
Dan pada akhirnya malam itu Marwah tidur dipelukan Erwin yang memeluknya dengan sayang.
Lalu tiba-tiba sebuah notif pesan masuk di handphone Erwin, dan pesan itu memberikan info terkini tentang perkembangan perusahaan fiktif yang mulai meresahkan perusahaan Aritama.
Sesaat Erwin menghela nafas panjangnya dengan memegang kepalanya yang terlihat sakit.
" ck.., " decak Erwin kesal dengan menahan sakit pada kepalanya yang mulai sering menyerang.
Dan melihat pada Marwah yang tertidur lelap.
" kali ini bersabarlah.., sedikit lagi pasti setelah ini kita akan terus bersama, selamanya..," ujar Erwin dengan mengecup kepala Marwah lalu perlahan ikut tertidur disisi Marwah.
🍃🍃🍃
Pagi harinya.., Marwah bangun lebih awal, ia sedikit terkaget. Karena lagi-lagi ia terbangun dengan telah berada dikamar Erwin dan kini ia berada dalam pelukan Erwin yang tertidur pulas.
" apa aku selelap itu, sampai tidak sadar kalau dibawa kekamar???," rutunya dalam hati seraya memindahkan tangan Erwin yang memeluk pinggangnya. Setelah terbebas, pelan ia turun dari tempat tidur itu dengan meninggalkan Erwin yang masih tertidur lelap. Lalu masuk pada kamar mandi yang terlohat menyatu dengan ruang baju Erwin yang tertata rapi sesuai dengan warna kemeja dan jas yang tergantung.
Selesai mencuci muka, Marwah pun keluar dari kamar Erwin dengan pelan-pelan. Lalu ia mencoba mengulung rambutnya keatas, dan berjalan menuju dapur seraya melihat jam dindin yang masih menunjukkan jam 5 dini hari.
Kebiasaan pagi yang tak bisa Marwah tolak, sedari kecil ia sudah terbiasa bangun sepagi ini berkat didikan mama Wulan yang selalu bangun lebih awal tiap paginya dari pada yang lain.
" oke, coba kita liat apa yang ada didalam kulkas," gumamnya dengan santai meraih pedal pintu kulkas dan membukanya lalu terlihat beberapa bahan makanan yang bisa dibilang lauk instan. Dan Marwah pun tersenyum kecil.
" spagetti..," ujarnya yang kemudian mengeluarkan beberapa bahan spagetti berikut dengan beberapa bahan pendukung lainnya.
Selang beberapa saat, tiba-tiba pintu kamar terbuka, Marwah yang tengah asyik membuat spagetti pun tak menyadari kehadiran Erwin yang berjalan mendekat pada dirinya dan seketika Erwin memeluk tubuh Marwah dari belakang, sehingga Marwah sedikit terkaget.
" mas..,??"
" kamu, kenapa cepat sekali bangun??," ujarnya seraya mencium kepala Marwah dengan masih sedikit ngantuk.
Marwah tersenyum kecil.
" mas masih ngantuk?? tidur aja lagi.., Marwah udah terbiasa bangun cepat," ujarnya dengan tak berbalik dan masih mengaduk bahan tambahan spagetti.
Erwin mencoba melihat pada kegiatan Marwah yang tercium aroma harum.
" masak apa?"
" ini, hanya spagetti.., tidak ada bahan lain dikulkas..,"
Erwin tersenyum.
" kulkas lajang..," celetuk Erwin.
Marwah sedikit tertawa kecil seraya mengaduk spatula dipan pengorengan yang baru saja ia tambahkan garam.
" sama kayak yang punya..," balas Marwah.
Erwin tertawa kecil.
" mas mandi dulu sana..,"
" hhmm, baiklah..," jawab Erwin sedikit malas, seraya kembali mencium kepala Marwah dan perlahan meninggalkan Marwah yang kembali asyik memasak didapurnya.
Selang beberapa lama, akhirnya Marwah menyelesaikan masakan spagettinya.
Tak lama terlihat Erwin yang juga baru selesai mandi keluar hanya dengan memakai haduk kimononya.
" Marwah??," panggil Erwin yang tengah melihat dengan serius pada layar handphone nya.
Marwah menoleh dengan terkaget, dan tak berkedip melihat Erwin yang terlihat lebih segar dengan hanya mengenakan handuk kimono dengan rambutnya yang basah.
" ya..," jawab Marwah ragu dengan meninggalkan meja makan yang baru saja ia letakkan cangkir kopi lalu berjalan pada Erwin yang berdiri ditengah ruangan
" kamu biasa pakai ukuran apa?,"
" ukuran?," tanya Marwah bingung.
Lalu Erwin melihat pada Marwah yang berjalan pelan, dan reflek tangan kanannya memberi kode berhenti pada Marwah hingga Marwah pun reflek berhenti dengan wajah bingung.
Dan Erwin fokus melihat pada Marwah dengan mata tajamnya.
" kenapa sih?," tanya Marwah risih.
" dada kamu kecil dan pinggang kamu juga ramping, sst.. kayaknya bisa deh ukuran S.." ujar Erwin dengan kembali melihat pada layar handphone nya.
Mendengar hal tersebut reflek Marwah panik menutup tubuhnya.
" mas kamu ngapain sih??," Marwah reflek waspada.
Erwin yang melihat tiba-tiba tertawa kecil lalu reflek tangannya menjitak kepala Marwah.
" aduh.." erang Marwah dan reflek memegang kepalanya.
" ngapai kamu waspada kayak gitu, semalam aja kamu malah rela-rela aja mas peluk waktu tidur..," ujar Erwin tertawa lepas.
Marwah kepalang malu pun mengigit bibirnya mendengar ucapan Erwin yang seolah mengambarkan kejadian semalam dibawah sadarnya yang tertidur lelap.
" tapi kalau dipikir-pikir mas bakalan rugi nantinya, benar-benar kecil..," ujar Erwin dengan wajah sedikit kecewa seolah mengambarkan tubuh Marwah yang kurang bisa dianggap puas untuk standar Erwin.
Kedua mata Marwah melebar mendengar deskripsi Erwin soal tubuhnya yang mengecewakan.
" dasar laki-laki..," rutu Marwah kesal.
Erwin puas mengoda Marwah, lalu tertawa kecil dan kembali melihat pada layar handphone nya dan memesan dua stel baju yang cocok untuk Marwah kenakan seraya berjalan hendak kembali menuju kamar.
Namun siapa sangka, Marwah malah menahan lengan Erwin dan membuat pria itu terhenti dengan bingung.
" Hhmm, mas bilang tadi tubuh Marwah kan kecil, jadi rasanya Marwah juga mau donk coba ukuran tubuh mas.., gimana??" ujar Marwah seraya tangannya berjalan pada pinggang Erwin yang terdapat simpulan tali handuk kimononya.
Erwin terlihat kaget, dan reflek menahan tangan Marwah dengan cepat.
" hay.., ka.., kamu mau ngapain??" tanya Erwin panik seraya menelan salivanya.
" jelas donk, mau liat tubuh mas..," ujar Marwah dengan mata mengoda.
" ja.., jangan bercanda kamu, Marwah..," jawab Erwin dengan wajahnya yang seketika wajahnya bersemu pink dan langkahnya pun ikut mundur mencoba menghindar tadi godaan Marwah.
" kenapa??..kan mas udah sering meluk Marwah dan bahkan bisa bayangin ukuran tubuh Marwah, naaah.. berhubung Marwah gak BISA membayangkan, jadi Marwah mau liat langsung tubuh mas.., hhmm" ucapnya seraya mengoda Erwin dan berhasil menarik simpul handuk kimono Erwin.
Erwin pun panik.
" Marwah.., apa yang kamu lakukan !!" ujarnya panik dan reflek menahan tangan Marwah yang sedikit melawan dan keduanya terlihat gulatan yang membuat Erwin harus mengunci Marwah dalam pelukannya karena itu cara terbaik untuk menghindar dari tangan Marwah yang ingin membuka jubah mandinya.
" ikh pelit banget sih mas..,"
" kamu itu cewek, masa liat tubuh cowok.," ujar Erwin yang terus menahan Marwah.
Dan dengan usaha keras Marwah yang gesit hampir berhasil lolos dari cengkraman Erwin, namun sayang ia jadi tak seimbang sehingga tubuhnya limbung dan reflek Erwin menahan tubuh Marwah agar tak jatuh, tapi sialnya ia tak siap sehingga keduanya pun jatuh.
__ADS_1
" kyaaak.." jerit Marwah yang ikut terjatuh dengan Erwin.
" aah..," erang Erwin yang mendapat benturan pada lantai apartemen dan merasakan tubuh Marwah berada di atas tubuhnya.
Dan tiba-tiba terdengar suara benda jatuh..,
Pletak..,
sehingga reflek Marwah dan Erwin melihat pada arah bunyi benda itu jatuh yang berasal dari arah pintu masuk.
Terlihat Marwah syok ketika melihat sekertaris Chandra bengong dengan mulut terbuka dan mata melebar melihat pada mereka berdua dengan posisi yang susah untuk dijelaskan bagi pria jomblo seperti sekertaris Chandra.
" ma..maaf.., a.. aku tidak melihatnya," ucapnya tergagap seraya berbalik badan.
Reflek dengan cepat Marwah dan Erwin bangun dari jatuh mereka. Dan Erwin merapikan jubah mandinya yang sedikit terbuka memperlihatkan dadanya.
" mas pakek baju dulu..," ujar Erwin yang kemudian segera masuk kedalam kamar.
Tak lama seorang pria masuk dari pintu apartemen Erwin yang kemudian berhenti dengan bingung melihat pada sekertaris Chandra dan melihat pada Marwah yang berdiri kaku disana.
" apa kita salah masuk??, si brengsek itu tidak.., " ujar Johan santai dan mengingat-ingat wajah Marwah
Dan sekertaris Chandra menarik Johan mendekat.
" kecilkan suaramu!!, itu nyonya Aritama," bisik sekertaris Chandra.
" aku tidak tau kalau ibu Erwin semuda ini??" ujar Johan polos. Dan tiba-tiba ia mendapat serangan di punggungnya.
Bung.., hingga Johan pun terlihat terkesiap menerima pukulan keras sekertaris Chandra yang dengan wajah kaku.
" nyonya muda, bukan nyonya tua..!!" ujar Sekertaris Chandra dengan geram.
Marwah terlihat salah tingkah.
" maaf.., pasti kalian salah sangka.., mas Chandra, tadi..tadi itu tidak seperti yang dibayangkan kok..," ujar Marwah kelabakan.
Sekretaris Chandra hanya tersenyum kaku dengan menahan Johan yang berdiri bingung.
" apa kalian sudah sarapan?? kalau belum makan disini saja..," ajak Marwah canggung.
" baiklah..," sambut Johan santai seraya ingin berjalan, namun ditahan oleh Sekertaris Chandra dengan menggelengkan kepalanya pelan.
" kau akan mati.." ujar sekertaris Chandra.
" sekali-kali biar lah kita dijamu dirumah direktur Aritama," balas Johan santai seraya menarik sekertaris Chandra untuk ikut menuju meja makan.
Terlihat di meja makan terhidang dua piring dengan spagetti yang lezat dan disampingnya terdapat kopi yang harus.
" hhmm, ini pasti enak..," ujar Johan santai tampa peduli wajah sekertaris Chandra yang panik.
Tak berselang lama Erwin keluar dengan telah berpakaian rapi seraya berjalan pada meja makan dan terkejut melihat kedua tamu tak diundang itu kini duduk dimeja makan handak sarapan makanan buatan Marwah tadi.
Erwin marah ketika Johan dengan santai hampir berhasil melahap spagetti buatan Marwah.
" berhenti..," ujar Erwin yang kemudian mendekat oada mereka kedua.
Sekertaris Chandra terkesiap mendengar suara bosnya dan mulai menyuruh Johan untuk meletakkan sendoknya yang hampir masuk mulut.
" apa???" tanya Johan santai.
Marwah yang bingung dan tak enak pun hanya bisa diam dengan mengigit bibir bawahnya.
" berhenti, itu spagetti untuk ku, minggir!!" ujar Erwin dengan mendorong Johan agar minggir.
" situasi macam apa ini!!" rutu batin Marwah yang hanya bengong melihat tingkah para lelaki ini bak anak ABG yang rebutan makanan.
Lalu Erwin melihat pada Marwah yang masih berdiri kaku.
" sayang.." panggil Erwin lembut pada Marwah.
Sontak sendok makan Johan jatuh dan di ikuti wajah super kaget sekertaris Chandra melihat pada Marwah yang sama kagetnya.
" kamu mandi dulu yaa, dari kemari kamu belum bersih-bersih..," ujar Erwin penuh perhatian.
Sekertaris Chandra terpelongo mendengar ucapan atasannya.
" waaah..," ucapnya reflek dengan melihat pada Marwah.
Marwah panik.
" jangan salah paham mas, sst.., itu tuh enggak seperti yang dimaksud Dire.." ucap Marwah super panik dengan mencoba menjelaskan pada sekertaris Chandra yang gagal paham.
tiba-tiba Johan bertepuk tangan dengan wajah super kagumnya pada Erwin sehingga Marwah pun berhenti.
Plok..plok.., bunyi tepuk tangan Johan lalu ia memberi jempol pada Erwin.
" kau benar-benar keren teman, bahkan dari kemarin kalian.. waah aku tambah yakin dengan kemampuanmu pasti tidak akan mengecewakan," puji Johan dan disambut tawa senang Erwin sehingga bertambah runyam permasalahn yang dihadapi Marwah.
Dan sekertaris Chandra pun hanya bisa mengangguk ikut memberi jempol pada atasannya yang sukses dengan kemampuan yang dimaksud Johan.
Dan terlihat Marwah lemas dengan wajahnya yang tak bisa lagi mengelak pembahasan diluar batas pemikirannya.
" ya Tuhaaan.., ada apa dengan otak ketiga pria ini sih???" rutunya dengan menahan kepalanya yang tiba-tiba pusing. Bukan menyelesaikan masalah malah menambah masalah baru.
" ayo sayang, kamu mandi dulu, nanti bajunya mas antar kekamar..," jelas Erwin dengan santai meraih cangkir kopi.
" ya..yaa..ya..," jawab Marwah lemes dan meninggalkan ketiga pria absurd itu dengan langkah gontai.
" aku bisa mati berdiri kalau begini.., gosip apa yang bakal tersebar di kantor !!" gumamnya dengan hampir menangis didalam kamar mandi Erwin.
Disisi lain, Erwin dengan santai melahap spagetti buatan Marwah dan Sekertaris Chandra hanya bisa melibat dengan menelan salivanya.
" kalau aku tidak salah ingat, bukan kah dia gadis yang waktu itu??? yang mengatakan bahwa kamu gay?," tebak Johan santai seraya menyerut kopi dari cangkir Erwin. Dan Erwin terkaget.
" Dasar jorok..," ujarnya seraya mengelap bekas bibir Johan di cangkir miliknya.
" anda mengenal Marwah??" tanya sekertaris Chandra pada Johan.
Johan reflek memberi tanda melambai lalu mengambil tisu untuk mengelap mulutnya.
" bukan, aku tidak sengaja waktu itu bertemu dengan dia disini pada malam itu , dan gadis itu malah mengatakan bahwa bos mu ini adalah seorang Gay, bukan kah itu lucu??" ujar Johan dengan tertawa tertahan.
" benarkah??" tanya sekertaris Chandra pada Erwin yang terlihat cuek.
" lalu ada apa kalian pagi-pagi buta keapartemen ku??? sepertinya aku harus menganti password pintu," rutu Erwin kesal.
Sekertaris Chandra terkaget.
" bukankah biasanya setiap jumat pagi anda bilang saya harus kemari untuk membuat laporan hasil kerja PT. Kratan sebelum rapat siang ini," jelas Sekertaris Chandra seperti tersinggung.
" ah, iyya aku lupa.. lalu kau??," tanya Erwin pada Johan.
" aku?? ah, aku hanya ingin pinjam stik golf mu, milik ku lupa aku bawa pulang dan tertinggal di clup..,"
__ADS_1
" kau kan bisa mengambilnya??,"
" jauh..," jawab Johan nyeleneh.
" dasar !!," hela Erwin kesal.
Sekertaris Chandra hanya bisa mengurut dada melihat tingkah kedua sahabat yang aneh ini, entah bagaimana dua pria keras kepala ini bisa punya watak dan hobi yang sama, tapi bila bekerja mereka jadi pria yang berbeda.
" aku sudah mendapatkan biang dari perusahaan fiktif tersebut.." ujar Johan dengan mengeluarkan handphone nya.
Erwin bergeming.
" nyonya Irana..," sambung Johan dengan senyum sinis.
" apa??, ibu tirimu itu?," balas Erwin cepat.
" mantan ibu tiri," sambung Johan cepat seraya menyerahkan handphone nya pada Erwin dan memperlihatkan data dokumen yang iya dapat.
Dan Erwin membacanya dengan sangat serius.
" jadi Toni dan nyonya Irana adalah tim??," ujar Erwin tak percaya.
Johan mengangguk.
" tidak hanya itu, mereka sengaja menyusup sebagai pemegam saham Zinus agar akar mereka kuat, dan suntikan dana lancar.., aku bakan tidak terpikir mereka bermain di saham Zinus, benar-benar nekat," ucap Johan dengan kembali meraih handphone dari tangan Erwin.
Erwin berdecak dengan tak percaya, Toni musuhnya malah kini join dengan nyonya Irana mantan ibubtiri Johan yang memiliki aset mahal.
" lalu??,"
" ya aku hanya butuh waktu, sekarang bukti yang aku milik belum akurat, Dodi bahkan menyuap beberapa orang agar bisa menjadi kaki tangan kita diperusahaan milik Forten," jelasnya bangga.
Erwin dengan sigap meraih bahu Johan sehinggan Johan terkaget.
" kau memang pintar mr. Jo," puji Erwin namun yang di puji terlihat kesal.
" sudah aku bilang berkali-kali jangan memanggil ku dengan sebutan itu" ujar Johan dengan wajah sinis.
Tiba-tiba Erwin reflek menarik tangannya.
" ah.., ya..ya.., sorry bos.." balas Erwin santai.
Sekertaris Chandra hanya bisa dibuat bengon dengan tingkah keduanya.
Namun terdengar suara bel berbunyi dari pintu apartemen Erwin. Hingga ketiganya reflek menoleh. Tapi Erwin bangun dengan cepat.
" biar aku yang buka, sepertinya itu baju Marwah," ucapnya senang.
Johan hanya menggelengkan kepala.
Dan tepat seperti dugaan Erwin seorang kurir telah membawa pesanannya. Lalu dengan wajah senang ia pun buru-buru berjalan menuju kamar lalu menghilang masuk kedalam.
" aku tidak tau kalau bosmu itu telah menikah" ujar Johan.
" dia belum menikah," sahut sekertaris Chandra
" kau serius??," tanya Johan kaget.
Sekretaris Chandra mengangguk yakin.
" tapi aku rasa tak lama lagi bakal ada pengumuman bahwa Erwin telah menghamili anak orang," ujar Sekertaris Chandra santai.
Dan tiba-tiba Johan memberikan hay fivenya pada sekertaris Chandra yang reflek menyambut dengan wajah bingung.
" aku suka itu, aku ingin lihat wajah Erwin yang panik" ujar Johan senang.
Sekertaris Chandra terkaget.
" anda teman apa musuh nya?" tanya sekertaris Chandra bingung.
Johan pun reflek tersenyum simpul.
" aku berada dikeduanya," dan ia pun seketika tertawa terbahak-bahak dan Sekertaris Chandra pun jadi ikut tertawa bersama. Ia jadi sama usilnya dengan Johan.
Lalu tak berapa lama, Johan pun pulang di ikuti Sekertaris Chandra yang tak mau berlama-lama berada diapartemen bosnya itu yang tengah dimabuk cinta itu.
Marwah keluar dengan telah rapi, di ikuti Erwin yang telah ber jas dan mengambil tas ranselnya.
" mereka berdua kemana??,"
" sepertinya mereka telah pulang," jawab Erwin santai.
Dan wajah Marwah pun terlihat susah.
" kenapa dengan wajah mu itu?,"
" bagaimana ini??, mereka pasti berpikir buruk tentang..,"
" biarkan..," jawab Erwin santai seraya mengeluarkan handphone nya dari dalam saku jas.
Marwah melotot dengan cemberut.
" mas..," panggil Marwah kesal.
" Hhmm," jawab Erwin dengan masih fokus pada handphone nya.
" mana bisa dibiarkan, kalau sampai tersebar di kantor gosip-gosip buruk gimana??," tanya Marwah serius.
" ya lebih bagus lah..," jawab Erwin santai.
" bagus??," jawab Marwah dengan terpercaya.
Lalu dengan kesalnya ia meraih handphone Erwin sehingga Erwin melihat pada dirinya dengan wajah bingung.
" ini tuh gak bagus, gimana nanti mama papa sampai tau?? bisa dicoret nama Marwah dari kartu keluarga Sandres, tau gak mas?," ujar Marwah serius.
Erwin mendengar keluhan Marwah dengan menghela nafas panjang, lalu perlahan meraih pinggang Marwah dan menariknya untuk mendekat.
" jika itu terjadi, kamu bisa masuk dikartu keluarga ARITAMA dengan saaangat terbuka," jawab Erwin dengan tersenyum manis.
Marwah terbengong mendengar ucapan Erwin.
" aku pasti gila.." sambung Marwah dengan wajah datar.
Erwin tertawa kecil mendengar ucapan Marwah yang frustasi. Lalu perlahan ia menjatuhkan ciuman di kening Marwah.
" aku yakin kedua bocah tadi tak akan membuka mulutnya sembarangan," ucap Erwin dengan yakin.
Tapi Marwah terlihat tidak percaya.
" percayalah, jika tidak mereka akan aku buat tak bisa mempunyai keturunan," ujar Erwin santai.
Dan seketika Marwah mencubit pinggang Erwin, dan sontak Erwin mengerang kesakitan sampai melepaskan pelukannya dari pinggang Marwah.
__ADS_1
" aaaa..aa.., sakit sayang," erang Erwin yang dengan mengosok pinggangnya.