
Setelah puas menangis kaget, kini Marwah duduk dimeja makan dengan terus memperhatikan Erwin yang tengah menyiapkan piring makan lalu ia letakkan dihadapan Marwah.
Marwah memperhatikan gerak Erwin dengan wajah penasarannya. Erwin yang menyadari hal itu pun tersenyum kecil.
" apa kamu sudah merasa baikkan??," tanya Erwin dengan menuangkan air putih di gelas Marwah.
" Hhmm, jauh lebih baik," jawab Marwah yang melihat gelas itu kini diberikan pada dirinya dan ia meraihnya seraya meletakkan pada meja makan.
Lalu Erwin memberikan sendok pada Marwah.
" makan lah, setelah itu kamu bisa bertanya apa pun pada ku," ujar Erwin yang menyadari Marwah memiliki segudang pertanyaan pada dirinya.
Marwah terkaget mendengar perkataan Erwin yang ternyata tau bahwa ia memiliki banyak pertanyaan untuk kak Mummy.
Lalu Marwah melihat pada piringnya dan terlihat makanan yang lezat disana.
" ini masak sendiri ??,"
" Hhmm..," gumamnya seraya mengunyah pelan.
Pelan, Marwah akhirnya mencoba memakan masakan Erwin.
Dan seketika wajah ya berubah kagum, lalu kembali memakan dengan sendok kedua.
" bagaimana kak Mu.., ah bukan-bukan, maksudnya mas bisa masak ini??,"
Erwin tertawa kecil melihat ekspresi Marwah yang kebingungan untuk memanggil, lalu ia melihat wajah Marwah dengan lekat, dan tersenyum lucu.
Marwah bingung, melihat Erwin yang tersenyum lucu.
" kenapa??, apa ada yang aneh??,"
Erwin tak menjawab tapi ia meraih wajah Marwah dan seketika membersihkan saus pasta yang tertinggal di sudut bibirnya.
" dasar.., anak kecil," ujar Erwin mengoda.
Reflek Marwah menyapu bibirnya sendiri dengan kaget dan sedikit mengidik kesal karena dicap anak kecil.
" sst.., siapa yang anak kecil!!, Ma..,"
" Marwah udah besar," sela Erwin menyambung ucapan Marwah dengan tertawa , seolah mengingat kembali ucapan gadis kecil yang sama marahnya dengan Marwah sekarang.
" Hhmm.., iyya mas tau kamu udah besar dan jadi wanita menawan..," ucapnya lagi seraya merapikan rambut Marwah yang kini tergerai indah dipundaknya.
Marwah tersenyum simpul.
" kalau begitu panggil Marwah dengan "kakak", ujarnya dengan sengaja bercanda dengan Erwin.
Erwin mengangguk mengiyakan.
" baiklah, kak Marwah..," panggil Erwin.
Marwah terkaget.
" ya..," namun reflek menjawab.
" mau kah kakak menikah dengan seorang Mummy??," ujar Erwin serius menatap Marwah.
Marwah terpaku melihat Erwin.
__ADS_1
" karena Mummy mencintaimu, Marwah.." sambung Erwin dengan sorot mata tulusnya
Marwah memandang dengan tak berkedip pada Erwin, ia terserang syok hebat dan terlihat kelabakan. Lalu Marwah berusaha mengontrol syoknya dengan meraih gelas air putih yang berada di meja makan dan meminumnya dengan terburu-buru hingga membuat dirinya tersedak.
"Uhuk..uhuk..," Marwah terbatuk-batuk.
Dan Erwin pun tersenyum seraya bangun dan membantu Marwah menepuk-nepuk punggungnya.
" apa itu terlalu mengejutkan??," ujar Erwin seraya membantu Marwah yang kesulitan menahan batuk dan akhirnya Marwah tersenyum seraya memukul manja lengan Erwin yang berusaha mengodanya.
" usil banget sih..," ucap Marwah.
" aku serius..," balas Erwin dengan memandang wajah Marwah lekat-lekat.
🍃🍃🍃
Dilain sisi, terlihat Suci duduk di mini bar clup milik temannya. Ia duduk dengan menikmati minuman cocktailnya . Dan tak lama terlihat seorang pria berjalan menghampiri Suci dengan wajah senang.
" waah, siapa yang tega membiarkan seorang wanita cantik minum sendirian???," ujar Toni dengan mendekat pada Suci yang tak bergeming.
" bukan kah ini calon nyonya Aritama..," sindir Toni sengaja.
" menjauhlah, aku sedang tidak ingin diganggu," ujar Suci dengan mimik serius namun tak menatap pada Toni.
Toni tersenyum licik lalu dengan sengaja duduk di kursi sebelah Suci.
" sepertinya kamu sedang butuh teman curhat," ujar Toni dengan memanggil pelayan dan memesan minuman yang sama dengan Suci.
" jangan sok tau..," balas Suci enggan.
" Kamu sudah mendengar sanggahan Erwin di rapat Saham?? dia bukan Gay seperti ucapan mu.."
" gara-gara itu aku jadi kekurangan pendukung," jelas Toni kesal.
" bagus lah..," jawab Suci santai.
" kau sengaja memberi info bohong itu bukan?? agar kau bisa membuat citra Erwin terus naik..," balas Toni dengan mengeluarkan sebungkus kotak rokok.
" jika kau ingin membuat ruangan ini bau, maka menjauhlah.., cari tempat lain," ujar Suci santai dan mulai membuka tasnya seraya mengeluarkan handphone.
Toni mengalah, ia menyimpan kembali bungkusan rokok itu namun kemudian ia mengeluarkan sebuah kertas dari jasnya dan menperlihatkannya pada Suci.
" kau pasti suka dengan info yang aku punya.," kata Toni penuh percaya diri.
Suci menahan kesalnya ketika melihat foto Marwah berada dihadapan.
" bagaimana.., ?? bukan kah ini menyenangkan??," ujar Toni dengan tersenyum melihat raut wajah Suci yang terlihat kesal.
" jika kau ingin bersaing dengan Erwin, lakukan secara laki-laki..," ujar Suci yang kembali meminum cocktailnya.
Toni tersenyum.
" bukan kah kita sepupu??"
" jangan bercanda, tidak ada satu bukti yang mengatakan kita sepupu, papa kita hanya sebatas saudara angkat..," celetuk Suci dingin.
" ah, benar aku sampai lupa, karena itu kau ingin menjadi nyonya Aritama.., tapi aku rasa mimpi mu itu akan jadi mimpi disiang bolong..," balas Toni dengan sengaja memancing Suci.
" apa maksud mu??," balas Suci dingin.
__ADS_1
" Wanita ini adalah kekasih Erwin," ucap Toni dengan tersenyum licik.
" apa??"
Toni mengangguk serius.
" bagaimana, apa kau butuh bantuan ku??," tawar Toni dengan tersenyum senang melihat wajah syok Suci.
Bagaimana semua membuat Suci marah, padahal Suci masih beranggapan bahwa Erwin hanya main-main saja dengan Marwah, namun pada kenyataan ia tertohok dengan kebenaran bahwa wanita yang ia anggap sepele ternyata berani bermain-main dengan ancamannya waktu itu.
🍃🍃🍃
Setelah selesai makan, kini Marwah duduk di sofa diruang TV dengan santai dan Erwin pun ikut duduk disamping Marwah.
" ah, kenyang.." ujar Marwah dan Erwin tersenyum kecil melihat pada Marwah. Lalu ia menepuk pundaknya dan memberi kode pada Marwah untuk merebahkan kepalanya dipundaknya.
Marwah tak menolak, ia pun merebakkan kepalanya dipundak dan mencoba membenarkan posisi duduknya agar nyaman dan memeluk lengan Erwin dengan manja dan memejamkan matanya sesaat seolah teridur nyaman.
" nyaman..," ucap Marwah seolah mendapatkan hal selalu ia cari selama berada didekat Erwin.
Namun tak lama ia membuka matanya kembali dan seolah tersadar dengan rasa nyamannya.
" setelah di pikir berkali-kali, semua seperti mimpi..," ujar Marwah pelan.
" dan sepertinya harus waspada.," sambung Marwah.
" Kenapa??," tanya Erwin.
" karena sepertinya Marwah menyukai seorang Erwin Aritama, dan jika terus begini maka itu akan membuat Marwah susah jika terus bersandar dan bergantung pada mu, mas..,"
" kamu bisa bersandar dan bergantung pada ku" sambung Erwin tenang.
" masa depan tidak ada yang tau, dan Marwah takut akan menjadi orang bodoh yang menyedihkan.., karena berharap dan akhirnya sia-sia..," ujar Marwah pesimis.
" karena itu terus lah bersama ku, aku tidak akan membiarkan kamu jadi orang bodoh dan sia-sia, semua hal tersulit pernah aku lewati..," ujar Erwin bijak.
Marwah terhenyak dan ia pun bangun dari pundak Erwin seraya menatapnya dengan wajah kesal.
" ck, mas tau??? kadang mas itu jahat..," ujar Marwah
" seolah-olah mas sengaja membuat pendirian Marwah jatuh..," celetukkanya dengan melihat wajah Erwin yang santai.
" sejujurnya Marwah belum memberikan kepercayan penuh pada mas..," ucapnya dengan sedikit menjauh.
" sudah terlalu malam, Marwah harus pulang, dan hari ini benar-benar penuh kejutan.." ujarnya seraya bangun dari duduk hendak meninggalkan Erwin.
Namun tak disangka, tangan Erwin meraih tangan Marwah sehingga Marwah jatuh dan terduduk kembali disisi Erwin yang terpaku melihat wajah serius Erwin.
" dulu aku terluka karena tak bisa bertemu dengan mu , aku mencari banyak uang dan aku kembali hanya untuk kamu..," ucap Erwin serius menatap kedua bola mata Marwah yang terdiam mendengar pengakuan Erwin.
" percaya padaku, seiring kamu berada didekat ku, maka kamu akan menyadari bahwa aku adalah pria yang bisa kamu percayai,"
Marwah terkesima dengan pengakuan Erwin. Dan ia tersenyum kecil lalu perlahan mendekat dengan tangannya menyentuh wajah Erwin seraya menjatuhkan kecupan di bibir pria yang diam terpaku. Dan seketika Marwah tersadar dengan apa yang ia lakukan, karena ia tak pernah mencium Erwin duluan. Dengan menelan salivanya Marwah mencoba menjauh dari Erwin.
" Sudah malam, Marwah harus pulang..," ucapnya ragu.
Namun Erwin menahan tangan Marwah, lalu dengan cepat tangannya merangkul tubuh Marwah dan seketika ciuman berhasrat itu pun ia jatuhkan pada bibir Marwah yang ranum. Lagi, Erwin memberikan pangutan hangat dan dalam pada bibir Marwah yang terlihat terkesiap dengan ciuman hasrat Erwin yang terlihat tak memberikan ruang pada bibir Marwah yang berusaha mengimbangi ciuman itu.
Dan tiba-tiba ciuman itu terhenti, dengan nafas masih menderu Erwin menahan hasratnya pada Marwah yang masih terkunci didalam pelukkannya.
__ADS_1
" bermalamlah disini, aku janji tidak akan berbuat lebih.., karena aku masih merindukkan mu, " ujar Erwin meyakinkan Marwah.