada Marwah dengan wajah sedihnya.
" ada saat dimana seseorang tak bisa dihibur dengan kata-kata," ucap Marwah dengan mendekat pada Erwin lalu dengan sayang merangkul dan memeluk Erwin yang terpaku. Dengan lembut Marwah mengusap punggung Erwin.
" terima kasih," ucap Erwin lirih seraya membalas pelukan Marwah dengan mendalamkan wajahnya pada sisi leher Marwah yang tercium aroma segar menenagkan.
" mas tau?? mengapa menikah butuh dua orang??" tanya Marwah dengan sedikit berbisik.
Namun tak mendapat jawaban dari Erwin yang masih dirundung sedih dipelukan Marwah.
" karena untuk berbagi beban," ucapnya pelan dengan mengusap punggung Erwin..
Erwin tersenyum simpul dibalik pundak Marwah lalu perlahan mereraikan pelukkannya dari Marwah. Dan ia menatap wajah sendu Marwah. Lalu perlahan menyentuhnya dengan sayang.
" kamu tau???, setiap kali mas lihat wajah kamu, perasaan mas yang kusut pun jadi baik?" ucapnya menatap Marwah dengan lekat.
Marwah tersenyum simpul. Perlahan Erwin mencoba meraih wajah Marwah yang cantik, sehingga insting nya untuk mencium bibir Marwah pun tersirat disana. Marwah terpaku, namun siring perasaannya yang juga berhasrat dengan Erwin ia pun menunggu untuk Erwin kecup.
Dengan pelan Erwin mendekatkan wajah pada wajah Marwah yang tinggal beberapa inci dengan dirinya, sehingga Marwah pun reflek memejamkan matanya.
Namun tiba-tiba..
Brak.., pintu kantor itu terbuka dengan terlihat Sekertaris Chandra masuk dengan terburu-buru.
Sontak Erwin dan Marwah pun menolak tubuh keduanya hingga Erwin terjatuh dari sofa dengan kuat, dan terlihat Marwah pun sedikit kelabakan dengan kehadiran tiba-tiba sekertaris Chandra yang hadir ditengah-tengah moment mereka.
" ah, maaf, " ucap Sekertaris Chandra datar dengan segera membalikkan badannya.
Erwin terlihat kesal.
" hey!! apa tak bisa ketok pintu dulu??", seru Erwin kesal.
" ah, aku pikir ini masih dikantor, jadi tidak terpikir ini ruang privasi," sahut Sekertaris Chandra membela diri.
Erwin bangun dengan menghela nafas panjangnya seraya melihat pada Marwah yang terlihat salah tingkah dengan membuka tasnya dan mencaru entah apa yang dicari.
" ada apa?," ..
" ah, baru saja jendela kaca depan hotel pecah,"
" APA??," sahut Erwin terkejut, begitu pun dengan Marwah. Sehingga kedunya pun kompal bergegas keluar dari ruang kantor seraya berlari kecil menuju lobby depan hotel dan terlihat satu jendela besar dengan full kaca pecah dengan kepingan kaca berserakan disana. Terlihat beberapa karyawan hotel terlihat takut.
Erwin terlihat kesal dan gusar. Namun ia seolah mengingat siapa dalang dari ini semua, Toni. Marwah melihat dengan cemas pada serpihan kaca itu lalu sekilas melihat pada Erwin yang terlihat diam dengan ekspresi yang tak bisa dijelaskan.
πππ
salam Sahabat setia come a closer love.
Apa kabarnya semua.. semoga baik-baik sajanyaa kapan dan dimana pun kalian berada, Aamminn.
Sampai di part ini saya ucapkan terima kasih banyak-banyak untuk suport sistemnya. Terima kasih atas cinta kalian dan kesetianannya yang mau nugguin up mas Erwin dan Marwah.
Maafkan jika terdapat banyak typon dan maafkan karena alur cerita telah masuk pada klimaks masalah babang Erwin yang rumit dan menyesakkan dada.
Mohon doannya semoga masalah mas Erwin cepat kelar yaa.πππ
Sekali lagi terima kasih sahabat, jangan lupa untuk selalu beri koment, like, bintang dan love untuk novel ini. Dukungan kalian berarti banget buat Ria. Kalian jiwa-jiwa pengisi inspriasi Ria.
Love you untuk semua sahabat mas Erwin dan mbak Marwah yang luar biasa baiknya.
See you next part .
Eh ada yang mau kenalan.
Dari mas Toni yang mau eksis, jangan di bully yaa doi baik kok, cuma sedikit nakal π€£π€£π€£ bad guy gitu beb π π π π₯°π₯°π₯°
__ADS_1