Come A Closer Love

Come A Closer Love
24


__ADS_3

Malam itu, setelah mengantar Erwin pulang ke apartemen , Marwah pulang kerumah keluarganya yang kini menjadi rumah kakaknya Safa. Tepat di jam 1 malam ia menelfon Safa yang pasti telah tertidur lelap. Namun tidak ada tempat lain selain rumah kakaknya yang paling nyaman.


Marwah pun masih sedikit takut untuk tidur sendiri ditokonya, kejadian tadi cukup membuat nyalinya ciut untuk tinggal sendiri di toko.


" Hallo??, kak !!"


" Hhmm, Marwah??, ada apa malam-malam gini telfon,??" jawab Safa dengan suara berat khas baru bangun tidur.


" Kak??, bukain pintu pagar dong, Marwah udah didepan rumah nie, " ujarnya cepat.


" Hah?, kamu, ??" jawab Safa terkaget.


" Udah deh, bukain dulu napa?, serem tau lama-lama diluar, " tuturnya sedikit mengidik ngeri karena suasana komplek pada malam hari yang sepi.


" Iyya, sebentar, " jawabnya cepat, lalu komunikasi itu pun terputus.

__ADS_1


Dan berselang beberapa menit, terlihat Safa berlari kecil mengarah ke pintu pagar yang digembok. Ia pun terlihat silau dengan cahaya lampu mobil Marwah yang tepat mengenai dirinya. Lalu setelah pagar terbuka lebar, mobil Marwah pun masuk dan berhenti didepan rumah mereka. Dengan cepat ia turun dan berjalan menghampiri kakaknya yang tengah menguap.


" Ka.., " ucap Safa terputus, ketika Marwah meraih lengan kakaknya.


"Masuk dulu yuk, " ujarnya seraya berjalan bersama kakaknya untuk masuk kedalam rumah lama mereka.


Ketika pintu rumah sudah tertutup, Marwah berjalan menuju tangga kamar atas. Safa melihat dengan heran.


" Mau kemana??, " tanya Safa yang melihat Marwah.


" Udah tidur dikamar Mecca aja, box tidur Mecca udah pindah ke kamar kakak, " jelasnya seraya berjalan menuju kamar dirinya yang bersebelahan dengan kamar Mecca yang dulunya kamar tamu.


" Oh, oke deh kalo gitu, " sambut Marwah cepat dan langsung turun dan berjalan menuju kamar keponakannya.


Dan ia meraih pedal pintu seraya membuka dengan berlahan dan mencoba menghidupkan lampu dindin sisi kanan kamar. Terlihat hanya tempat tidur dan lemari pakaian, juga beberapa mainan Mecca yang masih berada disana.

__ADS_1


Sesaat Marwah menghela nafas panjangnya, dan berlahan ia berjalan menuju tempat tidur yang rapi dan wangi lalu merebahkan tubuhnya disana dengan berat, ia masih terbayang dua pria pemabuk yang melecehkannya dan wajah pak Erwin saat berkelahi masih terbayang jelas di ingatan. Dengan meraih bantal guling, ia pun mencoba untuk memeluk dan berusaha untuk tidur karena kejadian tadi bagai mimpi buruk.


🍃🍃🍃


Disisi lain, Erwin tengah meneguk air mineral seraya meminum obat yang tadi diberikan oleh perawar pria itu. Dan Erwin memandang luar jendela besar apartemennya yang hanya tertutup tirai tipis sehingga masih bisa melihat samar-samar view luar jendela.


Namun tiba-tiba ia dikagetkan dengan bunyi notif pesan masuk di handphone Marwah. Sehingga Erwin pun menoleh pada handphone itu yang terlihat layarnya terdapat foto Marwah.


Erwin hanya menarik nafas panjangnya, lalu ia tersenyum licik pada foto Marwah.


" Kebetulan yang seperti direncanakan, " ujarnya seraya meraih handphone Marwah dan berjalan menuju pintu kamarnya. Erwin masuk langsung menuju tempat tidurnya dan duduk dengan mencoba membuka kancing baju kemejanya. Dan sesekali Erwin meringis menahan sakit lengan kirinya ymag terluka. Setelah kemeja terbuka ia mencampakkan dengan sembarang lalu menyusun bantal hingga tubuhnya pun berlahan ia rebahkan diatas kasurnya.


Sesaat ia pun mencoba menutup matanya untuk tertidur, namun tiba-tiba bayangan wajah Marwah yang menangis kembali terbayang dibenak Erwin bahkan Erwin masih mengingat jelas wangi Musk pada tubuh Marwah yang ia peluk.


Dan mata Erwin pun terbuka.

__ADS_1


" Sial, " rutunya pada diri sendiri yang masih membayangkan Marwah. Dan hal itu sukses membuatnya tak bisa tidur malam ini.


__ADS_2