
Tak sampai satu jam mereka sampai di halaman apartemen yang luas dan mewah. Christo mengerenyitkan kening tak percaya jika Rama mengajak Valencia tinggal di apartemen mewah ini.
"Kamu nggak salah apartemen kan, Ram?" Tanya Christo sambil memandang tinggi dan megahnya apertemen mahal ini. Rama tersenyum mendengar pertanyaan mertuanya. Valencia juga tak kalah terkejut melihat megahnya gedung bertingkat ini.
"Mari, pa..." Rama mengagetkan Christo yang masih heran dengan lingkungan mewah yang Rama berikan.
Mereka bertiga masuk dalam lobbi dengan desain mewah menuju resepsionis. Setelah meminta kunci kamar, mereka masuk dalam lift dan menekan angka 20.
"Oek... oek... oek..." Suara baby Rava pecah kala merasakan sedikit getaran dalam lift.
"Hei, jagoan ayah... kenapa nangis?" Spontan Rama mengambil Reva dalam gendongan Valencia. "Jagoan jangan cengeng dong. Kasian mama kalau kamu ***** di sini. Nanti sampai di kamar baru *****, ya." Melihat Rama mengajak putranya berkomunikasi, terbesit senyum di bibir Valencia. Dalam hati ia mengucap syukur karena ada laki-laki baik yang dengan gentlenya datang dan mengaku sebagai ayah dari bayi dalam kandungannya waktu itu. Meskipun mendapat perlakuan jahat dari Riska, Rama tetap bertahan demi baby Rava.
Tak terasa meraka sampai di lantai 20 apartemen. Rama melihat lihat nomor pada setiap pintu kamar.
"Nah, ini kamar kita." Ia meletakkan kartu pada lubang kunci pintu dan dengan otomatis pintu kamar terbuka. Kesan mewah namun elegan langsung terlihat jelas. Rama tidak menyangka ia akan mendapat apartemen semewah ini.
"Bagus sekali, Rama." Christo tak henti mengagumi kemewahan gedung ini. Ia tak ragu lagi melepaskan Valencia hidup dengan suami dan anaknya. Ia percaya, Rama mampu menjadi laki-laki bertanggung jawab bagi Valencia.
"Kok kayak bau harum masakan, ya." Gumam Valencia mencium bau harum makanan. Apa karena ia memang merasa lapar sehingga halusinasinya menjadi tinggi tentang makanan.
"Eeeh... sudah sampai. Maaf, ibu sibuk memasak sampai tidak tau kalau kalian sudah datang." Suara seorang perempuan paruh baya terdengar dari ruang belakang. Ternyata bau harum itu memang nyata tercium oleh Valencia, bukan karena halusinasi.
"Tuan... mari duduk dulu." Tegur Nurhayati. Christo tersenyum ramah dan mengambil tempat duduk pada sofa mahal di ruang santai. Rama dengan segera menciun punggung tangan Nurhayati, ibunya.
"Kami tidak tau kalau ibu Nurhayati sudah di sini." Ujar Christo.
"Iya, tuan... saya memang mau pulang terlebih dahulu untuk memasak, supaya Valencia bisa langsung makan kalau udah sampai. Ibu menyusui pasti lapar terus." Jawab Nurhayati ramah.
"Jangan panggil saya tuan. Panggil saja nama." Seloroh Christo. Nurhayati tertawa dan mengangguk kecil.
"Ibu masak apa sih? Harum sekali." Tanya Rama penasaran. Sedangkan Valencia tercengang karena tak mengira ibu mertuanya sudah terlebih dahulu ada disini.
"Kamu itu kalau udah mencium bau makanan jadi lupa segalanya." Celetuk Nurhayati membuat Rama tertawa. "Bawa istri dan anak kamu ke kamar dulu, nak. Letakkan semua barang-barang ke kamar kalain, setelah itu kita makan." Imbuh Nurhayati lembut. Aura keibuannya sangat terlihat sekali, hingga membuat rasa kagum di hati Valencia.
"Ayo, Val... kita ke kamar." Ajak Rama. Valencia mengangguk dan mengikuti langkah Rama setelah baby Rava sudah berada dalam dekapannya.
__ADS_1
"Kamar kalian di lantai dua." Ujar Nurhayati. Rama mengangguk. Ia mengangkat dua buah tas pakaian kotor milik Valencia dan baby Reva menuju ke lantai dua.
"Terimakasih, bu... sudah mau menerima Valencia menjadi menantu ibu. Saya harap ibu bisa membimbing Val menjadi lebih baik lagi." Ujar Christo saat hanya ada ia dan besannya di ruang santai.
"Panggil saja saya Nur." Sahut Nurhayati. "Val gadis yang baik. Saya yakin ia bisa menjadi istri sekaligus ibu yang baik buat cucu kita." Sambungnya.
"Saya sangat bersyukur karena Rama mau dengan sabar menghadapi Valencia dan Riska." Beber Christo tertunduk. Raut sedih terlihat di wajah tuanya mengingat sikap dan perlakuan Riska pada Rama.
"Pak Christo tenang saja... Rama itu anak yang sabar. Dia tidak mudah dipancing untuk marah." Tukas ibu dari Rama itu. "Sekeras apapun hati Valencia, percayalah... suatu saat ia akan luluh juga dengan sikap dan karakter Rama yang sabar dan penyayang." Lanjutnya lembut. Lega rasanya hati Christo mendengar penuturan Nurhayati. Bahkan tak ada nada marah pada ucapannya padahal ia mengetahui sikap Riska dan Valencia pada Rama selama ini.
"Oh iya... di mana mereka? Kok lama sekali? Valencia itu harus makan sekarang. Pasti dia sudah lapar." Nurhayati teringat makanan yang sudah ia siapkan di meja makan. "Ayo, pak Christo. Kita ke ruang makan saja." Christo pun mengikuti langkah kaki besannya itu.
Sedangkan di kamar utama...
"Rava udah tidur?" Tanya Rama setelah meletakkan semua pakaian kotor pada keranjang besar di sudut ruangan menuju kamar mandi. Dilihatnya Valencia sedang menepuk-nepuk lembut pantat Rava agar bayi itu terlelap.
"Udah. Kalau udah kenyang pasti langsung tidur." Jawab Valencia pelan sambil memberikan senyum manis pada Rama. Laki-laki itu ikut tersenyum senang karena sudah bisa melihat wajah cantik Valencia tanpa amarah dan sinis seperti biasa.
"Ya udah... sekarang perut kamu yang harus diisi biar nambah stok makanan untuk Rava." Rama langsung berbalik hendak berjalan ke arah pintu namun kakinya terhenti saat tangan kirinya di pegang Valencia. Ia segera berbalik melihat wajah istrinya.
Rama menarik Valencia masuk ke dalam dekapannya. Ia mengelus punggung Valencia dengan lembut.
"Kamu sudah mau menyadarinya, sudah mau menerima aku saja itu sudah cukup untukku. Aku pasti memaafkan semua sikapmu karena kamu adalah ibu dari anakku." Ucap Rama setengah berbisik. Valencia mengangkat kepala dan menatap wajah Rama.
"Apa hanya karena aku ibu dari anakmu?" Tanya Valencia semakin terisak mendengar perkataan Rama. "Apa tidak ada alasan yang lain?"
Rama mengerutkan kening tak mengerti. "Sejak malam itu... tidak adakah perasaan aneh di hatimu?" Valencia terus mencecar Rama dengan pertanyaan yang sulit untuk ia jawab. Meskipun sebenarnya ia tahu jawaban dari pertanyaan itu. Namun, Rama masih belum yakin jika Valencia menginginkan jawaban itu.
"Jawab, Ram..." Melihat raut wajah ragu pada Rama membuat Valencia kembali terisak. "Apakah kamu akan meninggalkan aku dan baby Rava? Jawab!" Desak Valencia dengan isakan yang lebih kuat. Ada rasa takut dalam dirinya jika Rama akan berubah pikiran setelah anak mereka lahir, karena dari awal Rama mau bertanggung jawab hanya pada bayi mereka.
Rama memeluk erat Valencia yang semakin terisak sedih.
"Jangan tinggalin kami... jangan tinggalin aku dan Rava... jangan." Terdengar suara rintihan memohon.
"Tenanglah... jangan berpikir yang macam-macam." Rama memeluk Valencia erat dan mengelus punggungnya dengan lembut. Ia terus menenangkan Valencia. Setelah tenang, Rama menjauhkan tubuhnya dan menangkup kedua pipi Valencia. Mata sayu istrinya membuat Rama merasa bersalah. Dihapusnya air mata di pipi mulus Valencia.
__ADS_1
"Dengar.... Aku berjanji tidak akan meninggalkan kamu dan baby Rava. Aku bukan laki-laki bajingan yang dengan mudah meninggalkan orang-orang yang aku sayang. Aku mau bertanggung jawab atas kehamilanmu dulu, itu artinya aku sudah memutuskan untuk masuk dalam kehidupanmu." Ucap Rama pelan dan lembut sambil sesekali menghapus air mata Valencia yang terus mengalir. "Kalau aku berniat meninggalkanmu, seharusnya dari awal aku sudah pergi ketika mendengar mama menghina dan selalu mengijak harga diriku. Tapi, aku tidak pergi. Aku menutup telinga dari cercaan dan hinaan mama, itu karena ada kamu dan anak kita yang aku pikirkan." Mendengar ucapan Rama, tangis bahagia Valencia kembali terdengar. Ia menjatuhkan kepala dalam dada Rama.
"Maaf..." Lirihnya pelan. Kembali Rama menjauhkan kepala Valencia dan menatapnya penuh rasa yang berbeda.
"Apa hanya kata maaf yang bisa kamu ucapkan? Padahal aku ingin mendengar kata-kata lain dari bibir ini." Goda Rama sambil mengusap lembut bibir Valencia. Ia sengaja mengganti topik pembicaraan agar Valencia bisa tersenyum
"Apa?" Tanya Valencia tak mengerti.
Sebelum menjawab, Rama memeluk pinggang Rama dan dengan sedikit hentakan ia menarik pinggang itu lebih dekat, bahkan tak ada cela antara mereka.
"Tadi di rumah sakit... kamu panggil aku apa?" Bisik Rama menggoda.
Valencia melebarkan mata ketika mengingat kejadian tadi di rumah sakit. Ia tersenyum malu dan cepat-cepat menutup mulut dengan tangannya.
"Ck.... kok ditutup mulutnya?" Rama membuka tangan Valencia. Wajah semerah tomat nampak pada pipi chuby istrinya. "Mau mengatakan sesuatu, nyonya Rama Pramudya Soediro?" Goda Rama membuat Valencia semakin tersipu. Namun, entah keberanian dari mana datangnya, dengan berani Valencia berjinjit hendak membisikkan sesuatu.
"I love you, papanya baby Rava."
Seakan dunia Rama terasa berhenti berputar seketika. Benarkah? Bukannya Valencia sangat membenci dirinya?
Dengan perasaan bahagia Rama menggendong tubuh Valencia dan memutar-mutar sambil tertawa senang.
"I love you too, mamanya baby Rava." Ujar Rama setengah teriak.
"Sssst... pelan, pa. Baby Rava masih tidur." Protes Valencia. Mereka saling menatap dengan perasaan penuh cinta.
"Aku mencintaimu dan anak kita... aku berjanji akan menjadi suami dan ayah yang akan selalu kalian banggakan." Ujar Rama dengan percaya diri.
"Iya... aku percaya sama kamu. Aku juga berjanji akan menjadi istri yang akan selalu kamu rindukan." Balas Valencia dengan bahagia. Keduanya saling mengungkapkan rasa dan akhirnya mereka merasa lega setelah sekian lama terjerumus dalam kesalahpahaman yang cukup menyita waktu, tenaga dan perasaan.
"Astaga...." Icha melepaskan pelukannya tiba-tiba.
"Kenapa?" Tanya Rama kaget.
"Papa sama ibu di bawah, sayang... kamu lupa, ya?".
__ADS_1
Rama langsung menepuk keningnya saat menyadari jikalau di dalam apartemen ini bukan hanya mereka berdua namun ada juga papa Christo dan mama Nurhayati yang sedari tadi sudah menunggu mereka untuk makan bersama. Dengan menggandeng tangan istrinya, mereka melangkah ke luar kamar sambil menertawai kebodohan mereka...