Come A Closer Love

Come A Closer Love
101


__ADS_3

2 Tahun kemudian...,


Siang itu, dibandara internasional Sukarno-Hatta, terlihat seorang pria dengan seragam polri nya sedang serius menerima telefon. Tak jarang kedutan keningnya selih berganti menghiasi wajah pria tampan itu yang terlihat gagah dengan atribut polri.


" siap!!," ujarnya dengan nada tegas.


Namun seorang wanita yang baru saja tiba, terlihat tersenyum simpul. Perlahan ia berdiri dibelakang pria itu dangan menunggu.


" siap !!," ujarnya lagi seraya memutuskan telfon dengan menghela nafas panjang.


" apa kabar??, adik ku IPDA Brian Sandres??," ucap Marwah tersenyum.


Dan hal itu sukses mengagetkan Brian yang reflek berbalik melihat pada sosok yang menyapanya dengan suara khas yang ia kenal.


" kak Marwah??," ucapnya terpaku. Lalu tanpa pikir panjang ia memeluk tubuh kakaknya yang sangat ia rindukan.


Marwah terkesiap menerima pelukan sang adik yang nyaris dapat mengangkat tubuhnya yang ramping. Dan perlahan Brian menurunkan sang kakak yang tersenyum bahagia melihat dirinya.


" kamu benar-benar sudah besar," celetukanya dengan memegang bahu adiknya yang kini terlihat lebih tinggi dari dirinya.


Dan wajah tersenyum nya pun terkembang dengan pujian kakaknya.


" koper kakak mana??," tanya Brian.


" ah, itu.." ujarnya dengan memberi kode telunjuk pada Brian yang melihat pada arah telunjuk kakaknya . Brian pun berjalan beberapa langkah dan meraih koper besar kakaknya lalu kembali berbalik mendekat pada Marwah dengan senyum terkembang.


" yuk kak, mama papa udah nunggu dirumah," ujar Brian.


Namun, dengan mengagetkan Brian, Marwah menggandeng lengan adiknya itu dengan mesra, sehingga beberapa mata para gadis-gadis berubah patah hati melihat kemesraan keduanya yang di sangka sepasang kekasih.


" yuk, pak polisi," sahut Marwah manja.


Brian tertawa kecil melihat tingkah kakaknya yang tak berubah.


" tuh, mulai lagi deh kak, kapan Brian bisa punya pacar kalau begini," celetukanya dengan berjalan bersama Marwah yang bergantung mesra pada lengan Brian.


🍃🍃🍃


Disisi lain, didalam sebuah mobil mewah, terlihat seorang pria dengan santai membaca buku agenda.


" kamu apa gak bosan ?? liat agenda itu terus?," tanya Chandra yang kini menyetir disisi Erwin yang tersenyum kecil mendengar celetukan sahabatnya yang cerewet ini.


" jangan cerewet," balas Erwin dengan santai seraya menutup buku agenda itu lalu melihat jalan raya yang terlihat sedikti padat.


" apa dia sudah disana??," tanya Erwin


" hmm, ya.., aku rasa dia sudah disana," jawab Chandra dengan pasti melajukan kendaraannya.


Erwin hanya menghela nafas panjangnya dengan menikmati jalan raya.


Setelah 35 menit, akhirnya mobil sedan mewah itu pun tiba disebuah cafe berkelas. Erwin yang turun di gedung depan berjalan masuk.


Erwin masuk dengan santai seraya mencari sosok yang membuatnya harus membatalkan beberapa penting karena ulah pria tersebut. Dan benar, sosok itu kini duduk dengan santai menatap layar handphone miliknya.


Dengan senyum terkembang, Erwin berjalan dengan pasti pada sosok itu. Lalu berhenti tepat dihadapannya.


" apa kabar?? pengacara Johan B. Bastian," sapa Erwin.


Johan terkaget dan menegadah pada suara yang menyapa dirinya.


Tanpa pikir panjang ia meletakkan handphone miliknya lalu berdiri dan dengan cepat memberikan pukulan sepadan di perut Erwin yang terkesiap.


Buk..,


" aah..," desir Erwin pelan menahan pukulan Johan


" setelah 2 bulan pulang, baru sekarang kau ingat untuk menyapa aku!!," ucap Johan kesal.


Erwin meringis kesakitan seraya tertawa kecil mendengar kemarahan sahabatnya ini. Dan dengan menahan sakit bekas pukulan sahabatnya ia memeluk tubuh pria tinggi itu dengan segera.


" maafkan, dan senang bertemu dengan mu lagi mr. Jo," ucapnya seraya melepaskan pelukan persahabatan itu.


" jangan memanggil ku dengan sebutan itu" protes Johan dengan wajah masih kesal.


Dan seketika Erwin tertawa lepas, ia mengingat bahwa sahabatnya ini tidak berubah.


" ah yaa, maaf," sahutnya seraya duduk di sofa nyaman itu.


Namun tak lama Johan lega seraya tertawa kecil melihat temannya kembali.


" bagaimana kabar mu??," tanya Johan seraya ikut duduk kembali.


" aku?? baik, semakin baik," jawab Erwin.


" syukurlah ," sahut Johan lega.


" aku pikir kau akan lupa ingatan," sambungnya lagi seraya memanggil pelayan.


Erwin tersenyum kecil.


" tidak dengan motorik halus," jawab Erwin pelan seraya memperlihatkan tangan kirinya yang ia selipkan dari balik saku celanannya.


Johan terpaku sesaat. Namun seketika ia terkaget dengan kedatangan Chandra ditengah mereka.


" kau kemari juga???," tanya Johan.


" Pasti," jawab Chandra seraya duduk.


" huuufft, kau benar-benar terlalu setia pada Erwin," celetuk Johan kesal, karena selama ini Chandra menyembunyikan kabar tentang Erwin. Hingga beberapa minggu lalu, Johan tak sengaja memergoki Chandra yang berada dibandara tengah menjemput Erwin.


Johan tak bisa menangkap keduanya karena tengah di kejar-kejar oleh jadwal perbangannya ke Surabaya. Hingga akhirnya dengan berbagai cara, Johan mempending sebuah kontrak besar untuk di kerjakan agar ia bisa mengacaukan Chandra sehingga Erwin pun mau tidak mau harus keluar dari persembunyiannya..


" kalian keterlaluan, jika tidak dengan mengancam apa kau tidak akan keluar??," ucap Johan dengan menyudutkan Erwin.


Erwin menggeleng.


" setidaknya aku butuh waktu, karena aku mengulang semuanya kembali dari nol untuk membangun


" New-A" Group," sahut Erwin.


Chandra mengangguk, ia tau bahwa Erwin benar-benar merangkak dari bawah untuk membangun perusahaan baru. Erwin memikirnya dengan matang, setelah aset Atmadja ia limpahkan pada perusahaan Zinus, ia pun mendapat kuncuran dana segar sebagai barter bisnis.


Namun ia tak akan pernah mengulang kesalahan yang sama, sehingga ia membuat perjanjian hitam di atas putih bersama Ari Sastrama pemilik Zinus dengan perjanjian bisnis internasional. Dan ia mempercayakan semua perjanjian itu dengan kuasa hukum Johan B. Bastian.


Erwin benar-benar belajar dari pengalaman, sehingga setelah semua selesai ia pun melibatkan kembali sekertaris Chandra yang ia angkat sebagai wakil Direktur untuk menjalankan perusahaan New-A Group.


Dan setelah itu ia pun pergi keluar negri untuk pengobatan sakit kepalanya. Butuh waktu yang lama bagi Erwin untuk bisa kembali pulih, karena pasca operasi ia pun dihadapkan dengan tubuh yang kaku dan nyaris lumpuh.


Erwin pun sedikit bernelangsa.


" Perjanjian berikutnya telah aku siapkan. tapi, aku tidak percaya kau ingin membangun rumah sakit??," ujar Johan.


Erwin bergeming dengan santai bersandar pada sandaran sofa itu.


" Aku harus terlibat, karena beliau orang penting," ujar Erwin.


" siapa??," tanya Johan bingung.


Erwin tak menjawab, namun ia hanya tersenyum simpul.


🍃🍃🍃


Malam harinya, di kediaman keluarga Sandres. Suasana hangat begitu kental terasa. Canda tawa terlihat dengan Mecca yang kini telah tumbuh dengan cantik di usiannya yang hampir 3 tahun.



" udah lama kita gak makan bareng selengkap ini," ucap Brian dengan memberikan sendok pada Mecca yang berada di pangkuannya.


" Iyya" sahut kak Safa yang baru saja menarik kursi disebelah suaminya mas Danil.


Mama Wulan tersenyum bahagia begitu juga dengan papa Evan yang kini melihat pada putrinya Marwah.


" bagaiman disana Marwah?," tanya mama Wulan.


Marwah bergeming.


" mami Eva sempat sedih, bahkan Zerin pun jadi ikut-ikutan sedih," jawabnya seraya meraih gelas air mineral dan meminumnya perlahan.


" mereka pasti jadi kesepian karena gak ada kamu," jawab kak Safa dengan mengambil lauk untuk suaminya.


Marwah mengangguk mengiyakan jawab kak Safa.


" Kak Mecca??, ayo sini, duduk di kursi sendiri, jangan ganggu paman kamu makan," ucap kak Safa yang melihat gelisah pada Mecca yang duduk di pangkuan Brian dan menganggu piring makan adiknya itu.


Marwah menoleh pada Brian yang duduk disebelahnya dengan berusahan membereskan nasi-nasi yang tumpah karena sendok Mecca yang mengacaukan.


" udah biarin aja kak," sahut Brian dengan mencium kepala Mecca dan Mecca seolah tau sehingga ia tersenyum lalu melanjutkan lagi aksi nya.


" gak bisaaaa," ucap kak Safa seraya bangun dari kursinya dan berjalan pada kursi Brian seraya hendak mengambil Mecca. Namun Mecca menolak.


" gak mau maaah," rengek Mecca sehingga ia menjadi pusat perhatian.


" gak boleh sayang, paman kamu mau makan, ayo duduk di kursi kak Mecca sendiri yaa," bujuk Kak Safa dengan mencoba menggendong Mecca.


Mecca cemberut.


" kakak makan disini yaa," ujar kak Safa seraya menaruh Mecca pada kursi makannya. Dan spontan mas Danil membantu dengan sigap.


" udah kamu duduk aja, biar mas bantuin," ujar mas Danil dengan nada cemas pada Safa.


" Mecca gak mau," rengek Mecca cemberut.


" gak boleh sayang, makan dulu setelah itu baru kakak boleh main sama paman yaa," ujar papanya.


Namun Mecca tetap saja cemberut, ia protes dengan tak memegang sendok makannya.


Marwah tersenyum melihat tingkah Mecca yang kini sudah besar.


" Mommy Marwah punya cerita seru loh," pancing Marwah dengan wajah santai.


Mecca bergeming dan melirik mommy Marwah yang terlihat asyik makan dengan lauk di piringnya.


" apa?," tanya Mecca terpancing.


Marwah melirik Mecca sekilas.


" mau tau kan??, "


" iyya, memang cerita apa??," tanya Mecca sedikit antusias.


" makan dulu, setelah itu baru Mommy kasih tau Mecca," sahut Marwah dengan menatap wajah penasaran Mecca.


Mecca yang cemberut pun jadi ragu mendengar ucapan mommy Marwah dan melirik sendok ditangan papanya.


Perlahan Mecca mengambil sendok dari tangan papanya lalu kemudian ia mulai makan sedikit demi sedikit.


" Mecca pinter," seru mama Wulan pada cucu pertamannya.


" kamu gitu donk, Mecca jadi ngarep tuh," ujar kak Safa pada Marwah.


" tenang aja kak, " sahut Marwah santai dengan memberi jempol kepada keponakannya itu.


" udah kalian juga makan dulu, " ujar papa Evan dengan menerima air mineral tambahan dari tangan istrinya.


Sehingga ketiga anaknya pun kembali melanjutkan makan mereka yang sempat terganggu.


Namun, tiba-tiba kak Safa berhenti ketika akan memasukkan sendok nasinya kemulut. Ia terlihat menahan sesuatu dengan wajah gelisah.


" Safa??? kamu kenapa??," tanya mama Wulan yang tak sengaja melihat Safa. Sehingga yang lain juga ikut melihat pada Safa dengan bingung.


Safa meletakkan sendok makannya dengan tangannya menahan pada mulut.


" mual lagi ya sayang??," ujar mas Danil dengan nada cemas pada Safa yang tiba-tiba bangun dan berlari kecil menuju kamarnya.


Semua melihat bingung pada Safa dan melihat pada mas Danil yang terpaku.


" mas Danil??, kak Safa kenapa??," tanya Marwah cemas.


Mas Danil sedikit kaget dengan pertanyaan Marwah.


" Danil??? Safa kenapa?," tanya papa Evan yang cemas.


" hmmm, itu pah," jawabnya ragu.


Namun tak berselang lama, Safa kembali dengan wajah tak nyamannya. Ia kembali duduk dikursinya dengan sedikit lelah.


" Safa??? kamu kenapa??," tanya mama Wulan yang perlahan mendekat pada putri tertuanya.


Safa terkaget dan ia merasa cemas.


" kenapa?? apa kamu sakit??," sambung mama Wulan memegang dahi Safa.


Marwah dan Brian ikut melihat pada kakak mereka.


" ah, gak papa kok mah, Safa baik-baik aja, ini.., cuma..," jawabnya terhenti dan melihat pada sisi samping suaminya.


" cuma apa??," sahut Marwah penasaran.


Dan wajah seperti hendak menangis pun terlihat di wajah Safa.


" gara-gara mas Danil nie," ucapnya Safa kesal.


Sehingga yang mendengar ucapan Safa pun menjadi tambah bingung.


" Safa hamil lagi mah, pah," serunya dengan mengigit bibir bawah.


Dan seketika terdengar suara sorak gembira Marwah dan Brian bersahutan.


" Horeeee!!, keponakan baru," ujar keduannya kompak.


Kak Safa dan mas Danil terkaget.


" kenapa kalian sesenang itu???," rutu Kak Safa.


" ya gimana gak senang, keponakan nambah," seru Brian.


" ikh kamu tuh tau gak sih, kakak baru aja ambil kuliah sub spesialis," ujar Safa berat.


Mama Wulan menenangkan Safa.


" kamu harus bersyukur, itu adalah hadiah dari Tuhan yang dititip pada kalian, " nasehat mama Wulan tersenyum.


" Iyya, lagian Mecca juga udah cocok jadi kakak," sahut papa Evan yang tersenyum dan memberikan jempol kepada mantunya yang telah menambah cucu untuk dirinya.


" kakak jangan khawatir, Marwah bakal bantuin kakak buat jaga anak-anak," ucap Marwah dengan tersenyum.


" yeee Mecca jadi kakak," ujar Marwah semangat.


Sehingga papa Evan melihat dengan sorot mata berbeda pada putrinya yang terlihat sudah cukup usia untuk menikah dan memiliki keluarga kecilnya sendiri.


🍭🍭🍭


Selesai makan, mereka duduk bersantai di ruang TV dengan hanya memperhatikan Mecca yang kini mulai pintar menghapal alpabet dan huruf dalam bahasa Inggris dan Jepang.


Mecca bersemangat memamerkan kemampuannya yang ia peroleh dari kakeknya yang selalu menyempatkan diri untuk memberi pengetahuan kecil untuk cucunya yang pintar.


Sorak gembira dan tepuk tangan untuk Mecca pun memeriahkan suasana keluarga harmonis tersebut.

__ADS_1


" pah, Safa dengar sudah ada investor yang ikut dalam pembangunan rumah sakit baru yaa?," tanya Safa disela-sela bermain puzzel bersama Mecca.


" hmm, iya," jawab papa Evan.


" siapa?? kok kayaknya misterus banget perusahaan nya??," tanya Safa serius.


" iyya, papa juga baru ketemu pemiliknya 1 bulan yang lalu" jelas papa Evan.


" hah?? trus yang rapat penting waktu itu siapa donk??," tanya Safa penasaran.


" bukannya papa sempat rapat beberapa kali sama direkturnya kan??," tanya Safa lagi.


" bukan, dia hanya wakil Direktur," jawab papa Evan.


" hah???" jawab Safa tak percaya.


" kok bisa gitu??,"


Marwah yang hanya menyimak pembicaraan itu pun tak begitu peduli ia hanya larut dengan bermain dengan Mecca yang bingung menyusun puzzel.


" Marwah??," panggil papa Evan.


" ya pah," sahut Marwah dengan melihat pada papanya.


" apa kamu akan mengelola dr. Dessert kembali??," tanya papa Evan.


Marwah sedikit berpikir.


" Marwah belum terpikir pah," jawabnya pelan.


Mama Wulan melihat pada Marwah dan kembali melihat pada suaminya seolah memberi dukungan.


" Marwah, sebenarnya papa meminta kamu pulang bukan untuk mengurus toko dr. Dessert," ucap papa Evan ragu.


Marwah menatap wajah papanya.


" sebenarnya papa dan mama ingin menikahkan kamu dengan anak teman mama," jelas papa Evan pada putrinya yang menatap datar.


Deg.., jantung Marwah berdegup pilu.


Marwah terpaku. Begitu juga Safa dan Brian.


" sudah seharusnya kamu menikah dan memiliki keluarga kecil seperti Safa," ujar papa Evan.


Marwah diam.


Safa yang duduk disamping Marwah bergeming dengan memegangan jemari Marwah.


" Marwah," panggil Safa pelan.


Namun dengan sedikit terbingkai senyum Marwah bergeming.


" iyya pah, Marwah akan ikut kemauan papa dan mama," jawabnya dengan menyampingkan perasaannya.


" Marwah," ucap mama Wulan mendekat pada Marwah.


Marwah melihat pada mama Wulan yang menatao dirinya dengan penuh kasih sayang.


" Sudah waktunya kamu bahagia, sayang, " ucap mama Wulan penuh sayang pada Marwah yang mengetahui sisi lain Marwah.


" kak?? kok jadi sedih sih??," celetuk Brian yang tak paham dengan situasi.


" jangan-jangan kak Marwah gak mau pah?" ujarnya lagi.


" kasian kak Marwah donk pah, kalau dipaksa," jelasnya yang keberatan.


" huusss," seru kak Safa pada adik kecilnya itu.


" lo tau apa sih???,"


" papa gak akan paksa Marwah, kamu bisa kenal dia dulu, jika kalian cocok itu menjadi keputusan kalian bersama," jelas papa Evan.


Mama Wulan pun mengangguk setuju.


Marwah hanya menanggapi dengan tersenyum simpul. Namun sorot matanya tersimpan kesedihan yang ia tutupi sendiri.


🍭🍭🍭


Kini Marwah yang berada dikamar nya, terlihat duduk termenung di depan meja riasnya. Ia mengingat perkataan papanya soal perjodohan. Lama ia termenung dengan pikirannya.


Namun ia pun menghela nafas panjangnya, dengan kedua tangannya meraih kalung yang ia kenakan selama ini untuk ia buka. Lalu memandang kalung itu yang tergantung sebuah cincin.


Cincin pemberian Erwin yang menjadi penguat hati Marwah selama ini untuk menunggu. Menunggu sebuah ke ajaiban.


Dan sorot matanya terlihat sedih. Ia pun kembali menyematkan cincin itu di jemari manisnya. Lalu mengusapnya dengan sayang.


" apa penantian Marwah harus berakhir???," ucapnya seiring dengan jatuhnya air mata dipipi.


Namun setelah memandang lama, Marwah pun menguatkan hatinya dengan perlahan melepaskan cincin itu dengan berat. Lalu menyimpannya pada sebuah kotak yang berada di laci meja riasnya.


" maaf dan mas akan selalu di hati," ucapnya pilu dengan iringan air mata.


Namun tiba-tiba..


Tok..tok..tok.., terdengar suara ketukan pintu, sehingga Marwah terkaget, dan seketika menyeka air matanya.


" mommy??," panggil Mecca.


" mommy.., mommy..," panggil Mecca berulang dengan tak sabaran.


" iyya sayang, masuk aja," seru Marwah dengan dari meja riasnya. Dan berjalan menuju pintu kamarnya.


Klak.., bunyi pintu terbuka, dan terlihat sosok Mecca yang telah berganti baju dengan baju piyama tidurnya yang mengemaskan.


" ada apa sayang???" ..


Mecca tak menjawab, ia menerobos masuk dan berlari kecil lalu naik keatas tempat tidur Marwah. Marwah tersenyum melihat kelucuan Mecca.


" Mommy kan udah janji mau cerita sesuatu sama Mecca," tagihnya dengan meletakkan boneka pengantar tidurnya di sisi samping.


" oooh, baik lah tuan putri," jawab Marwah dengan perlahan ikut naik keatas tempat tidur nya dan mulai merebahkan badannya di kasur.


" hmm, kamu mau cerita apa???," tanya Marwah pada Mecca.


" gak tau," sahut Mecca polos.


" hmm, apa yaa??," ujar Marwah bingung.


" ah, cinderella aja mau?,"


" gak mau," ucap Mecca cemberut.


" cinderella, putri salju dan rapunzel udah sering mama ceritain," tukasnya cemberut.


Marwah terhenyak.


" serius??," tanya Marwah.


" iya,"


" dan Mecca gak suka," ucapnya sedih.


" loh kenapa?," tanya Marwah bingung..


" habis kata mama yang nama nya pangeran itu gak ada, yang ada papa, paman Brian dan kakek," jawabnya polos.


Dan seketika Marwah jadi dongkol mendengar penjelasan Mecca yang polos.


" ikh, kak Safa ini gimana sih kasih penjelasan sama anak," gumamnya yang kesal.


" hmm, ya udah deh, mommy cerita yang lain aja, kamu pasti suka," ..


" certia ini lucu, cerita pertemanan Kak Mummy dan Gadis kecil yang cerewet," ujar Marwah dengan membelai kepala Mecca.


" Kak Mummy??, siapa??,"


" ah, kakak yang dibalut perban, itu karena dia nakal dan suka berkelahi makannya di perban oleh pak dokter," jelas Marwah.


" ooh, " sahut Mecca paham


Marwah tertawa kecil melihat kepolosan Mecca.


" pada suatu hari, gadis cerewet itu akan belajar les piano......," Marwah mulai bercerita mengenang masa lalunya bersama kak Mummy.


Hingga akhrinya Mecca dan Marwah tertidur bersamaan.


Dan terlihat pintu kamar Marwah terbuka oleh Safa yang mengecek keberadaan putrinya yang ternyata tertidur bersama Mommynya.


Sekilas Safa tersenyum simpul. Lalu menutup kembali pintu kamar Marwah perlahan.


🍃🍃🍃


2 minggu pun berlalu, Marwah yang perlahan kembali mengurus toko dr. Dessert setelah sekian lama ia tinggalkan. Tak banyak berubah. Hanya karyawan yang tak sama seperti dulu.


Kecuali Lily yang masih setia mengurus toko kini terlihat duduk dengan perut buncitnya. Marwah mendekat pada Lily yang kelelahan.


" lily, kamu istirahat aja dulu, toko bisa mbak urus," ucapnya khawatir melihat Lily yang tengah hamil 7 bulan. 1 tahun yang lalu Lily menikah dengan mantan kekasihnya yang seorang pekerja bengkel las.


" makasih mbak, tapi Lily gak papa kok, cuma istirahat sebentar aja," jelasnya.


Marwah tersenyum lalu berjalan ke dapur roti seraya mengambil air putih dan kembali pada Lily dengan menyerahkan gelas itu pada Lily.


" ini minum,"


Lily terkaget dan perlahan mengambil gelas tersebut dari Marwah dengan sungkan.


" makasih mbak,"


" iyya," ucapnya seraya berlalu dan menuju kembali ketokonya dengan menyapa pengunjung yang baru masuk kedalam tokonya.


Namun pada saat sore harinya. Marwah dikejut kan dengan sebuah kiriman bunga Marwah yang cantik untuk dirinya.



" ini untuk saya pak??," tanya Marwah dengan bingung menerima buket bunga itu yang kini berada di pelukannya.


" iyya mbak, dikirim untuk mbak Marwah Sandres," ucap kurir itu dengan membaca nota pembelian dan pengiriman miliknya.


" dari siapa ya pak?," tanya Marwah.


" ah, itu saya tidak tau, karena tidak tertulis di nota," jawab pak kurir dengan memasukkan kembali buku kecil miliknya pada tas pinggang. Lalu ia berjalan untuk pergi.


" kalau begitu permisi mbak," ujarnya dengan berbalik badan dan meninggalkan Marwah yang berdiri didepan tokonya dengan wajah bingung.


Dan seketika Marwah terpaku melihat sepucuk surat yang tersemat pada buket bunga itu. Ia mengambilnya seraya berusaha membukanya dengan terbatas memeluk buket bunga tersebut. Ia membaca isi surat kecil itu dengan wajah bingung.


" apa kabar Marwah Sandres ??, ijinkan aku menyapa mu melalui bunga ini, sebelum kita bertemu, kembali," K.M.


Marwah terteguh.


" KM?," gumamnya pelan. Dan kembali melihat pada buket bunga itu.


" KM?? Siapa?," ujarnya kembali dengan melihat sekitar tokonya dengan wajah bingung lalu ia melihat kembali pada buket bunga itu, dan perlahan ia mencium aroma bunga mawar itu dengan sekilas.


Lalu kemudian ia kembali masuk kedalam tokonya.


Di dalam sebuah mobil yang tak jauh dari halaman toko dr. Dessert, terlihat seorang pria yang sedari tadi mem perhatikan toko dr. Dessert. Kini tersenyum simpul dengan wajah lega.


" bersabarlah, kita pasti akan bertemu" gumamnya dalam hati.


Melihat sosok wanita yang ia cintai telah kembali masuk kedalam toko, ia pun melihat sekilas pada jam tangannya.


" jalan pak, kita kembali kekantor," ujarnya.


🍭🍭🍭


Malam harinya, Marwah pulang dengan menbawa buket bunga itu masuk kedalam kediaman keluarga Sandres. Dan benar saja, respon disana jauh lebih heboh.


" waaah, gede banget buket bungannya," celetuk kak Safa yang juga baru pulang dari rumah sakit bersama suaminya mas Danil.


" Dari siapa?," tanya kak Safa penasaran.


" entah," jawab Marwah santai seraya berjalan menuju ruang tengah yang kamudian disambut oleh


wajah mama Wulan yang menyambut dengan senyum.


" waah bunga yang cantik, dari siapa??," tanya mama Wulan.


" Marwah juga gak tau mah," sahut Marwah dengan menyerahkan buket bunga itu pada mama Wulan yang mengambilnya dengan kaget.


" sayang??,"


" Marwah mau mandi dulu mah," ucapnya dengan meninggalkan mama Wulan yang bingung seraya menaiki anak tangga menuju kamarnya.


🍭🍭🍭


Dan ketika malam bersama, Marwah tak begitu selera makan. Hingga mama Wulan melihat dengan cemas.


" Marwah?," panggil mama Wulan.


" kok kamu gak semangat makannya?,"


" ah, iyya mah, ini juga makan," sahutnya seraya mengarahkan sendok kedalam mulut nya.


" mommy," panggil Mecca yang berada dihadapan meja makan Marwah.


" ya," sahut Marwah lembut.


" bunganya cantik, boleh buat Mecca gak??," tanya mecca polos.


" ya sayang ambil aja," ujar Marwah.


" bunga dari siapa?," tanya Brian.


" kakak gak tau," sahut Marwah.


Jiwa kepolisiannya pun muncul.


" hati-hati loh kak, diperiksa dulu bunganya sebelum diterima, kali aja ada bom," ucapnya serius.


Marwah terhenyak dan reflek mencubit pinggang Brian.


" aaahhh.. aduuuh kak sakit tau!!," erang Brian dengan cepat ngusap pinggangnya yang dicubit Marwah.


Namun Marwah terlihat senang melihat adiknya kesakitan.


" ikh sakit banget sih kak," ucap Bruan serius.


Lalu Marwah tersenyum simpul seraya melanjutkan makannya kembali.


" kamu ada aja, bom apa??," celetuk Marwah.


Papa Evan melihat dengan menatap wajah Marwah.


" mungkin itu dari calon yang papa kamu bilang tempo hari," sela mama Wulan.


" dia ingin segera bertemu dengan kamu," sambungnya lagi.

__ADS_1


Marwah terteguh.


" oh," jawabnya singkat.


" memang namanya siapa?," tanya kak Safa pada Marwah.


" gak tau, tapi inisialnya K.M," jawabnya


" K.M??," sahut Brian.


" hmm," gumam Marwah mengangguk


" Krisna Mukti kali ," sahut kak Safa menebak.


Mendengar ucapan kak Safa tiba-tiba meja makan itu hening.


" masa sih namanya Krisna Mukti," ujar Marwah yang mengidik enggan dan berakhir tertawa lepas.


Dan tak berselang lama, kak Safa dan suaminya mas Danil pun ikut tertawa dengan jawaban asalnya itu.


" bisa jadi singkatan dari Kang Mas!!," timpal Brian dengan menambah ke absuran menebak inisial K.M tersebut.


Sehingga ruang makan itu pun kini terdengar tawa keluarga yang akan menyambut hangat calon anggota baru mereka.


🍃🍃🍃


1 minggu kemudian..,


Pagi itu, diruang makan terlihat kak Safa dan mas Danil tengah terburu-buru sarapan. Brian yang telah lebih dahulu pergi sejak subuh tadi karena tugasnya.


" makan pelan-pelan Safa, Danil," ujar mama Wulan mengingatkan.


" iyya mah," sahut mas Danil sungkan.


Terlihat Marwah turun dengan santai menuju meja makan.


Tak berselang lama, Safa dan Danil pun bersiap untuk pergi. Dengan terlihat Safa yabg terburu-buru mengikuti langkah suaminya. Namun tiba-tiba ia terhenti lalu berbalik dan dengan segera memeluk tubuh Marwah yang ikut terkaget.


" selamat ulang tahun kembaran ku," ucap Safa seraya menjatuhkan ciuman dipipi kembarannya.


Mendengarkan hal itu mama Wulan dan papa Evan syok.


" hari ini???," tanya mama Wulan.


" iyya mah, hari ini ulang tahun kita, " ucap Safa seraya berjalan memeluk tubuh mama Wulan yang kager dan kemudian beralih memeluk tubuh papa Evan yang sama kagetnya seraya menjatuh ciuman di kening papanya.


" dadaaah.., duluan yaa," ujar Safa yang kembali berlari kecil menuju pintu depan.


Mama Wulan melihat dengan panik tingkah Safa.


" ya ampun Safa, jangan lari-lari, kamu lagi hamil," ujar mama Wulan yang cemas. Namun Safa telah lebih dulu menghilang dari hadapannya.


Marwah terpaku mengingat ucapan kak Safa. Ia ternyata bisa melupakan hari ulang tahunnya. Ia pun tersenyum simpul menertawakan dirinya yang kian bertambah usia.


Mama Wulan mendekat lalu memberikan pelukan hangat pada Marwah.


" selamat ulang tahun sayang, maaf kan jika mama dan papa lupa akan hari spesial kalian," ujar mama Wulan sedikit menyesal.


" terima kasih mah, gak papa kok mah, udah tua juga, Marwah kan bukan anak kecil lagi," balasnya dengan mengusapa lengan mama Wulan.


" mama doakan semoga kamu bahagia," ucap tulus mama Wulan.


" Marwah," seru papa Evan yang sedari tadi melihat pada keduanya.


" ada seseorng ingin bertemu dengan kamu"


" siapa??," tanya Marwah pelan.


Mama Wulan duduk disamping kursi Marwah.


" dia calon yang ingin bertemu dengan kamu, anak teman mama," jelas mama Wulan.


Deg..., jantung Marwah berdetak.


" kapan??," tanya Marwah


" Malam ini, Sunrise Hotel," jelas papa Evan.


Deg.., jantung Marwah benar-benar merespon ketika mendengar nama Sunrise hotel.


Ia bergeming kaget.


" mama berharap semoga kalian cocok," doa mama Wulan seraya menepuk punggung tangan Marwah seraya berlalu menuju dapur.


🍭🍭🍭


Dan siang harinya Marwah dikagetkan dengan sebuah kiriman paket yang ditujukan pada dirinya. Sebuah amplop berwarna emas pun ia buka dengan segera membaca isinya.


" Marwah, aku mengundangnmu untuk bertemu di Sunrise Hotel, malam ini..., " K.M


" Sunrise Hotel??," gumamnya seraya menghela nafas panjang lalu memasukkan kembali kertas itu kedalam amplop tersebut.


" undang dari siapa mbak??," tanya Lily mengangetkan Marwah.


" ah, dari seseorang," jawab Marwah singkat.


Lalu Marwah pun berlalu meninggalkan Lily yang masih ingin bertanya.


Seharian Marwah mengerjakan cake premium untuk memenuhi estalase tokonya.


Hingga tanpa ia sadari, hari sudah menjelang sore. Ia pun berbenah untuk segera pulang.


" Lily, mbak duluan yaa," ujar Marwah dengan meraih tas dan kunci mobilnya.


" tolong catat beberapa bahan tambahan untuk kebutuhan besok, jika mbak sempat besok sebelum pergi mbak cari ke pasar," timpalnya kembali mengingatkan Lily.


" Baik mbak, hati-hati dijalan" seru Lily.


🍃🍃🍃


Malam harinya..., Marwah termenung di hadapan cermin meja riasnya. Ia menatap pada dirinya.


" Sunrise Hotel," desisnya.


Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamarnya.


Tok..tok..Tok..,


" Marwah??," panggil mama Wulan.


Marwah pun terkaget.


" ya mah, masuk aja," sahut Marwah dengan berpura-pura merapikan rambutnya.


Klak.., bunyi pintu terbuka dan terlihat mama Wulan masuk.


" kamu udah siap?? kenapa belum pergi?," ..


" ah, ini rambut Marwah mah, baru selesai di blow sedikit," jawabnya kaku.


" oh, apa perlu mama bantu??,"


" jangan mah, makasih, tapi udah siap kok," sahutnya dengan meraih tas yang telah siap dengan benda-benda penting didalamnya.


Marwah bangun dari duduknya dan berbalik badan menghadap pada mama Wulan yang terlihat terkesima akan kecantikan putri nya.


" kamu cantik sayang," ucap mama Wulan membelai rambut Marwah.


" pergi lah, mama doakan semoga kamu menemukan berbahagia dan melupakan kesedihan,"


Marwah memeluk mama Wulan.


" makasih ya mah, love you,"


Dan pelukkan itu terlepas dengan Marwah berjalan keluar dari kamarnya.


🍁🍁🍁


Setiba Marwah di parkiran Sunrise Hotel, ia hanya termenung dengan memandang gedung mewah itu dengan lampu terang yang indah. Hatinya gelisah.


" apa gak ada tempat lain??," gumamnya berat, lalu turun perlahan dengan membawa tas dipundaknya.


Dengan menghela nafas panjangnya, ia melangkahkan kaki berjalan masuk kedalam hotel.


Marwah pun kembali mengeluarkan undangan yang ia terima dan melihat pada catatan kecil di sudut undangan.


" Luxury room," gumamnya dengan mengeyitkan dahi. Dengan langkah berat akhirnya Marwah menuju resepsionis.


" selamat malam mbak, ada yang bisa saya bantu??," tanya wanita resepsionis itu yang terlihat ramah menyapa.


Marwah tersenyum, ia berpikir selama dua tahun ini pasti telah banyak yang berubah. Bahkan wanita resepsionis ini juga mungkin karyawan baru setelah bepergiannya.


" ah, iyya.., saya dapat undangan ini," ucapnya seraya memberikan undangan itu pada wanita resepsionis tersebut.


Wanita resepsionis tersebut melihat, lalu sedikit terkaget.


" maaf nama mbak Marwah Sanders??" tanya wanita itu berwajah serius.


" iyya, saya Marwah Sanders," jawab Marwah.


" tunggu sebentar yaa mbak," ujar wanita itu yang segera berlari kecil dan masuk kedapan room crew.


Dan tak berselang lama ia kembali dengan senyum terkembang.


" anda telah ditunggu disana," ucap wanita itu tersenyum pada Marwah.


" apa??"


" orang yang mengundang anda telah berada disana mbak, silahkan langsung ke lantai 8," ucapnya wanita resepsionis itu terlihat girang.


Marwah merasa aneh, namun ia hanya bisa mengangguk saja.


" terima kasih," ucap Marwah seraya berlalu memuju lift hotel.


Namun sepeninggalan Marwah, wanita resepsionis itu histeris sendiri dengan menganggu teman disampingnya.


" hey, itu dia.., itu dia wanita yang akan dilamar oleh pria tampan itu," serunya histeris


" lo liat?? cantik bangeeeet," ujar nya meleleh.


" hooh, cantik banget, gue mau foto dah, biar heboh anak-anak group cleaning room," tukas temannya yang dengan cekatan mengambil handphone nya dan mengabadikan wajah Marwah yang terlihat sedang menunggu didepan pintu lift.


" ya ampun, beruntung banget cewek ini yaa, dilamar dengan romantis, akuh mauuuuh," jeritnya dengan suara kecil.


" gue juga," sahut sahabatnya yang baper seraya mengirimkan foto gadis tersebut di group cleaning room.


🍃🍃🍃


Ketika berada di dalam lift, Marwah terpaku melihat nomor 10 pada lift yang merupakan lantai tertinggi pada hotel tersebut. Ia telah menekan nomor 8, namun entah mengapa hatinya menyerukan untuk kembali menekan nomor 10.


Sehingga akhirnya ia melewatkan lantai no 8, dan berakhir turun di lantai 10 dengan terpaku.


" huuufft, apa yang aku lakukan," ujarnya dengan berbalik hendak masuk kembali kedalam lift.


Namun langkahnya di urungkan, entah mengapa suara hati nya lebih memiliki kuasa akan tubuhnya untuk bergerak menuju lantai atas rooftop hotel yang membuat semua kenangannya kembali.


Langkah yang ragu namun ingin, akhirnya ia menampaki kaki di atas rooftop tersebut.


Marwah pun disambut dengan view yang selalu menabjubkan. Hembusan angin yang dingin membuat kulitnya merasakan kedinginan.


Dan kini langkahnya terhenti ditempat yang sama beberapa tahun lalu. Ia berdiri dengan bernelangsa jauh. Hatinya yang berusaha pulih pada akhirnya kembali bersedih.


Lama ia termenung berdiri disana dengan menikmati kenangannya yang kembali terusik.


Dengan menghirup oksigen, ia pun menutup matanya mencoba membayangkan kembali sosok Erwin. Lama ia membayangkan sosok yang dirindukan, hingga perlahan ia membuka matanya yang hanya terlihat view kota dengan indahnya lampu.


Ia menatap sedih, dengan hela nafas berat ia mencoba menahan air matanya.


" jangan menangis, Marwah hanya ingin menyapa, tidak ingin menangis," lirihnya tertunduk.


Ada rasa pilu yang tak bisa ia ungkapkan, betapa ia merindukan sosok Erwin.


Tis..tis.., tak terasa rintik hujan pun jatuh perlahan.


Namun dengan tidak terduga, tubuh Marwah seketika hangat dengan merasakan sesuatu membalut tubuhnya dengan aroma yang khas.


" *bukan kah sudah aku katakan untuk bertemu di luxury room?? mengapa kamu memilih bermain rintik hujan disini??,"


Deg*..


Marwah terpaku dan melihat pada asal suara tersebut.


" apa karena merindukan aku kamu kemari??," ujarnya dengan mendekat pada Marwah.


Kedua bola mata Marwah menatap dalam wajahnya.


Dengan menelan salivannya, Marwah mencoba menguatkan diri, bahwa apa yang ia lihat ini bukan lah mimpi.


Perlahan tangannya menyentuh wajah yang terlihat sedikit tirus. Dan benar, ia merasakan kulit dan bahkan turun menyentuh sudut bibir pria yang ia cintai ini dengan tangan sedikit bergetar.


Tap..tap.., air mata Marwah jatuh seketika.


" maaf, karena meninggalkan mu terlalu lama," ucap Erwin dengan meraih jemari Marwah yang berada di wajahnya.


" aku kembali dengan tak sempurna, apa kau masih ingin tetap bersama ku????" ucap dengan mengeluarkan tangan kirinya yang kaku pada Marwah yang melihat dengan terpaku.


Marwah meraih tangan Erwin dan seketika menangis sedih.


" gak papa," ucapnya menangis.


" karena sangat rindu sehingga begitu sakit dan juga karena sakit sehingga semakin rindu," ucap Marwah menatap wajah Erwin.


" aku mencintaimu Erwin Aritama," ucap Marwah menatap dalam bola mata Erwin.


Erwin terpaku dengan ucapan cinta Marwah yang terpancar dari kedua bola matanya yang berkaca. Hingga dengan instingnya, ia meriah wajah Marwah dan dengan cepat menjatuhkan ciuman dibibir Marwah yang sangat ia rindukan.


Marwah terkesiap, namun berlahan membalas pangutan hangat bibir Erwin. Tangan kanan Erwin menarik tubuh Marwah agar semakin mendekat pada tubuhnya.


Dan ciuman itu pun semakin indah dengan disambut hujan yang membasahi keduanya...


💗💗💗💗💗


Hallo semua,, apa kabar teman-teman pencinta mas Erwin dan mbak Marwah.


cieee, akhirnya dari nangis bawang terbitlah baper 😅😅😅


Nulis di part ini rada-rada susah yaa, mau jumpa mantan aja kok susah ya?? #Loh 🤣🤣


Dan lagi-lagi ini part terpanjang yaa. semoga gak bosan bacanya.


Terima kasih dukungan teman-teman semua. Terima kasih atas komentar kalian yang luar biasa antusias dengan menangis bersama dan habisini tisu bareng 😅😅😅


Moga setelah ini gak lagi yaa.


Jangan lupa untuk terus dukung novel ini ditiap partnya. Tinggalkan like, komentar dan bintang untuk mendukung ria.


Sampai ketemu di part berikutnya.

__ADS_1


💗💗💗


__ADS_2