Come A Closer Love

Come A Closer Love
97


__ADS_3

Hampir 3 hari berturut-turut berita menghebohkan dimedia kriminal tercantung nama Toni Prasetya. Bahkan perusahaan Forten pun tengah menjadi sorotan tajam awak media.


Bahkan dua nama tenar pun ikut terseret, Aritama Group dan Atmadja Group pun ikut terimbas dengan pemberitaan yang santer terdengar.


Forten menjadi perusahaan pencucian uang gelap, bahkan ia menjadi bandar narkotik dengan menutupi kegiatannya dengan berbagai aksi amal.


Forten group mengaitkan semua aksinya dengan suntikan dana Atmadja Group yang mencapai 30 miliyar. Sehingga Atmadja Group terseret kasus Forten.


Kini Erwin menghela nafas panjangnya. Baru subuh tadi ia pulang dengan lelah setelah dicecar 40 pertanyaan yang menyulitkan dari para pihak kepolisian yang menetapkannya sebagai saksi mata.


Dan tak lama, terdengar suara deringan telfon. Hingga mengharuskannya untuk mengambil telfon itu segera.


" hallo???,"


" Direktur, siang ini, jam 9 di meeting room Aritama Group, semua telah saya siapkan," jelas Sekertaris Chandra dari sebrang telfon.


" ya," jawab Erwin berat, dan ia meraih sebuah gelas lalu berjalan menuju kulkas dan mencoba menuangkan air dingin kedalam gelasnya.


" baik" sahut sekertaris Chandra dengan segera memutuskan komunikasi tersebut.


Dan Erwin pun meneguk air dingin itu kedalam tenggorokannya dan meletakkan handphone tadi diatas meja dengan hela nafas panjangnya.


Lalu ia pun berjalan menuju kamar nya untuk segera mandi, seolah ingin mendinginkan tubuhnya yang gerah dan penat.


Selang beberapa saat, Erwin yang tengah berpakaian pun terusik dengan nada dering handphone nya. Dan segera meraih handphone nya seraya mendekatkannya pada telinga.


" tuk..tuk..," sapa suara yang khas dari sebarang sana.


" Marwah??, ada apa??," tanya Erwin.


" Bukain pintu !!," seru Marwah.


Erwin terkaget, dan tak lama ia pun segera berjalan keluar dari kamarnya menuju pintu apartemennya.


Klik.., bunyi pintu itu terbuka, dan terlihat wajah sumbringah Marwah disana.


Dan tanpa sempat Erwin berkata, Marwah dengan segera memeluk tubuh Erwin, hingga Erwin terpaku menerima pelukan Marwah yang spontan.


" untung mas belum pergi," ucapnya.


" kenapa kamu pagi-pagi kemari?," tanya Erwin.


" rindu," jawab Marwah cepat.


Erwin tersenyum simpul.


" mas belum sarapan kan??, kita sarapan bareng yuk," ajak Marwah dengan mererai pelukkannya dan menatap Erwin yang tersenyum simpul seraya ikut mengangguk menerima ajakan Marwah.


🍃🍃🍃


Dan kini terlihat keduanya berada di meja makan, dengan menikmati dua buah roti yang masih hangat.



Terlihat Marwah menyantap rotinya dengan semangat, dengan Erwin memperhatikan Marwah. Sehingga Marwah tersadar dan melihat kembali pada Erwin dengan masih memgunyah roti terbaru dari dapur dr. Dessert.


" kenapa??," tanya Marwah sekilas dengan mengambil tisu dan menyeka bibirnya.


" ah enggak,"


" lalu?? kenapa mas liatnya gitu??," tanya Marwah kembali dengan hendak mengigit rotinya kembali.


" enggak, mas lagi liat kamu aja, kamu serius rindu apa lapar??," ucap Erwin dengan sedikti terbingkai senyum disana.


Dan seketika wajah Marwah cemberut, dan dengan cepat ia meletakkan rotinya itu.


" Marwah gak makan lagi," ucapnya dengan kesal.


Dan hal itu mengundang tawa kecil Erwin sehingga ia buru-buru mengambil roti itu kembali dan memberikannya pada tangan Marwah.


" makan laah, mas cuma bercanda kok," ucapnya.


" kamu serem tau gak kalau lagi marah," sambung nya lagi dengan merapikan helai rambut Marwah yang menatap tajam pada dirinya.


Mendengar hal itu Marwah pun sedikit tersenyum, lalu kembali mengigit rotinya kembali dan menyudahinya dengan menyeka kembali tisu di bibirnya.


" apa siang ini mas akan kekantor??," tanya Marwah yang melihat stelan pakaian Erwin.


" Hhmm ya," jawab nya seraya menyerut coklat hangat dari cangkirnya.


" apa mas baik-baik saja?,"


Erwin terpaku, namun ia menghela nafas panjangnya dan dengan yakin mengangguk menatap wajah Marwah.


" Marwah akan ikut mas kekantor, ya???"


" ya, terima kasih," sahut Erwin senang.


Lalu pelan tangan Marwah menyentuh punggung tangan Erwin yang berada di atas meja.


" Marwah akan selalu ada untuk mas," seolah ucapan menguatkan.


Erwin terdiam, ia pun menyambut hangat tangan Marwah dan mengenggam tangan wanita yang terlihat ramping itu.


" ya," jawabnya penuh makna menatap jemari tangan Marwah dengan dalam.


🍃🍃🍃


Dan keduanya pun tiba di kantor Aritama group dengan suasana yang berbeda. Terlihat suasana mencengkam dari situasi kantor Aritama yang terlihat berbagai spanduk protes dari karyawan yang akan di PHK.


Erwin yang turun dari mobil Marwah dengan penjagaan ketat, terlihat masuk ke gedung Aritama dengan diteriaki beberapa karyawan yang kesal akan kebijakan perusahaan yang mem PHKan massal karyawan.


Umpatan dan cacian di teriaki dengan lantang oleh karyawan. Namun Erwin terlihat tengan dengan dikawal oleh beberapa polisi yang memang didatangkan untuk melindungi Erwin.


Sekertaris Chandra yang dengan cepat memberikan penjelasan mengapa massa lebih banyak dari perkiraan.


Mendengar kan hal itu, Erwin dengan cepat menyuruh beberapa orang untuk membantunya membawakan mic lalu dengan segera ber diri di atas meja resepsionis sehingga mengundang perhatian para karyawan yang tengah menahan emosinya disana.


Marwah yang tadinya memarkirkan mobilnya di basement kantor pun dibuat kaget ketika melihat aksi Erwin yang berani.


Dan ketika Erwin menerima mic yang telah disiapkan suasana mulai ricuh.


" BAYAR HAK KAMI !!,"


" ARITAMA PEMBOHONG!!,"


" SEBELUM PHK KAMI, BAYAR GAJI KAMI !!,"


terikan itu silih berganti bersahut-sahutan mengema didalam gedung Aritama. Marwah melihat dengan cemas pada Erwin yang terlihat sorot matanya yang tak biasa.


" MAAF !!!," suara lantang Erwin pun mengema mengalahkan suara lain yang mengangetkan sekitarnya dengan suara mic yang besar.


Hening..


Hening..


" saya Erwin Aritama, meminta maaf pada kalian semua," ucapnya dengan nada berat.


Terlihat para massa sedikit terkaget dan terpaku dengan ucapan Erwin yang spontan.


" maaf karena saya tak bisa mempertahankan perusahaan yang kalian cintai ini, sungguh saya meminta maaf," ucapnya tegar.


Hening..


Hening..


" dari lubuk hati saya, kalian adalah keluarga besar Aritama Group yang selama ini membangun perusahaan Aritama dengan kesungguhan kalian, saya ucapkan terima kasih, terima kasih untuk loyalitas para rekan kerja semua mulai dari yang terkecil kalian semua yang membangun Aritama Group hingga bisa sukses selama ini,"


" ini adalah keputusan berat yang harus saya ambil, dan ini sungguh.., sungguh menyakitkan hati saya melihat teman-teman semua yang kecewa dan bersedih dengan keputusan ini, " ucap Erwin bergetar.


Terlihat suasana haru disana, tak sedikit beberapa karyawan wanita menitik kan air matanya mendengar ucapan atasan mereka.


" Saya pasti, saya pasti akan berusaha membayar gaji para rekan semua semampu saya, karena hanya itu yang bisa saya lakukan," lanjutnya berusaha tegar.


" saya tidak akan pernah melupakan teman-teman semua, mungkin saya tidak akan hapal nama kalian tapi wajah semangat kalian yang setiap pagi menyapa itu akan selalu saya kenang, terima kasih karena pernah menjadi bagian terindah untuk perusahaan Aritama Group dan saya memohon maaf jika selama ini saya mungkin pernah berkata kasar atau berbuat hal yang tak menyenangkan, sekali lagi saya Erwin Aritama memohon maaf yang sebesar-besarnya," ucap Erwin dengan wajah sedih.


" dan dengan ini segala kegiatan Aritama Group resmi ditutup," ucap Erwin mengakhiri pidatonya yang menyayat hati para karyawan yang bersedih mendengar ucapan Direktur utama mereka yang terkenal akan kebaikan nya.


Dan seketika suasana haru pun terlihat. Beberapa karyawan pria yang tadinya bersikeras dan lantang mencaci maki Erwin pun melemah mereka mendekat dan secara spontan memberikan pelukan perpisahan dan salam terakhir pada Direktur mereka yang mereka hormati.


Tak sedikit yang menangis, bahkan berusaha untuk berjabat tangan dengan Direktur dan Sekertaris Chandra.


Marwah yang melihat hal itu ikut merasa sedih. Pada akhirnya perusahaan yang dengan susah payah Erwin bangun dinyatakan tutup dengan memPHKkan 430 karyawannya.


🍃🍃🍃


Kini setelah semuanya usai, terlihat Erwin berdiri di ruangan kantornya yang terlihat sepi. Namun tiba-tiba sekertaris Chandra datang dan masuk dengan sedikit mengangetkan Erwin yang melamun.


" Direktur??," sapanya pelan.


" aku bukan Direktur lagi, " balas Erwin dengan mengambil map di atas mejanya.


Sekertaris Chandra pun tersenyum getir.


" apa kau baik-baik saja?? Erwin??," tanya Sekertaris Chandra dengan mengubah intonasi nada bicara yang santai.


" hhmm," jawab Erwin singkat.


Lalu Sekertaris Chandra mendekat dengan memberikan map pada Erwin.


" ini tugas terakhri," ucap sekertaris Chandra.


Erwin tersenyum simpul seraya meraih map tersebut dan membukanya.


" terima kasih kawan " ucap Erwin pelan.


Sekertaris Chandra terpaku.


" kau sekertaris hebat," ucap Erwin seraya memberi tanda tangannya pada kertas kerja terakhrinya sebagai Direktur.

__ADS_1


Sekertaris Chandra pun tersenyum.


" kau juga Direktur hebat sekaligus kejam" puji Sekertaris Chandra dengan cepat.


Dan keduanya tertawa kecil.


" apa Danil menelfon mu??,"


" tidak," ..jawab Sekertaris Chandra.


" bekerjalah padanya, aku yang meminta pada Danil untuk menerima mu sebagai sekertaris pribadinya,"


Sekertaris Chandra pun terpaku kaget.


" kau harus tetap bekerja kawan, karena aku tau kemampuanmu tak akan mengecewakan," ucap Erwin melihat pada Sekretaris Chandra.


" tapi...," ucap sekertaris Chandra terhenti.


" tapi???," sahut Erwin bingung.


" tapi aku ingin istirahat dulu 2 bulan tanpa kerja" ucap sekertaris Chandra pelan. Sehingga Erwin pun terlihat kaget.


" istirahat 2 bulan???,"


" hmm, ya..., 2 bulan, karena selama ini aku tak pernah liburan," jawab Sekertaris Chandra.


Dan dengan ragu ia menarik map dari Erwin.


" karena semenjak kau dibutakan oleh cinta , hampir semua pekerjaan mu aku yang handle, jadi aku ingin tidur-tiduran selama 2 bulan,"


" apa??," sahut Erwin tak percaya.


" kau gila, " ucap Erwin lagi.


Namun sekertaris Chandra pun tertawa namun kemudian diikuti oleh Erwin yang tak bisa percaya dengan omongan sahabatnya.


Tak lama terlihat Marwah datang di tengah-tengah keduanya yang sedang berbicara santai.


" kalian sedang bahas apa?," sapa Marwah mendekat.


Keduanya melihat dengan santai.


" kamu dari mana??," tanya Erwin.


" oh, tadi ngobrol dengan teman-teman yang dari devisi personalia dan beberapa dari devisi lain, hanya salam perpisahaan saja," jawab Marwah.


" kalau begitu aku pamit, " ucap Sekertaris Chandra pada Erwin.


Erwin mengangguk pelan.


" jangan lupa untuk sering mengajak ku minum kopi sore," seru Erwin seraya tersenyum kecil.


" akan aku jadwalkan," sahut Sekertaris Chandra dengan sama-sama tertawa kecil lalu ia pun pergi meninggalkan ruangan itu yang kini hanya tinggal Erwin dan Marwah.


Erwin menghela nafas panjangnya seraya melihat meja kerjanya kini telah kosong dari map-map yang dulu memenuhi meja kerjanya.


" mas,"


" hmm,"


" apa mas baik-baik saja??," tanya Marwah dengan mendekat pada kursi yang Erwin duduk.


Erwin menengadah dan melihat pada wajah khawatir Marwah.


" jangan khawatir, mas baik-baik saja kok," sanggahnya dengan tersenyum simpul.


Namun jauh dari sorot matanya Marwah mengetahui bahwa Erwin bersedih. Sehingga ia reflek dengan cepat memeluk tubuh Erwin dari samping sehingga pria itu pun terkaget.


" mas bodoh !!,"


" kalau sedih ya bilang aja sedih, kalau sakit ya bilang aja sakit, mengapa harus berpura-pura bohong??," ucapnya kesal.


Erwin terdiam sesaat namun ia pun mencoba menghirup harum rambut Marwah. Lalu membelai punggung Marwah dengan sayang.


" makasih karena kamu kembali," ucap Erwin pelan.


Mendengar kan hal itu Marwah reflek mererai pelukannya.


" adahal yang mau Marwah beri tau kan pada mas,"


" apa??,"


" ikut Marwah dulu kesesuatu tempat," ajak Marwah dengan menarik lengan Erwin yang terpaku bingung.


" kemana??,"


" rahasia," ucapnya pelan.


" hmmm, baiklah, tapi beri mas waktu untuk berbenah,"


Marwah mengangguk pelan.


" ya," sahut Erwin.


Dan perlahan Marwah meninggalkan ruangan itu. Erwin hanya terpaku dengan sekeliling yang sepi dan sedikit gelap. Karirnya berakhri sudah.


Namun tak lama, terdengar suara deringan handphone masuk. Erwin pun bergeming dan terkaget ketika melihat nama paman Atmadja tertera disana.


Ia pun mengangkat telfon itu dengan segera.


" hallo paman???," ...


🍃🍃🍃


Setelah beberapa saat berselang, Marwah akhirnya melihat sosok Erwin yang berjalan santai dengan menenteng jasnya.


Dan akhirnya pria ini pun masuk kedalam mobil Marwah yang sedari tadi menunggu dirinya.


" maaf yaa lama," ucap Erwin seraya masuk kedalam mobil Marwah.


Ia memperhatikan Erwin sekilas.


" sudah bisa jalan???," tanya Marwah.


" ya,"


" oke," sahut Marwah dengan santai melajukan mobilnya untuk meninggalkan kantor Aritama yang kini sepi.


Ada banyak kenangan dikantor Aritama Group. Tapi Erwin terlihat tegar, ia bahkan tak menoleh kebelakang untuk melihat kantornya untuk terakhir kali.


" kita mau kemana??," tanya Erwin.


Namun Marwah tak menjawab, ia hanya membalas senyum simpul pada Erwin.


Hingga roda mobil Marwah pun berhenti di halaman parkiran sebuah gedung.


" ayo," ucap Marwah pada Erwin yang terlihat bingung.


Pelan Erwin membuka safety beltnya dengan melihat sekitar.


Blam.., bunyi pintu tertutup dengan sempurna. Terlihat Erwin merasa bingung dengan tempat itu.


Namun Marwah mengagetkannya dengan menarik lengan Erwin.


" kenapa kita kerumah sakit ini??," tanya Erwin seraya ikut melangkah bersama Marwah yang menariknya untuk berjalan menuju gedung rumah sakit.


" mas inget ya?,"


" ini kan rumah sakit keluarga kamu," jawab Erwin.


" benar !!," sahut Marwah senang.


Namun seketika berhenti melangkah, sehingga Marwah pun terkaget dan menoleh melihat pada Erwin yang menatapnya dengan wajah serius.


" maksud kamu apa?," tanya Erwin serius menatap wajah Marwah yang seketika ikut berubah serius.


" Marwah akan temani mas selama menjalani pengobatan, Marwah minta sama papa untuk dipertemukan dengan dokter yang papa kenal dalam spesialis saraf dan otak," jelasnya.


Erwin melepaskan tangannya dari Marwah dengan wajah tak bisa dijelaskan.


Marwah merasakan tatapan Erwin dengan telah menebak sebelumnya bahwa pria ini akan sangat terkejut.


" maaf, karena Marwah tak berbicara dengan mas terlebih dahulu, tapi Marwah hanya berniat agar mas bisa dengan cepat menemukan dokter terbaik untuk menyembuhkan sakit kepala mas," jelasnya pelan.


Lalu ia pun merogoh isi tasnya dan mengambil sebuah kotak dan membukanya dihadapan Erwin.


" ayo kita menikah," ucap Marwah sehingga Erwin terdiam lama, dari sorot matanya terlihat pria ini tengah berpikir keras.


" enggak," ucap Erwin


" kenapa??," sanggah Marwah.


" bukan kah kita saling mencintai??, Marwah ingin selalu bersama mas, kapan dan dimana pun, dan bagaimana pun kondisi mas," ucapnya dengan sedih.


" Marwah mencintai mas," sambungnya lagi dengan tulus.


Erwin terpaku.


" ayo kita bertemu dengan papa," pinta Marwah dengan mendekat pada Erwin.


Erwin terdiam terpaku.


" mas gak bisa," ucapnya berat.


" kenapa? apa yang menjadi penghalang??,"


" menikah itu tidak mudah, kamu harus tau bahwa kondisi mas mungkin akan cacat seumur hidup,"


" lalu??," sela Marwah

__ADS_1


" mas akan jadi beban hidup kamu," ucapnya.


" Marwah akan bersama mas," ucapnya yakin.


" enggak, itu melukai harga diri mas !!," ucapnya dengan berjalan meninggalkan Marwah yang terpaku.


" mas !!," panggil Marwah mencoba mengejar Erwin.


Namun pria itu terus berjalan meninggalkan Marwah.


🍃🍃🍃


Malam harinya Erwin yang kini berada dirumah keluarganya pun duduk dengan termenung diruang keluarga dengan menatap taman rumah yang indah dengan lampu-lampu taman yang menerangi.


Terngiang kembali ucapan Marwah yang mengangetkannya didepan rumah sakit Pertamedika.


" ayo kita menikah," suara Marwah terngiang jelas di benak Erwin. Sehingga ia pun menghela nafas panjangnya dengan berat.


Namun tiba-tiba nyonya Arimata datang mendekat dengan membawa kan sepiring potongan buah segar dan meletakkannya di atas meja didepan Erwin yang bergeming dengan kehadiran ibundanya.


" kamu mikir apa sih???," tanya nyonya Aritama mendekat.


" ah bukan apa-apa," sahut Erwin pelan.


" bagaimana dengan penutupan perusahaan Aritama??,"


" yaa hari ini resmi ditutup," jawab Erwin singkat.


Nyonya Aritama mengangguk pelan. Rasa hatinya ikut sedih melihat putra sulungnya kini tengah jatuh.


" tadi siang paman Atmadja menelfon,"


Nyonya Aritama bergeming dan melihat serius pada putranya.


" untuk apa lagi keluarga Atmadja menelfon??," jawab nyonya Aritama marah.


" mah," ucap Erwin mendekat pada ibundanya.


" paman hanya mengabarkan, bahwa ia ingin menyumbangkan setengah asetnya pada Erwin,"


" apa?? jangan terima!!," sanggah nyonya Aritama kesal.


Erwin tersenyum kecil melihat kemarahan nyonya Aritama yang jarang terlihat.


" denger dulu sampai habis mah," ucap Erwin


" males mama, mama kecewa dan sakit hati melihat keluarga Atmadja, apa lagi mengingat Suci, mama gak habis pikir, bisa-bisanya dia menghancurkan bisnis kamu," ucap nyonya Aritama emosi.


" jadi gak mau denger lagi nie??," tanya Erwin


Nyonya Aritama bergeming dan ia sedikit cemberut.


" ya udah lanjut," ucap nyonya Aritama yang tak ikhlas.


" siang tadi paman dan Suci terbang ke Australia, paman memutuskan akan menutup setengah perusahaan Atmadja, dan akan melelang saham-saham besar nya dalam waktu dekat,"


" apa?, menutup? kenapa?? kenapa tiba-tiba??," tanya nyonya Aritama yang jadi terkaget dan penasaran.


Erwin jadi tersenyum kecil melihat nyonya Aritama yang tiba-tiba jadi antusias.


" paman akan membawa Suci untuk pindah dan akan mengobati Suci,"


" apa??," ..


" sebenarnya beberapa waktu yang lalu paman pernah datang kekantor Erwin mah, Erwin juga tak pernah menyangka seorang paman Atmadja akan bertekuk lutut dihadapan Erwin untuk memohon agar Erwin bisa melindungin Suci," kenangnya.


" APA?? bertekuk lutut?? kenapa??,"


" ternyata paman mengetahui dari awal rencana Suci namun ia tak menyangka bahwa Suci akan bekerja sama dengan Toni, dan paman lebih kaget lagi ketika mendapatkan beberapa sahamnya bermain di saham hitam bersama Toni, dan paman sempat panik, karena ia takut Suci dijadikan alat pelindung oleh Toni," ucapnya dengan sedikit kesal.


Nyonya Aritama pun dibuat tak percaya dengan cerita putranya.


" lalu mengapa Atmadja menjadikan kamu untuk melindungi putrinya?? apa dia gak sadar gara-gara putrinya perusahaan kamu hancur !!," ucap nyonya Aritama marah dan kesal.


" memang Erwin sengaja," sahut Erwin cepat.


" Hah??,"


" maksud kamu apa?, mama gak ngerti," ..


" ini memang resiko besar, tapi memang dari awal Erwin sudah berencana mengorbankan Aritama Group agar bisa menangkap Toni dengan mudah,"


" APA??, kamu serius??,"


" Toni mulai meresahkan anak perusahaan Aritama mah, tak main-main, ia pun membeli perlahan investor kuat Aritama dengan diam-diam, dia bahkan memiliki mata-mata dalam perusahaan Aritama, Erwin gila olah tingkah Toni yang tak pernah puas menghancurkan kita,"


" Setelah lama Erwin pelajari, ternyata Toni bisa bangkit dengan pesat karena bermain barang terlarang dibawah kedok perusahaan miliknya, hingga Johan memberikan info pasti bahwa Toni memang sedang menjadi incaran para interpol yang menjadikan sasaran penangkapan karena ia bandar besar selama beberapa tahun belakangan ini,"


" Erwin berpikir lama, jika Erwin terus menghindar maka Toni akan semakin terang-terangan, jadi Erwin memang bertekat untuk melawan dengan mengorbankan Aritama, hanya Erwin tak menyangka bahwa situasi akan begitu sulit dan rumit ketika Suci dan Marwah juga ikut terseret disana," ucapnya dengan nafas berat.


" Dan Suci.., dari awal Erwin tak tau bahwa Suci akan senekat itu, tapi setelah mendengar penjelasan paman ternyata Suci memiliki penyakit kejiwaan yang sama dengan mendiang istri paman, Erwin pun tak bisa berbuat banyak , hingga paman pun memohon agar Erwin bisa melindungi Suci, dan hal terberat Marwah pun ikut terseret hingga membahayakan dirinya sendiri untuk melindungi Erwin," jelasnya berat.


Nyonya Aritama terdiam terpaku memdengar penjelasan Erwin yang benar-benar mengejutkan dirinya. Ternyata selama putranya ini melewati hari-hari yang berat, karena dendam saudara sepupunya yang tak bisa menerima maaf karena kesalahan masalalu.


Perlahan nyonya Aritama memeluk tubuh putranya dengan wajah sedih. Erwin terpaku menerima pelukan hangat ibunda nya yang menenangkan.


" maafkan mama,"


" kamu pasti melewati hari-hari yang berat," ucapnya dengan tak sadar menerteskan airmata orang tua yang bersedih untuk anaknya.


" maafkan mama yang tak bisa memahami kamu selama ini," ..


" mah," balasnya pelan.


" menikah lah dengan Marwah," pinta nyonya Aritama.


Erwin terdiam terpaku seraya melepaskan pelukkan nyonya Aritama dengan perlahan.


" Erwin gak bisa mah," ucapnya pelan.


" kenapa??, apa karena sakit kamu?," tanya nyonya Aritama bersedih.


" mah,"


" Erwin, Marwah tulus mencintai kamu, ketika kamu terbaring ditempat tidur, ia tak sedikit pun bergeming dari sisi kamu, "


" mah," sela Erwin sulit untuk berkata.


" bukan kah kebahagian mu terletak pada Marwah??," ucap nyonya Aritama menatap putranya.


" tapi Erwin gak bisa mah??, Erwin gak bisa mengorbankan kebahagian Marwah yang nantinya akan merawat Erwin yang bisa saja cacat seumur hidup, atau bahkan mati di meja oprasi," ucap Erwin khawatir.


Nyonya Aritama terperangah, ia terkaget.


" apa kamu bilang?? cacat seumur hidup??, bagaimana mungkin?," ucap nyonya Aritama tak percaya menatap putranya.


Erwin menghela nafas panjang, ia sedikit kelepasan bicara pada nyonya Aritama yang tak banyak tau sakit Erwin yang sebenarnya.


" coba ngomong jujur sama mama, kamu sakit apa??,"


" beku darah otak," jawab Erwin yang tak mungkin mengelak lagi.


Nyonya Aritama terserang syok berat. Ia menatap Erwin.


" beku darah otak??," sahutnya lirih.


" dokter berkata ini adalah bentuk trauma benturan kepala masalalu, sehingga beku darah itu berefek saat ini pada Erwin,"


Tap..tap tanpa sadar air mata nyonya Aritama jatuh? dan ia meraih wajah putranya dengan wajah kesedihan mendalam.


" bagaimana caranya?? bagaimana caranya agar mama bisa mengantikan sakit kamu nak !!," ucap nyonya Aritama dengan terdengar suara tangisan pilu memeluk putranya dengan hati tercabik-cabik.


Orang tua mana yang tak terluka mendengar ketika permata hatinya sakit.


Erwin pun bersedih mendengar ucapan ibunda nya.


" mah..," ucapnya bergetar.


" apa ini hukuman dari Tuhan karena kesalahan Erwin yang membunuh tante Sari??," tanya Erwin putus asa.


" Erwin lelah mah," ucapnya putus asa dan berakhir dengan jatuh air matanya.


Nyonya Aritama tak bisa berkata-kata, betapa ia ingin mengantikan posisi putranya saat ini.


" apa mama mau merawat putra mama yang cacat selamanya??," tanya Erwin dengan suara paraunya, seolah ada sebilah pisau tajam kini mengoyak hatinya, seakan takdir tak benar-benar berpihak pada dirinya untuk merasakan kebahagian sedikit pun.


" apa yang kamu katakan??, kamu putra mama, kamu kebanggan mama, apa pun, bagiamana pun kamu, mama akan selalu ada buat kamu, mama akan memrawat kamu sampai kapan pun," balas nyonya Aritama mengebu, ia tak ingin putranya patah semangat.


" kamu.., kamu pasti akan sembuh, mama percaya itu, karena kamu adalah anak yang baik," ucap Nyonya Aritama dengan bersedih melihat putranya yang benar-benar rapuh.


Dan tak disangka, Edwin yang ikut mendengarkan sedari tadi pembicaraan antara nyonya Aritama dan kakaknya pun ikut menangis sedih.


" mas," sapa Edwin yang mendekat.


Erwin terkaget begitu pun nyonya Aritama yang terkaget melihat kedatangan Edwin yang datang dengan wajah sedih.


" mas adalah kebanggaan keluarga Aritama, Edwin akan merawat mas, " ucapnya tulus.


" kamu??," sahut Erwin kaget.


" mas dulu yang merawat kita hingga kita sukses, ini saatnya Edwin dan Eza untuk balas budi pada mas, kami akan merawat mas hingga mas sembuh," ucapnya optimis.


Erwin tersadar, bahwa keluarga adalah tempat terakhir harapannya.


" makasih ya, maaf jika mas gagal bertahan," ucapnya besar.


" gak papa, mas udah berada pada titik yang semestinya, Edwin salut sama mas, hanya mas yang bisa bertahan pada titik ini, Eza mama dan aku selalu dukung mas,"


" kamu pasti sembuh," sambung nyonya Aritama dengan memegang jemari putranya.

__ADS_1


Malam itu akhirnya menjadi malam haru biru di dikediaman Aritama yang kembali hangat seperti biasanya, walau dihati nyonya Aritama tersimpan sedih mendalam akan kondisi Erwin.


__ADS_2