
Suci keluar dari ruangan Erwin dengan sedikit kesal, karena ia harus berada dibawah orang lain. Namun ia sedikit penasaran dengan sosok Marwah yabg terlihat tenang. Lalu ia berhenti di meja kerja Marwah dan terlihat Marwah memperhatikan Suci sekilas.
" Jadi kamu Marwah?? udah lama kerja disini??" tanya Suci penasaran.
" Hhmm, itu saya sempat kerja beberapa hari disini, setelah itu keluar dan baru hari ini aktif kembali bekerja" jelas Marwah singkat.
" hah?? kamu sudah keluar dan terus hari ini hari pertama kamu masuk kerja lagi??" jawab Suci terperangah, " Bagaimana bisa??" gumamnya dalam hati.
" Hhmm, walau sama-sama baru kerja, semoga kita bisa bekerja sama yaa Suci, " ucap Marwah tulus seraya mengulurkan tangannya di hadapan Suci.
Terlihat Suci seolah enggan, namun dengan berat ia pun menyambut uluran tangan Marwah. Dan setelah jabatan tangan itu, Suci melihat kearah Sekertaris Chandra yang serius melihat layar komputernya.
" Mas Chandra, meja kerja Suci dimana??" tanya Suci serius.
" Ah itu..," tutur Sekertaris Chandra seraya bangun dan melihat kearah ruangan yang terdapat beberapa karyawan sedang bekerja.
Namun tiba-tiba, Marwah bangun seraya mengambil tasnya. Sehingga Sekertaris Chandra pun reflek menoleh pada Marwah.
" mas Chandra, Marwah pergi dulu yaa.., ada perlu diluar " ujarnya seraya tersenyum pada Suci, lalu ia pun berjalan menuju lift.
Suci melihat dengan tak senang.
" mas Chandra, dia itu siapa sih?? kayaknya sombong banget deh " tukas Suci.
" Ah dia, Marwah..,"
" Iyya Suci tau dia Marwah, tapi kok kayaknya dia spesial banget deh, terus liat nie, meja kerjanya aja sampai didepan ruangan mas Erwin segala lagi" tutur Suci tak suka.
Seketika sekertaris Chandra tertawa kecil melihat wajah cemberut Suci.
" kok mas Chandra malah ketawa sih?, emang ada yang lucu??" ujar Suci kesal.
" Ah, bukan gitu kok, " elak sekertaris Chandra yang tak bisa menjawab pertanyaan Suci karena terlalu susah untuk menjelaskannya.
Namun tak berselang lama, Erwin keluar dari ruangannya dan menoleh pada sekertaris Chandra dan Suci.
" Sekertaris Cha, saya pergi dan tolong kirim laporan tadi melalui email " ujar ya seraya melangkah melewati Suci dan tak sengaja menoleh pada meja kerja Marwah yang kosong, hingga ia menghentikan langkahnya.
" Sekertaris Cha, Marwah??" .
__ADS_1
" Tadi Marwah bilang keluar sebentar, karena ada perlu " jelasnya singkat.
Erwin hanya menghela nafas panjangnya, namun Suci jadi mengeyitkan dahi mendengar Erwin menayakan Marwah.
" mas, mau makan siang yaa??, Suci ikut yaa?" pintanya pada Erwin.
" Gak bisa, mas ada perlu.., kamu semangat kerjanya yaa" ucap Erwin seraya meninggalkan Suci begitu saja dengan wajah kecewanya.
🍃🍃🍃
Disisi lain, Marwah yang berada disebuah restoran mewah dengan serius tengah berbicara dengan seorang pria dan dua orang wanita disana. Wajah serius mereka menyiratkan bahwa obrolan siang ini buka hal yang ringan.
" Semua data akan Marwah kirim melalui email, beberapa akan Marwah post di @yourjoin, sebagai salinan. Apa ada lagi hal yang bisa Marwah siap kan?? sebelum kerja sama ini??" tanya Marwah serius.
" Ah, itu sudah cukup mbak Marwah, lagi pun ini bukan kerja sama kita yang pertama" ujar wanita kantoran pertama.
Marwah tersenyum.
" Tapi saya heran, sekian lama mbak gak bermain lagi di perhotelan, terus kenapa tiba-tiba mbak Marwah pegang hotel baru ini??" tanya Wanita kedua.
" Ah, itu.., yaa karena saya merasa tertantang untuk membangun citra baru hotel yang telah direnovasi ini" ucap Marwah mengada-ngada, dengan tertawa yang menertawakan dirinya karena bisa berbohong seperti itu.
" tertantang apanya ?? Waah, lama-lama gue bisa ikut casting jadi artis, karena bisa ngibul !!"celetuk batinnya sendiri.
" Sejarah?? Hhmm enggak, kenapa?? apa ada hal yang mengerikan??" ujar Marwah seolah hal itu adalah ceritayang sering terjadi di hotel mana pun.
" Bukan, hotel itu sempat berkasus karena seketa sesama ahli waris"..
" Ah, saya tidak tau mas, bahkan sampai saat ini saya belum pernah relokasi hotel !!" tutur Marwah seraya menyerut cokolatte miliknya.
" Wah, serius mbak?? jarang-jarang nie !!" ujar wanita pertama.
Marwah hanya tertawa kecil, tapi memang kenyataannya ia belum pernah kesana. Entah bagaimana nanti ia mempromosikan dan merekrut para ahli untuk membangun manajemen hotel yang bahkan namanya saja ia tak tau.
Dan obrolan itu pun menjadi seru ketika mereka mengenang beberapa hotel yang kini sukses manajemennya.
Hingga tepat di jam 3, Marwah dan ke tiga rekannya itu bubar dari restoran tersebut dengan berjalan bersama menuju pintu keluar restoran. Dan tak sengaja ia berpas-pasan dengan Erwin yang terlihat terkejut melihat pada Marwah yang tertawa riang.
" Marwah !!" sapa Erwin yang berdiri menghadap Marwah dan 3 rekan kerjanya.
__ADS_1
Marwah terkejut.
" Direktur??".
Erwin terteguh.
" Bagaimana kamu bisa disini??" tanya Erwin pada Marwah.
" Siapa??" bisik wanita kedua yang terkesima melihat wajah tampan Erwin.
" Ah, perkenalkan ini adalah pak Erwin, Erwin Aritama pemilik Aritama Group, pemilik hotel yang akan kita tangani, " jelas Marwah sedikit terbatah-batah.
Dan diluar dugaan kedua teman wanita Marwah tercengang dengan nama yang diperkenalkan Marwah.
" Wah, senang bisa bertemu dengan anda pak Erwin" ujar Wanita pertama dan tersenyum ramah.
Erwin hanya tersenyum simpul pada ketiga rekan kerja Marwah, dan terlihat si pria berdasi memberi kode bahwa mereka harus segera balik.
" Kalau begitu kami duluan yaa mbak Marwah, minggu depan kita diskusi lagi " ujar pria berdasi pada Marwah dan menarik tangan kedua temannya yang masih ter panah akan paras Erwin.
" Ya, hati-hati, terima kasih untuk hari ini" ujar Marwah .
Dan kini, tinggal Marwah dan Erwin di luar pintu restoran dengan canggung.
" Kenapa kamu bisa disini??" tanya Erwin kembali pada Marwah.
" Ah, saya ada pertemua dengan ketiga rekan saya tadi, dan membahas tentang hotel" jelas Marwah singkat.
" Kalau begitu saya permisi pulang, " ujar Marwah.
" Pulang?? kamu gak balik ke kantor??" tanya Erwin dengan nada agak marah.
Marwah terkejut.
" Ah, itu..,sekarang sudah jam 3, sesuai perjanjian saya sudah pulang di jam 3 " ucap Marwah mencoba mengingatkan Erwin.
Seketika Erwin memejam matanya seolah ia baru saja lupa bahwa perjanjian awal Marwah dan dirinya.
" Maaf saya lupa, " ujar Erwin singkat.
__ADS_1
" ya, kalau begitu saya permisi Direktur " ucap Marwah seraya berjalan meninggalkan Erwin sendiri.
Erwin hanya memperhatikan Marwah yang berjalan menuju mobil sedan mewahnya dan hilang dari pandangannya.