
Sore harinya, saat motor Erwin tiba di depan toko dr. Dessert terlihat oleh Marwah pria berpakaian serba hitam yang tadi pagi, ternyata masih tetap disana.
Ketika ia menyerahkan helm pada Erwin, tatapan Marwah trus melihat gerak gerik pria berpakaian hitam itu dengan curiga.
" Marwah??, kamu lihat apa??," tanya Erwin.
" ah, itu mas, bapak yang tadi pagi kok masih ada disitu ya?,"
Erwin reflek melihat pada arah tatapan Marwah yang serius melihat kearah pria tersebut. Namun sedetik kemudian Erwin mengacuhkan sosok itu dengan santai.
" biar lah," ujarnya dengan hendak memakai helm dikepalannya.
" biar gimana?? bapak itu siapa? kenapa juga dia terus disitu??," tanya Marwah bertubi-tubi dengan rasa penasarannya.
Erwin sedikit jenggah, untuk saat ini ia tak sanggup berpikir karena terlalu lelah dengan rentetan kejadian tadi. Dengan menghela nafas lelahnya, ia menjawab singkat pertanyaan Marwah.
" hanya penjaga," jawab Erwin.
" hah?," sahut Marwah kaget. Dan terlihat Erwin cuek dengan meraih handphone dari balik saku jasnya yang bergetar, dan ternyata email dari Johan yang mengirim beberapa file penting.
" Sudah lah, ayo masuk sana, mas harus segera pergi," ucap Erwin dengan sedikit tegas pada Marwah.
Terlihat Marwah sedikit terkaget dengan sifat tegas Erwin yang tiba-tiba. Namun ia masih tak bisa membiarkan Erwin pergi dengan meninggalkan penjelasan setengah-setengah pada dirinya dan dengan cepat memegang lengan Erwin seolah menahan.
" maksudnya penjaga apa??, Marwah gak perlu ada penjaga, mas jangan terlalu khawatir, Marwah bisa jaga diri," jelasnya mematap Erwin.
Namun sorot mata Erwin berubah dingin seketika, sehingga Marwah mengidik ciut.
" apa yang sudah mas lakukan, itu yang terbaik," ucapnya tajam menatap Marwah yang terpaku akan nada bicara Erwin yang tegas memprotek dirinya.
Dengan ragu Marwah menarik tangannya dari lengan Erwin. Dan seketika Erwin melajukan motornya dengan meninggalkan Marwah yang diam terpaku.
πππ
Didalam kamarnya Marwah terdiam termenung dengan pikiran berkecambuk.
Sesaat ia mengingat ucapan Erwin tadi.
" penjaga," gumam batin Marwah. Lalu ia reflek bangun dari tempat tidurnya dan menuju jendela kamar dengan sedikit meraih tirai gorden jendela seraya menyingkapkannya sedikit. Lalu ia berusaha mencari sosok berpakaian hitam.
Dan benar, sosok pria berpakaian hitam yang lengkap dengan topi itu pun terlihat dengan santai duduk didekat kios kecil dengan menghirup asap rokok ditangannya.
Tanpa pikir panjang, Marwah berjalan keluar dari kamarnya untuk turun kebawah. Terlihat Salwa menyapa.
" mbak Marwah??," sapa Salwa.
" sebentar," sela Marwah dengan berjalan cepat menuju pintu toko untuk keluar. Dan berjalan dengan pasti menuju pria yang berbaju hitam tadi pagi.
Walau sedikit ragu, tapi ia yakin dengan wajah pria yang tadi pagi bertemu dengan Erwin.
" permisi," seru Marwah pelan.
Dan pria berpakaian hitam itu bergeming dengan wajah kaget. Marwah melihat dengan sedikit senyum simpul.
" bapak tadi pagi yang bertemu dengan mas Erwin kan?," tanya Marwah serius.
Pria berpakaian hitam itu pun reflek bangun dengan wajah gusar.
" gak papa, saya hanya memastikan saja, bahwa saya ternyata ada penjaga," ucap Marwah ramah.
Pria itu sedikit cemas.
" maaf nona," ucapnya membalas ragu dengan sedikit tertunduk.
" gak papa,"
" bisa saya berbicara dengan bapak?? didalam toko saya,"
Pria berpakaian hitam itu sedikit ragu.
" saya akan merahasiakan nya dari mas Erwin,"
" baik nona," sahutnya pelan.
Marwah sedikit tersenyum, lalu pelan ia berbalik badan dan berjalan menuju toko dr. Dessert seraya di ikuti oleh pria berbaju hitam itu dibelakang dirinya.
Setiba didalam toko, Marwah mempersilahkan pria berpakaian hitam itu duduk di mini cafenya.
" mau kopi??,"
" tidak," tolak pria itu segan.
Marwah mengangguk.
" kalau begitu saya pesan kan bapak moccacino hangat saja," ucapnya seraya memanggil seorang pelayan toko dan memesankan moccacino hangat dan sepotong cake red velvet.
Pria berpakaian hitam itu terlihat sedikit cemas.
" maaf, boleh saya tau sejak kapan bapak ada disini?," tanya Marwah.
" hampir 1 bulan," jawab pria singkat.
Marwah mengangguk.
" untuk apa?,"
Pria itu sedikit menghindari menatap wajah Marwah, dan memilih diam.
__ADS_1
Marwah sedikit memutar otaknya untuk mendapatkan info rahasia dari pria berpakaian hitam ini.
" begitu rupanya, " ucap Marwah sedikit kecewa karena tak mendapat info dari pria berpakaian ini yang memilih diam seribu kata.
" bisakah saya minta satu hal, " tanya Marwah serius.
Pria itu balas menatap Marwah.
" saya merasa jadi orang yang tidak berperasan melihat bapak berjam-jam menjaga dilaur sana, jadi saya pikir akan lebih bapak menjaga di dalam toko saya saja, itu jauh lebih manusiawi menurut saya " tawar Marwah
Pria berpakaian hitam itu terkaget mendengar permintaan Marwah.
" sejujur nya saya tidak butuh penjaga, karena saya bisa menjaga diri saya sendiri," ucap Marwah pelan.
Pria berpakaian itu bersimpati dengan ucapan Marwah yang terdengar tulus. Baru pertama kalianya klien yang ia jaga begitu bersimpatik dengan dirinya yang hanya seorang pesuruh dan algojo.
" tuan mencemaskan keselamatan anda nona" ucap pria itu berat membocorkan info pekerjaannya seraya mengeluarkan satu lembar foto di hadapan Marwah yang bergeming.
" saya diperintahkan untuk menjaga nona dari pria berbahaya ini," jelasnya lagi.
Marwah terkaget ketika melihat foto Toni dihadapannya.
" beberapa waktu yang lalu, Tuan mendapat paket misterius dan mendapatkan foto nona dengan noda merah," jelasnya lagi dengan dengan wajah datar.
Marwah mendengar dengan wajah syok yang terlihat disana.
" noda merah??," lirih Marwah berbisik.
" beberapa hari belakang saya mengawasi dari jarak dekat, karena pria ini terlihat dua kali masuk kedalam toko anda nona, namun dari pantauan saya ia tak bertemu dengan anda,"
" hanya.., minggu lalu saya lengah, tanpa saya curigai pria ini berhasil bertemu dengan nona di sore hari, saya tak bisa bertindak terang-terangan karena kondisi toko nona sedang ramai, dan terlihat ia hanya mengajak ngobrol nona saja," jelasnya lagi.
Sesaat Marwah mengingat kejadian minggu lalu ketika pertama kali bertemu dengan Toni.
Pria berpakaian hitam itu melihat dengan cemas pada Marwah yang terlihat terdiam.
" maaf nona, jika kehadiran saya meresakkan nona," ucapnya merendah.
Marwah bergeming.
" ah, enggak.. saya yang harusnya berterima kasih dengan anda pak, terima kasih karena menjaga saya," ucap Marwah pelan.
" Tuan, benar-benar mengkhawatirkan keselamatan anda nona," ucapnya kembali dengan wajah serius.
Marwah terteguh, dan hatinya seolah ingin memeluk Erwin saat ini. Bayangan Erwin terbayang jelas dibenak Marwah, betapa pria ini begitu khawatir dengan keselamatan dirinya.
Dan tak lama, seorang pelayan toko datang dengan pesanan yang Marwah pinta. Lalu Marwah memberikan cangkir moccacino dan sepotong cake red Velvet di hadapan pria berpakaian hitam tersebut yang sedikit canggung dijamu dengan baik oleh Marwah.
" silahkan diminum pak, dan ini cake premium di toko ini," ucap Marwah ramah.
" terima kasih nona," sahutnya sungkan.
" bagaimana?? apa bapak mau pindah menjaga didalam toko saya saja??," tanya Marwah kembali.
Pria berpakaian hitam itu sedikit ragu.
" biar saya yang beri penjelasan pada mas Erwin nanti," ucap Marwah meyakinkan pria berpakaian hitam tersebut yang masih berpikir.
" tapi..," ucapnya terputus.
Marwah mematap dengan menanti keputusan pria berpakaian hitam itu.
" saya tidak sendiri nona, jika malam saya dingantikan oleh teman saya,"
Marwah terkaget.
" jadi malam juga ada yang jaga??," tanya Marwah tak percaya.
Pria itu mengangguk ragu.
Marwah terpelongo tak percaya. Lalu ia pun menghela nafas panjang.
" baiklah, "
" teman saya selalu berjaga di depan toko anda nona," menyambung penjelasannya.
" oh begitu, baiklah," sahut Marwah kembali.
πππ
Malam harinya, Marwah menyibukkan diri dengan bahan kue. Namun kali ini hatinya gelisah, terlihat berkali-kali Marwah melihat pada handphone nya yang tak menerima notif apa pun.
Ia merindukan Erwin. Entah mengapa setelah mendengar penjelasan pria berpakaian serba hitam itu, Marwah jadi sedikit menyesal karena menyepelkan kekhawatiran Erwin.
" mas Erwin kemana yaa?," gumamnya yang berdiri di depan oven seraya memandang layer-layer spartak.
Tepat pukul 12 malam, Marwah yang akan tidur pun dibuat gelisah dengan menatap handphone nya. Dengan ragu ia mencoba menelfon handphone Erwin.
Ia menanti dengan gusar nada sambung itu untuk segera di angkat Erwin. Namun tak sepertinya tak kunjung mendapat jawaban dari Erwin.
Marwah menghela nafas gusarnya dengan mengigit bibir bawahnya yang cemas.
" apa mas Erwin tersinggung yaa?," batinya lagi.
Lelah dengan membuat cake premium ditambah pergulatan hatinya yang cemas menunggu kabar dari Erwin hingga pada akhirnya Marwah tertidur dengan hati gusar.
__ADS_1
πππ
Samar-samar terlihat Marwah mendorong sebuah pintu yang menghalangi langkahnya. Pelan pintu itu terbuka lebar dengan cahaya matahari yang menerpa dirinya. Sekilas senyum terkembang melihat indahnya pemandangan rooftop yang menyambutnya dengan pemandangan yang indah.
Marwah berjalan pelan dengan menikmati pemandangan indah itu. Dan sorot matanya pun terhenti pada sosok yang ia cari. Terlihat Erwin berdiri memandang sekitar dengan wajah bernelagsa jauh.
" mas," panggil Marwah seraya berjalan mendekat pada Erwin yang terlihat menyambut kehadiran Marwah dengan senyum hangatnya.
Dan Erwin mengulurkan tangannya pada Marwah, terlihat Marwah menyambut uluran tangan Erwin dengan wajah senyum terkembang, sehingga kini Marwah berdiri berdampingan disisi Erwin.
" kenapa tiba-tiba disini??," tanya Marwah dengan memandang pemandangan didepan.
Hening
Hening
" entah lah, mas rindu tempat ini," jawabnya seraya bernelangsa.
" mas, rindu ayah," sambungnya lagi.
Deg.., jantung Marwah berdebar mendengar ucapan Erwin yang mendalam, sehingga Marwah reflek berpaling melihat pada wajah Erwin yang terlihat sedih.
" saat ini mas benar-benar rindu ayah," ucapnya lagi.
Namun entah dari mana datangnya, tiba-tiba bayangan hitam mendekat dari sisi samping Marwah lalu secepat kilat menikam dada Erwin di depan kedua mata Marwah yang terkaget.
Zziiing, Jleb.., sebilah pisau menacap di dada Erwin dengan seketika darah keluar dari sela pisau itu.
Erwin yang terkesiap dengan tikaman itu pun seketika limbung dan berusaha bermemegang pada Marwah yang terpaku syok.
" ahhh..," desir kesakitan Erwin dengan perlahan ambruk dihadapan Marwah yang tak kuat menahan tubuh Erwin.
Bruk..., tubuh Erwin jatuh terkulai dihadapan Marwah dengan darah segar terus mengalir dari jantung Erwin.
Marwah yang terserang syok berat seketika mendapat tubuhnya gemetar hebat.
" ma..mas," ucap bergetar dengan ikut jatuh bersimpuh dihadapan tubuh Erwin dan terlihat perlahan kedua mata Erwin tertutup dengan lemah.
" eng.., en.., enggak.., " ucap Marwah terbatah dengan air mata jatuh seiring tangannya gemetar memegang tubuh Erwin.
" ma..,mas..," ucapnya terbatah-batah mencoba menguncangkan tubuh Erwin yang tak bergerak.
" to.., tolooong.., siapa pun, tolong mas Erwin" ucap Marwah yang seketika suaranya serak karena syok berat melihat tubuh Erwin tak bergerak lagi.
" mas.., maassss..," jeritnya Marwah frustasi dengan derai air mata ia mencoba membangunkan Erwin.
" mas..,mass, bangun..," tangis Marwah frustasi.
" enggak..? jangan pergi.. maaasss..?" kebingungan dan frustasi melihat Erwin tak bergerak dengan darah nya yang terus keluar.
Dengan tiba-tiba Marwah terkesiap bangun dengan keringat sekujur tubuhnya dan jantung berdetak kencang.
Marwah terbangun dengan nafas memburu, seolah ia baru saja melihat kejadian yang mengerikan. Dengan cepat ia meraba dadanya yang berdetak kencang.
Seketika ia merasakan air matanya pun ikut jatuh.
" hanya mimpi" ucapnya pelan dengan menelan salivanya.
Lalu ia mencoba untuk mengendalikan diri dari rasa takut mimpinya tersebut. Dan tanpa sengaja ia menyentuh handphone miliknya yang berada di diatas tempat tidur. Sehingga membuat Marwah meraih handphone itu segera dengan mengecek layar handphone tersebut.
Dan betapa terkagetnya Marwah, ternyata Erwin menelfon dirinya dengan tiga panggilan tak terjawab. Entah mengapa tiga panggilan tak terjawab itu sedikit membuat hati Marwah lega lalu mengecek jam pada handphone nya yang ternyata sudah jam 5 pagi.
Perlahan Marwah bangun, dengan sedikit terhuyung. Dan merasakan kepalanya sedikit sakit. Namun ia mengabaikannya dengan bersegera menuju kamar mandi untuk bersiap mandi lalu bersiap-siap membuat Εoti untuk dijual di toko dr. Dessert.
πππ
Sekitar jam 7 pagi, Marwah mencoba untuk menelfon Erwin dengan berharap Erwin tak kesal lagi.
Dan seperti yang di harapan kan Marwah, nada sambung itu pun tersambung dengan Erwin.
" hallo mas, " sapa Marwah dengan nada senang.
" ya," sabut Erwin dengan suara berat, sehingga melunturkan harapan Marwah tadi.
" ah, mas kenapa??, apa mas sakit??," tanya Marwah seketika cemas.
" enggak," jawab Erwin pelan.
Sesaat hening di antara keduanya yang membuat Marwah cemas.
" Marwah??,"
" ya,"
" maaf, pagi ini mungkin mas gak bisa jemput kamu," jelas Erwin
" oh, ya," jawab Marwah cepat dengan melihat pada cake spartak yang ia siapkan semalam untuk Erwin.
" maaf, pagi ini paman mas datang ke kantor" jelasnnya lagi.
" ah, ya gak papa," balas Marwah sedikit kecewa.
" kita bertemu di kantor saja," sambung Marwah.
" hhmm," gumam Erwin yang terlihat tak bersemangat seperti biasanya.
Dan komunikasi itu pun terputus begitu saja dengan meninggalkan rasa gusar di hati Marwah.
__ADS_1
Kedua mata Marwah pun melihat pada cake spartaknya dengan sedih.
" harus bawa kamu kekantor, untuk minta maaf sama mas Erwin," gumamnya sendiri dihadapan cake spartak.